Aku menatap tak percaya pantulan wajahku di cermin.Make up ternyata sanggup mengubah wajah biasaku menjadi tampak cantik. Aku terkagum dengan hasil karya make up artist yang direkomendasikan oleh Mamaku. Bara, telah meriasku sejak satu jam yang lalu. Dia memang begitu ahli memoles wajahku menjadi berbeda. Aku bahkan tak percaya bahwa wajah yang ada di cermin itu adalah milikku.
"Gimana?" tanya Bara.
"Bagus banget! Kakak jago banget make up-nya!" jawabku. Aku masih begitu terpana hingga tak bisa melepaskan tatapan dari cermin.
"Kamu memang sudah cantik Bonita. Apalagi kamu berhasil menurunkan cukup banyak berat badan. Kamu juga udah mulai ngerawat kulit wajahmu dengan baik. Aku dengar kamu juga ngubah pola hidup jadi lebih sehat? Mungkin karna itu, aku gak perlu terlalu usaha banget pas make up-nya."
Aku tersipu malu. Kalimat pujian masih terasa aneh bagiku. Aku selalu merasa canggung setiap kali ada orang yang melontarkan pujian ke arahku.
"Sekarang kita tata rambut kamu ya."
Aku mengangguk dengan penuh antusias. Kak Bara benar-benar berbakat. Dia bukan hanya pandai merias wajah, tapi juga menata rambut. Dia membuatku terinspirasi untuk belajar make up. Mungkin aku tak akan bisa sepandai Kak Bara, tapi setidaknya aku bisa make up sederhana bila ingin pergi ke kampus nanti atau sekedar pergi hang out. Aku pikir keahlian itu memang diperlukan oleh setiap wanita.
"Gimana, Bon?" tanya Kak Bara.
Aku kembali takjub ketika melihat tampilanku di cermin. Tatanan rambut yang dibuat oleh Kak Bara benar-benar menyempurnakan penampilanku. Rambutku dibuat ikal bergelombang. Hal yang tak pernah terjadi sebelumnya pada rambutku.
"Bagus banget, Kak. Aku kayak bukan aku aja! Bener-bener beda." Aku masih terus menatap cermin dengan raut wajah begitu terpana.
"Tunggu sampai kamu pakai kalung ini."
Kak Bara memakaikan kalung dengan hiasan mutiara kecil ke leherku. Kalung itu mengisi kekosongan area leher dan dadaku. Perhiasan sederhana tapi cantik itu, menyempurnakan tampilanku hari ini. Aku benar-benar menatap kagum diriku lewat cermin. Gaun merah ini begitu indah. Riasan wajah dan tatanan rambut pun juga begitu cantik. Penampilanku sekarang terasa begitu sempurna. Ini terasa seperti bukanlah diriku!
Aku menatap Kak Bara dengan sorot penuh haru. "Makasih banyak ya, Kak. Seumur hidup... baru sekarang aku ngerasa diriku itu cantik!"
Kak Bara tersenyum. "Kamu memang cantik, Bonita!"
Aku tersenyum, lalu mengangguk. "Sekali lagi... makasih ya, Kak."
"Iya. Sama-sama. Sekarang kamu bisa dateng ke acara prom nite dengan penuh percaya diri!"
Aku kembali menganggul sambil tersenyum dengan sorot mata penuh haru. Rasanya aku ingin menangis. Namun sebisa mungkin aku menahan air mata ini supaya tidak jatuh. Aku tak ingin riasan wajahku menjadi hancur hanya karena tetesan air mataku.
***
Aku sudah mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk mengikuti acara prom nite ini. Namun tetap saja, hatiku sangat gugup. Sudah lebih dari sebulan aku tidak bertemu dengan teman-teman sekolahku. Aku juga tidak menghubungi satupun dari mereka melalui pesan atau panggilan telepon.
Sebenarnya bisa saja aku memilih untuk tidak datang dan menghindari mereka. Namun aku ingin menunjukan perubahan diriku kepada mereka semua. Perubahan penampilanku. Walaupun belum sempurna, tapi setidaknya jauh lebih baik daripada badanku beberapa bulan yang lalu. Bonita yang sekarang sudah memiliki lekukan pinggang dan berhasil menghilangkan banyak lemak dari tubuhku.
Aku menganggap ini sebagai ajang pembuktian, bukan pembalasan. Aku hanya ingin menunjukan diriku versi yang sekarang kepada mereka. Aku ingin menunjukan bahwa penampilan fisik itu merupakan sesuatu yang bisa diusahakan untuk berubah. Tidak semua orang gemuk akan selamanya gemuk.
Aku keluar dari mobil dan berjalan menuju gedung yang menjadi lokasi acara prom nite sekolahku. Hatiku masih saja gugup setiap kali langkah kakiku berjalan maju. Namun aku berusaha sebisa mungkin menahan kegugupan itu. Aku mencoba untuk melangkah dengan percaya diri.
Semua ilmu yang aku pelajari di sekolah model, berusaha aku terapkan di moment ini. Berjalan dengan kepala dan tubuh yang tegak. Melangkah dengan penuh percaya diri.
Aku langsung mengisi daftar hadir di meja penerima tamu ketika sudah sampai di depan aula. Kemudian bersiap untuk menunggu giliran untuk foto di photo booth sebelum masuk ke aula. Aku bisa melihat seluruh mata yang ada di sana sedang menatap ke arahku. Mereka saling berbisik sambil memperhatikanku.
Aku bisa menebak kalau mereka terkejut dengan perubahan penampilanku. Baik karena perubahan bentuk tubuhku yang sudah tidak bisa dibilang gemuk, sekaligus karena gaun dan riasan yang aku gunakan sekarang. Aku bukan lagi bonita yang sibuk menutupi lemak-lemak tubuh dengan jaket dan baju kelonggaran. Aku bukan Bonita yang tidak peduli akan penampilan rambut dan riasan wajah. Aku bukan lagi Bonita si buruk rupa.
Setelah giliran fotoku telah tiba, aku segera berpose dengan penuh percaya diri. Menyunggingkan senyum semanis mungkin dan menampilkan sorot mata yang penuh kebanggaan. Dari posisiku berdiri, aku bisa melihat Marco dan teman-temannya tampak terkejut sekaligus terpana melihatku. Mereka menatap terbelalak ke arahku sambil saling berbisik. Namun aku pura-pura tak melihat mereka.
Aku langsung masuk ke dalam aula setelah selesai berfoto. Berusaha bersikap dingin, sekaligus acuh pada setiap mata yang menatapku tak biasa, Di kepalaku hanya berpikir bila mereka sebenarnya iri pada perubahan penampilanku. Aku terus berjalan menyusuri aula itu, sambil menikmati music live yang sedang disajikan.
Tak jauh dari tempatku berdiri, aku bisa melihat Renata sedang menatap ke arahku. Renata tampil sangat cantik malam ini. Dia mengenakan gaun warna hitam tanpa lengan dengan panjang selutut. Kalung mutiara juga menambah kecantikannya. Lipstik merahnya begitu mengagumkan. Dia memang pantas untuk disebut bintangnya acara ini.
Namun aku tak ingin terlalu lama memiliki kontak mata dengan Renata. Aku tak ingin menatapnya terlalu lama, apalagi menghampirinya. Dia bukan sahabatku lagi. Lebih baik aku berada di acara ini dalam kesendirian, daripada harus memaksakan diri untuk tampak akrab dengan Renata. Lagipula kenyataannya, aku memang sudah tidak memiliki teman lagi.
Aku memilih untuk menuju ke sudut aula yang berisi hidangan makanan. Ada meja yang berisi hidangan makanan berat seperti berbagai menu seafood, daging, dan pasta. Namun aku tidak mau menyantap makanan berat di acara ini. Aku lebih memilih hidangan dessert kali ini.
Aku berjalan menuju etalase cake. Kemudian menaruh beberapa jenis cake ke atas piring kecil yang sedang aku pegang. Aku menikmati cake itu sambil menonton live music yang sedang berlangsung. Makanan ini membuatku tak merasa kesepian walaupun aku sedang sendirian. Setelah selesai menyantap semua cake itu, aku berjalan menuju meja yang menyajikan berbagai minuman.
Kali ini aku memilih segelas mango juice yang tampak begitu segar dan menggiurkan. Seperti penampilannya, minuman itu memang benar-benar enak. Bila mengadakan acara, sekolahku memang selalu membuatnya istimewa, termasuk dalam hal makanan dan minuman. Walaupun ini hanya jus mangga, tapi rasanya begitu enak.
"Hai... Bon."
Aku langsung menoleh ke arah sumber suara yang memanggil namaku. Namun raut wajahku langsung berubah ketika melihat siapa yang baru saja memanggilku. Dennis, kini berdiri di sampingku dengan segelas wine ditangannya. Aku langsung memalingkan wajahku. Aku mengacuhkan usaha Dennis yang berusaha untuk mendekatiku.
"Lo cantik malam ini," puji Dennis.
Aku justru tersenyum sinis mendengar kalimat pujian itu. Rasanya lucu mendengar kata cantik keluar dari bibir seorang Dennis. "Terus kalo gue cantik, lo baru mandang gue gitu?"
Dennis mengerutkan keningnya. "Maksudnya?"
"Yah karna gue hari ini cantik, makanya lo mau nyamperin gue kan? Coba kalo gue jelek, mana mungkin lo mau deket sama gue. Apalagi di acara kayak begini." Aku tertawa sinis.
"Bon... gue gak kayak gitu. Kita udah temenan sejak badan lo gak kayak sekarang."
"Udahlah, Den. Lo tuh sama aja kayak semua cowok pada umumnya. Gak usah muna," ucapku, tajam.
"Gue gak ngerti lagi gimana caranya buat ngelurusin kesalah pahaman ini, Bon. Gak semua yang lo pikir itu bener. Gak semua yang lo liat dan denger itu bener, Bon."
Aku kembali tertawa sinis. Aku benar-benar muak mendengar semua celotehan Dennis yang sok bijaksana itu. "Udahlah. Gue mau cabut. Lagian gak ada lagi yang menarik dari acara ini. Mood gue juga udah rusak... dan itu karena lo."
Dennis menghela nafas. Namun aku enggan untuk meneruskan perbincangan dengan laki-laki itu. Aku bergegas pergi, tanpa berpamitan dengan Dennis. Tanpa menatap wajahnya. Aku berjalan menuju tempat mobilku terparkir.
Acara prom nite ini memang belum selesai. Namun aku datang memang tidak memiliki tujuan untuk menikmati acara ini hingga akhir. Kehadiranku di sini hanya sebagai formalitas. Aku hanya ingin menunjukan kepada mereka semua yang pernah merendahkanku... bahwa aku bukanlah Bonita yang dulu lagi.
Aku puas... tujuanku itu berhasil.
CONTINUED
******************
Hai guys ^^
Aku update pas tengah malam nih. Jarang-jarang, kan? :D
Entah kenapa lagi semangat aja buat update. Kayak lagi kejar setoran hahahay.
Pas lagi nulis bab ini, aku sambil nonton channel youtube Dian Bara gitu.
Kontennya seputar berkebun, panen, masak, dan belanja :D Udah sebulan nonton konten Mbak Dian. Entah kesambet apa, aku jadi suka ngeliat panen-panen gitu wkwkkwk.
Dan gara-gara itu, aku jadi mau beli kulkas di kamar dan nyoba bekuin sayur-sayuran wkwkwk *apa sih :D *cuma beneran.
Makasih ya udah baca ceritaku. Udah vote dan komen dengan kata-kata manis :) Aku terharuuu :)
Nanti kita ketemu lagi di bab selanjutnya ya! Dadahhh!
Salam,
Penulis amatir yang besok mau masak sarden sosis buat bekal makan siang :D