Ezra sudah segar, ia keluar dari apartemennya dan menekan bel apartemen Aisyah. Beberapa menit kemudian, Aisyah membuka pintu dengan keadaan yang jauh lebih baik.
Gadis itu tampak lebih rapih, bekas airmatanya juga sudah hilang, pertanda gadis itu juga sudah mandi. Ezra hanya berdiri di depan pintu ketika Aisyah menyuruhnya masuk.
Aisyah sadar jika ia telah mengundang Ezra masuk dan jika Ezra masuk, hanya ada mereka bedua di dalam apartemen. Aisyah kembali berjalan ke arah pintu.
“Ke roftoop, yuk.” Ajak Ezra.
Aisyah mengangguk, ia membawa tas kecil. Ezra menyerahkan ponsel Aisyah . mereka tiba di atap lima menit kemdudian. Ezra membawa minuman dingin berisi jus apel.
“Sepertinya belum ada kabar apapun?” tanya Ezra.
Aisyah mengangguk, ia sangat khawatir kepada Ayahnya. Sejak tadi tidak pernah berhenti memikirkan orang yang sangat ia sayangi itu. Aisyah mencoba menghubungi Abimanyu berulang kali tetapi pria itu tidak mengangkat panggilannya sama sekali.
Aisyah juga menghubungi Ibu dan juga omnya. Tetapi, tidak ada jawaban dari mereka. Aisyah ingin sekali naik pesawat saat ini juga agar bisa sampai di Indonesia dengan cepat.
Ezra memperhatikan Aisyah sedang memijit kepalanya, terlihat sekali gadis itu banyak pikiran. Wajah Aisyah juga terlihat sangat kurus padahal baru beberapa jam ia mendapat kabar buruk.
“Sudah sarapan?” tanya Ezra.
Aisyah menggeleng pelan, ia sama sekali tidak nafsu makan. Selera makannya hilang walaupun ia merasa sangat lapar.
“Nih, minum. Untuk tambah tenaga, sesudah ini kita pergi makan.”
Aisyah menerima botol berisi jus apel itu, meminumnya dua teguk lalu menutupnya kembali. Mau tidak mau Aisyah mengangguk pelan, ia sebenarnya tidak ingin keluar dari apartemen, perasaannya selalu was-was, takut jik ada kabar buruk tentang Ayahnya.
Sampai saat mereka selesai sarapan, tidak ada satupun orang yang menghubunginya. Kesabarannya hampir habis karena menunggu mereka dan sama sekali tidak menghubunginya.
Aisyah merasa amarahnya akan meledak, ia sangat jengkel dan gemas hingga tidak berhenti memainkan ponselnya. Menelpon pun tidak ada gunanya, ia mengetatkan rahang mencoba menahan emosi.
“Aku mau pulang aja, Za.” Ucap Aisyah pelan.
Ezra mendongak, menatap Aisyah. Mereka sedang makan di sebuah restoran yang berada di dekat apartemen mereka. Ezra sudah merasa gadis itu putus asa menunggu kabar dari keluarga.
“Ke Indonesia?”
Aisyah mengangguk.
“Kamu sudah pikir mateng-mateng untuk pulang?” tanya Ezra lagi.
Untuk kedua kalinya Aisyah mengangguk, “Aku sudah tidak tahan, Za. Menunggu kabar membuatku sangat tersiksa. Aku tidak bisa menunggu leboh lama lagi, mereka bisa saja merahasiakan apa yang terjadi dan tidak memberitahunya kepadaku.”
Ezra menarik napas panjang, “Sudah pesan tiket?”
“Belum sempat, kan ponselku tadi ada sama kamu.”
Ezra memaksakan diri untuk tersenyum, “Oh, Iya.”
Jika Aisyah memutuskan untuk pulang ke Indonesia, dalam waktu dekat berarti mereka akan berpisah dan mungkin tidak bisa bertemu kembali. Entah kenapa perasaannya mendadak tidak ingin kehilangan Aisyah.
Aisyah masih sibuk memainkan ponsel dan tidak memperhatikan Ezra, pria it uterus menghela napas tanpa ia sadari. Aisyah baru saja selesai memesan tiket pesawat ke Jakarta.
Tiket yang berhasil dia dapatkan akan berangkat besok siang. Tidak pernah ia bayangkan sebelumnya ia akan pulang karena ayahnya terkena musibah. Apa ini benar-benar teguran karena ia tidak pernah pulang selama beberapa tahun?
Aisyah menaruh ponselnya lalu menarik napas panjang, “Aku sudah pesan tiket. Kamu nggak mau ikut ke Indonesia?” tanya Aisyah.
Ezra terkejut, “Untuk apa?”
“Untuk menjawab rasa penasaran kamu tentang Islam.” Jawab Aisyah yakin. “…sudah ku katakan sebelumnya, aku bisa megenalkanmu dengan omku yang berada di Sulawesi. Kebetulan, beliau juga menyewakan rumahnya jika kamu tidak keberatan tinggal di sana. Di sana, kamu bisa belajar sama beliau karena pengetahuannya jelas lebih luas dari pada aku.”
Ezra tampak berpikir, “Om kamu itu apa?”
“Om aku seorang guru, Za. Di sebuah pesantren yang sama-sama berlandaskan La ilaha illallah.” Jawab Aisyah.
“Beri aku waktu berpikir,” ucap Ezra.
Aisyah mengangguk, “Aku akan berangkat besok siang.”
Mereka berpisah setelah masuk ke apartemen masing-masing. Aisyah duduk melamun di sofa, pandangannya mengarah ke televisi tetapi pikirannya melayang kemana-mana.
Aisyah merasa waktunya berjalan sangat lambat, hampir setiap saat ia memegang ponsel tetapi tidka ada tanggapan dari keluarganya. Perasaannya menjadi semakin tidak enak dan terus memikirkan hal yang buruk.
Aisyah mengerjakan shalat lebih lama dari biasanya, ia memanjatkan doa kepada Allah agar menyelamatkan Ayahnya. Aisyah memohon doa dengan beruai air mata.
…
Aisyah sudah besiap untuk ke bandara, sampai sekarang belum ada panggilan dari keluarganya yang mengabari tentang Ayahnya. Menurutnya, ini pasti ada hal yang terjadi dengan Ayahnya dan keluarganya memutuskan untuk tidak mengabarinya.
Aisyah sudah mengabari pengelola apartemen bahwa ia akan pulang ke Indonesia. Tapi karena sewa apartemennya masih ada dua bulan lagi, maka Aisyah memutuskan belum membawa barang-barangnya.
Aisyah sudah memutuskan gas dan juga air untuk sementara. Ia akan menyalakannya kembali jika ia kembali. Dua buah koper berukuran besar sudah ada di ruang tamu, ia sudah memasukkan semua yang ia butuhkan di sana.
Aisyah juga membawa tas kecil yang berfungsi untuk membawa barang-barang penting seperti paspor dan alat identitas lainnya. Ia tidak lupa mengisi daya ponselnya hingga penuh dan membawa cemilan kecil untuk meredakan rasa frustasinya saat di pesawat.
Ia hanya tinggal menunggu Ezra yang akan mengantarnya ke bandara, Aisyah juga sudah menghubungi Rere dan mengabarkan jika ia akan pulang ke Indonesia.
Sahabatnya itu ingin sekali mengantarnya tetapi, pekerjaannya tidak bisa ditinggalkan. Jadi, ia hanya memberi pesan agar ia berhati-hati ketika di pesawat dan mengabarinya jika sudah sampai di Indonesia.
Aisyah bangkit berdiri ketika suara bel terdengar, ia membuka pintu ketika melihat Ezra sudah berdiri di depan pintu apartemennya. Pria itu memakai stelan kasual yang sangat cocok untuknya.
“Sudah siap?” tanya Ezra.
Aisyah mengangguk. Mereka sama-sama membawa satu koper, tetapi Aisyah binung karena Ezra tidak membawa apapun. Mungkin pria itu tidak ingin ke Indonesia, jika seperti itu mungkin hari ini mereka akan berpisah.
Ezra membantu Aisyah memasukkan koper ke dalam bagasi mobil. Waktu menunjukkan pukul delapan pagi. Masih ada tiga jam sebelum Aisyah pergi, ia membawa mobil menuju restoran.
Ezra memarkir mobil tepat di restoran kesukaan mereka, restoran yang menjual seafood. Mereka makan dengan tenang, hanya sedikit percakapan dari mereka berdua. Aisyah yang sema sekali sedang memiliki suasana hati yang buruk hanya diam dan sesekali menjawab jika Ezra mengajaknya berbicara.
…
Aisyah memeriksa tasnya yang sedang ia pangku, ia sangat gugup sekarang. Ezra di sebelahnya terlihat fokus menyetir, mereka sedang dalam perjalanan menuju bandara. Pesawatnya terbang tepat pukul dua belas siang, ia memutuskan untuk pergi lebih cepat karena tidak ingin ketinggalan pesawat karena penerbangan di Korea selalu tepat waktu.
Jarak tempuh dari restoran ke Bandara hampir memakan waktu satu jam lebih perjalanan menggunakan mobil. Ia beruntung bisa di antar oleh Ezra, walaupun nantinya pria itu tidak akan ikut bersamanya. Mungkin pertemuan mereka akan masuk ke dalam salah satu memori indahnya.
Aisyah memejamkan matanya, berusaha rileks. Jika bisa, ia ingin langsung sampai di Indonesia saat ini juga. Ia tidak perlu tersiksa lagi selama penerbangan di atas pesawat. Sehari menunggu sudah membuatnya sangat-sangat tersiksa, apalagi tidak ada satupun keluarga yang mengabarinya.
“Aisyah…”
Aisyah langsung membuka matanya kembali. Ia kembali menoleh ke arah Ezra yang fokus menyetir. Pria itu berkali-kali menatapnya dengan jalan raya secara bergantian, Ezra seperti ingin mengucapkan sesuatu tetapi di tahan pria itu karena tiba-tiba arus kendaraan menjadi padat.
Butuh waktu sepuluh menit untuk melewati kemacatan, Ezra kembali menyetir dengan satu tangan.
“Ada apa?” tanya Aisyah.
Ezra menoleh, “Apa kamu setelah ini akan menetap di Indonesia? Atau akan kembali ke korea?”
Aisyah menjilat bibirnya, berpikir. “Mungkin aku akan kembali ke Korea, lagipula aku barangku masih kutinggal di sini. Tidak mungkin, aku tidak datang untuk mengamiblnya. Tapi, mungkin tergantung keadaan Ayahku.” jawab Aisyah.
Ezra mengangguk pelan lalu kembali fokus mengemudi. Sementara Aisyah hanya memandang pria itu dengant tatapan tidak bisa di artikan lalu mengalihkan tatapannya ke arah luar.
Pemandangan yang familiar mulai ia lihat, mereka sudah dekat dengan bandara. Aisyah sebenarnya sering ke bandara, tetapi untuk perjalanan luar negeri seperti Amerika dan Eropa untuk bekerja.
Ezra sukses memarkirkan mobil di tempat parkir bandara, pria itu langsung membuka bagasi lalu keluar dari mobil. Sementara Aisyah kembali mengecek barang bawaannya seperti tiket dan juga passport dan setelah merasa semua lengkap ia ikut keluar dari mobil.
Ezra membantunya menarik koper masuk ke bandara, Aisyah merasa jantungnya berdetak sangat kencang. Setengah jam lagi pesawat akan berangkat, Aisyah dibantu oleh Ezra langsung mengantri untuk proses check in tiket.
“Za,” panggil Aisyah.
Ezra berbalik, “Apa? Ada yang ketinggalan?”
Iya ada, kamu! Aisyah sangat ingin Ezra ikut ke Indonesia, untuk belajar tentunya. Bukan untuk menemaninya.
“Kamu…benar nggak mau ikut ke Indonesia?” tanya Aisyah.
Ezra mengambil napas panjang lalu mengangguk sebagai jawaban final untuk Aisyah. Pria itu langsung mendapati jika sorot mata Aisyah berubah kecewa, tetapi gadis itu tersenyum beberapa detik kemudian.
“Kalau begitu, kamu baik-baik ya disini.” Ucap Aisyah mencoba bercanda.
Ezra ikut tersenyum, “Iya, kamu hati-hati di pesawat. Jangan ada barang yang ketinggalan.”
Aisyah mengangguk, “Jangan sedih, kita masih bisa berhubungan lewat media social dan aplikasi chatting.”
Ezra tertawa hampa, “Baik-baik ya, disana. Jangan buat masalah lagi, karena nggak ada aku yang bantu kamu.”
Aisyah merasa akan menangis, walaupun pertemuan mereka hanya singkat dan dapat dihitung beberapa bulan. Tetapi, Ezra mempunyai kesan yang kuat untuk Aisyah.
Mata Aisyah berkaca-kaca, ia menghapus air matanya yang akan menetes lalu maju ke depan agar petugas bisa memeriksa paspor dan juga tiketnya. Barang-barang Aisyah sudah masuk ke bagasi dan ia tinggal menunggu pengumuman keberangkatan lalu naik pesawat.
Mereka duduk menunggu pengumuman bandara, baik Ezra maupun Aisyah tidak berbicara satu patah katapun. Mereka saling diam, pikiran keduanya berkecamuk.
‘Your attention please, passengers of Garuda Indonesia on flight number GA328 to Makassar, Indonesia please boarding from door A12, Thank you.’
Aisyah terlonjak dari tempat duduknya, itu pengumuman untuk pesawatnya. Sebenarnya, Aisyah merasa ia dipermudah saat mencari tiket pesawat, sangat jarang ada pesawat dari luar negeri langsung pergi ke kota pertama yang dituju. Mayoritas penerbangan pasti akan singgah terlebih dahulu ke bandara Soekarno Hatta lalu melanjutkan perjalanan ke Bandara berikutnya.
Ezra ikut berdiri, ia sebenarnya saat ini dalam keadaan bimbang. Hatinya sangat tidak rela melepas Aisyah untuk pulang. Tapi, keadaan memaksanya untuk berpisah dengan gadis itu.
“Hati-hati,” ucap Ezra.
Aisyah mengangguk, mereka bedua behadapan. Sama seperti beberapa orang lain yang sedang mengucap salam perpisahan sebelum berangkat. Aisyah tidak dapat menahan rasa sedihnya, air mata keluar begitu saja dan langsung menangis di hadapan Ezra.
“Maaf,”
Ezra menarik Aisyah untuk kedua kalinya ke dalam pelukannya. Pria itu mendekap Aisyah sangat erat, seolah-olah tidak akan melepaskan gadis itu kemanapun.
“Jangan sedih, kita pasti akan betemu lagi.” ucap Ezra menenangkan Aisyah.
Aisyah megnangguk samar di dalam pelukan Ezra. Ia balas memeluk pria itu sama eratnya, hatinya sangat sedih karena berpisah dengan Ezra. Biarlah sekali lagi ia melanggar peraturan, ia tidak bisa menahan egonya untuk memeluk Ezra.
“Kamu janji ya, Za. Kita akan bertemu lagi,”
Ezra mengangguk, pria itu mengelus kepala Aisyah sayang. Hatinya sesak karena akan berpisah akan Aisyah. Mereka melepaskan pelukan dengan mata memerah, Aisyah tertawa karena melihat Ezra yang berkaca-kaca dengan wajah memerah.
Ezra menggenggam tangan Aisyah, menggenggam tangan kecil itu erat. Membuat Aisyah yang ingin berjalan kembali berhenti dan menatap Ezra. Pandangan mereka terkunci satu sama lain, walaupun saling melempar senyum, mata mereka tidak bisa berbohong jika sedang sedih.
“See you again, Za. Kita pasti akan bertemu jika sudah menjadi Takdir Allah.”