David mengambil botol minumannya dan mengisinya dengan air minum. Rutinitasnya setiap hari selepas sholat subuh yang tidak pernah absen dilakukannya, olahraga dengan treadmilnya. Itulah alasan kenapa stamina David bisa selalu prima selain makanan bergizi yang di konsumsinya.
Hari minggu kemarin lumayan cukup baginya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang hampir dua puluh empat jam bekerja setiap hari.
Setelah kurang lebih setengah jam, David mulai memperlambat laju treadmilnya. David mengambil sebuah handuk kecil yang ada di dekat treadmilnya dan menyeka keringat yang mengucur deras di wajahnya.
“Sudah waktunya bersiap kerja,” ucap David sambil melihat jam yang ada di dinding ruangan olahraganya.
David mematikan treadmilnya, kemudian berjalan menuju ke kamarnya dan segera mandi. David bukan tipe orang yang ribet. Dia tidak memerlukan waktu yang banyak untuk mempersiapkan dirinya. Selesai menyantap roti sarapannya, David segera melangkahkan kakinya keluar dari rumah menuju ke garasi mobilnya.
“Tepat waktu,” gumam David sambil tersenyum melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.
David segera melajukan mobilnya menuju ke Rumah Sakit. Belum lama Ia melajukan mobilnya, David malah melambatkan laju mobilnya. Matanya menangkao sesosok wanita yang sangat dikenalnya.
“Itu sepertinya Sonya.” Netra David terus terpaku pada wanita yang sedang berdiri di pinggir jalan, tepat di depannya.
Mata David perlahan menyipit, mencoba memfokuskan penglihatannya agar bisa lebih jelas melihat objek yang ada di depannya.
David spontan menghentikan mobilnya begitu yakin dengan apa yang dilihatnya. Wanita yang sedang berdiri di pinggir jalan menatap bingung kearah mobil David yang berhenti tepat di depannnya.
“Sonya?” ucap David begitu kaca mobilnya terbuka.
“Dokter?” Sonya terkejut dengan apa yang dilihatnya.
“Kamu ngapain di sini?”
“Saya sedang menunggu angkutan online, Dokter. Sejak tadi saya pesan tapi belum juga dapat.”
“Naiklah,” perintah David pada Sonya.
“Naik?”
“Kita kan satu tujuan. Dari pada kamu datang terlambat karena nungguin angkutan online. Kan aku juga yang bakalan repot.”
Sonya tidak ada pilihan lain. Dia juga takut David akan marah jika dia datang terlambat. Dengan sedikit sungkan akhirnya Sonya melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil David.
“Pakai seatbeltnya,” ucap David sambil melihat sekilas ke arah Sonya kemudian segera mengalihkan kembali pandangannya kedepan begitu menyadari Sonya melihat ke arahnya.
Sonya segera memasang seatbeltnya. Begitu memastikan Sonya sudah siap dan aman di tempat duduknya, David segera melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.
“Kenapa kamu bisa sampai di daerah sini?” tanya David memecahkan suasana hening diantara mereka.
“Saya baru pindah di komplek itu, Dok.”
“Dimana?”
“Di Citra Raya Mansion, Dok.”
“Citra Raya Mansion? Itu kan tidak jauh dari komplek tempat aku tinggal,” batin David.
“Sejak kapan?” tanya David kembali.
“Baru kemarin, Dok.”
“Kau tidak perlu memanggilku dengan panggilan ‘Dokter’ jika kita tidak sedang berada di rumah sakit, Sonya.”
Sonya melihat kearah David beberapa saat kemudian menganggukkan kepalanya, “Kamu juga tinggal di daerah sini?”
David melirik sekilas ke arah Sonya, “Ya. Komplek rumah kita berdekatan. Kita masih satu daerah.”
Sonya menganggukkan kepalanya begitu mendengar ucapan David.
Mobil David tiba di parkiran rumah sakit. David dan Sonya keluar dari dalam mobil dan berjalan masuk menuju lobby rumah sakit.
“Kamu duluan saja ke ruangan,” ucap David pada Sonya.
“Baik, Dokter. Saya permisi.”
David terus memandangi punggung Sonya yang perlahan menjauh dan hilang. David menghelakan napasnya dengan berat. Dia melangkahkan kakinya menuju ke kamar kecil sebelum menyusul Sonya ke poli prakteknya.
Pagi ini tiba-tiba semangat David terasa menurun. Padahal tadi pagi moodnya benar-benar bagus. Dengan langkah gontai, David menapaki jalan menuju ke ruangan prakteknya.
Sonya, Sonya dan Sonya.
Bagaimana dia bisa melupakan mantan pacarnya itu jika setiap hari mereka selalu bertemu. Bertahun-tahun tak pernah bertemu saja sulit baginya melupakan kenangan dan wajah cantik Sonya, apalagi sekarang mereka harus menjadi rekan kerja? Bahkan rumah mereka juga kini ternyata berdekatan.
“Dokter David!”
Terdengar suara dari arah belakang saat dia hampir saja tiba di poli prakteknya setelah keluar dari dalam kamar kecil.
David reflek menoleh ke arah orang yang memanggil namanya.
“Ada apa dokter? Kenapa dokter sampai lari-lari begini? Ada gawat darurat kah?” David menatap serius Dokter Ricky yang masih terengah-engah di depannya.
“Iya, Dokter. Ini sangat gawat.”
“Apa itu, Dokter?” wajah David berubah menegang.
“Saya sudah menemukan jodoh saya, Dokter,” ucap Dokter Ricky sambil tersenyum lebar.
“Hahh? Jodoh? Dokter akan menikah?”
“Sonya akan bercerai dengan suaminya, Dokter. Itu artinya peluang saya sudah terbuka lebar untuk mendekatinya,” ucap Dokter Ricky dengan wajah yang begitu sumringah.
“Cerai?”
“Ya, Dokter. Ternyata suami Sonya itu Andra Gilang Artawijaya, seorang pengusaha konstruksi terkenal, Dok.”
David terdiam mendengar nama itu. Ya, itu adalah nama seorang pengusaha terkenal yang sering muncul di media elektronik dan media cetak.
“Apa Sonya sudah datang ya, Dok?” tanya Dokter Ricky lagi.
David menganggukkan kepalanya, “Dia sudah berada di stasinya.”
“Nanti kalau selesai waktu praktek saya izin ngobrol-ngobrol sebentar dengan Sonya ya, Dok. Gak apa-apa kan?”
“Tapi pulang praktek nanti saya dan Sonya ada visit ke rumah pasien, Dok,” jawab David asal demi menggagalkan rencana Dokter Ricky.
“Visit ke rumah pasien? Tumben Dokter punya program seperti itu.”
“Iya, Dok. Masih keluarga soalnya.”
“Oh, gitu. Ya udah deh. Masih ada hari esok.” Dokter Ricky tersenyum.
“Kalau begitu saya duluan ya, Dokter.”
“Terima kasih, Dokter David,” ucap Dokter Ricky yang di balas senyuman oleh David.
David segera berjalan ke ruangan prakteknya. Dilihatnya Sonya sudah sibuk dengan pekerjaannya pagi itu.
“Sudah berapa pasien yang mendaftar hari ini?” tanya David begitu berdiri di depan meja kerja Sonya.
Sonya yang sedang serius dengan lembarn kertas di depannya terkejut dengan kedatangan David.
“Ada 24 orang, Dokter. Rekam medisnya sudah saya persiapkan. Apakah prakteknya sudah bisa kita mulai Dok?”
“Bisa. Langsung saja mulai. Ini rekam medis hari ini?” David menunjuk tumpukan kertas di atas meja Sonya.
“Benar, Dokter.”
“Oh iya, nanti kamu langsung saja pulang cepat setelah praktek nanti. Lembar rekam medis bisa disusun besok saja.” Davi mengambil tumpukan lembar rekam medis itu dari atas meja kerja Sonya.
“Kenapa begitu, Dokter?” tanya Sonya bingung.
“Tidak ada apa-apa. Kamu kan baru pindahan rumah. Kamu pasti lelah kan? Kamu bisa istirahat lebih cepat kan di rumah bersama Reyna.”
“Tapi saya tidak sedang capek kok, Dokter.”
“Ini perintah, Sonya.”
“Ba-baik, Dokter,” jawab Sonya tanpa berani membantah lagi.
David masih terus tersenyum sambil masuk ke dalam ruangannya. Dia sengaja menyuruh Sonya pulang lebih cepat agar tidak sempat bertemu dengan Dokter Ricky yang pasti akan datang begitu melihat Sonya masih berada di ruangannya. Ruang praktek mereka juga masih berdekatan, kemungkinan itu sangat besar dan David tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
“Ada apa dengan David hari ini? Dia menjadi begitu aneh. Kadang dia terlihat begitu dingin dan galak, tapi hari ini dia berubah begitu manis dan baik.” Sonya menghelakan napasnya sambil menaik turunkan pundaknya.