26. Kepala Tegak

1321 Kata
Ternyata semua tempat sama saja. Tidak ada perbedaan. Penilaian hanya didasarkan pada penampilan fisik. Orang-orang yang jauh dari standar kecantikan sepertiku hanya akan mendapat prasangka dan hukuman sosial, walau tidak berbuat hal yang buruk sekalipun. Seharusnya aku bisa menduga hal itu sedari awal. Salahku karena menaruh ekspektasi yang tidak realistis. Keingananku mendaftar sekolah model ini sebenarnya bukanlah untuk menjadi seorang model. Aku tidak segila itu untuk menaruh mimpi yang terlalu tinggi. Aku tau kalau tubuhku jauh dari standar ideal seorang model. Wajahku juga tidak secantik gadis-gadis itu. Aku hanya ingin belajar berjalan dengan penuh percaya diri. Hanya itu.  Namun dunia ini memang kejam untuk diriku yang masih jauh dari standar kecantikan yang ideal. Mereka pasti akan sulit memahami rasanya jadi aku. Keinginan sederhanaku itu pastilah hanya sebuah lelucon bagi mereka. Bahkan kehadiranku di sini saja tak dapat diterima oleh mereka. Walaupun situasi yang aku hadapi masih belum berubah, tapi aku bukanlah Bonita yang dulu lagi. Aku tidak akan menangis di pojok ruangan dan meratapi nasib lagi. Aku tidak akan menjadi lemah, tak berdaya, lalu takut kepada mereka yang telah berkata jahat. Aku mencuci mukaku sekali lagi dengan air. Kemudian menatap wajahku di cermin dengan raut penuh tekad. Aku akan kembali ke ruangan aula itu tanpa menunjukan sedikitpun kesedihan. Aku akan berjalan ke sana dengan kepala tegak. Tidak ada alasan aku harus menundukan kepala dan merasa malu. Aku tidak melakukan kesalahan apapun! Aku keluar dari toilet dan mulai berjalan menuju ke aula. Tanganku yang terkepal seolah menjadi pertanda pergolakan emosi yang sedang aku tahan. Bila mengikuti kemauan hatiku, rasanya ingin segera pergi dari tempat ini. Namun aku memilih tidak ingin menjadi pecundang untuk saat ini. Langkah kakiku berusaha tegar ketika mulai masuk aula itu. Aku bisa merasakan tatapan mata yang tertuju kepadaku saat ini tak menampakan keramahan. Sorotan yang aku terima terasa berbeda. Aku bisa merasakan aura tak bersahabat dari ruangan ini. Beruntung, kelas akan dimulai ketika aku berjalan masuk. Aku tidak perlu menyapa mereka lagi dan berpura-pura ramah. Aku bisa masuk ke dalam barisan dan langsung fokus mendengarkan pengajaran dari coach yang ada di depan. Aku tidak membutuhkan seorang teman dari lingkungan ini. Aku hanya akan menyerap ilmunya saja. Setelah masa course ini selesai, aku akan keluar sebagai Bonita yang penuh percaya diri. Mampu melangkah tanpa rasa malu. *** Dennis Pramono Hai, Bon. Gue denger lo keterima di Universitas Pelita Abadi ya. Gue juga :) Kita bakalan satu univ bareng. Ya walaupun beda jurusan. Gimana kabar lo sekarang? Gue sedih hubungan kita jadi kayak begini. Gue minta maaf untuk semua kalimat dan sikap yang nyakitin perasaan lo. Gue bener-bener gak ada maksud jahat. Semoga suatu hari lo bisa maafin gue ya, Bon. Sekali lagi, selamat ya udah keterima univ dan jadi lulusan terbaik sekolah. Aku langsung menutup layar percakapan itu tanpa memberikan balasan pesan. Kemudian memilih kembali fokus berlari di atas treadmill. Fokus terus berlari dan membakar semua lemak yang ada ditubuh ini. Aku tidak ingin membuang waktu hanya untuk memikirkan Dennis. Buatku, kata-kata itu masih terasa seperti omong kosong. Setelah puas berlari, aku memilih untuk melanjutkan dengan berenang. Aku langsung masuk ke kolam, tanpa mengganti pakaianku. Rasanya terlalu rumit dan lama bila harus mengganti busana terlebih dahulu. Aku langsung keluar dari kolam ketika menyadari telah menghabiskan waktu selama lima belas menit. Aku lalu bergegas menuju kamar dan memilih mandi di toilet yang ada di sana. Setelah selesai, aku hendak bersiap untuk pergi sarapan. Namun tiba-tiba pintu kamarku terbuka. Mama telah masuk ke kamar tanpa persetujuanku. Aku terkejut dengan kemunculan Mama yang terasa mendadak itu. Tidak biasanya Mama masuk tanpa mengetuk pintu dan meminta ijin. Raut wajahnya penuh emosi, begitu juga dengan sorot matanya. Seketika bulu kuduk langsung merinding. Suasana kamarku kini terasa mencengkam. "Mama mau ngomong seriu sama kamu." Nada bicara Mama begitu tegas. Aku mulai duduk di kursi, sementara Mama menatapku dari atas ranjang. "Ada apa sih, Ma? Kok tumben-tumbenan." "Kamu daftar model di tempat Marissa?" Secara refleks aku menggigit bibir. Aku baru teringat bila hal ini belum pernah aku ceritakan ke Mama. Namun menyangkalnya juga merupakan sebuah tindakan bodoh. Mamanya itu pasti sudah mendengar tentang hal itu. Kalimat pertanyaan yang dilontarkan Mamanya barusan bukan terasa seperti ingin bertanya, tapi memancing sebuah kejujuran. "Iya, Ma. Maaf ya, Bonita lupa cerita ke Mama." "Bonita..." Aku semakin gugup mendengar helaan nafas Mamaku. Raut wajahnya semakin serius. Matanya juga terpejam selama beberapa saat. Aku menyadari betapa seriusnya situasi ini. Mamaku benar-benar marah. "Kapan Mama pernah larang kamu ngelakuin sesuatu? Kalo pun iya... itu pasti ada alasannya." "Iya, Ma." Aku hanya bisa menundukan kepala, berharap tidak memancing emosi Mamaku semakin naik. "Mama gak suka kalo kamu gak cerita ke Mama. Seolah-olah Mama tuh gak ngurus dan perhatiin kamu! Mama kaget waktu denger Marissa bilang kamu daftar dan udah ikut kelasnya dia juga. Mama malu, Bon. Mama gak tau apa-apa dan terkaget-kaget pas Marissa cerita. Susahnya apa sih buat cerita ke Mama?!' "Maaf, Ma. Aku bener-bener lupa buat cerita ke Mama. Lagian sebulan ini kan Mama sibuk banget. Jarang di rumah. Jadinya aku susah ketemu momentum buat cerita sama Mama," ucapku, tanpa menatap mata Mama. "Kan ada HP Bonita. Kamu bisa telpon atau chat Mama kapan aja. Mama juga suka telpon kamu kok, walau sibuk. Berhenti kasih alasan yang gak masuk akal ke Mama." "Maaf, Ma."  Hanya kata itu yang sanggup keluar dari mulutku. Tak ada penjelasan. Aku hanya bisa menunjukan raut penyesalan. Mama memang benar. Ini memang kesalahanku. Seharusnya aku melibatkan Mama dalam setiap keputusan yang aku ambil. Selama ini Mama selalu mengajakku berdiskusi bila itu terkait masa depanku. Bahkan ketika menentukan sekolah dan universitas, Mama selalu mendengarkan pendapatku. Aku selalu dilibatkan, padahal sebenarnya bisa saja dia menentukan sendiri. "Mama gak suka tau tentang kamu dari orang lain." "Iya, Ma. Maaf." "Terus kenapa kamu daftar kelas model? Kamu mau jadi model? Sejak kapan kamu pengen jadi model? Kayaknya Mama gak pernah denger kamu cerita tentang itu." "Enggak, Ma. Aku cuma mau belajar aja. Biar bisa lebih percaya diri. Jadi pas nanti aku udah kurus, bisa jalan dengan keren aja. Walau bukan model, setidaknya orang-orang ngira aku model. Hahaha." Aku langsung menghentikan tawaku ketika melihat raut wajah Mama masih serius. "Jangan-jangan... kamu pengen langsing gara-gara pengen jadi model?" Aku langsung menggelengkan kepala. "Enggak, Ma. Beneran. Aku gak mau jadi model. Aku pengen kuliah aja. Cuma pengen punya kehidupan yang beda aja dari waktu jaman sekolah." "Pengen beda gimana?" "Yah gak terlalu beda yang gimana-gimana, Ma. Cukup gak ada yang ngeledekin aku lagi aja. Bisa hidup normal kayak orang lain. Ya gak perlu khawatir lagibakalan dikomentarin soal fisik. Gak takut kalo orang-orang lagi ngeliatin aku gitu. Pokoknya biar bisa percaya diri aja, Ma." Setelah mengucapkan kalimat itu, tiba-tiba Mama bangkit dari posisi duduknya dan berjalan menghampiriku. Kemudian sebuah rangkulan hangat aku terima darinya. Mama menepuk bahuku sambil berbisik, "lakukan apapun yang membuat kamu happy. Maafin Mama ya tadi sempet marah. Kalo dengan diet, olah raga, dan sekolah model... kamu bisa happy, Mama akan ikut happy dan dukung semuanya." Aku tersenyum dan terharu menerima pelukan itu. Terasa hangat. Rangkulan itu seperti ikut memeluk kesedihan, kecemasan, dan lukaku. "Makasih ya, Ma."  Mama melepaskan pelukannya, lalu menatapku. "Kamu udah makan?" "Belum. Ini mau sarapan." "Yaudah. Ayo makan bareng." Aku mengangguk setuju. Kemudian melangkah bersama Mama menuju ruang makan. Aku bersyukur memiliki Mama yang bisa disebut rumah. Dia, memang tidak seperti Ibu lainnya yang bisa punya waktu banyak di rumah. Walaupun begitu, di tengah kesibukannya di kantor, Mama selalu berusaha menyempatkan untuk sekedar menelepon atau menanyakan kabarku kepada pekerja yang ada di rumah. Bila ada waktu luang, Mama berusaha bisa makan bersamaku seperti saat ini. CONTINUED ********************* Hai guys! ^^ Aku baru updated malam ini. Mood tuh baru balik buat nulis sekarang. Dua hari kemarin jelek banget soalnya. Bener-bener gak mood nulis. Sekarang udah good mood :) Jadi chapter ini bisa temenin akhir pekan kalian. Kalian jaga kesehatan ya! Jangan lupa bahagia ^^ Salam, Penulis Amatir yang lagi mikir mau beli cake birthday apa buat my sister.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN