21. Kehilangan Cinta dan Teman

1056 Kata
Makan siang di rooftop sekarang sudah menjadi seperti sebuah kebiasaan. Secara otomatis langkah kakiku menuju ke sana sambil membawa kotak makan siangku. Aku tidak sabar untuk menghabiskan makanan ini bersama Dennis dan berbincang banyak hal dengannya. Bayangan itu membuatku bersemangat untuk segera bergegas sampai ke sana. Namun tiba-tiba langkah kakiku terhenti. Mataku terbelalak dengan raut wajah tak percaya. Pemandangan yang tersaji di depan mataku begitu mengejutkan. Hal yang tak pernah aku bayangkan akan terjadi. Renata dan Dennis berciuman. Sebuah pemandangan yang begitu nyata ada di depan mataku. Renata dan Dennis menyadari kehadiranku. Dennis mendorong Renata menjauh darinya. Namun ketika mereka hendak berjalan mendekati ke arahku, aku melangkah mundur secara refleks. "Maaf," gumamku sambil menahan air mata. Aku berlari pergi meninggalkan tempat itu. Aku menjauh pergi dari mereka yang telah memukul hebat hatiku. Sakit. Hanya itu perasaan yang saat ini sedang ku rasakan. *** Seharusnya aku sadar bila tidak ada kisah cinderella yang akan terjadi di dalam hidupku. Wanita buruk rupa sepertiku tidak akan dalam sekejap dipandang cantik dan dicintai oleh pangeran. Cinta tidak akan menjadi kata yang melambangkan keindahan bagiku. Kata itu hanya akan membawa rasa sakit setiap kali aku mendengarnya. Kisah cinta yang terjadi di dalam hidupku memang hanyalah tentang perasaan yang bertepuk sebelah tangan. Kisah yang hanya berisi alur dimana aku mencintai seorang diri. Aku rasa diri ini sempat gila kemarin. Bagaimana mungkin aku membayangkan perasaanku memiliki kemungkinan untuk berbalas. Berani-beraninya aku berkhayal bisa bersanding dengan Dennis sebagai pasangan. Namun rasa sakit ini terasa nyata. Adegan yang aku lihat kemarin masih terasa nyata di dalam benakku. Rasa sakitnya masih begitu terasa bahkan hingga sekarang. Aku hanya bisa menangis sendirian. Meringkuk di dalam selimut, tanpa memiliki hasrat untuk melakukan aktivitas apapun. Aku seperti sedang meratapi nasib. Mungkin lebih tepatnya, aku sedang menampar diri sendiri supaya kembali sadar akan kenyataan yang menyakitkan ini.  Tok... tok... tok... "Permisi, Non. Bibi cuma mau kasih tau kalo temennya dateng. Namanya Renata katanya. Disuruh masuk gak, Non?" Mood langsung bertambah buruk mendengar nama itu. Aku masih tak ingin bertemu Renata. "Tolong bilangin aja kalo aku lagi sakit, Bi. Aku lagi gak bisa ketemu. Pengen istirahat," jawabku dengan keras. Aku terlalu malas untuk beranjak dari kasur dan membuka pintu. "Baik, Non." Aku kembali membenamkan tubuhku ke dalam selimut. Meringkuk dalam kesedihan dan kesakitan. Namun baru beberapa menit aku menikmati kesendirian, tiba-tiba pintu terbuka. "Bonita! Lo sakit apa?!" teriak Renata. Aku buru-buru menghapus air mataku. Renata tak boleh tau kalau aku baru saja menangis. Aku tak ingin dia melihat air mataku. Setelah yakin tampilanku sudah baik-baik saja, aku menyibakan selimut dan memasang raut wajah kesal. "Kan gue udah bilang lagi sakit. Lo kenapa masuk?" "Yaelah. Emang gue bakalan bikin lo tambah sakit apa," ucap Renata dengan santai. "Gue mau istirahat, Ren. Pulang gih. Kapan-kapan aja mainnya," keluhku. "Kenapa sih, Ren. Lo istirahat ya istirahat aja. Gue baru nyampe, masa udah lo usir sih." Aku hanya bisa menghela nafas melihat tingkah Renata yang selalu berbuat sesukanya itu. Dia bersikap seolah tak pernah ada yang terjadi. Dia sekarang asik bermain ponsel di kursi sebelah ranjangku. Dia memang tak mengeluarkan suara apapun, tak mengusik diriku. Namun keberadaanya saja sudah menggangguku sebenarnya. Wajah Renata adalah hal yang tak ingin aku lihat saat ini. "Kemarin lo kenapa pergi pas ngeliat gue sama Dennis, Bon?" tanya Renata tiba-tiba. Aku sedang dalam posisi tidur sambil menghadap tembok, sehingga Renata berada di belakang punggungku. "Yah gak papa. Masa gue harus nontonin kalian ciuman," jawabku tanpa menoleh ke arahnya. "Lo gak cemburu, Kan?" "Enggak. Gue punya hak apa buat cemburu. Lo ada-ada aja." Jawaban itu tentu saja sebuah kebohongan. Aku cemburu. Benar-benar sangat cemburu. Bayangan adegan yang kemarin aku lihat itu masih memberikan rasa sakit. Sangat sakit. "Iya. Lo gak mungkin cemburu. Lo pasti sadar diri kan, Bon? Hahaha." Tawa Renata terdengar seperti sebuah ejekan bagiku. Aku langsung melirik ke arahnya. "Maksudnya?" tanyaku dengan kening berkerut. "Yah Dennis gak mungkin suka sama lo. Jadi gak mungkin lo suka sama dia. Gak mungkin juga lo bakalan cemburu sama gue, kan? Karena Dennis pasti lebih milih gue daripada lo." Aku terdiam. Emosiku meluap mendengar kalimat Renata barusan. Segala yang tertahan, kini tak sanggup lagi dibendung. Aku bangkit dari posisi berbaringku, lalu duduk menghadap Renata. "Kenapa gak mungkin? Karena lo cantik, sementara gue jelek? Karna lo langsing dan gue gemuk? Karena itu... lo nilai Dennis gak akan suka sama gue?" Renata pasti menyadari kemarahanku. Suaraku bergetar ketika mengucapkan kalimat itu. Raut wajahku juga menunjukan emosi. Aku menatapnya begitu tajam, hingga Renata terdiam. "Bon... gue cuma bercanda," ucap Renata. Aku tertawa sinis. "Lucu? Candaan model kayak gitu buat lo lucu? Selera humor parah banget kalo gitu!"  "Sebentar... lo kenapa marah sih, Bon? Biasanya juga gue bercandaannya kayak begini kok. Dan selama ini lo gak pernah marah. Kenapa kali ini lo marah? Karena ini tentang Dennis?" "Selama ini gue gak suka sama mulut lo. Cuma gue tahan. Bedanya... kali ini gue ungkapin ke lo! Kalo lo temen gue, Renata... lo seharusnya gak akan tega ngucapin kalimat-kalimat yang lo anggap itu candaan. Kalo lo temen gue... setidaknya lo akan pikirin gimana perasaan gue saat lo ngomongin itu!" Renata bangkit dari posisi duduknya dan hendak berjalan mendekatiku. Namun aku langsung menyuruhnya berhenti dengan isyarat tangan. "Gue pengen lo pergi sekarang! Gue pengen sendiri!" "Bon... maafin gue. Maksud gue gak kaya gitu..." Namun aku enggan mendengarkan perkataannya lebih banyak lagi. "Pergi!" teriakku. Aku menatapnya dengan sorot penuh emosi dan air mata yang mulai jatuh perlahan. Renata akhirnya berjalan pergi meninggalkan kamarku, tanpa mengucapkan kalimat apapun lagi. Aku langsung menangis sejadi-jadinya. Menumpahkan semua rasa sakit melalui tangisan. Ucapan Renata memang melukaiku. Namun hal yang lebih menyakitkan adalah aku seperti kehilangan teman-temanku secara sekaligus. Aku seperti telah kehilangan Renata dan Dennis sebagai teman dalam waktu bersamaan. Luka ini terasa dua kali lipat lebih menyakitkan. Seketika aku merasa sendirian. Benar-benar sendirian. Kini, tak ada lagi seseorang yang bisa aku sebut teman. Aku kehilangan cinta dan juga teman. CONTINUED ***************** Hai guys! ^^ Aku pikir ini akan menjadi minggu terbanyak Evolusi Babon update ya :D Cuma aku benar-benar sedang senang menulis. Aku harap kalian juga melakukan hal-hal yang yang membuat hati senang :) Cerita ini memasuki fase dimana Bonita sedang patah hati dan kehilangan. Merasa sendirian. Kalian penasaran gak gimana Bonita melewati fase ini? :) Kalo iya, tunggu bab berikutnya ya! ^^ Sampai jumpa! :) Salam, Penulis amatir yang lagi semangat nulis :D
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN