29. Agensi Model

1208 Kata
Aku tak percaya dengan apa yang baru saja aku lihat sekarang. Timbangan ini memunculkan angka yang membuatku takjub, sekaligus terharu. Berat badanku telah menunjukan angka 55 kg. Target berat yang aku inginkan sekarang benar-benar telah tercapai. Aku melihat tubuhku melalu cermin yang ada di kamar. Ukuran cermin itu cukup untuk aku bisa melihat bentuk tubuhku dari atas kepala hingga ujung kaki. Pantulan rupa tubuhku di cermin itu juga ikut membuatku takjub dan terharu. Aku menatap tak percaya setiap lekukan tubuhku yang kini terasa indah. Aku mengagumi bentuk tubuhku sendiri. Perasaan yang baru kali ini aku rasakan. Setelah puas menumpahkan rasa haruku, segera aku pergi ke kamar mandi dan bersiap untuk masuk ke kelas model. Aku mengenakan pakaian yang kemarin dibeli bersama Mama. Sebuah kaus lengan pendek berwarna putih dengan ukuran yang pas di badanku dan memiliki motif hiasan yang sederhana, tapi tetap terkesan cantik. Jeans hitam yang aku kenakan sekarang juga membuat bentuk kakiku terlihat dengan jelas. Aku memang sedang ingin menampilkan hasil kerja kerasku kepada semua orang. Aku bergegas untuk berangkat setelah merasa percaya diri dengan penampilanku. Setelah sampai ke gedung sekolah modelku, aku melangkah dengan raut wajah penuh antusias dan bahagia. Sepeatu hak tinggi yang aku gunakan sekarang membantu menambah rasa percaya diriku untuk melangkah. Sekarang aku tak perlu terbeban lagi memilih sepatu yang akan dikenakan. Dahulu tumitku akan selalu terasa sakit bila mengenakan sepatu dengan hak lebih dari 3 cm. Kini aku bisa bebas memakan sepatu dengan tinggi hak berapapun tanpa merasakan sakit. Berat tubuhku sudah ideal hingga langkah kakiku bisa lebih ringan. Aku masuk ke dalam aula. DI sana sudah ada banyak gadis dan Tante Marissa yang berdiri di depan. Aku melambaikan tangan ke arah Tante Marissa. Dia membalasku dengan senyuman. Setelah itu aku segera masuk ke dalam barisan. Kelas sebentar lagi akan di mulai. Hari ini akan ada ujian berjalan di catwalk. Tante Marissa akan menilai cara berjalan kami satu per satu. Ujian ini seperti sebuah penentuan kelulusan. "Seperti biasa... Kalina melakukannya dengan sangat baik. Kamu akan jadi model yang sukses," puji Tante Marissa. "Thank you, Madam." Kalina tersenyum senang. "Oke. Sekarang giliran Bonita." Aku berusaha menahan kegugupanku ketika mendengar namaku disebut. Tante Marissa memang jarang menjadi pengajar dan penguji. Ada banyak model professional yang menjadi pengajar di sekolah ini. Sementara Tante Marissa hanya turun ke kelas saat ujian terakhir setiap angkatannya. Karena itu moment ini terasa begitu mendebarkan. Aku tidak berharap mendapat pujian istimewa. Cukup dengan bisa berjalan mulus di atas catwalk, tanpa terjatuh dan mempermalukan diri. "Good job, Bonita! Kamu bagus banget jalannya. Ekspresi dan tatapan matanya... wow!" Aku menatap tak percaya dengan pujian yang baru saja terdengar dari Tante Marissa. Ini diluar dugaan. Rasanya latihanku selama ini telah terbayar. Tidak sia-sia aku latihan berjalan selama ini di rumah. "Terima kasih, Madam." "Kamu juga tambah cantik, Bonita. Badan kamu makin bagus. Kamu tidak tertarik bergabung ke agensi modelku?" Aku semakin tersanjung mendengar pujian itu. Tidak semua gadis ditawari Tante Marissa untuk masuk ke agensi modelnya. Aku yakin gadis-gadis disekitarku sedang menatapku iri saat ini. "Enggak, Madam. Aku hanya ingin belajar cara berjalan yang baik dan penuh percaya diri. Itu sudah cukup. Terima kasih atas tawarannya." "Katakan saja kapan pun kamu tertarik jadi model. Kesempatan selalu terbuka untukmu." "Terima kasih, Madam." Aku tersenyum puas dengan hasil ujian yang aku terima barusan. Aku menunggu semua gadis selesai berjalan dengan perasaan senang. Bibirku selalu tersenyum. Aku tak bisa menyembunyikan kebahagiaan dan kepuasan dari raut wajahku. Setelah ujian benar-benar selesai, aku pergi menuju toilet. Tanganku terasa lembab. Mungkin karena tadi sempat gugup, telapak tanganku menjadi berkeringat. Ketika aku sedang mencuci tangan, tiba-tiba seorang gadis masuk dan ikut mencuci tangan juga di sebelahku. Aku mengenalnya. Siapapun di gedung ini tau siapa dia. Kalina, salah satu gadis yang paling cantik dan berbakat di sekolah ini. Tubuh Kalina begitu bagus. Lekukan pinggang yang indah, kulit yang mulus, dan kaki yang jenjang. Aku yang sedang berada di sebelahnya pun ikut mengagumi. "Lo pake apa bisa kurus begitu?" Pertanyaan Kalina itu membuatku terkejut. Kalimat pertanyaannya memang biasa. Namun nada dan ekspresinya ketika berbicara terasa seperti menyindir. "Gue cuma diet dan olah raga kok," jawabku. Aku mematikan keran air dan beralih ke mesin pengering tangan. "Oh gitu. Gak keliatan ya. Lebih keliatan kayak abis operasi sedot lemak." Kalina tertawa sinis. "Enggak kok," jawabku singkat. "Lo ada hubungan apa sama Madam Marissa? Bayar berapa biar masuk agensinya?" Setelah memastikan tanganku kering, aku langsung membalas tatapan tajam mata Kalina dengan sorot yang sama tajamnya. "Kalo lo iri sama gue... bilang aja. Gak usah fitnah. Itu cuma bikin lo keliatan kayak loser." Aku langsung pergi meninggalkan Kalina. Terus berjalan dan mengabaikan teriakan kesal dari gadis itu. Aku tidak memiliki kewajiban untuk terus meladeni pertanyaan-pertanyaan jahatnya. Aku meraba dadaku. Jantungku berdebar dengan kencang. Ini kali pertama aku melawan dengan sikap tegas orang yang berkata dan bersikap jahat padaku. Rasanya menegangkan, tapi juga menyenangkan. Bonita yang sekarang memang sudah berbeda dengan Bonita sebelumnya. Aku tidak akan tinggal diam dan pasrah bila mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan. *** "Terima kasih traktirannya sayang. Steak ini enak banget." Aku tersenyum ke arah Tante Marissa. Dia tampak menikmati makanan yang tersaji di hadapannya. Aku memang sengaja mengajaknya makan malam di restoran steak yang cukup terkenal di Jakarta. Ini sebagai bentuk ucapan terima kasih padanya. "Aku yang justru makasih ke Tante. Makasih udah terima aku jadi muridnya Tante." "Kamu gak perlu terima kasih untuk itu. Aku sangat senang kamu belajar di tempatku. Kamu berbakat lho. Yakin gak masuk ke agensi Tante?" Aku tertawa melihat raut wajah Tante Marissa yang tampak sedang menggodaku. "Enggak, Tante. Aku pengen fokus kuliah aja," jawabku, tegas, "Sayang sekali. Aku akan lebih senang bilang kamu masuk. Kamu berbakat jadi model, Bonita. Kamu juga cantik dan badan kamu udah bagus banget sekarang." "Aku melakukan diet dan olah raga bukan untuk jadi model, Tante. Aku gak pengen banya-banyak. Cukup punya kehidupan normal, tanpa ada yang nge-bully aku. Itu udah lebih dari cukup. Aku udah puas dengan itu, Tante. Serius." Tante Marissa meletakan sendok dan garpunya, lalu menatapku dengan serius. "Jangan taruh kebahagian kamu dengan standar penilaian dari orang lain, Bonita. Gak akan ada habisnya. Selalu akan ada orang jahat. Pasti ada aja orang yang punya pikiran dan tabiat yang buruk. Kamu gak akan bahagia kalo terus ngeliat pandangan orang lain." Aku hanya tersenyum datar. Ucapan Tante Marissa memang benar. Namun Dia tidak pernah merasakan berada di posisiku. Dia cantik dari lahir, memiliki tubuh yang bagus, dan pekerjaan terpandang. Tidak akan ada yang tau betapa beratnya berada diposisiku, kecuali mereka merasakannya secara langsung." "Aku harap kamu bahagia, sayang." "Terima kasih, Tante." Kami bersulang, lalu meneguk wine secara bersamaan. CONTINUED ****************** Hai guys ^^ Finally cerita ini update lagi. Aku baru sempet soalnya hehe. Maap ya. ^^ Gimana bab ini? Ada yang seneng gak liat perubahan Bonita? Setidaknya Bonita udah berani ngelawan kalo ada yang jahat :D Oh ya... cerita ini bakalan di kontrak ekslusif Dreame dan Innovel. Jadi bakalan pindah ke sana. Bakalan On Going di sana. Masih gratis kok, belum berbayar. Tenang aja. Aku bakalan umumin kok. Cuma selama masih belum tanda tangan kontrak, aku bakalan tetep update di w*****d. Sampai jumpa di bab berikutnya ya! ^^ Salam, Penulis amatir yang selalu ada drama salah stasiun setiap kali naik kereta :'
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN