Aku tersenyum bahagia melihat layar laptopku. Sebuah pengumuman bahwa aku diterima menjadi mahasiswa jurusan manajemen bisnis di Universitas Pelita Abadi terpampang di sana. Hal yang sangat aku inginkan dan usahakan selama ini. Namaku telah jelas tertampil di sana. Bukti bahwa usahaku tidaklah sia-sia selama ini.
Pengumuman ini juga melengkapi kebahagiaanku karena berhasil lulus dengan predikat terbaik. Aku memiliki peringkat tepat di atas Dennis. Sebuah ambisi yang akhirnya bisa aku penuhi. Aku sangat puas melihat namaku di urutan paling atas dalam daftar peringkat. Itu seperti sebuah pembuktian bahwa aku ternyata bisa berada diatas meski banyak hal yang terasa seperti ingin menjatuhkanku.
Semua prestasi akademik yang aku inginkan telah tercapai. Aku ingin memberikan reward kecil pada diriku dengan sepotong cake dan secangkir kopi. Karena itu, aku pergi ke dapur, membuka kulkas, lalu mengambil cheese cake yang ada di sana. Kemudian menyeduh secangkir kopi. Setelah itu, aku membawanya ke kursi dekat taman.
Aku meneguk kopi itu dan memakan cake-nya sambil menikmati suasana sore hari dengan pemandangan taman rumah. Aku juga memasang earphone dan mulai menonton beberapa music video sambil sesekali memakan potongan cheese cake. Suasana santai ini benar-benar seperti sebuah hadiah setelah beberapa bulan kemarin aku begitu keras untuk belajar.
Namun tiba-tiba pikiran tentang Dennis terlintas di kepalaku. Aku teringat dia juga menginginkan universitas yang sama denganku. Namun aku bisa menghela nafas lega ketika mengingat bahwa jurusan yang dia inginkan berbeda dengan yang aku inginkan. Setidaknya potensi aku bertemu dengannya mungkin akan jarang.
Pikiran tentang Dennis buru-buru aku hilangkan. Lagipula itu belum tentu terjadi. Aku tidak tau apakah Dennis diterima juga atau tidak di universitas itu. Aku juga enggan mencari tau, meski sebenarnya hatiku penasaran. Sekarang lebih baik aku menikmati waktu bersantai ini. Menikmati setiap gigitan cheese cake yang masuk ke mulut dan menyecap rasa kopi disetiap tegukan.
***
Aku berlari di atas treadmill sambil mendengarkan musik lewat earphone seperti biasanya. Kemudian menyantap sepiring oatmeal yang dicampur dengan buah-buahan dan madu. Sarapan sehat yang memang kini juga sudah menjadi kebiasaanku. Aku masih terus berusaha untuk terus konsisten berolah raga dan menjaga pola makan yang sehat. Aku membutuhkan penurunan 20 kg lagi untuk mencapai target berat badan yang aku inginkan.
Aku yakin pasti bisa mencapainya dalam waktu dua bulan. Tepat dimana saat itu kehidupanku sebagai mahasiswi akan dimulai. Aku ingin menjadi mahasiswi yang cantik, langsing, dan menjalani kehidupan normal sebagaimana kebanyakan orang jalani.
Aku buru-buru menghabiskan menu sarapanku. Akhir pekan ini kegiatanku akan berbeda dengan biasanya. Aku harus mengikuti kelas model siang ini. Iya... aku baru mendaftar kelas modeling minggu kemarin dan kegiatannya dimulai hari ini.
Setelah selesai sarapan, aku bergegas mandi dan bersiap untuk pergi untuk ke kelas modeling. Aku memastikan sekali penampilanku di depan kaca, sebelum keluar kamar. Setelah itu, aku buru-buru berjalan menuju mobil dan segera pergi menuju lokasi.
Perlu waktu empat puluh menit untuk menuju tempat sekolah model itu. Namun waktu tempuh itu tidak terlalu menyiksaku. Karena aku hanya duduk di kursi belakang, sehingga bisa santai memejamkan mata sambil mendengarkan musik. Sebab itu empat puluh menit sungguh tak terasa. Tiba-tiba mobil sudah terparkir di tempat tujuan.
Aku tersenyum ketika melihat papan nama "Marissa School". Sekolah modeling milik model terkenal, Marissa. Aku memanggilnya Tante Marissa. Karena dia teman Mamaku. Dia sudah mengenalku sedari aku kecil. Makanya aku lebih memilih mendaftar sekolah model ini dibandingkan sekolah yang lainnya. Lagipula, tidak ada model yang lebih baik daripada Tante Marissa.
"Hai Bonita!"
Aku langsung mendengar sapaan sambutan yang penuh antusias dari Tante Marissa ketika langkah kakiku telah masuk ke lobi sekolah modeling itu. Aku langsung membalas senyumannya dan melambaikan tangan. "Hai Tante!"
Tante Marissa langsung menghampiriku dan memberikan pelukan hangat. "Welcome, Bonita! Tante udah nunggu kamu daritadi. Kamu sehat?"
Aku mengangguk. "Sehat Tante. Makasih lho Tante... udah terima aku sekolah di sini."
"Your welcome, sayang. Gak mungkin Tante nolak. Kamu udah kayak anak Tante sendiri. Tante malah seneng banget kamu mau daftar ke sekolah ini."
"Makasih, Tante."
Tiba-tiba Tante Marissa mendekatiku. Dia berbisik, "Di sini Tante dipanggilnya Madame. Kamu juga biasain manggil kayak gitu ya sayang."
Aku mengangguk sambil tertawa pelan. Tante Marissa memang lucu. Dia masih saja terobsesi menjadi madame dari Perancis. Seharusnya dia membuat merek parfum atau kosmetik dengan logo karakter wajahnya dengan riasan bak madame yang terhormat.
"Yuk, Madame anterin kamu ke kelas ya. Ayo sayang."
Aku tertawa sambil geleng-geleng kepala melihat perubahan tingkah Tante Marissa. Nada bicaranya langsung berubah ketika berlaku menjadi madame. Di mataku itu terasa lucu. Mungkin karena ini kali pertama aku melihatnya seperti itu.
Aku berjalan di belakang Tante Marissa. Aku bisa melihat langkah kakinya terasa berbeda. Mungkin karena saat ini dia sedang menjalankan peran sebagai pemilik sekolah modeling. Karena itu langkah kakinya begitu anggun. Gestur tubuhnya juga terasa berbeda. Tante Marissa seakan sedang menunjukan bahwa dirinya adalah seorang model yang berkelas.
Aku dibawa masuk ke dalam sebuah ruangan aula besar. Di sana aku melihat ada begitu banyak gadis-gadis cantik. Aku menebak kalau mereka adalah calon-calon model. Mereka begitu cantik dan memiliki postur tubuh seorang model. Kaki mereka begitu jenjang dan ramping begitu indah seperti yang dimiliki para model pada umumnya. Sungguh terbalik dengan kondisi tubuhku saat ini.
"Semuanya berkumpul," teriak Tante Marissa.
Gadis-gadis itu langsung menghentikan aktivitasnya dan berjalan menghampiri kami. Tidak ada yang mengeluarkan suara. Seketika suasana menjadi hening dengan tatapan mata yang seluruhnya mengarah kepadaku dan Tante Marissa. Tentu saja aku menjadi gugup. Aku seperti menjadi sorotan saat ini. Raut wajah mereka seperti sedang menebak tentang identitas dan kepentinganku berada di sini.
"Hari ini aku akan kenalin ke kalian seorang teman baru. Dia, Bonita. Bonita akan ikut belajar bersama kita. Aku harap kalian bisa berteman baik dengan Bonita."
Aku langsung tersenyum dan melambaikan tangan ke arah mereka. Sangat sulit untuk menyembunyikan kecanggungan dari raut wajahku. Aku tak terbiasa menjadi pusat perhatian. Apalagi berada di depan banyak gadis yang menurut penilaianku semuanya cantik.
"Hai. Aku, Bonita. Salam kenal," ucapku.
"Hai Bonita," balas mereka secara serentak.
Aku tersenyum lega ketika mereka tampaknya menyambutku dengan hangat. Aku berharap bisa belajar di sekolah modeling sambil berteman dengan mereka. Setidaknya aku bisa berhubungan baik dengan mereka.
"Oke. Kalian bisa lanjutin belajarnya. Aku akan ajak Bonita buat keliling sekolah kita. Selamat belajar semuanya!" ucap Tante Marissa.
Aku langsung mengikuti langkah kaki Tante Marissa dari belakang. Aku bisa merasakan bahwa Tante Marissa begitu dihormati di sini. Tak ada satu orang pun yang aku lihat tak menyapa dengan hormat ketika berpapasan dengannya. Semua seakan menjaga sikap dan perkataan.
"Gimana? Tante keren, kan?" Tante Marissa mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum ke arahku.
Aku tertawa sambil geleng-geleng kepala. "Keren kok, Tante. Eh... Madame," godaku.
Tante Marissa ikut tertawa. "Aku ajak kamu keliling gedung ini ya. Semoga kamu betah belajar di sini."
"Pasti betah kayaknya. Gedung ini bagus banget!" seruku sambil melihat interior yang ada di sekelilingku.
Tante Marissa langsung menjelaskan kepadaku dengan penuh antusias semua ruangan di gedung ini. Dia juga menerangkan sistem pengajaran di sekolah ini. Bahkan dia juga mengenalkan semua karyawannya padaku. Tante Marissa benar-benar baik. Aku merasa begitu disambut dengan hangat olehnya.
"Tante... aku boleh ke toilet gak? Aku kebelet buang air kecil," ucapku tiba-tiba.
"Tentu boleh dong sayang. Ini juga udah kelar kok. Semua ruangan dan orang-orang yang ada di sini udah dikenalin ke kamu seluruhnya. Toiletnya ada di sebelah sana. Tante balik ke kantor dulu ya. Abis ini kamu bisa kembali ke ruangan itu. Kelas bakalan dimulai lima belas menit lagi."
"Makasih ya, Tante."
"Sama-sama. Have fun ya."
Aku segera bergegas menuju toilet setelah melihat Tante Marissa pergi. Sebenarnya aku telah menahannya selama sepuluh menit. Namun aku berusaha menahan sebisa mungkin. Rasanya tidak enak memotong pembicaraan untuk minta ijin pergi ke toilet. Makanya aku begiitu lega ketika bisa menemukan pintu toilet.
Ketika aku sedang buang air kecil, tiba-tiba aku mendengar langkah kaki beberapa orang masuk. Aku menebak bila mereka adalah gadis-gadis yang tadi ada di aula. Sepertinya mereka ingin mencuci tangan sambil bercermin.
"Lo liat cewek gendut yang dibawa Madame?"
"Iya. Kok bisa ya dia masuk sekolah di sini?"
"Gak ngaca. Badan begitu mana mungkin jadi model! Gila kali."
"Kok dia berani ya masuk ke sini. Ada gangguan otak kayaknya tuh cewek."
"Cuma gue bingung. Kok dia bisa keterima di sini ya."
"Dia tajir mampus kali. Makanya diterima."
"Apa mungkin dia keluarganya Madame? Makanya dia diperlakukan istimewa sama Madame."
"Iya bener! Buktinya Madame sendiri yang kenalin dia ke kita. Bahkan ngajak keliling-keliling. Kayaknya ini pertama kali deh. Gak ada yang dapet perlakuan begitu."
"Gak usah ngaco deh. Gak mungkin keluarga Madame bentukannya begitu. Kayak drum jumbo gitu."
"HAHAHAHA. Kocak lo! Yaudah, balik yuk. Kelas udah mau dimulai nnih."
Setelah mendengar suara langkah kaki mereka yang pergi menjauh, aku mulai keluar dari toilet, lalu mencuci tangan. Aku menatap wajahku di cermin. Aku bisa melihat mataku mulai memerah. Namun aku berusaha untuk menahan air mata ini untuk tidak jatuh. Aku tidak mau menangis, apalagi saat sekarang ini.
CONTINUED
*****************
Hai guys! ^^
Tumben ya aku update di hari sabtu. Sebenarnya pengennya tuh kemarin.
Cuma ternyata kemarin masih belum rampung hahahay.
Gimana part ini?
Kalian penasaran gak kenapa Bonita tiba-tiba daftar sekolah model?
Emang beneran Bonita pengen jadi model? :D
Jawabannya ada di next chapter. ^^
See you ya!
Salam,
Penulis amatir yang butuh tidur :D