“I miss you too, Za.” Balas Aisyah tanpa ragu.
Senyum Ezra semakin lebar, “Sekarang sudah kangen liat kamu, padahal belum 24 jam kamu ninggalin korea.”
“Ya, siapa suruh kamu punya tiket tapi nggak ikut berangkat.” Balas Aisyah lalu menjulurkan lidahnya untuk mengejek Ezra.
Mereka berdua tertawa bersama, Aisyah tidak menyadari jika Abimanyu telah kembali dan berdiri tepat di depan tirai. Abimanyu urung membuka tirai ketika mendengar suara tawa Aisyah.
Tawa yang sangat membuat perasaan Abimanyu lega, ia mengintip sedikit dari celah tirai dan melihat wajah adiknya yang berseri. Abimanyu penasaran siapakah pria yang di temani adiknya melakukan panggilan video tetapi ia tidak ingin mengganggunya.
Abimanyu menggeleng pelan lalu berjalan keluar dari bangsal Aisyah dan memutuskan untuk menemani Pamannya.
Aisyah masih saja tersenyum, walaupun Ezra sudah berhenti tertawa. Ia juga rindu dengan pria itu, tidak bisa melihat wajahnya dengan kedua matanya membuat ada yang kurang, karena hampir setiap hari mereka menghabiskan waktu bersama.
“Mungkin besok pagi aku akan membunyikan bel apartemenmu ketika tidak mengingat kau sudah ada di Indonesia.” Ucap Ezra.
Aisyah tersenyum, “Besok pagi, ganti kebiasaanmu itu dengan menghubungiku seperti ini. Walaupun memang berbeda, tapi ini lebih efektif untuk berbicara denganku.”
“Iya. Aku akan mencobanya. Omong-omong kenapa hari itu kau memberikanku boneka beruang?” tanya Abimanyu.
Aisyah menaikkan kedua alisnya, “…hanya karena tidak mungkin aku menyimpan keduanya. Sepertinya kedua beruang ini berteman, jadi aku iseng memberikan itu padamu dan aku sepertinya membawa beruang putih itu pulang besamaku.”
“Ck, baiklah.” Ezra mengalihkan kameranya tepat ke sampingnya.
Disana, Aisyah dapat melihat dengan jelas boneka beruang cokalt itu sedang duduk di kepala ranjang.
“Apakah kamu tidur dengan boneka itu, really?”
Ezra menangguk, “Apa salahnya, boneka itu empuk di peluk. Terlebih lagi, orang yang sangat spesial memberikannya untukku.”
“Are you eight?”
“No, I’m twenty eight and I love you.”
Aisyah kehilangan kata-kaanya, ia hanya tertawa lalu berdecak gemas. Sadar bahwa reaksinya membuat Ezra tersenyum, Aisyah menutupi kamera ponselnya dengan jempol agar pria itu tidak melihatnya.
“Open your camera, i want see you. I love see you face red because my words. Please.” Ezra memohon.
Aisyah tetap menutup kamera ponselnya, ia masih setengah tidak percaya jika Ezra mengatakan hal itu.
“Aisyah!” panggil Ezra.
Aisyah akhirnya membuka dan memperlihatkan kembali wajahnya. Benar kata Ezra, wajahnya sangat memerah akibat perkataan pria itu. Bagaimana tidak, kata-katanya sangat membuat Aisyah kaget.
I love you too, gumam Aisyah dalam hati.
Aisyah tidak kaget jika perasaannya masih sama seperti dulu. Iya, perasaannya kepada Ezra sama sekali belum berubah. Degub jantungnya masih sama ketika Ezra mengatakan kalimat itu untuk pertama kalinya.
Aisyah merasa sekitarnya sangat panas, ia mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan. Sementara Ezra sedang tersenyum seperti orang bodoh, ia menerka-nerka apakah Aisyah masih memiliki perasaan yang sama atau tidak dari ekspresi gadis itu, dan berakhir tidak bisa menebak.
“Kamu sangat cantik, apalagi kalau sedang tertawa seperti ini.” ucap Ezra.
Aisyah berdecak, “Kau bohong,”
“Untuk apa aku bohong, kau memang terlihat cantik. Siapapun yang akan melihatmu tertawa seperti sekarang juga akan berpendapat yang sama.” Balas Ezra dengan yakin.
“No.” tolak Aisyah.
Abimanyu menatapnya galak, “Yes!”
Mereka berdebat selama beberapa menit. Saling melempar tatapan galak satu sama lain. Aisyah menatap Ezra dengan bibir menipis.
“Hei, kenapa aku merasa kamu sedang mengumpatiku dengan tatapanmu.” Ucap Abimanyu mengalah.
“Well, woman always win.” Balas Aisyah bangga.
Mereka berbincang cukup lama sampai keduanya mengantuk dan akhirnya memutuskan untuk mematikan panggilan video setelah hampir tiga jam mengobrol. Aisyah mematikan ponsel lalu mengisi dayanya, setelah itu ia tertidur dengan senyuman di bibirnya.
…
Aisyah menyikat giginya di salah satu kamar di rumah sakit, tepatnya itu kamar dimana Ayahnya di rawat. Aisyah sudah melihat keadaan Ayahnya satu jam yang lalu, saat itu ia yang menjaga Ayahnya karena Abimanyu dan Om Zul pulang untuk menjemput Ibunya.
Aisyah memilih kamar VIP untuk merawat ayahnya menggunakan uang yang selama ini ia simpan dari sisihan gajinya selema bekerja. Ia belum memberitahu kakaknya jika Ayahnya sudah dipindahkan dari ruang ICU.
Aisyah mencuci wajahnya, berhati-hati agar tidak membasahi punggung tangannya berada karena masih ada perban bekas jarum infusnya disana. Ketika sedang mengeringkan wajah, ia mendengar pintu dibuka.
“Aisyah?” panggil Abimanyu.
Aisyah menyahut, “Iya, Kak.”
Ia buru-buru keluar dari kamar mandi dan mendapati Ibu dan Kakaknya berdiri tepat di depan pintu. Mereka menatap Aisyah terkejut, bahkan Ibunya menatapnya dengan ekspresi tidak percaya.
“Kamu yang pindahin Ayah ke sini?” tanya Atiqah.
Aisyah mengangguk, “Iya, Bun. Ruangannya bagus kan, muat banyak orang dan ada sofa juga buat kita makan sambil jagain Ayah.”
“Astagfirullah, Nak. Kamu tahu kan ruangan ini punya biaya yang tidak murah? Semalam aja ya? Besok kita kasih pindah Ayah ke ruangan biasa.” Bujuk Atiqah.
“Aisyah mau perawatan terbaik buat Ayah, Bun. Kita akan rawat Ayah di sini sampai sembuh.” Ucap Aisyah tegas.
Setelah berdiskusi cukup lama, Atiqah akhirnya menyetujui keputusan Aisyah. Tetapi mereka hanya di ruangan itu hanya sampai Ayahnya sadarkan diri, setelah itu mereka akan pindah ke ruangam biasa.
Setelah mereka berdiskusi, Aiyah memutuskan untuk mandi. Tubuhnya sangat lengket akibat tidak mandi selama satu hari. Selain membawa sarapan, Atiqah juga membawa baju ganti lain untuknya.
Mereka sarapan bersama setelah Aisyah mandi, ini sarapan pertama mereka bersama setelah bertahun-tahun. Saharusnya ini menjadi momen yang bahagia untuk mereka tetapi berubah sedih karena Ayahnya sedang di rawat.
“Enak, Bun.” Ucap Aisyah setelah mencoba makanan yang dibawa.
Atiqah mengangguk pelan, “Iya, Alhamdulillah kita bisa sarapan berkat tante kamu, nak. Dia yang masakin kita ini karena sama sekali nggak sempat buat masak. Bawain kamu baju aja karena diingetin sama Kakak kamu.”
Mereka makan dengan lahap, setelah menghabiskan separuh dari sarapan yang di bawa. Mereka hanya duduk lalu menyalakan televise agar tidak terlalu sepi. Sementara itu, Atiqah sudah mengambil posisi paling dekat dengan suaminya.
Aisyah dan Abimanyu duduk bersebelahan di atas sofa sembari menonton siaran televisi. Aisyah menyadarkan kepalanya di bahu Abimanyu.
“Kak, nggak ada kerjaan?” tanya Aisyah.
Abimanyu menggeleng, “Ada, tapi sekarang fokus ngerawat ayah dulu. Kamu? Gimana pekerjaan yang kamu tinggal ke sini?”
“Aku udah resign kak,”
“Hah? Karena pulang ke sini?”
Gentian Aisyah yang menggeleng, “Sudah lama, sebelum kakak datang ke korea.”
“Kenpa kamu berhenti?” tanya Abimanyu.
Aisyah tidak langsung menjawab, “Jenuh kak, setiap hari kerjaannya itu terus. Walaupun memang gajinya banyak, ya…jenuh aja.”
“Kamu tuh, seharusnya besyukur udah bisa kerja dengan gaji perbulan yang lumayan.” Ucap Abimanyu.
Aisyah memukul paha Abimanyu, “Ck, pas masih kerja di sana di suruh pulang. Pas sudah di sini di suruh bersyukur bisa kerja dapat gaji lumayan, kakak mau Aisyah balik kerja lagi di sana? Ya, memang masih di terima sih.”
“Jangan dong, kamu di sini aja. Kita bareng-bareng tinggal di rumah.” Ucap Abimanyu mengelus kepala Aisyah.
“Bun, kakak nih! Masa Aisyah di suruh pulang ke Korea lagi.” Aisyah mengadu kepada Atiqah.
Atiqah tersenyum kecil, mendengar pembicaraan kedua anaknya membuat suara pembaca denyut jantung menjadi tidak terdengar. Ruangan itu lebih berisik dari kemarin yang hening.
Keberadaan Aisyah sangat mengubah suasana. Tidak lama kemudian dokter datang dan memeriksa Ayahnya. Sebuah keajaiban terjadi berikutnya ketika Ayahnya sadarkan diri sebelum dokter itu keluar dari ruang perawatan.
Aisyah berharap cemas, ia memperhatikan apa yang dilakukan dokter itu dari jauh. Sementara Ibu dan Kakaknya mengawasi dari dekat. Jantung Aisyah berdebar kencang ketika dokter itu menunjukkan telah selesai memeriksa keadaan Ayahnya.
“Wah, sepertinya bapak Zakaria akan sembuh 99% seperti sebelumnya. Usaha beliau untuk bangun sangat tinggi, beliau juga sadar sangat cepat dari pasien-pasien pada umumnya. Mungkin jika kondisi beliau semakin membaik, beliau sudah bisa duduk dalam satu minggu lagi.” ucap Dokter itu.
Dokter itu mengintruksikan suster untuk melakukan sesuatu yang Aisyah tidak mengerti, tetapi jika itu untuk kebaikan ayahnya maka boleh-boleh saja.
“Untuk makanannya, boleh bubur dari rumah sakit terlebih dahulu. Nanti setelah saya periksa kembali, baru saya sarankan beliau bisa makan apa selanjutnya. Permisi.”
Setelah kepergian dokter itu, Aisyah berlari menuju Ayahnya. Memeluk pria paruh baya itu perlahan.
“Ayah, Aisyah pulang. Aisyah kangen banget sama Ayah.” Ucap Aisyah diiringi dengan tangis bahagia.
Aisyah menghapus airmata ayahnya, Zakaria tersenyum dibalik masker oksigen yang ia gunakan. Sepenuhnya sadar jika anak perempuannya pulang untuknya dan itu sangat membuatnya bahagia.
...
2 Februari
Dua bulan kemudian, Aisyah mengemudikan mobil menuju rumah sakit. Hari ini gilirannya untuk menemani Ayahnya checkup ke rumah sakit. Aisyah mengemudikan mobil dengan hati-hati.
Kecepatannya yang tertinggi hanya 60 km/jam, ia berkali-kali menurunkan kecepatannya karena ditegur oleh Zakaria. Aisyah hanya tertawa lalu kembali memelankan laju mobil.
“Udah pelan, Yah.” Ucap Aisyah.
Zakaria memperhatikan jalan dengan sangat serius, “Di bawah 60 aja, Nak. Biar aja pelan, asal sampai di rumah sakit.”
“Iya, Yah.” Aisyah mengalah dan mengemudikan mobil hanya dengan laju rata-rata 55 km/jam.
Ia tidak ingin membuat Ayahnya kepikiran dan menjadi stress saat tiba di rumah sakit untuk pemeriksaan bulanan. Sebenarnya keadaan Ayahnya sudah sangat sehat tetapi untuk berjaga-jaga ia masih harus rutin membawa Ayahnya untuk periksa.
Mereka tiba di rumah sakit satu jam kemudian, selain karena macet. Keterlambatan itu juga di pengaruhi akibat Aisyah mengemudi sangat pelan, seharusnya mereka bisa sampai di rumah sakit hanya setengah jam.
“Nah, duduk dulu Yah.” Ucap Aisyah.
Hanya satu tempat duduk yang tersisa dan Aisyah memilih berdiri dan mempersilahkan Ayahnya untuk duduk. Pria paruh baya itu menatap anak gadisnya yang sedang besandar di dinding sembari menunggu gilirannya di periksa.
Zakaria sangat bangga kepada Aisyah, selain karena gadis itu adalah anaknya tetapi karena anak gadisnya itu sudah berubah banyak setelah tinggal bersamanya.
Aisyah yang dulu hanya suka memakai celana pendek atau celana ketat saat keluar rumah kini sudah berbeda sangat jauh. Anak gadisnya itu sudah memakai gamis panjang yang menutupi kakinya, serta jilbab yang menutupi d**a dan membuatnya terlihat sangat anggun.
Ketika tiba giliran mereka untuk masuk, Aisyah sigap membantu Ayahnya. Mereka masuk ke ruangan dokter yang juga dulu mengoperasi serta yang mengawasi perkembangan kesehatan ayahnya hingga sembuh.
Aisyah memperhatikan Ayahnya yang berbaring di atas ranjang rumah sakit lalu di periksa. Ia menunggu persis di depan meja dokter, membiarkan dokter dan seorang perawat memeriksa keadaan Ayahnya.
Lima belas menit kemudian, tirai kembali di buka. Dokter itu kemudian mencuci tangan lau berjalan ke meja kerjanya. Aisyah sudah sangat mengenali dokter ini, Dokter Fauzan yang mungkin lebih tua beberapa tahun dengannya.
Mereka cukup akrab untuk saling bercanda satu sama lain, Aisyah juga senang berbicara dengan dokter itu karena mereka sangat nyambung dan asyik ketika di ajak berbicara.
“Keadaan Ayahmu sangat-sangat baik, sepertinya tidak ada lagi yang bisa ku sampaikan karena sudah ku katakana satu bulan yang lalu. Apa kamu masih mau melanjutkan check up bulanannya?” tanya Fauzan.
Aisyah mengangguk, “Lima bulan lagi, jika hasilnya tidak berubah aku akan menyudahi pemeriksaan bulanan ini.”
Mereka berbicang serius tentang kesehatan Ayah Aisyah. Hampir setengah jam mereka ada di ruangan itu, sebelum Fauzan memberikan Aisyah resep untuk di tebus.
Aisyah pamit keluar, setelah pintu ruangan dokter itu tertutup. Fauzan masih menatap pintu tempat Aisyah keluar tadi dengan tatapan penuh arti sembari tersenyum.