22. Komitmen Perubahan

1248 Kata
Apakah dengan menjadi kurus mereka akan melihatku sebagai manusia? Apakah mereka akan menghargaiku bila tubuh ini berubah? Akankah aku akan diperlakukan lebih baik bila mereka bisa menganggapku cantik? Mungkin jawabannya adalah iya. Karena nyatanya selama ini aku sulit mendapat penerimaan dengan tubuh dan rupaku sekarang. Aku selalu mendengar ucapan yang tidak nyaman untuk didengar. Aku sering mengalami kejadian menyakitkan. Aku lebih banyak menjadi bahan hinaan, cibiran, dan dipandang sebelah mata oleh banyak orang. Semua prestasi dan kebaikan yang aku lakukan seakan tidak memiliki arti. Semua seolah tak memiliki makna dan tak dipandang. Aku hanya dilihat dari sisi yang buruk. Bentuk rupa ternyata hal yang terdepan dibandingkan bentuk hati. Mereka lebih mengutamakan apa yang bisa dilihat oleh mata, bukan yang bisa dirasakan oleh hati. Bila cara kerja dunia memang seperti itu... maka aku akan mengikutinya. Aku akan mencapai standar yang ditetapkan. Standar yang dipakai oleh orang banyak untuk bisa disebut menarik dan cantik. Aku akan mengikuti aturan main mereka. Bila memang hanya dengan itu aku bisa dihargai sebagai manusia dan mendapat perlakuan yang lebih baik. Aku akan kurus. Aku akan menurunkan berat badanku, hingga sesuai standar bisa dikatakan langsing oleh banyak orang. Aku akan membuang semua lemak-lemak ini dan memiliki lekuk pinggang yang indah. Aku akan memiliki paras wajah yang cantik. Aku akan membuat mereka mengagumi rupa fisikku. Aku akan berolah raga! Diet ketat! Aku akan melakukan apapun agar bisa mengubah penampilanku. Aku pasti bisa! Pasti! *** Mulai pagi ini aku mengubah gaya hidupku. Aku bangun pukul lima pagi. Kemudian langsung memulai berolah raga dengan berlari di treadmill selama tiga puluh hingga empat puluh menit. Setelah itu dilanjutkan dengan berenang selama lima belas menit, lalu bergegas mandi dan bersiap sarapan. Aku mengganti semua pola makanku. Aku hanya makan oatmeal yang dimasak dengan buah-buahan dan sedikit madu. Aku mengganti minum dengan air putih atau s**u yang rendah lemak untuk diet. Aku juga tidak lagi makan cemilan. Bila sangat ingin, aku akan menjadikan buah sebagai cemilan. Aku sangat meminimalisir mengkonsumsi gula. Semua gaya hidup dan makanan yang dapat membuatku gemuk, sekarang aku tinggalkan. Pagi ini memang awal komitmenku. Namun aku akan pastikan komitmen ini akan terus berjalan hingga goal-ku tercapai. Aku akan berhenti bila target berat badanku terpenuhi. Komitmen ini tidak aku ucapkan kepada siapapun. Hanya diriku. Aku berjanji pada diriku. Setelah menyelesaikan menu sarapanku, aku langsung memasukan bekal yang disiapkan oleh Bibi ke dalam tas. Kotak bekalku hanya berisi d**a ayam panggang, dua kentang rebus, dan tumisan sayuran. Menu bekal itu memang yang aku pesan pada Bibi kemarin malam. Aku juga memasukan satu buah apel ke dalam tas. Ini hari pertamaku untuk mencoba diet. Tentu tubuhku belum terbiasa. Aku bisa pastikan perutku pasti akan merasa sangat lapar selama hari ini. Karena itu, aku menyimpan sebuah apel di dalam tas. Bila aku benar-benar tidak bisa menahan rasa lapar, maka aku akan menghabiskan apel itu. Setidaknya buah apel tidak akan menyebabkan dietku gagal jika memakannya. Aku pergi ke sekolah seperti biasanya. Mencoba seolah tidak ada yang terjadi. Aku berusaha berjalan tegak menuju ke kelas. Duduk di bangku milikku, lalu mengeluarkan buku dan alat tulis yang diperlukan. Setelah itu mencoba mendengarkan musik melalui earphone sambil menunggu bel tanda mulai sekolah berbunyi. Namun tiba-tiba Renata duduk di hadapanku. Dia menarik earphone-ku dan memaksa untuk mataku menatapnya. "Lo mau ngapain sih?" tanyaku, risih. Aku menaruh kembali earphone-ku ke telinga, tetapi lagi-lagi Renata menariknya. Aku menatap kesal Renata yang kini tepat ada di depanku. "Lo mau apa? Jangan ganggu gue!" "Gue mau ngomong sama lo," jawab Renata. "Gue gak mau." Nada bicaraku tak kalah ketusnya dengan Renata. Aku masih tak mau melihat wajah Renata, apalagi mendengar suaranya. "Bon.. maafin gue! Oke, gue salah. Gue minta maaf. Jangan marah terus sama gue dong," rengek Renata. Namun aku menepis tangan Renata dari lenganku. Aku menatapnya tajam dengan emosi yang masih membuncah. "Gak semua luka bisa disembuhkan dengan kata maaf, Ren. Gue masih gak bisa temenan sama lo lagi. Mending lo pergi dan balik ke kelas lo sendiri." Renata tampak terkejut. Ini memang kali pertama aku memperlakukannya sedikit kasar dan penuh emosi. Namun perasaanku saat ini memang seperti itu. Aku masih enggan kembali berteman dengannya. Aku masih belum bisa melupakan ingatan tentang kejadian itu dan semua rasa sakit yang ku rasakan. "Bon..." "Pergi Renata!" bentakku. Nada suaraku cukup keras, hingga ruangan seketika menjadi hening. Aku bisa melihat air mata Renata mulai berlinang. Gadis itu lalu beranjak pergi meninggalkanku dengan raut wajah penuh keterkejutan. Aku membentaknya di depan orang banyak. Renata tentu pasti merasa terpukul. Namun aku tak menyesali perbuatanku. Pikiranku berkata... dia memang pantas mendapatkannya. Rasa sakit yang dia terima tak seberapa bila dibandingkan dengan milikku. Aku kembali memasang earphone, lalu mencoba untuk menonton music video kesukaanku. Aku memasang wajah acuh di tengah seluruh tatapan mata yang saat ini sedang mengarah ke arahku. Aku tak akan menunjukkan kelemahanku, apalagi tangisan. Aku tak akan seperti Bonita versi sebelumnya. Bonita yang selalu bersembunyi di pojok ruangan. Hanya gemetar ketakutan setiap kali dibicarakan dan diserang. Kemudian berakhir dengan menangis diam-diam. Aku tidak akan berakhir seperti itu lagi! *** Aku menghabiskan salad yang masih tersisa di atas piring, lalu memakan dua buah putih telur rebus. Kemudian meneguk jus alpukat yang dibuat khusus untukku oleh Bibi. Setelah menghabiskan semua menu makan malamku itu, aku duduk sebentar, sebelum beranjak kembali menuju ke kamar. Aku tersenyum puas terhadap diriku hari ini. Aku berhasil melewati hari pertama proyek perubahan diriku dengan baik. Aku tidak mengacaukan menu diet dan berolah raga dengan baik. Aku mampu menahan mulutku untuk tidak makan berlebihan. Aku juga tidak makan cemilan sama sekali. Aku berusaha untuk puas dengan makanan diet yang disiapkan oleh Bibi untukku. Aku yakin bisa melanjutkan pola hidup seperti ini untuk seterusnya. Aku pasti bisa mencapai target penurunan berat badan dan perubahan penampilan yang telah ditetapkan olehku. Aku pasti bisa! Drrttt... drrrttt... Ponselku tiba-tiba bergetar. Sebuah panggilan telepon masuk. Namun aku sama sekali tak mengangkat telepon itu. Tanganku enggan untuk menyentuh ponsel itu dan memilih untuk terus meneguk sisa jus alpukatku hingga habis. Aku membiarkan panggilan itu, hingga layar menunjukan notifikasi bahwa ada sebuah panggilan tak terjawab yang masuk. Drrttt... drrrttt... Ponselku kembali bergetar. Kali ini sebuah pesan masuk. Aku melihat nama pengirimnya. Aku hanya tersenyum sinis melihat nama Dennis Pramono kembali muncul. Laki-laki itu memang tak mengenal kata menyerah. Setelah aku mengabaikan panggilan teleponnya, kini dia mengirimkan pesan. Aku akhirnya membuka pesan itu, meski bukan dengan perasaan senang. Dennis Pramono Bon... lo kenapa gak angkat telpon gue sih? Lo kenapa? Jawab deh! Gue salah apaan? Kenapa gue di diemin begini? Aku mematikan layar ponsel, lalu berjalan memasuki kamar. Kemudian melempar asal ponsel itu ke atas ranjang dan bersiap untuk tidur. Aku memilih memejamkan mata dan berusaha terlelap tidur, daripada harus membalas pesan itu. Bagiku, Dennis sama saja seperti pria pada umumnya. Dennis tak ada bedanya. Dia juga lebih mengutamakan bentuk fisik dan kecantikan. Karena itu, dia lebih memilih Renata daripada diriku. CONTINUED ***************** Hai guys ^^ Cerita ini kembali update! ^^ Cepet ya hihi Di bab ini Bonita komit buat diet dan berubah jadi kurus serta cantik. Kalian yakin gak kalo Bonita bisa? Ada yang sama kayak Bonita? Lagi usaha buat diet dan kurusin badan? :) Kalo ada, semangat ya! Cuma pesenku, jangan sampai nyiksa diri sendiri. Harus tau kapasitas tubuh :) Siapa yang penasaran cerita bab selanjutnya? Kalo iya, vote ya! Terus follow w*****d dan i********: aku ^^ Biar aku semangat nulisnya hihihi Sampai jumpa! Salam, Penulis amatir yang sebelum tidur pengen masak dan makan indomie dengan telur setengah matang serta tambahan cabai rawit :P
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN