Dinding dapur yang sempit kini adalah satu-satunya dunia Gendis. Bau rempah dan asap masakan menjadi teman setianya sehari-hari, menggantikan aroma melati dan cendana yang dulu mengelilinginya. Gadis itu bekerja tanpa henti, memotong sayuran, mengulek bumbu, mencuci piring-piring porselen yang tidak terhitung jumlahnya. Setiap gerakannya diiringi tatapan Nyi Roro yang tajam, atau sesekali, tatapan Karto yang melintas di ambang pintu, seperti elang yang mengawasi mangsa. Beberapa hari setelah pengasingannya ke dapur, Nyi Roro tiba-tiba datang dengan perintah baru. “Gendis!” suara Nyi Roro melengking, memecah keheningan dapur yang sedang sepi. Gendis, yang sedang membersihkan noda minyak di lantai, tersentak. “Nggih, Nyi Roro?” Gendis buru-buru berdiri, menunduk dalam. Nyi Roro melipat

