“Tunggu aku selesai bekerja, Mas. Aku tidak enak kalau harus izin,” ucap Sonya di ujung ponselnya.
“Kamu kira aku pengangguran yang tidak sibuk? Jangan buang waktu berhargaku hanya untuk menunggumu!”
Sonya menghelakan napasnya. Meminta suaminya menunggu memang sesuatu hal yang mustahil.
“Baiklah. Tunggu sebentar.”
Sonya menutup panggilan telepon itu dan memasukkan ke dalam saku baju dinasnya. Ditatapnya pintu ruangan David lama sebelum memberanikan diri untuk mengetuknya.
“Masuk!” terdengar suara David dari dalam.
Dengan pelan Sonya memutar kenop pintu yaang ada di depannnya dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
David langsung melihat ke arah Sonya sekilah sebelum netranya kembali teralihkan.
“Maaf, Dokter. Apakah saya boleh izin sebentar ke ruangan perawatan anak saya?” tanya Sonya.
Kepala David langsung mengarah kembali ke Sonya.
“Apa ada sesuatu pada Reyna?” tanya David dengan wajah khawatir.
“Tidak ada, Dokter. Saya hanya ingin bertemu dengan suami saya sebentar karena ada sesuatu yang harus kami bicarakan.”
David melihat jam yang ada di pergelangan tangannya, “Pergilah. Kita masih punya waktu sekitar setengah jam lagi untuk mulai praktek.”
“Terima kasih, Dokter. Saya permisi.”
Sonya segera membalikkan tubuhnya dan membuka pintu ruangan itu. Dengan cepat dia melangkah menuju ke ruangan perawatan Reyna.
Dari jauh bisa terlihat seorang pria dengan setelan jas hitam duduk di depan ruangan Reyna. Wajahnya sangat keras dan terlihat menyimpan emosi. Sonya segera mempercepat langkahnya sebelum Andra membuat keributan di sana.
“Kenapa di luar, Mas? Mas sudah bertemu dengan Reyna?” tanya Sonya begitu berada di depan Andra.
“Untuk apa aku bertemu dengan anak cacat itu!”
Sonya menggigit bibir bawahnya. Ingin sekali rasanya menampar wajah memuakkan suaminya itu begitu mendengar ucapan itu lagi.
“Jadi apa keperluan mas kesini? Tolong dipercepat, aku harus bekerja.”
“Jadi kamu bekerja di rumah sakit ini? Wanita tua dan punya anak cacat seperti kamu masih ada perusahaan yang mau menerima?” Andra menyunggingkan senyum sinisnya.
“Aku tidak punya waktu banyak, Mas. Langsung saja ke inti permasalahannya.”
Andra menghelakan napasnya kemudia berdiri dari tempat duduknya.
“Baru jadi perawat rendahan saja sudah sombong kamu. Berapa gaji kamu bekerja disini? Pasti masih lebih besar gaji seorang pembantu dari pada gajimu kan?”
Sonya menatap tajam ke arah Andra.
“Ini rumah yang kamu minta.” Andra memberikan sebuah map ke arah Sonya.
Sonya segera membuka map itu dan melihat isinya. Sebuah sertiikat rumah atas nama Andra terlampir di sana.
“Baby sitter sudah aku berikan kemarin dan biaya keperluan Reyna akan aku transfer setiap bulan. Sudah puas kamu?” Andra menatap Sonya.
“Kamu pasti akan menyesal mengambil keputusan gegabah ini, Sonya. Kamu kira mudah hidup hanya dengan pekerjaan seperti ini?” lanjut Andra menyeringai.
“Berkas perceraiannya sudah masuk?” tanya Sonya mengabaikan ucapan angkuh dari Andra.
“Sabar, satu persatu. Aku tidak punya banyak waktu untuk mengurus semuanya sekaligus.”
“Kamu kan bisa menyewa pengacara untuk mengurusnya.”
“Kenapa aku harus mengeluarkan begitu banyak uang hanya untuk kalian?” Andra berdecih, “Tunggu saja panggilan sidangnya datang. Aku akan mengurusnya jika aku sudah memiliki waktu luang.”
Sonya menghelakan napasnya dengan kesal. Entah kenapa dulu ia mau dipaksa menikah dengan laki-laki sebajingan ini.
“Kalau urusanmu sudah selesai, kamu bisa pergi. Aku harus bekerja sekarang,” ucap Sonya sambil melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.
“Kamu masih bisa mengubah keputusanmu, Sonya. Selagi aku masih belum mengirimkan berkas gugatan cerainya. Aku bisa saja berbaik hati menerima dan memaafkan semua kesalahanmu jika kamu memohon padaku.”
Sonya terkekeh sambil menyeringai, “Aku duluan saja kalau begitu. Aku tidak ingin ditegur karena terlalu lama berada di sni.”
Sonya segera melangkahkan kakinya meninggalkan Andra di depan ruangan perawatan Reyna. Semakin lama berbicara dengan Andra rasanya semakin memuakkan.
Wajah Sonya menegang seketika begitu melihat gerombolan manusia yang sudah memenuhi ruang tunggu poli anak tempatnya bekerja.
“Astaga, sudah waktunya praktek.” Sonya setengah berlari menuju ke nurse station yang ada di depan ruangan.
Tak lama kemudian David keluar dari ruanganya sambil memegang sebuah lembar rekam medik di tangannya.
“Adriel Saputra?” David memanggil nama pasien yang akan di periksanya.
Seorang ibu yanng sedang meggendong anak balitanya datang mendekat ke arah David.
“Silahkan masuk, Bu,” ucap David sambil tersenyum ramah.
“Maaf saya terlambat, Dokter.” Sonya terengah-engah begitu tiba di depan David.
“Tidak apa-apa. Masuklah. Ini sudah pasien kedua.”
“Terima kasih, Dokter.” Sonya menanggukkan kepalanya dengan perasaan tidak enak pada David yang sudah mengambil alih pekerjaannya.
Pasien demi pasien semakin berkurang jumlahnya seiring berlalunya waktu. Jumlah pasein David dalam sehari memang selalu banyak karena mereka merasa anak mereka cocok dengan tangan ajaib David yang penuh kelembutan.
“Ini pasien terakhir?” tanya David pada Sonya yang baru saja mengantarkan pasien mereka keluar dari pintu.
“Benar, Dokter.”
David segera membereskan meja kerjanya karena satu jam lagi dia ada jadwal menangani bayi baru lahir di ruangan operasi sectio secar.
Sonya melirik ke arah David lama sambil berdiri.
“Kenapa melihat saya seperti itu?” tanya David tiba-tiba tanpa menoleh ke arah Sonya, membuat Sonya terkejut karena merasa tertangkap basah.
“Itu, Dok. Saya mau minta maaf atas keterlambatan saya tadi.”
“Kan tadi sudah minta maafnya. Mau berapa kali?” jawab David sambil sibuk mematikan komputernya.
“Oh iya ya.” Sonya menggaruk asal kepalanya yang tidak terasa gatal.
“Semua rekam medis pasien hari ini sudah saya pisahkan berdasarkan abjad seperti yang biasa kamu lakukan. Kamu tinggal masukkan saja ke dalam raknya masing-masing.” David menunjuk ke arah barisan rekam medis yang ada di atas meja kerjanya.
“Kalau sudah selesai, kamu bisa segera kembali ke ruangan Reyna. Suamimu pasti sudah menunggu,” lanjut David lagi.
David berdiri dari tempat duduknya kemudian berjalan menuju ke pintu, “Saya duluan,” ucapnya yang kemudian membukan pintu ruangan dan berlalu pergi meninggalkan Sonya.
“David menjadi sangat dingin padaku sekarang. Apa dia sudah berubah atau karena dia masih sakit hati padaku?” batin Sonya.
Sonya segera menyelesaikan tugasnya. Dia berniat ingin mengambil semua barangnya hari ini dari rumah Andra dan memindahkannya di rumah barunya bersama Reyna.
“Citra Raya Mansion Blok A nomor 7? Dimana ini?” batin Sonya membaca sertifikat yang tadi di berikan oleh Andra padanya.
“Aku harus mencari alamat rumah ini terlebih dahulu sebelum mengambil semua barang-barangku dan Reyna dari rumah Mas Andra.”
Setelah membersihkan diri dan berpamitan dengan Reyna, Sonya pun memulai rencananya. Sonya begitu terbantu dengan adanya baby sitter yang menjaga Reyna dengan baik. Dia jadi bisa mengerjakan semua pekerjaan dan rencananya dengan baik.
Sonya lebih memilih menggunakan jasa seorang tukang ojek dibandingkan taksi. Dia harus berhemat dan menabung karena dia tidak yakin Andra akan selamanya mau bertanggung jawab atas biaya hidup Reyna. Sonya sangat mengenal siapa Andra.
Sonya tercekat begitu ojek yang ditumpanginya memasuki sebuah perumahan elite dan megah.
“Ini beneran sesuai dengan alamat yang saya berikan tadi, Pak?” tanya Sonya pada driver ojek yang sedang membawanya.
“Benar, Bu.”
“Tumben banget Mas Andra begitu baik seperti ini? Apa ini akal bulusnya agar aku terharu dan berniat kembali padanya? Tapi rumah ini juga masih atas namanya kan?”
“Kita sudah sampai, Bu,” ucap driver ojek itu saat mereka berhenti di depan sebuah rumah yang ada di jalan utama perumahan itu.
Sonya melihat bangunan rumah yang sangat mewah dan artistik itu. Walaupun tidak terlalu besar tapi itu jauh lebih hebat dari ekpektasi Sonya sebelumnya.