Kegiatanku mungkin dianggap monoton oleh sebagian besar orang. Aktivitasku hanya seputar di sekolah dan rumah. Aku tidak pernah lagi hang out ke mall atau tempat-tempat keramaian. Karena memang sekarang sudah tidak ada lagi orang yang bisa aku sebut teman untuk diajak pergi keluar. Aku tidak memiliki alasan untuk sering pergi keluar rumah.
Selepas pulang sekolah, aku pasti langsung ke rumah, tanpa berkunjung ke tempat mana pun. Aku meluangkan waktu satu jam untuk berolah raga. Sekedar berenang atau memanfaatkan peralatan gym yang ada di rumah. Setiap hari harus ada kegiatan olah raga yang harus dilakukan untuk membakar lemak-lemak tubuhku.
Aku bersyukur memiliki semua fasilitas di rumah, sehingga tak perlu berkunjung ke kolam renang publik atau tempat gym umum. Aku hanya perlu komitmen kuat untuk terus menjalankan gaya hidup seperti ini. Sebenarnya ini sangat sulit buatku yang selama ini tidak pernah berolah raga dan mengatur pola makan seketat ini.
Namun semua bayangan kejadian buruk yang pernah aku alami, selalu menjadi sebuah cambukan setiap kali aku mengeluh. Aku benar-benar ingin langsing dan cantik. Aku ingin semua orang mengakui itu dan memperlakukanku dengan baik.
Setelah selesai berenang, aku segera mandi, dan menyantap makan malamku. Kali ini Bibi memasak ikan salmon panggang dengan kentang dan brokoli. Aku menyantapnya dengan penuh lahap. Aku berencana untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah sehabis ini. Selain itu, aku juga ingin belajar menyiapkan ujian kelulusan dan ujian masuk universitas.
Masa SMA-ku sebentar lagi akan habis. Aku berencana mengakhiri kehidupan masa sekolahku yang tidak terlalu menyenangkan ini dengan baik. Aku ingin lulus dengan predikat terbaik dan diterima menjadi mahasiswa di universitas yang aku inginkan. Kehidupan kuliahku nanti harus lebih baik dibandingan kehidupan masa sekolahku.
Aku bergegas kembali ke kamar setelah menyelesaikan makan malamku. Aku lalu duduk di meja belajarku dan mulai mengerjakan tugas sekolah yang harus diselesaikan. Namun ketika aku sedang begitu fokus belajar, tiba-tiba ponselku bergetar. Dennis ternyata kembali meneleponku.
Aku hanya menatap layar ponselku, tanpa menyentuhnya. Setelah panggilan telepon itu berakhir, aku mencoba kembali fokus untuk belajar. Mencoba untuk tidak memikirkan Dennis. Aku memang masih menghindari laki-laki itu. Mungkin untuk jangka waktu seterusnya. Aku masih tidak berminat untuk memasang topeng seolah semua baik-baik saja, padahal tidak.
Tok... tok... tok...
"Siapa?" tanyaku.
"Ini Mama. Bisa masuk?"
Aku langsung bangkit berdiri dan membukakan pintu. "Tumben Mama ke kamarku. Kenapa?"
Mama memberikan piring yang sedang dipegangnya kepadaku. Piring itu berisi potongan buah mangga dan nanas. "Makan ini. Mama boleh masuk, kan?"
"Yah boleh, Ma. Tumben banget bawain aku buah-buahan ke kamar." Aku menutup pintu setelah Mama masuk ke kamar.
Mama langsung duduk di atas ranjang dan menatapku yang saat ini telah kembali duduk di kursi belajarku. "Lagi pengen aja. Mumpung lagi bisa pulang cepet hari ini. Oh ya, Mama denger dari Bibi kamu lagi diet ya?"
Aku mengangguk sambil mengunyah sepotong buah mangga. "Iya. Udah mau jalan seminggu."
"Kenapa harus diet?"
"Kita udah pernah bahas tentang hal ini kan, Ma. Aku lagi gak pengen berantem sama Mama," jawabku.
"Yah Mama juga gak pengen berantem sama kamu, sayang. Mama cuma mau tau alasan kamu kenapa diet. Masa Mama gak boleh tau."
"Masalahnya... Mama gak akan ngerti."
"Coba jelasin dong. Biar Mama ngerti."
Aku terdiam selama beberapa saat. Berpikir sejenak tentang respon apa yang harus aku berikan. Pembahasan tentang hal ini sudah pernah dilakukan dan berakhir dengan konflik. Aku tidak ingin bertengkar lagi dengan Mama.
"Aku cuma mau diet dan olah raga, Ma. Gak salah, kan?"
"Gak ada yang bilang kamu salah, sayang. Mama cuma mau tau kenapa kamu tiba-tiba berubah kayak gini."
"Perubahan ke arah yang lebih baik kan, Ma? Aku cuma mau langsing dan cantik aja. Itu doang kok."
"Kamu udah cantik kok. Siapa yang bilang kau jelek? Coba bilang sama Mama!"
"Banyak, Ma. Banyak yang bilang aku jelek karna aku gemuk. Makanya aku pengen kurusin."
"Kamu cantik! Mereka cuma orang-orang yang gak bahagia sama hidupnya, makanya suka nyari kekurangan orang lain hanya untuk ngebuat diri mereka ngerasa lebih baik. Omongan orang-orang kayak gitu harusnya gak usah kamu dengerin, Nak."
"Yah kalo dengan aku kurus dan cantik bisa bungkam mulut mereka... kenapa aku gak ngelakuin itu?"
"Lakukan itu untuk diri kamu sendiri. Bukan karena orang lain. Lagian kamu itu masih remaja. Tugas kamu itu cuma belajar dan bersenang-senang. Mama gak mau kamu nyiksa diri kayak gitu. Makan apa yang kamu suka dan lakukan apa yang bikin kamu happy. Kamu mikir dan lakuin itu aja."
"Mama... gak tau apa yang aku alami. Mama gak akan ngerti." Aku berusaha menahan air mataku untuk tidak keluar. Namun sulit untuk menyembunyikan perasaanku saat ini di hadapannya. Mama pasti bisa melihat raut wajahku yang tidak baik-baik saja. Dia pun pasti bisa mendengar suaraku yang sedikit bergetar tadi.
Aku berusaha untuk melanjutkan perkataanku, meski sulit. "Mama cantik. Mama gak pernah gemuk walau makan sebanyak apapun. Makanya... Mama gak akan pernah tau rasanya diledekin dan ditertawakan karna gemuk. Mama gak pernah ditolak sama orang."
Pada akhirnya, tangisanku pecah. Aku menangis terisak di hadapan Mama. Suasana seketika menjadi hening... hanya ada suara tangisanku.
Mama menatapku dengan lekat. Kemudian bangkit berdiri dan menghampiriku. Mama merangkulku dengan hangat dan menepuk kepalaku. "Maafin Mama. Mama selama ini ternyata gak paham kamu. Gak paham apa yang kamu rasakan dan alami. Sebenarnya, Mama cuma pengen kamu sehat dan bahagia."
Aku menghapus air mataku. "Iya gak papa, Ma. Aku baik-baik aja sekarang." Aku mencoba menyunggingkan senyum. Berusaha membuat Mamaku percaya bila aku sudah tenang.
"Mama akan dukung apa pun yang kamu lakukan sekarang. Mama cuma pesen satu hal. Jangan terlaku keras sama diri sendiri. Jangan sampe sakit. Jangan terlalu berlebihan pas olah raga. Kalo bener-bener lapar, makan aja. Lakukan semua itu seperlunya aja. Mama sayang kamu."
Aku kembali tersenyum. "Terima kasih, Ma. Aku akan berusaha buat gak bikin Mama khawatir."
Mama membelai kepalaku dengan lembut. "Kamu mau kita ke dokter? Biar dokter bisa kasih saran menu terbaik buat diet itu kayak apa? Biar kita juga tau pola olah raga yang baik dan bener itu kayak apa buat kamu. Gimana?"
Aku menggelengkan kepalaku. "Aku udah lakuinnya, Ma. Aku udah tanya dokter Ira kok. Semua yang aku lakukan itu, sesuai anjuran dokter. Mama tenang aja."
"Kapan? Kok kamu gak bilang-bilang sama Mama. Kita kan bisa pergi bareng."
"Mama kan kerja. Aku gak mau ganggu kesibukan Mama. Aku bisa sendiri kok. Bonita tuh udah gede, Ma." Aku tertawa pelan. Mama memang selalu menganggapku masih anak-anak. Padahal aku sudah mau lulus SMA.
"Sesibuk-sibuknya Mama... pasti akan luangin waktu buat kamu."
"Makasih, Ma. Aku pasti akan bilang kalo perlu bantuan Mama."
"Yasudah. Kamu lanjutin belajarnya. Mama balik ke kamar ya."
Aku mengangguk. "Thanks, Ma." Aku menutup pintu kamar setelah Mamaku keluar. Kemudian kembali duduk di kursi belajarku.
Aku mengambil waktu sejenak sebelum melanjutkan kembali mengerjakan tugas sekolah. Sejenak berusaha menenangkan perasaan. Aku berusaha memusatkan pikiranku kepada apa yang harus dikerjakan.
Setelah dirasa tenang, aku mulai kembali melanjutkan mengerjakan tugas-tugas sekolah dan belajar mempersiapkan ujian kelulusan dan ujian masuk universitas.
CONTINUED
**********************
Hai! ^^
Aku pikir Bonita cukup beruntung memiliki Mama yang begitu menyayanginya dan pedulo padanya. Siapa yang di sini kalo ada masalah suka cerita ke Mama? hehehe ^^
Sampai jumpa di bab selanjutnya! ^^
Salam,
Penulis amatir yang lagi nyiapin karya terbaru :)