Takdir Allah 39 - Indonesia

1761 Kata
Ezra melepas tangan Aisyah, ia melihat gadis itu semakin menjauh darinya kemudian hilang ketika berbelok untuk masuk di tempat pemeriksaan. Ezra menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Ezra sebenarnya berbohong, ia juga sudah membeli tiket di penerbangan yang sama dengan Aisyah. Tetapi, entah kenapa di saat terakhir ia memutuskan untuk tidak ikut pergi. Dia tetap bediri di tempat yang sama sampai pengumuman jika pesawat yang dinaiki Aisyah sudah siap untuk lepas landas. Ezra keluar dari apartemen dengan tubuh gontai, ia merasa jika sebagaian jiwanya pergi bersama Aisyah. Ezra membuka bagasi mobilnya, di sana ada koper kecil yang sengaja ia selipkan agar tidak terlihat oleh Aisyah. Koper itu ia siapkan jika saja ia ikut pergi dengan gadis itu. Ezra memasukkan tangannya ke dalam kantong jaket, di sana ada beberapa lembar kertas yang merupakan tiket pesawat. Ezra masuk ke dalam mobil dengan perasaan berat, ia mengemudikan mobil menuuju sebuah kelab yang buka 24 jam. Ketika hampir masuk ke dalam, Ezra teringat Aisyah yang berhenti minum alkohol dan menyarankannya juga untuk berhenti. Hal itu, membuat Ezra tidak jadi masuk dan memutuskan untuk putar balik. Ia berjalan-jalan sampai di sebuah taman yang sebelumnya pernah ia kunjungi bersama Aisyah. Cheonggyecheon Stream, sungai kecil cantik yang berada di tengah kota Seoul. Ezra membeli kopi sebelum duduk di taman itu, entah kenapa perasaan Ezra menjadi sangat gundah. “Damn!” maki Ezra pelan. Ia mengalihkan perhatiannya melihat orang-orang yang juga berada di taman itu, tapi bukannya malah membaik. Perasaannya malah semakin kacau melihat bnyaknya pasangan yang bergandengan tangan. “Hei, Ezra kan?” Ezra menoleh, melihat seseorang sedang berlari ke arahnya. Dia mengenali gadis itu sebagai sahabat Aisyah, Rere. Gadis itu lalu duduk di dekatnya. “Why you here?” tanya Rere dengan ekspresi bertanya. Ezra mengalihkan tatapannya ke depan, “Just refreshing.” Jawab Ezra sekenanya. “Bukan itu maksudku, bukankah kau mengantar Aisyah ke bandara?” Ezra menarik napas pendek, “Aku baru saja pulang, dia sudah berangkat sejak satu jam yang lalu.” “…and than, why you look so sad?” Ezra menggeleng, ia juga tidak tahu. Harusnya ia lega karena Aisyah pulang agar bisa mengetahui keadaan Ayahnya. Tetapi, ia justru merasa gundah. Apalagi saat membayangkan ia tidak bisa lagi melihat wajah Aisyah. “I don’t know.” Jawab Ezra hampa. Rere berdecak, lalu mengambil beberapa kertas yang terlihat remuk di samping kaki Ezra. Mata Rere membulat ketika melihat kertas apa itu. “Hei! Are you stupid? Kenapa kamu nggak ikut di ke Indonesia? Kamu punya tiket, Za?!” tanya Rere kesal. Ezra merampas gulungan tiket itu lalu membuangnya ke tempat sampah. Ia menundukkan kepala. Sekarang, ia merasa menyesal karena tidak ikut naik pesawat bersama Aisyah. Padahal itu tinggal satu langkah, ia bisa bersama gadis itu di dalam pesawat yang sama dan sampai di Indonesia. “Now, I know you love her so much.” Ucap Rere pelan. Ezra menoleh, menatap Rere dengan pandangan tidak terbaca. Rere menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. “Sebelum ini, aku sudah tahu kau menyukai Aisyah dan dia juga menyukaimu. I know it, tapi sekarang aku tahu kalau kau benar-benar serius dengan perasaanmu.” “Kamu tahu agama dia bukan?” tanya Rere lagi. Ezra mengangguk, “Aku tahu, dia beragama islam.” “Apakah itu yang membuatmu tidak ikut pergi ke Indonesia?” “Bukan, tapi karena aku merasa tidak pantas untuknya. Aku bukan pria baik,” Ucap Ezra. Rere tertawa kecil, “Kalau kamu bukan pria baik, kamu sudah dari dulu membiarkan Aisyah kesusahan sendiri. Tapi, kamu tidak melakukannya, Za. Bahkan kamu rela menolongnya.” “I’m bad guy,” ucap Ezra lagi. Rere tidak percaya, melihat Ezra seperti ini. Seorang pengusaha handal yang memiliki perusahaan di mana-mana dan di hormati oleh banyak orang sedang merutuki dirinya sendiri karena merasa buruk di depan seorang yang ia cintai. Rere gemas ingin memukul Ezra, tetapi masih menahannya. “Ofcourse, kamu pria berengsek yang membiarkan Aisyah pergi sendiri, padahal kamu tahu jika gadis yang kamu cintai itu sedang kacau.” Setelah mengatakan itu, Rere pergi meninggalkan Ezra. Persaannya berubah jengkel, bagaimana bisa pria meninggalkan sahabatnya sendiri terbang saat sedang dalam masalah seperti itu. Ezra berengsek! … Aisyah duduk gelisah di dalam pesawat, ia bekali-kali menarik napas lalu membuangnya kembali. Saking gugupnya, ia sudah ke kamar mandi tiga kali setelah setengah jam berada di udara. Seroang pramugari tampak memandangnya dengan curiga, tidak lama kemudian seorang pramugari berbeda berjalan ke arahnya dengan sebuah troli makanan. “Permisi, apa kamu mau kue atau jus?” tanya pramugari itu ramah. Aisyah mengangguk, memilih kue dan jus untuk ia minum. Pramugari itu tersenyum sopan, “Apa kamu baik-baik saja? Rekan saya bilang dari tadi kamu sangat gelisah. Atau ada yang bisa saya bantu?” “Ah, aku minta maaf. Tetapi, aku sangat gugup dan ingin cepat-cepat sampai karena Ayahku baru saja kecelakaan.” Ucap Aisyah jujur. Pramugari itu terlihat menyesal telah betanya, “Semoga ayahmu baik-baik saja. Tapi berusahalah tenang, karena kamu akan mengganggu penumpang lain dan membuat mereka ikut panik.” Aisyah mengangguk, “Ah, maafkan aku. Sekali lagi terimakasih.” Aisyah membaca tanda pengenal yang tertempel di baju pramugari itu, Chayra. Nama yang sangat cantik, gadis itu sangat cocok menjadi pramugari. Aisyah melihat pramugari itu sampai menghilang di balik kabin. Kebetulan, Aisyah memang duduk di kursi bisnis. Ia tidak ingin berdesak-desakan di kursi ekonomi saat emosinya seperti ini. Bisa-bisa ia menjadi lebih sensitif dan akan memarahi orang yang berbuat kesalahan di depannya. Penerbangan dari Seoul ke Makassar membutuhkan waktu berjam-jam, Aisyah lagi-lagi mengecek jam tangannya. Terkejut meihat ia baru terbang selama 45 menit. Aisyah akhirnya mencicipi kue dan meminum jus yang diberikan oleh pramugari itu. Cukup enak, untuk makanan di pesawat. Seorang pramugari datang untuk mengambil piring dan gelas kotornya, Aisyah tidak lupa mengucapkan terimakasih ketika pramugari itu akan berjalan melewatinya. Aisyah mengecek ponselnya, lalu menyambungkan dengan wifi pesawat. Ia memutuskan untuk bermain game untuk mengalihkan pikiran. Permainan yang Aisyah maini berbentuk game santai yang berema dress up. Game yang tidak banyak membutuhkan tenaga dan hanya memencet-mencet layar. Aisyah asyik bermain game itu hingga menghabiskan waktu satu jam, ia jatuh tertidur saat merasakan matanya mengantuk karena bermain game. … Ezra baru saja mengirim pesan kepada Aisyah, menunggu gadis itu untuk membalasnya. Ezra melihat gadis itu tetap online walaupun sedang berada di pesawat, buktinya pesannya terkirim tetapi belum di baca. Mungkin Aisyah menyambungkan ponselnya dengan wifi yang memang tersedia di pesawat. Ezra meliri beruang berwarna coklat yang masih duduk di sudut sofa, ia belum sempat memindahkannya. Sebelumnya Ezra berniat untuk mengembalikan boneka itu kepada Aisyah tetapi tidak sempat karena musibah yang menimpa gadis itu. Ezra merasa boneka itu menjadi barang sebagai tanpa bahwa mereka akan berpisah. Ezra menarik boneka itu untuk duduk di dekatnya, entah kenapa ia merasa lucu karena duduk tepat di sebelah boneka pemberian Aisyah. Ketika merasa pesannya tidak di balas oleh Aisyah, ia memutuskan untuk menaruh ponselnya di atas meja lalu masuk ke kamar untuk membersihkan diri lalu beristirahat. Ezra tidur untuk mengembalikan energinya yang berkurang selama dua hari ini. Pria itu terlelap dengan memeluk guling, terkadang keningnya berkerut dan kembali ke posisi normal berulang kali selama beberapa kali. Mata Ezra tiba-tiba terbuka dengan kaget, napas Ezra memburu. Pupil matanya membesar karena menahan emosi. Ia baru saja terbangun dari mimpi yang menurutnya sangat buruk, ia memimpikan Aisyah menikah dengan seroang laki-laki yang bukan dirinya. “No, Ezra! It’s just dreams.” Gumam Ezra pelan. Ezra berusaha untuk kembali memejamkan mata untuk tertidur tetapi bayangan Aisyah memakai baju pernikahan membuat kantuknya hilang. Ezra terlentang di atas tempat tidur, menatap langit-langit dengan pandangan kosong. Ezra menyerah untuk mencoba tidur, ia bangun lalu berjalan ke arah dapur dan mengambil satu botol air dingin yang langsung ia minum begitu saja. Air dingin itu seperti menyegarkan pikiran Ezra. Ezra melangkah ke ruang tamu sembari membawa botol di tangan kirinya. Ia mengambil ponselnya dan terkejut begitu menerima beberapa pesan dan panggilan tidak terjawab. Aisyah : Aku diberitahu Rere, kalau kamu punya tiket untuk naik pesawat. Apa itu benar? Aisyah : Aku masih di pesawat, entah kenapa pesawat ini terbang sangat lambat. Aisyah : Angkat panggilanku, Za! Aisyah : Za! Kamu keterlaluan! Kenapa kamu tidak naik pesawat? Ezra membaca pesan Aisyah berulang-ulang lalu membalasnya. Ezra Elywn : Maafkan aku, Ay. Aku berubah pikiran di saat-saat terakhir. Tapi sepertinya ini pilihan yang paling tepat untukku karena kamu ke Indonesia bukan untuk benar-benar pulang. Aisyah : Baiklah, aku juga tidak bisa memaksamu. Semoga kita benar-benar bisa bertemu lagi. Ezra Elywn : Pasti, Ay. Aku yakin kita akan bertemu lagi dengan cara yang tidak terduga sama seperti saat kau menjatuhka sendokku saat itu. Aisyah : Aish! Kenapa kau masih mengingatnya! Aku sudah lupa jika kau tidak mengatakan kejadian itu lagi! Ezra tertawa, kali ini ia benar-benar tertawa. Ia merasa lucu ketika membayangkan bagaimana dulu saa tmereka pertama kali betemu. Ezra Elwyn : Omong-omong, terimakasih karena memberikanku boneka. Sekarang, ada yang bisa kupeluk saat tidur. Ezra hanya becanda tentang hal itu, kemdian terkejut dengan balasan pesan Aisyah. Aisyah : Aku memang sengaja membelikannya untukmu, itu hadiah untukmu karena telah menjadi salah satu orang yang baik kepadaku. Kalau kamu rindu, kamu bisa mengajak bicara boneka itu, menganggapnya sebagai aku. Ezra Elwyn : Ck, boneka tidak akan bisa di ajak bicara, Ay. Lagipula, kau berkali lipat lebih cantik dibandingkan boneka ini. Aisyah : Aku tahu, dan aku lebih lucu. Ezra menerima sebuah foto yang baru dirimkan oleh Aisyah. Tampak gadis itu sedang bersandar di kursi pesawat, gadis itu tersenyum. Ezra ikut tersenyum melihat foto yang dikirimkan oleh Aisyah. Ezra Elwyn : Cantik. … Aisyah tertawa kecil, selain bermain game. Rasa ketidaksabarannya hilang berkat berbalas pesan dengan Ezra. Aisyah berkali-kali tersenyum akibat pesan Ezra. Ia akhirnya kembali tenang akibat pesan-pesan lucu dari Ezra. Kalau diingat-ingat, Ezra sudah sangat banyak membantunya. Walaupun mereka baru mengenal selama beberapa bulan. Yang paling Aisyah ingat ketika Ezra menunggunya di larut malam hanya untuk memastikannya aman. Selanjutnya, ketika pria itu membiarkannya menginap di apartemennya, yang terakhir dan termasuk paling Aisyah ingat ketika pria itu mengatakan perasaannya. Tiga hal itu tidak akan pernah Aisyah lupakan. Aisyah terkejut ketika mendengar pengumuman bahwa setengah jam lagi ia akan sampai di Bandara Sultan Hasanuddin. Para pramugari mulai mengintruksikan agar semua penumpang duduk di kursinya dan memasang sabuk pengaman. Aisyah memberitahu Ezra jika ia akan segera sampai, ia mematikan sambungan wifi dan kembali mengaktifkan mode pesawat di ponselnya. Itu salah satu hal paling penting karena akan menyebabkan malfungsi ketika pesawat akan mendarat. Seorang pramugari yang tadi memberinya makanan melangkah ke tempat duduknya, memeriksa sabuk pengaman. “Selamat, pesawat akan segera sampai. Aku berharap Ayahmu dalam keadaan baik-baik saja.” Aisyah mengangguk, ia tersenyum balik kepada pramugari itu. setengah jam kemudian pesawat mendarat dengan selamat. Sesuai peraturan pesawat, penumpang harus turun dengan hati-hati dan tidak terburu-buru. Aisyah memilih untuk kembali bersabar dan memutuskan turun nanti agar tidak berdesakan dengan penumpang lain. Aisyah sampai saat matahari sudah terbenam, ia turun dari pesawat dengan hati-hati. Setelah menunggu dan mengambil dua kopernya, Aisyah keluar dari bandara untuk memanggil taxi. Butuh sepuluh menit untuk Aisyah berhasil mendapatkan Taxi, tidak tunggu lama Aisyah segera mengatakan tujuannya. Taxi itu segera meluncur ke rumah sakit yang dikatakan oleh Aisyah. Beruntung, Omnya saat itu mengatakan akan menuju rumah sakit mana, jadi ia tidak harus menghubungi siapapun untuk menanyakan di mana ayahnya di rawat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN