Aku menatap kotak roti yang baru saja aku beli. Aku ingin membawa itu ke bengkel Dennis. Sejak peristiwa kemarin, aku menghindari Dennis dan Renata selama di sekolah. Mereka sempat protes akan perilaku diriku yang tampak menghindar. Selama ini aku berbohong dengan memberikan alasan sedang ingin fokus menyiapkan ujian sekolah dan masuk universitas, sehingga tidak bisa sering bertemu. Namun alasan sebenarnya aku sedang enggan memasang topeng baik-baik saja, padahal tidak. Selama waktu kemarin, aku hanya ingin sejenak beristirahat dan tanpa kepura-puraan.
Sekarang aku merasa sudah lebih baik. Ada perasaan bersalah setiap kali aku menolak ajakan Dennis untuk main ke bengkelnya. Karena itu, siang ini, sepulang sekolah, aku sedang menuju ke bengkel Dennis. Aku belum bilang kepadanya tentang kedatanganku ini. Aku ingin memberinya kejutan. Aku harap dia akan senang dengan kemunculan dadakanku ini. Semoga sekotak roti ini juga bisa dinikmati bersama dengan teman-temannya nanti.
Aku menanti dengan tak sabar untuk sampai ke tempat Dennis. Sesekali aku melirik ke arah kotak kue itu. Memastikan benda itu dalam keadaan aman di sebelahku. Sepuluh menit kemudian mobilku telah terparkir di lapangan dekat bengkel Dennis. Aku segera keluar mobil dan berjalan sambil membawa kotak roti itu.
Bengkel itu terasa sepi. Tidak ada motor yang terparkir di halaman. Hal itu menandakan tak ada teman-teman Dennis di dalam. Aku mengetuk pintu pelan sebelum berjalan masuk. Namun langkah kakiku tiba-tiba terhenti ketika melihat Renata sedang duduk di sofa Dennis.
"Lo ngapain?" ucapku, spontan.
"Harusnya gue yang tanya... lo ngapain?" balas Renata.
Aku terdiam. Otak mulai mencerna situasi yang sedang aku hadapi ini. Siapakah yang berhak terkejut? Aku atau Renata? Dia tentu kaget melihatku disini. Aku tak pernah memberitahukan kedekatanku dengan Dennis itu sampai mana hingga sampai bisa mengunjungi bengkelnya. Begitupun juga denganku yang tidak tau kedekatan mereka hingga aku bisa menemukan Renata saat ini di sini.
"Bonita emang suka main ke bengkel gue, Ren." Dennis tiba-tiba muncul sambil membawa segelas air untuk Renata.
"Kok gue gak tau?" Renata masih terkejut. Matanya terus menatap terbelalak ke arahku.
"Yah emang Bonita harus laporan sama lo kalo mau ke sini?" Dennis geleng-geleng kepala menatap Renata. "Duduk, Bon. Ngapain berdiri di situ terus," ucap Dennis sambil menaruh gelas yang sedari tadi dia pegang ke atas meja.
Aku duduk di sebelah Renata. Kemudian menaruh kotak roti di atas meja. "Ini roti buat lo, Den. Gue pikir temen-temen lo ada di sini. Makanya gue sekalian beli roti buat mereka."
"Enggak. Mereka lagi sibuk di kampusnya. Jadi gue sendirian deh di sini," jawab Dennis.
"Jadi sejak kapan lo sering main ke sini, Bon? Kok lo gak cerita-cerita sih," protes Renata.
"Gue gak sering-sering banget kok ke sini. Kalo lagi senggang aja dan kalo diajak Dennis juga. Gue lupa cerita sama lo. Lagian gue juga gak ngerana ini hal yang penting untuk diceritakan. Kalo lo gimana? Ngapain ke sini?" tanyaku balik.
"Emang gue gak boleh ke sini?"
Aku menangkap nada ketus ketika Renata menjawab pertanyaanku itu. "Yah enggak. Gue cuma nanya aja."
"Renata bilang ada barang yang ketinggalan di sini," ucap Dennis.
"Kok bisa?" tanyaku lagi.
"Iya. Waktu pas gue anterin dia pulang... Renata mampir bentar ke bengkel. Katanya dia kebelet dan pengen pinjem toilet. Dia gak biasa pakai toilet umum katanya. Trus dia bilang gelang kesayangannya mungkin jatuh di sini. Makanya sekarang Renata ke sini lagi buat nganterin tuh gelang," tutur Dennis.
"Oh gitu." Aku bisa menebak bila Renata hanya mengarang alasan saja agar bisa lebih dekat dengan Dennis dan sering berkunjung ke bengkelnya. Dia memang pandai menciptakan kesempatan. Mungkin karena pengalaman Renata terhadap pria begitu banyak, sehingga dia begitu berani dan percaya diri mendekati Dennis.
"Terus sekarang kita mau ngapain?" tanya Renata.
"Yah lo pulang lah. Kan gelangnya gak ada di sini. Lo udah nyari-nyari setengah jam juga. Mungkin jatuh di tempat lain. Bukan di tempat gue," jawab Dennis.
Renata cemberut. "Yah masa pulang sih. Gak seru banget. Lagian kan udah ada Bonita di sini. Main bentar kek, Den."
"Lo bocah? Mau main apaan coba." Dennis geleng-geleng kepala.
"Yaudah. Lo balik kerja aja. Benerin motor gih. Renata biar main sama gue aja," ucapku.
"Thanks, Bon. Motor yang harus dimodif emang lagi banyak banget nih. Gue kerja dulu ya."
Setelah aku mengangguk setuju. Dennis mulai meninggalkanku dan Renata, lalu fokus mengotak-atik motornya. Aku melirik ke arah Renata. Gadis itu menatap Dennis dari posisi duduknya dengan sorot penuh kekaguman.
"Dia keren ya, Bon," gumam Renata.
***
Aku berjalan dengan santai menuju kelas seperti biasanya. Menyusuri lorong dan menaiki tangga seperti rutinitas yang selalu aku lakukan. Namun tiba-tiba ada sebuah perbedaan yang aku rasakan. Banyak yang keluar kelas lalu melongok ke arah parkiran. Aku pun jadi penasaran. Aku akhirnya mendekati tembok yang tingginya sedada itu, lalu melihat ke arah parkiran.
Ternyata tersaji sebuah pemandangan dimana Renata sedang menaiki motor yang dikendarai oleh Dennis. Pemandangan yang membuat banyak orang terkejut, termasuk aku. Renata berangkat sekolah bersama Dennis? Bagaimana bisa? Sejak kapan mereka sedekat itu hingga bisa berangkat bersama ke sekolah.
Aku melihat Renata menyerahkan helm yang dikenakannya ke Dennis. Kemudian Dennis tampak memarkirkan motornya. Aku mendengar beberapa bisikan dari orang-orang di sekitarku.
"Mereka jadian?"
"Mereka serasi juga ya kalo diliat-liat. Ganteng dan cantik. Pas banget."
"Sejak kapan mereka dekat?"
"Wajar sih Dennis terpikat sama Renata."
"Dennis beruntung banget dapetin Renata."
Kalimat-kalimat itu membuatku ingin segera berjalan pergi dan segera menjauh dari sana. Aku tak ingin melihat pemandangan itu lebih lama. Aku tak ingin mendengar komentar kekaguman orang-orang tentang keserasian mereka sebagai pasangan. Itu hanya akan membuat hatiku semakin bertambah sakit.
***
"Jadi lo beneran suka sama Renata?" tanyaku tiba-tiba.
Dennis tampak terkejut mendengar pertanyaan dadakanku itu. Dia menghentikan makan siangnya, lalu menatapku dengan wajah penuh keheranan. "Kenapa nanya begitu?"
"Yah rumor yang beredar kayak gitu, Den."
"Sejak kapan lo lebih dengerin rumor daripada gue?" tanya Dennis balik.
"Yah sepenglihatan gue juga gitu. Buktinya lo berangkat ke sekolah bareng Renata tadi pagi."
"Oh itu... tadi gue emang mampir ke kost Renata. Dia minta tolong benerin lampu kamarnya. Terus AC kamarnya juga bocor airnya. Pagi-pagi dia minta tolong gue. Katanya dia gak tenang ninggalin kamarnya dengan kondisi begitu. Kalo nunggu tukang kan bakalan lama, sementara kita harus sekolah. Makanya tadi pagi gue ke sana, coba ngebantu, dan ternyata bisa dibenerin. Yah abis itu kita berangkat sekolah bareng deh."
"Oh gitu." Ternyata kenyataanya jauh dari apa yang aku bayangkan sedari tadi. Namun tetap saja ada perasaan tak nyaman ketika mengetahui bila hubungan Dennis dan Renata semakin sedekat itu.
"Kita cuma temen doang, Bon. Orang-orang aja yang overthinking. Kayak gak pernah liat pertemanan lawan jenis aja. Emang semuanya harus jadian apa." Dennis geleng-geleng kepala sambil menyeruput jus jeruknya.
"Iya... iya... temenan. Percaya kok." Tentu saja kalimat yang aku lontarkan itu sebuah kebohongan. Renata tidak menganggap Dennis hanya sekedar seorang teman. Bagaimana mungkin hubungan mereka bisa selayaknya teman yang normal. Apalagi Renata termasuk agresif ketika mendekati seorang laki-laki.
"Oh ya. Gue penasaran deh kenapa Renata nge-kost? Kenapa dia gak tinggal bareng orang tuanya?"
"Gue juga gak begitu tau. Renata gak terlalu terbuka soal itu. Cuma yang gue tangkep tuh, dia emang suka hidup sendiri dan mandiri. Emang kenapa?" tanyaku balik.
"Gak papa. Gue cuma heran aja. Jarang ada yang nge-kost kan. Gue pikir dia gak punya orang tua atau keluarga yang ngerawat dia."
"Dia punya kok. Orang tuanya kalo gak salah tinggal di Manado. Cuma Renata emang mutusin buat tinggal di Jakarta dan hidup sendiri. Dia juga sebisa mungkin cari uang sendiri."
"Oh ya? Emang dia kerja apaan?"
"Dia suka jadi model. Bintang iklan juga. Suka main film dan sinetron. Cuma produk yang dia iklanin masih belum brand besar. Peran yang dia mainin juga masih figuran atau peran kecil. Ya walau begitu, gue udah cukup salut sama Renata. Dia udah bisa hidup mandiri dan cari uang sendiri."
Dennis mengangguk. "Keren juga ya dia. Gue pikir dia anak manja dan banyak gaya. Ternyata dia gak kayak gitu."
"Terus lo jadi suka sama dia?" Aku menatap tajam ke arah Dennis.
"Apaan sih. Enggaklah. Gue cuma salut aja."
"Suka juga gak papa kok."
"Bener?" Dennis tersenyum usil.
"Ya iyalah. Udah ah. Gue mau balik ke kelas."
Aku mengambil kotak makan milikku, lalu berjalan pergi meninggalkan Dennis yang masih tertawa melihatku. Dia memang selalu suka meledekku. Karena itu lebih baik pergi dari sana dan kembali ke kelas.
CONTINUED
*****************
Hai guys! ^^
Aku sedang bahagia hari ini hihihi >,
Karena itu, aku memutuskan untuk update Bab 20 hari ini! hehehe ^^
Semoga kalian juga terhibur ya!
Sampai jumpa di bab berikutnya!
Salam,
Penulis amatir yang suka sekali tanggal 09 bulan 09 :)