“Kenapa panasnya belum turun juga?” gumam Sonya sambil meraba kening Reyna. Sonya mengambil handuk kecil yang ada di dalam sebauh baskom berisi air hangat kemudian mengompres kening anaknya yang mbaru saja tertidur. “Bagaimana kalau dia terbangun lagi dan menangis? Dia tidak diperbolehkan menangis terlalu kuat sampai perban di matanya dibuka.” Sonya melihat ke arah jam yang ada di dinding kamarnya, sudah menunjukkan pukul satu malam. “Apa sebaiknya aku membawanya ke rumah sakit?” batin Sonya lagi. Sonya mulai mengemasi beberapa baju miliknya dan milik Reyna. “David!” Sebuah ide tercetus di kepalanya. Sesosok pria tiba-tiba hadir di dalam pikirannya. “Seingatku David kemarin mengatakan kalau rumahnya berada tidak jauh dari sini. Apa boleh aku menelponnya dan memintanya untuk memer

