Aisyah menarik napas panjang ketika sampai di rumah sakit itu, ia bersusah payah menarik kopernya untuk sampai di resepsionis. Jantung Aisyah berdebar sangat kencang, tangannya bahkan bergetar ketika ia berdiri tepat di depan resepsionis.
“Malam, Mbak. Ada yang bisa saya bantu.” Tanya salah satu perawat kepada Aisyah ramah.
Aisyah meletakkan kopernya tepat di depannya, “Maaf, mbak. Boleh saya tahu, apakah ada pasien bernama Ahmad Zakaria?”
“Tunggu sebentar,” perawat itu kembali duduk di kursinya.
Aisyah menunggu dengan tidak sabaran, ketika perawat itu kembali berdiri ia seperti akan terkena serangan jantung. Perawat itu tersenyum ramah ke arah Aisyah.
“Apakah anda keluarganya?” tanya perawat itu.s
Aisyah menganggukkan kepalanya dengan cepat, “Iya saya anaknya.”
“Pasien bernama Ahmad Zakaria sekarang, ada di ruangan ICU. Beliau baru saja selesai operasi setengah jam yang lalu. Mari saya antar.”
Aisyah mengikuti perawat itu keluar dari meja resepsionis, perawat itu bahkan menyuruh salah satu petugas keamanan untuk membantu Aisyah mengangkat koper.
Aisyah sangat beterimakasih kepada mereka yang sudah mau membantunya. Padahal ini sudah malam dan pasti jam besuk sudah habis. Aisyah berusaha menenangkan diri, padahal sekujur tubuhnya sudah dingin akibat takut.
Sepuluh menit kemudian, Aisyah tiba dilorong ruang ICU. Di sana ia melihat wajah-wajah yang familiar. Tatapannya langsung menuju ke arah Ibunya yang sedang duduk dengan besandar di bahu Abimanyu.
“Bunda…Kakak…” panggil Aisyah.
Kedua orang itu terkejut melihat kedatangan Aisyah. Mereka berdua segera berlari kecil ke arah Aisyah yang berjalan ditemani seorang perawat dan juga seorang petugas keamanan rumah sakit.
Mereka pamit setelah Aisyah bertemu dengan keluarganya. Atiqah memeluk Aisyah sangat erat, mereka berpelukan dengan berderai air mata. Aisyah yang menahan air matanya langsung menangis ketika mendengar Ibunya.
“Ayah baik-baik saja, Nak. Keadaannya sudah stabil sejak keluar dari ruang operasi.” Atiqah mengelus punggung Aisyah yang menangis tersedu.
Atiqah merasakan jika tubuh Aisyah melemas, “Abi! Tolong adik kamu!”
Abimanyu segera maju menahan Aisyah yang hampir tidak sadarkan diri, ia segera menggendong Aisyah. Mereka panik, seorang perawat yang sedang lewat membantu mereka dengan membawa Aisyah ke ruang perawatan.
Seorang dokter langsung menangani Aisyah, ia memeriksanya dengan seksama.
“Pasien sedang dalam tekanan yang sangat besar dan agak stress. Apakah anda keluarganya?” tanya Dokter itu kepada Abimanyu.
Abimanyu mengangguk, “Iya, saya kakaknya Dok. Adik saya baru saja sampai disini dari Korea. Mungkin dia sedang banyak pikiran karena Ayah saya mengalami kecelakaan.”
Dokter itu menerima informasi dari Abimanyu, ia menyuruh perawat untuk memasang infus dan memperhatikan kondisi Aisyah secara berkala.
“Pasien juga keleahan karena perjalanan jarak jauh, saya sarankan untuk menemaninya sampai ia kembali sadarkan diri.” Saran Dokter itu sebelum pamit pergi untuk menangani pasien yang lain.
Abimanyu memanggil Atiqah, ia kembali ke ruang ICU.
“Bun, gimana kalau Abi aja yang tungguin Ayah? Bunda tungguin Aisyah?” tanya Abimanyu.
Atiqah tampak berpikir, ia tidak ingin meninggalkan suaminya tetapi setelah tadi mengetahui keadaan anaknya dalam keaan sangat terpukul, ia mengetahui jika mereka telah mengambil keputusan yang salah untuk tidak memberi kabar apapun kepada Aisyah.
Mereka tidak mengabari Aisyah setelah adik laki-laki Atiqah yang meruapakan Om Aisyah mengabari Aisyah tentang kecelakaan yang di alami Ayahnya. Atiqah yang melarang mereka untuk mengabari anak gadisnya itu agar tidak terlalu khawatir.
Mereka bersyukur ketika Aisyah tidak lagi menghubungi mereka selama beberapa jam. Tetapi, bukan tanpa alasan, anaknya itu ternyata sedang di pesawat untuk pulang ke Indonesia.
Kedatangan Aisyah membuat mereka sangat terkejut, apalagi gadis itu masih membawa koper yang menandakan jika Aisyah memang baru saja sampai dari perjalanan jauh menggunakan pesawat.
…
Atiqah mengelus kepala Aisyah pelan, anaknya itu masih belum sadarkan diri. Ia masih menunggu dengan sabar dan menyusun kata-kata untuk menjelaskan keadaan yang terjadi agar Aisyah tidak terlalu kaget lagi.
Setengah jem kemudian, Aisyah mengerjabkan mata pelan. Penglihatannya masih kabur dan butuh beberapa menit untuk bisa melihat jelas. Aisyah melihat Ibunya memejamkan mata sembari menggengngam tangannya.
Aisyah merasa pusing, dia mencoba mengenali tempatnya berada sekarang. Mereka ada di ruangan yang memiliki langit-langit berwarna putih dengan di tutupi tirai kain di kanan dan kiri.
Aisyah tidak sengaja mengerang ketika berusaha bangun dan itu membuat Atiqah membuka mata.
“Kamu sudah bangun, Nak?” tanya Atiqah.
Perasaan Atiqah sangat lenga, merasa bebannya terangkat sedikit. Atiqah terkejut, ia baru sadar jika Aisyah memakai jilbab. Atiqah menutup mulutnya terkejut, padahal sejak tadi ia berada di samping Aisyah dan baru sekarang menyadarinya.
Alhamdulillah, Ya Allah. Gumam Atiqah dalam hati.
“Papa mana, Bun?”
Itulah kalimat pertama yang di ucapkan oleh Aisyah dan sukses membuat hati Atiqah terenyuh. Ia merasa sangat bersalah karena membuat anaknya mengkhawatirkan Ayahnya.
“Masih di ruang ICU, Nak. Ayah baik-baik saja.” Jawab Aisyah.
Aisyah menghela napas panjang lalu memejamkan mata, ia sangat mengantuk dan lelah. Aisyah tidak percaya bahwa ia akan kehilangan kesadaran, ini pertama kali seumur hidupnya.
“Mau lihat Ayah,” ucap Aisyah dengan mata tertutup.
Air mata Aisyah mengalir ke sisi kanan dan kiri pipinya. Entah sudah berapa kali Aisyah menangis hari ini. Itu karena ia sangat takut kehilangan Ayahnya dan memang sangat-sangat tidak ingin kelihangan siapapun di antara orang yang ia sayangi.
Atiqah mengusap air mata anaknya, “Iya, nanti kita jenguk ayah. Setelah tubuh kamu pulih, Nak. Kamu sudah makan?”
“Belum,” jawab Aisyah.
“Kalau gitu, makan sama Bunda, yuk. Kebetulan bunda juga baru mau makan,” Atiqah membuka kotak nasi yang di berikan oleh Om Aisyah setengah jam yang lalu.
Aisyah menggeleng, ia tidak nafsu makan sama sekali.
“Bunda suapin, mau ya?”
Setelah berpikir, Aisyah akhirnya menganggukkan kepalanya. Aisyah duduk di bantu oleh Atiqah, ia menggunakan bantal sebagai sandaran. Atiqah menaikkan meja yang memang tersedia di setiap ranjang rumah sakit. Ia meninggikan kursinya agar bisa duduk sembari menyuapi Aisyah.
Menu makanan malam ini hanya sederhana, ada telur balado dan ayam goreng, serta sayur capcai dan nasi yang sangat cukup untuk makan mereka berdua. Nasi itu sepertinya buatan rumahan, mungkin buatan adik iparnya yang sengaja memasak banyak untuk di bawa ke rumah sakit.
“Pahit,” ucap Aisyah setelah menelan dua suapan.
Atiqah kembali menyuapi Aisyah, “Makan nak, supaya tenaga kamu pulih. Kamu nggak akan Bunda ijinin jenguk Ayah kalau kondisi kamu masih begini,”
Aisyah mau tidak mau menerima suapan demi suapan nasi dari Ibunya. Dadanya sesak saat menelan nasi, ia menahan tangis ketika melihat wajah sendu ibunya. Tenggorokannya tercekat ketika melihat setitik air mata jatuh di sudut mata wanita paruh baya itu dan menghapusnya secepat kilat agar tidak dilihat oleh Aisyah.
Makan sambil menahan tangis sangat-sangat tidak enak, tetapi Aisyah terus makan sampai kotak pertama itu besih agar tidak membuat Ibunya semakin sedih. Selanjutnya, Aisyah minum dengan botol yang sudah diberi sedotan agar lebih mudah.
Giliran Atiqah yang makan, ia makan dengan sangat lahap, walaupun dengan lauk sederhanda dan dalam keadaan seperti ini. satu jam setelah makan, dokter kembali mengecek keadaan Aisyah.
“Keadaan kamu sudah lebih baik, tapi saya lanjutkan infusnya ya. Ini yang terakhir. Suster nanti silahkan dilepas jika infusnya sudah habis.” Ucap Dokter itu.
Aisyah merasakaan persasaannya lega, ia saling melempar senyum dengan ibunya. Jam sudah menunjukkan pukul 12 belas malam, tetapi keadan rumah sakit masih cukup ramai karena banyaknya orang di dalam bangsal.
Ibunya sudah dibujuk untuk pulang oleh Abimanyu, jadi ia sendiri di dalam bangsal. Aisyah sama sekali tidak mengantuk dan Cuma menghayal sembari menatap langit-langit.
“Kamu belum tidur, Dek?” tanya Abimanyu yang baru saja masuk ke dalam tirai.
Aisyah mengangguk, “Nggak ngantuk. Kak, liat ponselku?”
Abimanyu memberikan tas adiknya, ia juga membawa baju ganti untuk Aisyah agar lebih nyaman.
“Kamu ganti baju dulu, kakak tunggu diluar tirai. Kalau sudah selesai panggil kakak.” Ucap Abimanyu lalu meninggalkan Aisyah.
Aisyah membuka goodie bag yang berisi sepasang baju dan celana kaos, juga ada sebuah jilbab canti di dalamnya. Aisyah butuh waktu lima belas menit untuk berganti baju.
“Kak, udah.” Panggil Aisyah.
Abimanyu langsung masuk, ia melihat Aisyah sedang melipat pakaian kotor untuk di masukkan kembali ke dalam goodie bag. Abimanyu duduk di kursi, mereka sama-sama diam.
“Siapa yang tungguin Ayah?” tanya Aisyah tetap sibuk melipat pakaian.
“Ada Om Zul, gantian tadi karena aku tadi antar bunda pulang.” Jawab Abimanyu. “…gimana keadaan kamu?”
“Udah baik, kak. Tapi kata mama, baru boleh liat Ayah besok.” Ucap Aisyah sedih.
Abimanyu tersenyum, “Iya, besok aja. Kata dokter, jika besok keadaan Ayah semakin membaik sudah boleh di pindahkan ke ruang rawat.”
Aisyah menghela napas panjang, helaan itu mencuri perhatian Abimanyu.
“Kenapa kakak tidak mengabariku setelah malam itu? Aku sudah menelpon kakak dan bunda berkali-kali tetapi tidak ada yang mengangkatnya, kenapa?” tanya Aisyah dengan suara lemah.
Abimanyu menatap kedua mata adiknya, “Itu keputusan yang di ambil bersama, dek. Kamu ngak boleh di kabari sebelum keadaan Ayah membaik, Ayah di ruang di operasi berjam-jam. Makanya kami tidak mengabarimu.”
“…keputusan yang baik dari mana kak? Aku juga anak ayah dan berhak untuk dihubungi!” suara Aisyah meninggi.
Abimanyu terkejut, menyuruh adiknya untuk memelankan suara karena sudah tengah malam. “Iya, kakak salah, kakak minta maaf. Seharusnya kami mengabarimu seburuk apapun keadaan ayah.”
“Sebenarnya kenapa Ayah bisa kecelakaan kak?” tanya Aisyah.
Abimanyu bedehem, “Kata warga sekitar, Ayah sedang di ujung gang. Mau keluar ke jalan raya, dek. Tapi ada mobil, nggak terlalu kencang sebenarnya tapi benturannya agak keras dan ayah lagi nggak pakai helm karena cuma mau keluar aja beli gallon.”
Aisyah meringis membayangkan ayahnya yang sedang tidak pakai helm dan kepala membentur aspal.
“…setelah itu. Ada warga yang membawa Ayah ke rumah sakit untuk pertolongan pertama. Sebagian lagi ada yang datang ke rumah untuk mengabari.” Terang Abimanyu.
“Kakak ada di rumah?” tanya Aisyah.
Abimanyu mengangguk, “Sebenarnya, kakak dari pagi sudah mau keluar untuk tukar air galon, tapi lupa sampai malam. Terus kakak bekerja di kamar, terpaksa Ayah yang keluar,”
Aisyah menatap kakaknya nanar, ia tidak boleh berandai-andai jika posisi ayah dan kakaknya yang tertukar. Mereka sama-sama penting untuk Aisyah, sekarang mereka hanya tinggal bedoa dan berpasrah diri kepada Allah untuk kesembuhan Ayahnya.
Di tengah keheningan mereka, ponsel Aisyah berbunyi. Aisyah melihat nama Ezra muncul di sana, tetapi Aisyah menatap kakaknya, takut menerima telepon dari pria.
Abimanyu melirik ponsel Aisyah lalu mencubit pelan pipi adiknya, “Angkat aja. Kakak keluar dulu, bawain kopi dulu buat om Zul.”
Setelah kepergian Abimanyu, Aisyah mengangkat panggilan Ezra. itu adalah panggilan video yang terlambat Aisyah sadari karena sangat bersemangat untuk mendengar suara Ezra.
Sementara Ezra langsung terkejut begitu melihat dinding putih dan infus sebagai latar belakang Aisyah.
“Ay! Kamu kenapa?!” tanya Ezra.
Aisyah bingung harus mengatakan apa, “Aku nggak apa-apa, Za. Cuma pingsan karena kelelahan.”
Ezra memandangnya dengan khawatir, “Really?”
“Iya, tadi memang di infus. Tapi, sekarang sudah nggak. Mungkin besok pagi aku sudah diperbolehkan untuk keluar.” Ucap Aisyah.
Abimanyu mengangguk pelan, “How about your dad?”
“Katanya keadaannya semakin membaik. Aku juga belum melihat kondisinya karena berada di sini.” jawab Aisyah.
“Aku sangat khawatir karena sejak berjam-jam yang lalu kau tidak menganggkat panggilanku. Aku pikir kau dalam bahaya, tapi ternyata perasanku tidak salah, kau masuk rumah sakit.” Ucap Ezra.
Aisyah tertawa kecil, tawa pertamanya sejak ia tiba di Indonesia. “Aku baik-baik saja. Sekarang aku bahkan bisa berlari untuk menunjukkan kepadamu bahwa aku sudah sehat.”
Mereka berbicara selama setengah jam kemudian, perasaan Aisyah jauh lebih baik setelah berbicara dengan Ezra. Pria itu sangat menghiburnya, baik dengan kata-kata lucu atau ekspresi yang membuatnya ingin mencubit pria itu.
Abimanyu memandang Aisyah dengan tersenyum, “Ay, i miss you so much.”