13. Ajakan Dennis

1438 Kata
Aku senang bisa lebih dekat dengan Dennis. Lebih sering berbagi pesan dengannya. Lebih banyak waktu untuk sering bertemu dan melihat wajahnya. Hal-hal yang semula tak pernah aku banyangkan akan terjadi dan aku alami. Sesederhana menerima notif pesan darinya pun terasa sangat istimewa. Semula ponselku hanya menerima pesan dari Mama dan Renata, tak ada dari yang lain, apalagi itu pria. Termasuk detik ini. Aku kembali bisa melihat wajah Dennis dari dekat. Kami janjian untuk makan siang bersama di rooftop. Aku makan bekal makan siang yang memang telah disiapkan dari rumah. Sementara Dennis sedang makan bakmi yang ia beli di kantin. Kami makan berdua sambil duduk lesehan di lantai. Aku tak keberatan dengan lantai berdebu ini, asal bisa duduk di sebelahnya. Dennis tampak lahap menyantap bakminya. Dia termasuk cepat ketika menghabiskan makanan. Bakminya sudah tampak mulai habis, Padahal aku baru saja menghabiskan seperempat nasi ayam hainanku. Sulit memang mengejar kecepatan makannya. Namun aku juga tak ingin terburu-buru. Aku tak mau tampak seperti perempuan rakus ketika makan. Sudah cukup badan besar berlemak ini yang membuat tampilanku sebagai wanita menjadi buruk. Aku tak ingin menambahnya dengan imej wanita rakus. "Hari Minggu kita bakalan touring ke puncak. Lo mau ikut?" tanya Dennis. "Kita itu siapa aja maksudnya?" tanyaku balik. "Rio, Toms, dan Bram. Mau gak?" "Naik apa?" "Motor sport-ku." Aku langsung menggelengkan kepalaku. "Enggak ah. Lo pergi tanpa gue aja. Gak papa." "Kenapa lo langsung nolak pas gue jawab naik motor sport?" "Karna gue pendek, Den. Susah naik motor tinggi gitu. Lagipula gue tuh berat. Kasian lo kalo harus bawa cewek kayak gue. Mending lo ajak yang langsingan deh. Gak malu-maluin buat dibawa." Aku bukan sedang menghina diri sendiri, tapi faktanya memang begitu. Aku hanya sadar diri. Dennis akan kesulitan bila mengendarai motor dengan beban 90 kg. Apalagi kakiku tidaklah panjang. Dennis bisa malu membawa wanita yang bahkan untuk naik motornya saja sudah kepayahan. Aku tidak ingin mempermalukannya. Lebih baik aku tidak ikut atau Dennis mengajak teman perempuannya yang lain. "Yaudah. Kalo gitu gue bawa motor biasa aja. Gak usah pake yang sport." "Kok touring pake motor biasa sih?" "Yah touring kan sebuah kegiatan. Gak ada kewajibapn juga harus bawa motor apa." "Lo bisa ajak yang lain, Den. Gak harus gue. Gak perlu maksain sampe sebegitunya. Lo kayak gak punya temen lain aja selain gue." "Emang gak punya." Jawaban singkat Dennis itu membuatku terdiam. Kalimat yang tak aku sangka akan keluar dari mulutnya. "Masa sih gak ada? Lo aja bisa punya temen kayak Rio, Toms, dan Bram. Masa lo gak punya temen cewek selain gue sih?" tanyaku, masih tak percaya. "Emang gak punya. Lo pernah liat gue sama orang lain selain lo di sekolah ini?" "Iya sih. Gak pernah." Aku memang lebih banyak melihat Dennis sendirian selama di sekolah. Aktivitasnya juga hanya belajar, tidur, dan makan. Tak sekalipun aku melihat Dennis berada dalam kelompok pertemanan dan melakukan hal-hal yang dilakukan anak-anak lain.  "Makanya temenin gue. Yang lainnya bakalan bawa pacar. Lah gue jomblo. Temen cewek gue ya cuma lo doang. Daripada gue mengenaskan di sana, ya mending ngajak lo." Aku tersenyum senang mendengarnya. Namun aku buru-buru menyembunyikan senyum itu. Aku tak ingin Dennis bisa melihat gurat perasaanku yang sebenarnya. "Emang mau jalan jam berapa rencananya? Ini gak nginep kan?" "Lo siap-siap dari pagi. Nanti gue jemput jam tujuh pagi. Tenang, pulangnya juga gue anterin. Ini gak pake acara nginep-nginepan. Tenang aja." Aku mengangguk sambil tersenyum. "Baiklah. Gue percaya sama lo. Thanks ya udah ngajakin gue." Dennis tiba-tiba diam, mendekatkan wajahnya ke arahku. Kemudian menatapku tajam dengan raut wajah sangat serius. "Lo bukannya udah gue bilangin ya buat gak rendah diri." Aku kembali tersenyum. "Itu bukan rendah diri, tapi sadar diri! Kenyataannya kan emang begitu. Kaki gue pendek dan badan gue gemuk. Kalo lo nyuruh gue menyangkal, berarti gue gak menerima diri sendiri dong?" "Bener juga." Dennis tertawa, lalu kembali duduk bersandar. "Abisin tuh bakmi lo. TInggal sekali lahap udah habis juga." "Gue mah gampang. Lo tuh yang makanannya masih banyak." "Yah lo ngajakin gue ngomong mulu. Gimana mau habis makanan gue." Baiklah. Wanita selalu benar dan laki-laki selalu salah!" ucap Dennis sambil geleng-geleng kepala. Aku tertawa. Namun diam-diam hatiku begitu senang. Sangat senang hingga ingin berteriak detik ini juga. Aku berusaha menahan kegirangan ini dengan hanya menampilkan seutas senyum yang begitu lebar. Dennis mengajakku pergi! Ini bukan ke sekolah atau bengkel. Dua tempat yang biasa kami jadikan tempat untuk bersama. Namun kali ini Dennis mengajakku ke puncak! Sebuah tempat yang tak biasa bagiku. Apalagi ini bukan acara biasa. Dennis mengajak diriku untuk ikut ke kegiatan bersama teman-temannya. Bolehkah detik ini aku merasa seperti orang spesial bagi Dennis? Namun aku buru-buru menepis perasaan gila itu. Aku tak ingin terluka karna ekspektasiku sendiri. Jatuh setelah berharap itu sangatlah sakit. Aku harus tetap realistis. Dennis tak mungkin menyukai wanita berlemak sepertiku! *** Hari yang aku nanti-nanti telah tiba. Aku sudah bangun sejak jam lima pagi tadi. Aku begitu antusias menyiapkan diri untuk kegiatan touring itu, walapaun Dennis baru akan menjemputku jam tujuh pagi nanti. Sebenarnya tak terlalu banyak barang yang akan aku bawa. Aku tak perlu membawa baju ganti. Karena acara ini tidak akan sampai menginap. Namun aku ingin membawa bekal makanan. Setidaknya snack sederhana untuk Dennis. Siapa tau dia akan kelaparan di tengah perjalanan. Aku berjalan menuju dapur, lalu mememeriksa isi kulkas. Aku mengambil bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat sandwich. Aku mengeluarkan telur, tomat, keju, irisan daging, mayones, dan salada. Aku melarang semua Bibi yang bekerja di rumah untuk membantuku. Aku ingin membuat snack ini sendirian. Aku yakin bisa membuat makanan ini dengan enak. Aku sudah beberapa kali mencoba membuat menu ini. Karena itu aku cukup percaya diri akan hasilnya. Selama setengah jam aku sibuk di dapur. Memanggang roti, menggoreng irisan daging, membuat telur dadar, dan mengiris sayur-sayuran. Aku menyusun semua bahan-bahan itu menjadi sandwich yang tampak cantik dan enak. Kemudian menatanya di dalam kotak bekal. Selama beberapa saat aku menatap hasil karya masakanku itu. Aku yakin rasanya enak dan Dennis pasti akan menyukainya. Aku membawa dua kotak bekal itu masuk ke dalam kamar. Kemudian memasukannya ke dalam tas dengan penuh kehati-hatian. Drrrtttt.... drrrtttt... Aku mengambil ponselku yang tergeletak di atas meja rias. Ada sebuah panggilan masuk dari Renata. Dengan cepat aku menjawab panggilan itu. "Kenapa, Ren? Tumben lo telepon gue pagi-pagi." "Gue ke rumah lo ya." "Jangan!" ucapku dengan cepat. "Kenapa?" Aku bisa mendengar perasaan heran dari nada bicara Renata. Dia pasti heran bingung kenapa aku langsung menolak kedatangannya dengan cepat. Karena biasanya aku selalu menerima kedatangannya kapanpun yang Renata mau. Aku langsung memutar otak. Berusaha mencari alasan yang bisa diterima oleh Renata. Aku tak ingin sahabatku itu tau alasan yang sebenarnya. "Ehm... gue hari ini mau jalan sama Nyokap, Ren. Makanya gak akan ada di rumah hari ini." "Kalian mau kemana? Pergi ke mall? Gue ikut deh kalo gitu. Gue hari ini bosen banget. Jadi mending ikut sama lo aja." "Gak bisa!" tegasku lagi. "Gak bisa? Kenapa? Bukannya gue udah sering ikut lo dan nyokap lo." Aku kembali berpikir. Kembali berusaha menemukan alasan yang tepat untuk menolak kedatangan Renata. "Ehm... sorry, Ren. Lo emang gak bisa ikut. Gue sama Nyokap mau bahas masalah keluarga gitu. Walaupun bahasnya di restoran, tapi acaranya emang private." Renata terdiam selama beberapa saat. "Oh gitu. Masalah keluarganya gawat banget ya?" "Ya begitulah, Ren." Aku menggigit bibir bawahku, tanda cemas. Berharap Renata akan percaya dengan alasan yang aku buat ini. "Gitu ya. Ehm... yaudah deh. Gue main aja sama gebetan baru gue." "Sorry ya, Ren." "Gak papa. Walaupun rada aneh sih. Lo tumben-tumbenan ada masalah keluarga." "Ya begitulah, Ren. Namanya juga hidup." "Yaudah kalo gitu. Gue tutup telponnya ya." "Iya, Ren." Aku menghela nafas lega kala Renata telah menutup panggilan teleponnya. Aku tidak tau apakah Renata benar-benar percaya dengan kebohongan yang aku buat tadi. Namun setidaknya aku bisa mencegah kedatangan sahabatku itu ke rumah. Sejauh ini aku masih bisa menutupi perasaan dan hubungan pertemananku dengan Dennis dari Renata. Semoga dia akan tetap tidak mengetahuinya di masa depan, entah sampai kapan. Mungkin sampai aku merasa siap. Aku melihat jam dinding yang ada di kamarku. Waktu sudah menunjukan pukul enam lewat sepuluh menit. Aku bergegas mengambil handuk dan bersiap untuk mandi. Aku tidak ingin Dennis menunggu karena keterlambatanku. Ini hari spesial bagiku. Aku tidak ingin merusaknya karena kesalahanku. CONTINUED **************** Hai guys! ^^ Update lagi nih. Tumben ya aku update dua kali selama seminggu ini :D Mungkin karena libur lebaran, makanya waktu luangku banyak. Energi juga full, karna bisa punya waktu istirahat yang lebih dari cukup. Kalian juga semoga sehat-sehat ya. Ingat, pandemi belum berakhir. Tetap selalu pakai masker dan minimalisir kontak fisik. Pahami ketahanan tubuh. Jangan sampai sakit. See you in next chapter! ^^
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN