Gadis itu berlari secepat yang dia bisa, tanpa melihat ke belakang, hanya mengandalkan insting dan peta yang Bagas berikan padanya. Pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi, dan hutan terasa sunyi dan menakutkan. “Lembah Tetesan Air Mata Kuno,” Gendis bergumam pada dirinya sendiri. “Tapi di mana itu?” Dia berhenti di balik pohon mahoni yang besar, mencoba menarik napas, dari tempatnya berdiri didengarnya teriakan Bagas yang melengking tinggi dan suara perkelahian dari kejauhan. Pria ningrat itu sedang membeli waktu untuknya. Gendis segera mengeluarkan peta Bagas dari balik kebayanya. Peta itu basah oleh keringat dan lumpur, dibacanya dengan seksama peta itu di bawah cahaya bulan yang redup. Peta itu menunjukkan serangkaian sungai kecil dan tebing curam. Lembah Tetesan Air Mata Kuno bera

