David baru saja keluar dari lobi rumah sakit menuju ke parkiran mobilnya. Sore ini ada empat jadwal operasi yang cukup menguras energinya. Untung saja malam ini dia tidak ada jadwal praktek mandiri.
David segera menghidupkan mesin mobilnya dan melajukannya menuju ke rumahnya. Meskipun melelahkan, rutinitas ini sangat dicintai oleh David. Setidaknya hal ini bisa membuatnya lupa dengan hal-hal menyakitkan dalam hidupnya sekaligus mengisi kekosongan dalam hati dan hidupnya setelah kejadian lima tahun yang lalu.
Mobil David baru saja tiba di garasi rumahnya. Tak lama kemudian, ponselnya berbunyi. Dengan lemas di ambilnya ponsel itu dari dalam kantong kemejanya. David mengangkat panggilan telepon itu tanpa melihat siapa yang sedang menelponnya sembari keluar dari dalam mobilnya.
“Halo?” ucap David begitu mengangkat panggilan yang masuk ke dalam ponselnya.
“Nanti malam jadi kan, Mas?”
Hanya dengan mendengar suara lawan bicaranya itu, David sudah bisa menebak dengan siapa dia sedang berbicara.
“Jadi, Vi. Setelah sholat maghrib nanti Mas pasti datang.”
“Seneng deh. See you tonight, Mas Dokterku,” ucap Viona dengan semangat.
“See you, Vi.”
David menutup panggilan teleponnya kemudian berdiri. Dia harus segera bersiap sebelum Viona terus menelponnya berkali-kali.
Begitu selesai mandi dan mengambil wudhu, David langsung menunaikan sholat maghrib terlebih dahulu sebelum melaju ke rumah Viona.
Sebuah kemeja slim fit berwarna biru dongker berlengan panjang menjadi pilihan David. Kemeja itu di padukan dengan celana chino berwarna cream. David menggulung bagian lengan kemejanya sebagian.
David melihat ke arah jam tangan yang baru dipakainya. Sudah waktunya berangkat. David segera mengambil kunci mobilnya dan berjalan keluar dari rumahnya. David kembali memeriksa notifikasi yang tampil di layar ponselnya sembari masuk ke dalam mobilnya.
Begitu yakin tidak ada lagi notifikasi yang dapat dibacanya, David segera melajukan mobilnya menuju ke rumah Viona. Jalanan yang tidak terlalu padat membuat David bisa lebih cepat tiba di rumah Viona.
“Lama banget sih, Mas!” ucap Viona yang terlihat sudah menunggunya di teras rumah sambil cemberut pada David yang baru saja keluar dari mobilnya.
David tersenyum melihat bibir Viona yang maju kedepan.
“Kan Mas bilang tadi habis sholat maghrib, Vi.” David berjalan mendekati Viona.
“Kan bisa sholat disini.”
“Mas baru pulang juga tadi. Biar gak mepet waktunya, Vi.”
“Ya udah deh. Ayo masuk, Mas. Mama sudah nungguin tuh di dalam.”
David mengikuti Viona berjalan masuk ke dalam rumah.
“David!” teriak Leny, ibunya Viona sambil tersenyum dan bangkit dari sofa duduknya begitu melihat kedatangan David.
David langsung mencium tangan Leny dengan santun.
“Apa undangan makan malam tante mengganggu jadwal kerjamu?” tanya Leny.
“Tidak, Tante. David memang libur praktek kalau hari sabtu.”
“Syukurlah. Ayo kita makan. Tante masak makanan kesukaan kamu. Ikan bakar pakai sambal terasi kan? Selera kamu dengan Mas Ryan sama, makanya kalian sangat cocok.” Leny tersenyum sambil menarik kursi yang ada di meja makan dan duduk. David dan Viona ikut duduk bersebelahan.
“Silahkan, Vid,” tawar Leny.
Mereka pun mulai mengambil makanan yang tersaji di tas meja.
“David mirip banget dengan Almarhum papa kan, Vi? Lembut dan adem. Apalagi dengan anak-anak,” puji Leny.
“Mama belum pernah lihat Mas David marah kan? Viona udah pernah loh, Ma. Mas David marah-marah dengan asistennya yang baru.” Viona melapor dengan semangat.
“Benarkah? Karena apa? Pasti asistennya sudah buat kesalahan yang berat itu makanya David bisa sampai marah begitu.”
“Iya, Mas? Emang dia salah apa sih?”
Viona dan Leny melihat ke arah David secara bersamaan. David yang sedari menunduk sambil melihat ke arah makanannya mulai larut dalam pikirannya.
“Dia tidak salah sebenarnya. Mas saja yang sedang sensitif saat itu,” jawab David.
Vid?” panggil Leny.
“Ya, Tante?”
“Kamu sudah punya pacar?”
Viona langsung melihat ke arah David dengan wajah yang serius.
“Belum, Tante.”
“Syukurlah.” Leny menghelakan napas lega.
David spontan melihat ke arah Leny sambil terus menikmati makan malamnya, “Kok syukurlah sih, Tante?”
“Tidak ada apa-apa, Vid. Tante sedang senang saja. Oh iya, dulu almarhum Mas Ryan pernah bilang kalau dia ingin sekali punya menantu seperti kamu.”
Spontan David terbatuk karena tiba-tiba makanan yang baru saja akan ditelannya terasa berhenti di tengah tenggorokannya.
“Ya ampun, minum dulu, Mas.” Viona langsung memberikan segelas air minum kepada David.
David segera mengambil gelas air minum itu dari tangan viona dan meneguknya hingga setengah.
“Maaf tante. Tadi tiba-tiba terasa seret tenggorokannya.”
“Masakan tante enak kan?”
“Oh enak banget tante. Mantap. Gak berubah dari dulu. Juara” David tersenyum terpaksa.
“Kirain kamu keselek karena makanannya gak enak.”
“Topiknya pedas, Tante. Eh maksudnya rasanya sedikit lebih pedas dari biasanya. Pasti tante pakai cabe rawit ya?”
“Sedikit sih tadi. Bukannya kamu dari dulu sukanya makanan pedes ya, Vid?” Leny mengernyitkan keningnya.
“Sudah mulai saya kurangi, Tante. Soalnya kasihan sama lambung dan pencernaan,” jawab David asal sambil tesenyum.
David bisa bernapas lega begitu acara makan malam itu akhirnya selesai. Tante Leny dan Viona terus bergantian bercerita sepanjang makan malam itu sementara David dengan setia mendengarkan sambil sesekali tersenyum.
“Buru-buru amat sih pulangnya, Mas. Baru juga jam sembilan malam. Duduk-duduk dulu yuk di teras,” ajak Viona.
“Mas sudah pengen rebahan, Vi. Hari ini pasien di rumah sakit lumayan banyak.”
“Ya udah, Deh kalau begitu.”
“Mas, mau pamit dengan tante dulu,” ucap David.
“Bentar.”
Viona masuk ke dalam rumah dan memanggil mamanya yang sedang santai menonton televisi sambil berselanncar di media sosialnya.
“Udah mau pulang, Vid?” tanya Leny sambil berjalan mendekati David.
“Iya, Tante. Makasih atas makan malamnya.”
“Sama-sama. Nanti tante undang lagi ya kapan-kapan.”
“Iya, Tante. Kalau begitu saya permisi dulu ya, Tante.”
“Hati-hati di jalan, Vid.,” ucap Leny.
“Mas pulang dulu ya, Vi.”
“Iya, Mas. Hati-hati.”
David segera berjalan menuju mobilnya dan masuk ke dalam. Leny dan Viona terus berdiri menatap mobil David yang bergerak pergi setelah membunyikan satu kali klakson mobilnya diiringi dengan lambaian tangan Leny dan Viona.
“Tubuhku terasa pegel banget. Setelah sholat isya nanti aku akan langsung tidur,” gumam David sambil terus mengendarai mobilnya kembali kerumahnya.