Kehidupan Baru Dimulai

1058 Kata
Setelah melihat rumah yang di berikan oleh Andra untuk Reyna, Sonya segera beralih menuju ke rumah Andra untuk mengambil semua barang-barang miliknya dan Reyna. Sonya menekan bel pintu rumah Andra. Dilihatnya sekitar rumah itu, masih terlihat bersih dan terawat. Entah siapa yang melakukannya selepas kepergian Sonya dari rumah itu. “Ya, tunggu!” terdengar suara dari dalam rumah. Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya muncul dari balik pintu. “Maaf, mau ketemu dengan siapa ya Non?” Sonya langsung bisa menebak bahwa wanita yang sedang berdiri di hadapannya saat ini adalah asisten rumah tangga di rumah suaminya. Sonya tersenyum tipis. “Sepertinya Mas Andra benar-benar mencintai Diana. Mas Andra langsung menyediakan seorang asisten rumah tangga untuknya. Sedangkan dulu, dia sengaja memecat asisten rumah tangga dan membebani semua pekerjaan padaku saat aku baru saja melahirkan,” batin Sonya. “Maaf, Non. Mau ketemu siapa ya?” asisten rumah tangga itu mengulangi pertanyaannya. “Saya tidak mau ketemu dengan siapa-siapa. Saya hanya ingin mengambil barang-barang saya di dalam. Saya istri dari Andra,” jawab Sonya. “Sebentar. Non tunggu dulu di luar ya. Saya panggilkan nyonya dulu.” Asisten rumah tangga itu dengan cepat berjalan kembali ke dalam rumah. Sonya tersenyum geli. Apa ini? Sonya di tahan di depan rumah suaminya sendiri? Asisten rumah tangga itu masuk ke dalam untuk memanggil gundik yang di sebutnya sebagai ‘Nyonya’ di hadapan Sonya? Sonya lebih memilih menuruti prosedur yang ada saja. Dia tidak ingin merusak semua rencananya dengan keributan apapun. “Bukannya Mas Andra sudah membelikanmu rumah? Kenapa kamu datang lagi?” terdengar suara yang datang mendekati pintu rumah itu. Sonya membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah sumber suara. Di depannya sudah berdiri Diana yang menatapnya dengan tajam. “Aku datang untuk mengambil barang-barang milikku dan Reyna,” jawab Sonya dengan tenang. Sonya langsung berjalan masuk ke dalam rumah itu tanpa menunggu jawaban dari Diana. Dia ingin segera menyelesaikan semuanya dengan cepat dan segera pergi dari rumah itu. “Dasar tidak sopan! Aku masih bicara kamu main nyelonong aja!” teriak Diana. Sonya tidak menghiraukannya. Dia langsung mengemas barang-barang miliknya dan Reyna di kamar belakang. Diana duduk di ruang tengan sambvil terus melihat ke arah kamar belakang sambil bersedekap. Dia benar-benar sudah lupa bahwa status Sonya di rumah itu masih Nyonya Andra. Tidak banyak waktu yang diperlukan oleh Sonya untuk mengemasi semua barang-barang mereka. Sonya dan Riena memang tidak banyak memiliki barang. Andra begitu ketat mengatur keuangan mereka dan hampir tidak pernah lagi membelikan barang apapun pada mereka. Sonya membawa koper dan tas dari dalam kamar dan meletakkannya di ruangan tengah. Diana menyunggingkan senyum kemenangan di wajahnya. Tak lama lagi Sonyaakan benar-benar pergi dari kehidupan Andra dan Diana akan menjadi satu-satunya nyonya di rumah itu. “Hey, ngapain kamu masuk ke dalam kamar kami?” teriak Diana sambil berdiri dari tempat duduknya dan bergerak cepat mengejar Sonya yang sudah berada di depan pintu kamar mereka. “Aku mau mengambil berkas pribadiku yang tersimpan di dalam lemari.” Sonya menatap malas ke arah Diana kemudian langsung masuk ke dalam kamar. Baru saja Diana akan melangkahkan kakinya ikut masuk ke dalam kamar, tiba-tiba asisten rumah tangganya datang. “Nyonya, di depan ada teman nyonya datang.” “Sialan!” umpat Diana. Hari itu memang dia berencana ingin hang out bersama teman-teman arisannya. Sejak menajdi istri Andra, Diana langsung bergabung dengan gank sosialita yang ada di sosial media miliknya. Padahal Diana sama sekali tidak pernah akrab dengan mereka. “Suruh mereka tunggu. Saya bersiap-siap sebentar.” Diana menatap tajam ke arah Sonya kemudian mengambil bajunya dan memakainya di kamar yang lain. Dia harus segera bersiap sebelum menjadi bahan gibahan genknya yang kesabarannya setipis tisu. Sonya mengambil semua berkas-berkas penting pribadinya dan juga Reyna. Tak ketinggalan dia juga mengambil surat nikah dririnya dan Andra. “Jika Mas Andra sengaja mengulur waktu mengurus perceraian itu, biar aku yang akan mengurusnya langsung,” gumam Sonya sambil memasukkan semua berka-berkas itu ke dalam sebuah tas. Sonya segera keluar dari kamar itu begitu selesai mengambil apa yang diperlukannya. “Mereka belum pergi juga.” Sonya menghelakan napasnya begitu mendengar suara riuh khas wanita tukang gibah dengan logat centil nan sombongnya. Sonya memilih duduk di ruang tengah menunggu samapi semua orang itu pergi, termasuk Diana. Dia tidak ingin menjadi bahan tontonan dan gibahan mereka. “Sudah selesai? Ya sudah, pulang sana. Ngapain pakai duduk di sana!” Diana menyalak begitu keluar dengan baju gemerlapnya. Sonya menahan bibirnya agar tidak tertawa begitu melihat dandanan dan pakaian yang sedang di pakai oleh Diana. Gemerlap dan menyala, dua kata yang pas untuk mewakili penampakan itu. “Apa dia mau mengadakan konser dangsut dengan pakaian seperti itu?” gumam Sonya. “Jeung Diana! Lama amat sih Jeung! Kita udah laper loh,” teriak seseorang dari ruangan depan. “Jangan berlama-lama di rumah ini. Kamu sudah tidak pantas berada di sini lagi!” ucap Diana yang kemudian berlalu ke ruangan depan menemui teman-temannya. Begitu memastikan bahwa Diana dan genknya sudah pergi. Sonya segera memesan sebuat taksi online. Begitu taksi online itu tiba, Soya segera membawa keluar semua barang-barangnya dan pergi menuju ke rumahnya. Mobil taksi online itu tiba di depan rumah baru mereka sekitar dua puluh menit kemudian. Sonya dibantu oleh supir taksi itu membawa barang-barangnya ke depan rumah. “Terima kasih, Pak,” ucap Sonya sambil membayar ongkos perjalanannya. Sonya memasukkan semua barangnya ke dalam rumah. Dia dan Reyna harus memulai semuanya kembali. Mereka tidak memiliki barang apapun selain pakaian dan mainan Reyna di dalam koper. “Aku akan mulai mencicil satu persatu perabotan penting untuk menunjang hidup kami. Mungkin sore ini aku akan membeli kompor dan alat makan. Pokoknya kebutuhan primer harus sudah ada saat Reyna pulang nanti agar aku tenang menginggalkannya untuk bekerja,” gumam Sonya sambil kedua netranya mengedar ke sekitar ruangan. Keesokan malamnya, Reyna sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Sonya yang baru saja selesai bertugas langsung membawa Reyna pulang ke rumah baru mereka. “Kita sudah sampai, Sayang,” ucap Sonya sambil menurunkan Reyna ke atas tempat tidur. “Rey capek ya? Mau bobok?” Reyna menganggukkan kepalanya. Sonya dengan cepat merebahkan tubuhnya di samping anaknya dan mengusap pelang puncak kepala Reyna. Sebuah lantunan lagu mengalir dari mulut Sonya untuk meninabobokkan anak sematawayangnya itu. Netra Sonya menatap perban yang menutupi kedua mata Reya. Sonya berharap ketika perban itu dibuka nanti, kedua mata Reyna sudah bisa melihat selayaknya mata normal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN