Aku tersenyum melihat angka yang muncul di timbangan. Berat badanku telah turun 10 kg dari bulan sebelumnya. Angka itu telah sesuai dengan targetku. Awalnya aku pikir menurunkan berat 10 kg setiap bulan adalah sebuah kemustahilan. Namun ternyata ini mungkin. Aku bisa mencapainya.
Pinggangku sudah mulai berbentuk, meskipun lemak di pipiku masih membuat wajahku tampak chubby. Baju-baju yang ada di lemari mulai tidak ada yang sesuai dengan ukuran tubuhku sekarang. Bila dipaksakan untuk dipakai, baju-baju itu akan tampak sangat kelonggaran. Aku memang harus mulai berbelanja dan memperbaharui koleksi pakaianku.
Aku menatap cermin untuk memastikan penampilanku. Mama telah berjanji untuk menemaniku pergi ke mall. Aku ingin membeli pakaian dan riasan wajah. Benda yang saat ini sangat dibutuhkan olehku.
Aku hanya memakai kaus putih dengan balutan jaket hitam dan celana jeans. Tampilan yang bisa disebut sederhana. Namun yang terpenting rapi. Setelah yakin dengan penampilanku, aku segera keluar dari kamar.
Mama ternyata telah menunggu di sofa ruang tamu. Aku segera menghampirinya sambil memasang masker. "Ayo, Ma. Aku udah siap."
Mama segera bangkit berdiri sambil mengambil tasnya. "Ayo."
Aku duduk di kursi belakang bersama Mama. Selama diperjalanan, Mama tampak sibuk mengatur pekerjaannya melalui ponsel. Sementara aku memilih untuk mendengarkan musik melalui earphone. Walaupun selama di mobil kami tidak berinteraksi banyak, tapi aku cukup senang Mama meluangkan waktu buatku hari ini. Aku cukup mengerti kesibukannya. Mengelola perusahaan yang ditinggalkan Papa, bukanlah hal yang mudah. Apalagi perusahaan masih dalam tahap perintisan kala itu. Aku cukup bangga karena Mama bisa membesarkannya hingga seperti sekarang.
Meski kesibukan Mama terbilang padat, dia selalu meluangkan waktu bila aku memintanya. Seperti hari ini, aku memang sengaja memintanya untuk menemani membeli baju dan make up. Aku tak ingin sendirian. Di sisi lain, memang hanya Mama yang bisa aku andalkan untuk menemaniku. Aku sudah tidak memiliki teman.
Waktu perjalanan tak terasa lama karna kami sibuk dengan aktivitas masing-masing. Mobil sudah terparkir dengan sempurna. Aku dan Mama segera keluar dari mobil dan bergegas menuju department store yang memiliki etalase penjualan riasan wajah. Kehadiran kami langsung disambul oleh SPG.
"Mau beli apa kak?" tanya SPG dengan senyum ramahnya.
Aku membalas senyuman itu dengan canggung. Ini bukan aktivitas yang biasa bagiku. "Aku mau beli lipstik, Mbak."
"Anak saya belum pernah belanja make up. Masih amatiran juga soal begini. Tolong dibantu, Mbak."
"Siap, Tante."
Mama tiba-tiba mendekat, lalu berbisik. "Mama ijin telepon sebentar ya sayang."
Aku mengangguk. Mama pasti sedang sibuk mengurusi urusan kantor. Aku lalu melirik ke area lipstik yang ditunjukan oleh SPG itu. Warna yang dipajang dan dijual terlalu banyak. Aku benar-benar bingung memilihnya.
"Gimana kalo warna yang ini, Kak? Aku pikir Kakak akan cocok dengan warna pink jenis ini. Dicoba aja. Gak papa kok."
Aku mengambil lipstik yang disodorkan SPG itu. Kemudian memoleskannya ke bibirku, lalu melihat tampilan hasilnya di cermin. Aku tidak tau apakah ini tampak bagus atau tidak, sehingga hanya menatap pantulanku di cermin dengan raut penuh kebingungan.
"Cantik, Kak! Pink cocok buat Kakak!"
Pipiku memanas mendengar pujian itu. Ini kali pertama ada seseorang yang mengatakan aku cantik. Benarkah? Aku cantik?
"Coba ini juga, Kak."
SPG itu menyodorkan lipstik dengan warna berbeda. Aku langsung menerimanya. Kemudian menghapus lipstik di bibirku dengan tissue, lalu langsung memoleskan lipstik warna orange yang disarankan SPG itu.
"Wah bagus juga! Kakak mau coba teknik ombre lipstik gak?"
"Ombre?" tanyaku, tak mengerti.
"Iya. Sini aku ajarin ya."
SPG itu menghapus lipstik yang baru ku kenakan tadi, lalu mengambil lipstik warna peach dan merah. Kemudian memoleskan warna peach itu terlebih dahulu ke seluruh bibir, lalu memolesskan warna merah ke lapisan dalam bibir. SPG itu menggunakan kuas kecil untuk blend dua warna itu agar tampak selaras.
Setelah selesai, SPG itu menyodorkan cermin ke hadapanku. Aku benar-benar terpana dengan hasilnya. Bibirku benar-benar tampak berbeda.
"Kakak mau sekalian aku pakaikan alis, foundation, bedak, blush on, dan eyeshadow gak?"
Aku langsung mengangguk dengan cepat. Aku ingin melihat seberapa berubahnya wajahku ini bila memakai make up yang lengkap. SPG itu langsung merias wajahku setelah mendapat persetujuanku.
Aku memperhatikan bagaimana SPG itu merias wajahku melalui cermin yang ada ku pegang. Aku meneliti bagaimana tekniknya merias dan warna yang dipakai. Semuanya aku amati dan berusaha merekamnya di dalam ingatan. Berharap aku bisa melakukan hal yang sama dengan tanganku sendiri.
"Kakak bener-bener cantik banget! Make up natural emang paling cocok buat Kakak!"
Aku menatap tak percaya dengan pantulan wajahku di cermin setelah SPG itu selesai merias. Wajahku tampak berbeda. Aku merasa wajahku saat ini memang cantik. Make up ternyata mampu merubah tampilan wajah menjadi berbeda, jauh lebih baik dan cantik.
"Sayang, udah belanjanya? Ya ampun kamu cantik banget, Nak!"
Aku semakin tersipu malu saat Mama memujiku secara mendadak. "Mama udah kelar telponnya?"
"Udah. Tadi ada urusan bentar sama klien. Ini yang dandanin Mbak? Ya ampun! Bagus banget."
"Bukan karna saya, Bu. Anak Ibu yang memang cantik. Ditambah alat make up- juga memang bagus," ucap SPG itu.
"Kalo gitu... kita beli semuanya."
Aku menatap terbelalak ke arah Mama. "Semuanya?! Banyak banget, Ma!"
"Gak papa sayang. Uang bukan masalah, asalkan kamu happy."
Aku terharu mendengar ungkapan Mama itu. Hanya seutas senyuman dengan tatapan penuh haru yang bisa aku berikan pada Mama. Namun membeli semua alat rias itu, memang sangatlah berlebihan. Jumlahnya sangat jauh dari apa yang aku butuhkan.
"Aku kayaknya gak perlu beli semuanya, Ma. Aku cuma perlu yang sesuai sama warna kulitku aja. Mungkin aku bakalan beli banyak warna lipstik dan beberapa eyeshadow aja," ungkapku.
"Yasudah. Berikan apapun yang dia mau ya, Mbak."
"Baik, Bu."
Aku langsung menatap semua alat rias yang ada di etalase. "Aku mau beli foundation dan bedak yang tipe ini ya, Mbak. Pensil alis juga pake yang warna cokelat tua aja. Kontur! Aku butuh kontur. Pipi aku chubby soalnya."
SPG itu hanya tertawa melihat tingkahku yang penuh antusias. Dia mulai mengambil semua barang yang aku pesan, lalu menaruhnya di hadapanku. "Aku juga beli semua warna blush on. Abis itu... aku beli semua warna lipstik, kecual warna yang gelap. Terakhir... aku beli tiga palette eyeshadow aja."
Semua barang yang aku inginkan telah dikeluarkan dan dikemas oleh SPG itu. Kemudian aku menerima bon yang harus aku bayar ke kasir agar bisa menebus semua peralatan make up itu. Namun aku belum ingin menebusnya sekarang. Aku masih ingin melanjutkan aktivitas belanja.
"Sekarang kita mau beli apa lagi?"
"Baju dan celana, Ma."
Aku segera berjalan menuju etalase bagian busana wanita bersama Mama. Kami lalu melihat beberapa model pakaian, lalu mencobanya di kamar ganti. Aku mengajak Mama untuk menilai setiap pakaian yang sedang aku coba.
Setiap kali keluar dari kamar ganti dan menunjukan busana yang sedang aku gunakan, jantungku berdebar, tapi sekaligus menyenangkan. Aku belum pernah melakukan kegiatan seperti ini bersama Mama. Pakaian, kemeja, dan gaun yang aku coba semuanya terasa cantik. Namun mendengar pujian Mama bila busana-busana itu cocok denganku, jauh lebih menyenangkan.
Apakah aku mulai haus akan pujian? Aku mulai ketagian mendengar puji-pujian tentangku.
Ini kali pertama aku merasa bahwa diriku cantik. Walaupun berat badanku belum mencapai standar ideal, tapi aku sudah bisa melihat lekukan pinggang di setiap busana yang ku pakai. Setidaknya aku bisa merasa sedikit percaya diri.
"Bagus gak, Ma?" Aku menunjukan baju terusan warna hitam.
"Bagus kok. Kita beli itu juga ya. Cantik!"
Aku tersenyum senang. Namun tiba-tiba aku melihat sebuah gaun berwarna merah yang terpajang di boneka manekin. Gaun itu sangat indah. Gaun tanpa lengan dengan panjang selutut. Design gaun itu menonjolkan keindahan area bahu dan lekukan pinggang. Gaun itu membuatku merasa seperti jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Ma... aku mau beli itu."
Mama langsung menoleh ke arah yang aku tunjuk. Dia mengangguk setuju dengan penilaianku. "Gaun itu cantik! Ayo kita beli. Kamu mau coba?"
"Iya, Ma."
Gaun itu langsung dilepaskan dari manekin, lalu diberikan kepadaku. Aku segera masuk kembali ke kamar ganti untuk mencobanya. Kemudian keluar dan menghampiri Mama dengan perasaan sangat senang. "Ma! Ini bagus banget! Aku mau pakai ini ke acara prom nite sekolah," seruku.
"Baiklah. Kita juga beli ini."
"Aku belanja banyak banget hari ini ya, Ma? Maaf ya."
Peralatan make up yang aku beli hari terbilang banyak. Belum lagi pakaian, celana, rok, dan gaun yang aku beli. Mama pasti menghabiskan uang yang cukup banyak untuk diriku hari ini. Namun aku memang harus membeli semua barang itu.
Aku memang sudah tidak memiliki pakaian yang sesuai dengan ukuran tubuhku. Aku juga ingin belajar make up. Sebentar lagi kehidupanku sebagai mahasiswi akan dimulai. Aku ingin mengenakan riasan wajah ketika pergi ke kampus.
Karena itu, aku membutuhkan semua barang itu. Walaupun ada perasaan tidak enak karena menghabiskan uang yang cukup banyak, tapi aku benar-benar menginginkannya. Ini sebagai upaya langkah awal sebagai bentuk usahaku memiliki kehidupan yang berbeda.
"Gak papa kok, Sayang. Kamu selama ini gak pernah ngehabisin uang Mama. Justru Mama seneng kamu belanja banyak kayak gini. Mama kan kerja buat kamu."
"Makasih banyak, Ma."
"Yang penting kamu happy."
Aku membalas senyuman Mama. "Yaudah, aku ganti pakaian dulu ya. Abis itu kita ke kasir. Udah gak ada lagi barang yang mau aku beli."
"Oke. Mama tunggu di kasir ya."
Aku mengangguk, lalu masuk kembali ke kamar ganti. Setelah selesai mengganti baju, aku segera mendatangi Mama yang pasti sudah menungguku di kasir.
CONTINUED
******************
Hai guys! ^^
Kisah Bonita hadir lagi nih :D
Siapa yang lagi diet kaya Bonita? Hahahay.
Kalo iya, semangat ya :)
Semoga berhasil ^^
Jangan lupa vote dan follow ya! :)
Sampai jumpa di bab berikutnya!
Salam,
Penulis amatir yang lehernya lagi sakit :')