Aku memeriksa tampilanku di cermin sekali lagi. Busanaku memang sederhana. Hanya baju putih dengan lapisan cardigan hitam serta celana jeans. Namun aku tetap ingin setidaknya tampak rapi di depan Dennis. Aku juga memeriksa riasan sederhanaku di cermin. Aku hanya memakai bedak dan lipbalm di bibir. Setidaknya bibirku tidak akan terlihat pecah-pecah.
Tiba-tiba ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk. Aku langsung membukanya ketika melihat nama Dennis muncul di layar notifikasi.
Dennis Pramono
Gue udah di depan rumah lo nih.
Aku segera mengambil tas selempangku setelah membaca pesan itu. Fakta dimana Dennis menjemputku adalah sesuatu yang terasa sangat spesial untukku. Ini kali pertama dimana ada seorang pria yang sedang menungguku di depan rumah. Hal yang mungkin biasa banyak terjadi bagi gadis lain, tapi tidak denganku. Karena itu, aku tak ingin membuat Dennis menunggu terlalu lama.
Aku berjalan menuju pintu gerbang rumah dengan langkah yang tergesa. Sebenarnya aku ingin berlari, tapi orang-orang dirumah pasti akan menatap heran perilaku tak biasaku itu. Lebih baik berjalan cepat. Ketika langkah kakiku telah sampai di pintu gerbang rumah, aku langsung menemukan Dennis di sana. Dia sedang duduk di atas motor dan saat ini mulai menatapku. Senyumnya yang mengarah padaku cukup membuat hati ini berdebar dengan keras.
"Udah siap?" tanya Dennis.
Aku mengangguk dengan senyum yang canggung. Entah kenapa aku merasa gugup. Mungkin karena suasana yang berbeda dari biasanya. Dennis yang saat ini sedang berada di depan rumahku, menungguku, dan menatapku dengan senyum yang ramah. Tentu membuatku merasa ada yang berbeda dengan situasi ini.
"Kita ketemuan sama yang lain dimana?"
"Di bengkel."
Aku menatap Dennis dengan heran. "Kalo gitu kenapa kita gak ketemuan di bengkel aja. Lo kan gak perlu capek-capek ke sini. Gue bisa dianterin Pak Beno kan."
"Gak papa. Pengen aja."
Aku terdiam selama beberapa saat mendengar jawaban singkat Dennis itu. Pipiku mulai memanas dengan raut wajah tersipu.
"Lo mau sampe kapan berdiri di situ? Ayo naik."
Aku tersadar dari lamunanku. Aku pun akhirnya segera menaiki motor Dennis itu. Setelah itu aku dengan tenang duduk di belakang ketika Dennis mulai mengendarai motornya. Naik motor saat di pagi hari ternyata menyenangkan dari yang aku pikirkan. Udara pagi terasa menyejukan. Angin yang menerpa langsung ke kulit membuatku seperti merasa bebas. Sensasinya sangat berbeda ketika aku menaiki mobil dengan udara dingin dari AC di dalamnya.
Jalanan pun juga tak padat seperti saat di siang hari. Aku jadi bisa dengan santai menikmati pemandangan selama perjalanan. Ini memang bukanlah pemandangan alam yang menyejukan mata. Hanya tampilan aktivitas warga kota Jakarta di hari minggu pagi. Namun melihatnya dari motor, entah kenapa terasa berbeda.
Perjalanan tak memakan waktu lama. Laju motor Dennis telah berhenti di depan bengkelnya. Toms, Rio, dan Bram juga telah ada di sana. Mereka tampak menunggu kedatangan kami dari atas motor sport-nya. Aku melihat mereka masing-masing membawa wanita. Aku bisa menerka wanita-wanita itu adalah pacar mereka. Sangat terlihat jelas dari gestur tubuh mereka kalau itu hubungan layaknya sepasang kekasih.
"Kok lo naik motor itu sih?" tanya Rio.
"Gak papa. Lagi pengen aja," jawab Dennis.
"Yah cuma lucu aja, Den. Kita naik motor sport, lo naik motor itu," timpal Toms.
"Yang penting gue ikut touring, kan. Gak penting gue pake motor apa," ujar Dennis dengan nada penuh penekanan.
"Yaudah. Berangkat yuk. Kalo kelamaan, nanti udah keburu siang. Panas ah," kata Bram.
"Baiklah. Sebaiknya kita berangkat sekarang." Rio terlihat mulai menyalakan mesin motornya.
Dennis juga akhirnya mulai mengikuti Rio. Dia menyalakan mesin motornya dan bersiap untuk berangkat. Begitu pula dengan Toms. Menit berikutnya kami benar-benar berangkat. Mengendarai motor dengan saling beriringan dalam satu baris jalur. Aku hanya duduk di belakang tanpa mengeluarkan banyak suara.
Aku bingung harus mengeluarkan topik apa untuk bahan obrolan kami selama perjalanan. Lagipula berbincang di atas motor tidak terlalu enak. Suara bising deru angin dan suara kendaraan lain akan membuat apapun yang aku katakan tak akan terdengar. Pada akhirnya aku harus berteriak untuk bisa di dengar Dennis. Karena itu aku memilih diam.
Selama diperjalan, terbesit perasaan bersalah. Karena aku, Dennis memilih memakai motor biasa ketimbang motor sport. Aku tidak tau pengorbanan Dennis sebesar itu sampai Rio tadi mempertanyakan kendaraan yang dia bawa ini. Aku tersadar bila Dennis mengesampingkan rasa gengsinya hanya untuk bisa jalan bersamaku. Aku terharu. Sungguh.
Namun memang bersamanya seperti ini terasa menyenangkan. Duduk di belakangnya, menatap punggungnya, dan melihat dia fokus mengendarai motornya. Rasanya bila perjalanan ini memakan waktu lima jam sekalipun, aku tidak akan apa-apa. Sungguh. Aku akan duduk di belakangnya dengan perasaan bahagia.
Pemandangan gunung dan kebun teh yang tersaji selama perjalanan memang menyejukan mata dan menambah perasaan bahagia yang ku rasakan saat ini. Udara segar yang kini mulai terhirup membuat hati menjadi tenang. Alam memang selalu menyajikan suasana menyenangkan. Walau menggunakan motor, perjalanan ini terasa sangat menyenangkan.
Laju motor terhenti ketika sudah sampai di sebuah restoran. Lokasinya terletak di Puncak dengan pemandangan hamparan kebun teh. Aku langsung turun dari motor ketika Dennis telah selesai memarkirkan motornya. Begitu juga dengan teman-temannya Dennis. Motor mereka terparkir secara bersebelahan.
Aku menunggu Dennis bersama tiga wanita yang merupakan kekasih Rio, Toms, dan Bram. Aku belum berkenalan dengan mereka. Rasanya canggung untuk mengajak mereka berkenalan lebih dulu. Apalagi aku melihat mereka sangat cantik, tinggi, dan langsing. Aku merasa tak sebanding bila memulai pertemanan dengan mereka lebih dulu. Aku tak seberani itu.
"Ayo masuk." Dennis berjalan menghampiriku.
Aku mengangguk dan ikut berjalan di sampingnya. Rio, Bram, dan Toms tampak sibuk bersama kekasih mereka masing-masing. Sementara aku dan Dennis hanya berjalan bersama dengan suasana canggung.
Kami memilih duduk di meja dengan pemandangan terbaik di tempat makan itu. Udara alam yang dingin dan sejuk tentu sangat terasa karena restoran itu terbilang cukup terbuka. Di sini memang tak memerlukan pendingin ruangan. Alam sudah mendinginkan suasana secara alami.
Kami masing-masing telah mememilih menu makanan yang akan di pesan. Restoran Sunda ini memang hanya menyediakan menu ikan, ayam, dan berbagai lalapan sebagai pilihan. Aku belum pernah makan di restoran sunda seperti ini. Dengan duduk lesehan dan udara alam yang langsung menerpa kulitku.
Ini memang kali pertama aku makan dengan suasana seperti ini. Namun tak terasa asing sama sekali. Mungkin karena ada Dennis di sebelahku. Keberadaannya membuatku merasa aman dan nyaman. Walaupun saat ini aku sedang berada di tengah lingkungan pertemanannya yang masih terasa asing.
Tak memerlukan waktu lama, semua makanan yang dipesan telah datang. Pelayan langsung menata semua makanan di atas meja satu persatu. Aku merasa Toms sedang menatapku dari posisi duduknya. Aku pura-pura tak tau dan memilih meneguk gelas berisi air putih yang ada di dekatku.
"Sebenernya hubungan lo sama Bonita tuh apa sih, Den?" tanya Toms tiba-tiba.
Aku terkejut hingga tersedak air putih yang sedang ku minum. Pertanyaan mendadak dari Toms itu cukup membuatku menjadi salah tingkah. Namun aku pura-pura kembali bersikap biasa dan menghapus tumpahan air dengan tissue.
"Lo kenapa tiba-tiba nanya gitu deh," balas Dennis.
"Yah gak papa. Cuma mau tau aja. Soalnya ini pertama kalinya lo bawa cewek. Makanya gue kepo. Emang gue gak boleh nanya ya?" Toms menaikan sebelah alisnya sambil tersenyum usil.
"Daripada ngebahas itu... mending kalian kenalin cewek-cewek kalian ke Bonita. Mereka baru pertama kali ketemu kan. Biar kalo mereka mau ngobrol gak ngerasa canggung," usul Dennis.
"Bener juga. Belum pada kenalan. Bon, kenalin ini cewek gue, Delina." Rio mengenalkan wanita dengan rambut panjang sepinggang yang duduk di sebelahnya padaku.
"Hai, Bon. Gue Delina."
Aku membalas senyuman ramah Delina itu. "'Hai juga."
"Ini Risa. Kenalan, Bon. Dia mukanya emang galak, tapi hatinya lembut kok." Toms tertawa cekikikan dengan tatapan usil ke arah Risa.
Risa menatap kesal Toms, lalu memukul pelan lengannya. Kemudian tersenyum ke arahku. "Hai Bonita. Gue, Risa."
"Hai, Risa." Aku membalas lambaian tangan Risa, lalu tersenyum juga ke arahnya.
"Gue, Kinan. Salam kenal Bonita."
"Salam kenal juga Kinan." Aku membalas sapaan dari wanita yang ada di sebelah Bram itu. Kinan memiliki senyum yang paling manis daripada dua wanita lainnya menurutku.
"Yaudah. Makan yuk. Udah mulai laper nih," ajak Dennis.
Setelah itu semua orang langsung mengambil makanannya masing-masing. Aku melihat semua wanita yang ada di sini menaruh nasi ke piring kekasihnya. Bahkan Risa menyuapkan Toms beberapa kali. Mereka tanpa canggung bermesraan dan menunjukan gestur sebagai pasangan kekasih. Hanya aku dan Dennis yang tampak canggung duduk bersebelahan.
Aku melirik sekilas ke arah Dennis yang saat ini sedang menyantap makanannya. Dia hanya fokus makan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku akhirnya mengikuti Dennis. Kami berusaha menikmati makanan di tengah suasana pemandangan orang-orang berpacaran di depan kami.
"Buruan makannya. Kita cabut keluar yuk," ajak Dennis.
Aku mengangguk setuju. Aku menghabiskan makanan secepat yang aku bisa. Suasana canggung ini memang pasti membuat Dennis tak merasa nyaman juga. Lebih baik segera memisahkan diri daripada terus di lingkungan orang-orang yang sedang berpacaran. Masalahnya hubunganku dan Dennis hanya teman. Aku tak mungkin memperlakukannya selayaknya seorang pacar padahal tidak. Aku takut membuatnya risih dan terganggu. Karena itu aku memilih untuk hanya diam dan menghabiskan makanan.
Aku melirik ke arah Dennis ketika dia mulai menghabiskan segelas air putihnya. Aku melihat piringnya telah kosong. Dia telah menghabiskan makanannya. "Mau cabut sekarang?" bisikku ke arah Dennis.
"Emang lo udah kelar makannya? Itu belum habis." Dennis menunjuk ke arah piringku.
"Gue bawa sandwich di tas. Gue makan itu ajalah."
"Oh ya udah." Dennis lalu memberi isyarat agar teman-temannya memperhatikan dirinya. "Gue sama Bonita cabut keluar dulu ya. Kita udah keluar makan. Kalian lanjutin aja."
"Cie mau mojoookkk," goda Toms.
"Yeee. Bukan gitu. Toh kalian juga bakalan sibuk sama pacar masing-masing, kan. Jadi mending gue sama Bonita jalan sendiri. Sekalian liat keliling-keliling."
"Baiklah. Gue sama Delina juga bakalan keliling berdua. Kalian duluan aja," ucap Rio.
"Dua jam ya paling lama. Nanti semua balik lagi ke sini," pesan Bram.
Dennis mengangguk setuju. Dennis menatapku dan memberi isyarat untuk segera beranjak dari tempat itu. Aku menurut dan segera bangkit berdiri, lalu mengikuti langkah kakinya. Dennis membawaku ke area luar restoran.
Kami berjalan di tengah kebun teh. Memandang hamparan daun teh yang menyejukan mata. Udara alam yang segar membuat aku bisa bernafas dengan lega. Suasana yang sangat jarang bisa ku temui dalam keseharian. Aku tersenyum senang melihat punggung Dennis yang ada di hadapanku.
"Kita duduk di sana yuk," ajak Dennis.
Aku melihat ke arah yang ditunjuk Dennis. Ada sebuah bangku panjang yang cukup untuk kami berdua bisa duduk. Aku pun mengangguk setuju. Aku duduk di sana bersama Dennis. "Sandwich yang lo buat mana?" tanya Dennis tiba-tiba.
"Eh... ehm... ada di dalam tas. Bukannya lo udah makan? Masih mau makan lagi?"
"Lo bikin itu buat gue kan? Masa gak gue makan."
"Emang lo masih laper?"
"Kalo sandwich doang... masih muatlah nih perut." Dennis memukul perutnya sambil tertawa.
Suara tawa Dennis membuatku ikut tertawa. Aku lalu mengeluarkan kotak bekal dari dalam tas. Kemudian membukanya dan menyodorkan makanan yang telah aku siapkan sejak pagi tadi kepadanya.
"Wah... kayaknya enak!" seru Dennis.
Aku tersenyum senang melihat wajah antusiasnya. Ekspresi Dennis sudah cukup membuatku puas. Rasanya jerih lelahku menyiapkan makanan ini terbayar. Aku menatap gugup ketika Dennis mulai menggigit sandwich itu.
"Enak!"
Aku menghela nafas lega ketika mendengar komentar Dennis itu. Aku mulai ikut mengunyah potongan sandwich bagianku. Rasanya senang makanan sederhana buatanku mendapat pujian dari Dennis!
Kami duduk berdua sambil menikmati potongan sandwich masing-masing. Melihat pemandangan alam sambil menikmati terpaan angin sejuk. Pengalaman terbaru ini terasa menyenangkan dan membuat hati berdegub kencang. Tanpa sadar hingga membuat pipiku bersemu merah.
CONTINUED
*****************
Hai guys! ^^
Udah lama banget aku gak updated cerita ini.
Maybe, udah lebih dari satu bulan :(
Ada banyak kondisi dan situasi yang ngebuat aku sulit untuk menulis. Gak bisa nulis malah.
Ini diperburuk dengan kondisi kesehatan yang sempet drop selama lebih dari dua minggu.
Aku bener-bener gak bisa nulis.
Aku pengen bisa produktif lagi buat nulis. Bukan hanya buat orang lain, tapi yang terutama buat diri sendiri. Tidak banyak hal yang aku inginkan saat ini. Namun bila bisa menulis dengan tenang dan hati senang, rasanya... seperti aku telah mendapatkan banyak hal di dalam hidup :)
Aku ingin bernafas dengan lega. Tidur yang cukup. Makan dengan baik. Tersenyum dan tertawa lebih sering. Terakhir, aku ingin menulis dengan nyaman dan senang.
Semangat juga buat kalian. Terima kasih sudah menunggu cerita ini updated! :)
Aku sempat berpikir, apa masih ada yang menunggu kelanjutannya :D
Namun bila sekalipun tidak ada, aku tetap akan melanjutkan cerita ini sampai akhir.
See you ini next chapter!
Salam,
Penulis amatir yang bahagia hari ini udah mulai bisa kembali makan ayam geprek :D