24. Tanpa Dennis dan Renata

1162 Kata
"Lo ikut gue sekarang." Aku menatap heran Dennis yang muncul tiba-tiba di depanku. Dia masuk ke dalam kelas, tanpa permisi, lalu langsung menghampiriku. Dia tampak tak peduli dengan tatapan mata yang saat ini semuanya tertuju ke arah kami. Dennis seakan juga tidak melihat kesibukanku yang sedang membaca buku saat ini. "Enggak ah. Gue lagi baca buku," jawabku. Aku memang masih tak mau bertemu Dennis, apalagi berbicara dengannya. "Lo lebih baik ikut gue atau kita bikin keributan sekarang," bisik Dennis. Bisikannya terdengar tajam. Raut wajahnya menunjukan keseriusan. Aku sebenarnya ingin menghabiskan waktu istirahat ini dengan belajar. Ada banyak yang harus dibaca dan dipahami untuk mempersiapkan ujian yang sebentar lagi akan tiba. Namun sepertinya Dennis sama sekali tak memikirkan keinginan dan kepentinganku. Aku bisa melihat dari sorot matanya, bila dia sangat menginginkanku untuk mengikuti kemauannya. Aku menghela nafas. Dengan berat hati, aku bangkit dari posisi duduk dan mulai berjalan di belakang Dennis. Aku bisa menebak ke arah mana langkah kaki Dennis akan berakhir. Tempat dimana aku dan dia sering menghabiskan waktu bersama. Tempat yang sama dimana aku juga melihat adegan yang menyakitkan itu. Rooftop, lantai paling atas gedung sekolah. Tempat yang sangat jarang dikunjungi anak-anak sekolah ini. Aku langsung menatap Dennis ketika sudah sampai. "Lo mau ngomong apa?" tanyaku. "Lo kenapa gak bales chat dan angkat telpon gue?" tanya Dennis tanpa basa-basi. Langsung ke inti permasalahan. Wajahnya begitu serius dengan sorot mata yang tajam. "Itu kan hak gue. Hak gue buat angkat atau gak." "Lo kenapa sih, Bon?" Aku langsung menepis tangan Dennis yang ingin menyentuhku. "Kenapa lo permasalahin ini sih? Gue aja gak permasalahin kebohongan lo tentang Renata. Gue gak masalah lo gak ceritain perkembangan hubungan lo kayak apa. Karena itu hak lo... mau cerita apa enggak. Nah, hak gue juga dong... mau angkat telpon lo apa enggak." Suasana hening selama beberapa saat. Dennis hanya menatapku. "Lo cemburu?" tanya Dennis, tanpa melepas tatapannya dari mataku. Aku tertawa sinis. "Cemburu? Hak gue apa buat cemburu? Dan... siapa gue buat cemburu? Gue tau diri, Den. Cewek kayak gue gak mungkin bisa sama lo. Gue jelek dan gemuk. Gak kayak Renata yang cantik dan langsing. Gue sadar diri siapa gue. Gak mungkin gue cemburu sama lo." "Bon, gue gak ada ngomong gitu. Lo aja yang lagi rendah diri." "Gue gak rendah diri. Gue sadar diri!" Dennis terdiam. Wajahnya menunjukan kebingungan. "Gue bener-bener gak ngerti. Gue gak ngerti kenapa lo marah. Gue gak ngerti masalahnya tuh apa." "Lo gak usah ngerti. Karna lo gak akan pernah bisa ngerti." "Bon... bisa gak sih diomongin baik-baik. Gue gak mau hubungan kita jadi kayak begini." "Gue mau balik ke kelas. Gak ada lagi yang perlu diomongin. Lo jangan ganggu gue lagi." Dennis mencoba untuk menahan ketika aku ingin melangkah pergi. Namun lagi-lagi aku menangkis tangan itu. Kemudian terus berjalan pergi dan mengabaikan teriakan Dennis yang masih memanggil namaku. Aku ingin pergi. Menghilang secepatnya dari jangkauan pandangan Dennis. Aku lalu bergegas kembali ke kelas. Namun sebelum langkah kaki ini tiba ke kelas, aku menghapus sisa air mata yang tanpa sadar sempat jatuh tadi. Aku tak ingin orang lain melihat betapa sakitnya hatiku saat ini. *** Aku kembali mengisi akhir pekanku dengan berolah raga, belajar, dan hanya di rumah saja. Lantunan musik selalu menemaniku setiap kali beraktivitas, termasuk ketika berolah raga. Aku sedang berlari di treadmill saat ini dan tentu saja sambil mendengarkan musik. Musik membuat hari-hariku terasa tidak sunyi, walaupun sebenarnya sepi. Ponselku sekarang tidak ada lagi notifikasi pesan atau panggilan telepon dari seseorang yang bisa disebut teman. Nama Renata dan Dennis tidak pernah lagi muncul di layar ponselku. Tidak ada lagi mereka mewarnai hari-hariku. Ketika mengingat kenangan itu, terkadang aku sedih. Namun bila mengingat hal-hal yang menyakitkan, maka perasaan marah itu membara. Emosi itu membuatku semakin terpacu untuk mencapai target berat badan dan penampilanku. Aku langsung menuju timbangan berat badan yang ada di kamarku, setelah selesai berolah raga dan mandi. Aku tersenyum ketika angka yang ditampilkan menunjukan penurunan berat badan sebanyak 5 kg. Beratku yang sebelumnya 85 kg, kini sudah menjadi 80 kg. Tentu masih banyak yang harus diturunkan. Namun melihat perubahan angka itu cukup membuat hatiku senang. Usahaku selama ini ternyata tidaklah sia-sia. Aku hanya perlu berusaha lebih keras dan konsisten lagi agar angka yang ditampilkan timbangan itu terus turun hingga sesuai target. Aku lalu duduk di kursi belajar. Kemudian bersiap belajar untuk ujian masuk universitas dan kelulusan. Di sebelahku terdapat segelas air putih dan sepiring potongan buah mangga yang telah disiapkan Bibi untuk menemani aktivitas belajarku. Biasanya perut ini akan terasa lapar bila otak dipakai terlalu keras untuk belajar. Karena itu, cemilan yang dirasa aman dan tidak akan membuat gemuk... ya buah. Setelah setengah jam berlalu, aku mulai memasang lantunan musik untuk memecahkan kesunyian ruang kamarku dan mengusir kejenuhan yang mulai dirasakan. Aku fokus belajar selama beberapa jam. Aku ingin lulus dengan predikat terbaik dan masuk universitas yang memang aku inginkan. Impian itu yang membuatku terpacu untuk menghabiskan akhir pekanku dengan belajar, bukan bersenang-senang seperti anak remaja lain. Aku mengambil ponselku yang tergelak di atas meja. Rasanya ingin sebentar melihat media sosial setelah mata dan pikiran berkutat dengan buku-buku selama beberapa jam. Aku ingin sebentar refresh sebelum melanjutkan aktivitas belajarku ini. Jemariku langsung tertuju pada aplikasi i********:. Aku mulai melihat-lihat beranda media sosialku itu. Aku terhenti ketika melihat postingan terbaru Renata. Mantan sahabatku itu baru saja meng-upload sebuah foto dengan caption yang mengabarkan bahwa dia baru saja mendapatkan peran di sebuah film. Aku bisa menebak bila itu bukanlah peran utama, tapi hanya peran kecil yang hanya memiliki beberapa scene adegan. Bila itu peran utama, Renata pasti akan menyombongkannya secara nyata. Aku lalu beralih ke postingan akun lainnya dan enggan berlama-lama memperhatikan Renata. Aku juga enggan untuk meninggalkan like atau komentar seperti kebiasaanku sebelumnya. Tidak akan ada lagi jejak digital yang akan aku tinggalkan di akunnya. Aku hanya akan memperhatikan kehidupannya dari layar ponsel. Memantau dari jauh tanpa menunjukan kepedulian secara nyata. Drrttt... drrrttt... Ponselku tiba-tiba bergetar ketika sebuah pesan masuk. Aku membaca pesan itu dari layar halaman notifikasi, tanpa membukanya secara langsung. Aku tak ingin Dennis mengira aku begitu inginnya membaca pesan dari dia, hingga buru-buru langsung membukanya. Dennis Pramono Bon, masih marah? Gue minta maaf ya. Kalo ada sikap dan perkataan gue yang nyinggung lo. Jangan keterusan marahnya. Gue gak mau berantem kelamaan sama lo. Aku hanya langsung mematikan layar, lalu meletakannya kembali ke atas meja. Lebih baik kembali fokus belajar daripada memikirkan Dennis. Dia sama saja seperti laki-laki lain. Sangat sulit untuk mempercayai permintaan maaf itu tulus. CONTINUED *************** Hai hai hai guys! ^^ Evolusi Babon update lagi :) Aku kayaknya bakalan intens update cerita ini selama satu bulan ke depan. Ada cerita baru juga yang aku rencanakan bakalan di publish, tapi bukan di w*****d. Melainkan Dreame dan Innovel. Kalian suka pake aplikasi itu? :D Ada 3 cerita eksklusif yang hanya publish di aplikasi itu. Kalo ada waktu, coba mampir ya ^^ Oh ya, kalian udah vaksin? Aku baru kemarin nih hahahay. Salam, Penulis Amatir yang lagi nahan efek nyeri/sakit otot pasca vaksin :D
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN