Sejak hari itu, Ndalem Suryawinata terasa seperti sangkar yang mengerikan bagi Gendis. Setiap langkahnya hingga embusan napasnya, terasa diawasi. Mata Karto, si abdi dalem senior bermata elang, kini bukan lagi sekadar bayangan yang melintas, melainkan kehadiran nyata yang tidak terhindarkan. Gendis selalu melihat Karto di setiap sudut Ndalem, seperti di balik pilar-pilar kokoh, di ambang pintu, bahkan di pantulan cermin yang berukir rumit, dia selalu ada. Pria itu tidak lagi menyembunyikan pengawasannya. Tatapannya terlihat dingin, tajam, seolah Gendis adalah buruan yang siap dia cengkeram kapan saja. Gendis berusaha sekuat tenaga untuk menjadi Abdi Dalem yang paling sempurna, mulai bangun lebih awal, tidur paling akhir, mengerjakan semua tugasnya dengan presisi yang tidak pernah dia

