Aisyah kembali mengemudi, setelah menunggu obat selama setengah jam. Mereka akhirnya bisa pergi dari rumah sakit itu, ia mengemudi dengan pelan. Aisyah masih terpukau dengan kemajuan yang terjadi di Makssar, walaupun masih banyak kemacetan tetapi ini lebih baik dari pada beberapa tahun sebelumnya.
Ia melewati jalan layang dengan mulus, ia memilih jalan mudah untuk lebih cepat sampai di rumahnya. Aisyah memelankan laju mobil untu singgah di sebuah minimarket, ia membeli beberapa cemilan.
Tinggal di Indonesia, membuatnya menjadi lebih hemat karena ia makan masakan rumahan yang ia buat tiap hari bersama ibunya di rumah. Selain itu, ia juga sama sekali minim pengeluaran karena tidak berbelanja barang-barang mahal lagi.
Bahkan, dalam waktu dekat ia akan meluncurkan buku pertamanya di toko buku. Otomatis ia sudah mendapat penghasilan setelah dua bulan berada di Indonesia.
Aisyah awalnya hanya iseng mengirim naskah ke penerbit, ia bahkan tidak menunggu kabar dari penerbit dan terkejut ketika mendapat email balasan bahwa naskahnya di terima.
“Sampai,” ucap Aisyah ketika mobilnya sukses terparkir di parkiran rumah.
Aisyah turun dari mobil lebih dulu untuk membantu Ayahnya turun dari mobil.
“Ck! Ayah bukan orang penyakitan, bisa turun sendiri nak.” Ucap Zakaria gemas ketika Aisyah buru-buru membukakan pintu mobil kepadanya.
Aisyah hanya tertawa pelan, ia tetap membantu Ayahnya turun dari mobil. Mereka masuk bersama-sama ke dalam rumah. Atiqah menyambut mereka dengan suguhan makanan, Aisyah langsung cuci tangan dan duduk di meja makan.
Ia kelaparan karena menunggu sangat lama di rumah sakit, mereka makan bersama-sama. Abimanyu yang sudah pindah ke Jakarta membuat mereka hanya makan bertiga.
Keputusan itu di ambil kakaknya karena kepadatannya bekerja di Ibu Kota dan harus sering-sering bertemu klien di sana. Jadi, ia memutuskan untuk pindah agar bisa menghemat biaya pesawat.
Atiqah memasak buah kelor, ikan goreng dan juga udang masak. Untuk pelengkap, ia membuat sambel mentahu untuk ikan goreng dan campuran air garam dan lombok untuk dimakan bersama udang. Hal yang paling menyita perhatian mereka akan mangga cincang yang terlihat menggiurkan.
“Dek, Ayah lihat kayaknya kamu deket sama Dokter Fauzan?”
Zakaria memulai percakapan ketika mereka selesai makan, Aisyah sedang mengangkat piring kotor ke wastafel ketika Ayahnya bertanya. Aisyah tampak berpikir apakah ia memang dekat dengan dokter Fauzan atau tidak.
“Hm…sepertinya tidak terlalu, Yah. Sampai sekarang, kalau bertemu kami hanya mengobrolkan tentang kesehatan ayah dan apa yang harus kulakukan jika saja Ayah dalam kondisi darurat.” Jawab Aisyah tenang.
Zakaria terlihat sedang saling bertukar pandang dengan Istrinya, Atiqah. Wanita paruh baya itu memandang suaminya dengan kening berkerut, mengkode agar tidak melanjutkan pembahasan ini.
Zakaria tetap ingin melanjutkannya, ia sudah tertarik kepada Fauzan ketika datang chekup selama beberapa bulan. Dokter yang menanganinya itu tampak sangat berwibawa, sopan dan juga taat beribadah. Calon menantu yang sangat sempurna.
“Kamu nggak tertarik dek sama Dokter Fauzan?” tanya Zakaria, mengabaikan kode dari istrinya.
Aisyah berhenti melangkah, berbalik menatap Ayahnya. Lalu tersenyum, “Nggak, Yah. Aisyah lagi nunggu seseorang dan aku harap dia jodoh yang diberikan Allah untuk Aisyah.”
Zakaria mengunci bibirnya, berbeda dengan Atiqah yang tersenyum puas. Ia sudah tahu keinginan suaminya ketika terus membahas tentang Dokter Fauzan selama satu bulan terakhir.
Aisyah mencuci piring sembari mendengar percakapan kedua orangtuanya. Ia sangat paham dengan maksud ayahnya tetapi memang Aisyah tidak memiliki rasa tertarik sama sekali kepada dokter yang telah sangat berjasa kepada keluarganya itu.
…
Aisyah masuk ke kamarnya lalu mengganti pakaian, ia menaikkan suhu AC lalu berbaring di atas tempat tidur. Aisyah memainkan ponselnya sambil berbaring, ia melihat pesan chat paling bawah, itu berasal dari Ezra.
Mereka terakhir berkomunikasi satu minggu yang lalu. Hubungan mereka masih sangat baik setelah dua bulan berpisah, mereka masih sering berkomunikasi melalui panggilan biasa, video ataupun pesan text.
Aisyah membaca ulang pesan-pesan mereka. Sudah banyak yang mereka bahas, dari hal yang lucu sampai hal-hal yang serius. Ezra juga masih sering bertanya kepadanya tentang apapun hal yang baru pria itu dapatkan.
Sekitar 2 minggu yang lalu, Aisyah kembali ke korea beberapa hari untuk packing dan mengambil barang-barangnya yang ada di sana. Mayoritas barang pribadinya harus ia ambil dari sana, termasuk pakaian dan beberapa alat eletronik yang masih bagus.
Sayangnya saat ia kembali ke Korea, Ezra sudah pergi. Pria itu kembali melanjutkan perjalanan yang ia lakukan. Ezra sedang berada di Jepang saat itu, jadi tidak ada kesempatan mereka untuk betemu.
Aisyah iseng mengirim satu stiker kepada Ezra tetapi ia cemberut melihat pesan yang ia kirim kembali centang satu. Itu berarti Ezra memang tidak pernah aktif. Begitu juga pesan-pesan terdaluhu yang ia kirim, hanya centang satu.
“Ezra, kamu kemana…” gumam Aisyah sembari melihat foto profil Ezra.
Tepat di saat yang sama, nomor ponsel asing menghubunginya. Aisyah ragu untuk menjawab sampai panggilan itu menjadi panggilan tidak terjawab. Menit berikutnya, nomor itu kembali menghubunginya.
Aisyah memencet tombol terima lalu membuat panggilan itu terdengar melalui loudspeaker ponsel, ia takut jika itu hanya panggilan iseng yang dilakukan orang aneh kepadanya.
“Aisyah?” panggil sebuah suara yang sangat Aisyah kenali.
“Ezra?” balas Aisyah sedikit ragu.
Terdengar suara tawa dari seberang, terdengar lega di telinga Aisyah. “Akhirnya aku ingat nomor ponsel kamu setelah percobaan yang kesekian.”
Aisyah mengerutkan kening, “Memang ponsel kamu kemana?”
“Ponselku jatuh ke laut, Ay. Aku tidak sengaja menjatuhkannya saat turun dari jet ski. Aku sudah membeli ponsel baru tetapi aku baru berhasil menghubungimu sekarang.” Terang Ezra.
Aisyah menghela napas lega, “Aku pikir kamu sudah lupain aku. Mungkin ketemu wanita canti di jepang,”
Aisyah mendengar Ezra tertawa lepas, suara tawa yang sangat ia sukai. Aisyah tersenyum-senyum sendiri di kamarnya.
“Oke, aku simpan dulu nomor kamu. Satu menit lagi aku telpon ulang, jangan kemana-mana, ya!” ucap Ezra lalu memutuskan sambungan panggilan.
Aisyah berbaring di tempat tidur sembari memeluk ponselnya, akhirnya Ezra menghubunginya setelah satu minggu galau memikirkan keberadaan pria itu. Penantiannya selama satu minggu ternyata membuahkan hasil yang tidak buruk.
Ponsel Aisyah kembali bordering, ia mengangkatnya dengan tergesa. Aisyah tidak merubah posisinya, ia tetap berbaring tetapi mengganjal kepalanya dengan bantal guling.
“Wah, kenapa kamu semakin cantik?”
Itulah ucapan yang pertama kali dilontarkan Ezra ketika Aisyah memperlihatkan wajahnya di panggilan video. Aisyah tersenyum kecil, lalu berdecak sebal kepada Ezra.
Ia merindukan ucapan pria itu, bahkan sangat merindukannya. Aisyah lalu tersenyum ke arah layar ponsel lalu menggembungkan pipinya imut.
“Jangan, Ay. Sekarang kau terlihat seperti mochi.” Ucap Ezra ketika melihat pipi gembung Aisyah.
Aisyah melebarkan matanya, ia menatap Ezra sebal. Hal itu sukses kembali membuat Ezra tertawa. Pria itu tampak benar-benar seperti turis, Aisyah melihat cambang Ezra mulai tumbuh lebat. Pria itu tidak lagi mencukurnya.
Mereka berbicara tentang banyak hal. Ezra juga menjelaskan saat ia berkeliling di jepang, pria itu akan menetap di sana selama beberapa minggu untuk urusan pekerjaan yang tidak bisa ia tolak.
“Kapan kamu ke Indonesia?” tanya Aisyah.
Ezra menaikkan dua alisnya, “Entahlah, mungkin setelah pekerjaanku selesai. Kenapa? Kau ingin bertemu denganku?”
Aisyah ingin sekali mengangguk tetapi ia tidak melakukannya. Sangat gengsi rasanya mengakui jika ia rindu kepada Ezra.
“Jangan bilang tidak, walaupun kamu tidak bereaksi. Aku tahu jika kamu merindukanku,” ucap Ezra.
Aisyah mengedipkan matanya cepat, tidak percaya jika Ezra mengatakan hal itu dengan percaya diri. “Tahu dari mana?”
“Your eyes,” balas Ezra cepat.
“Hah?”
Ezra mendekatkan ponsel ke arahnya hingga hanya menampakkan wajah pria itu. “Dari mata kamu, mata itu memberitahuku segalanya, Ay. Tanpa kamu bilang pun aku tahu, dan satu hal yang pasti. Perasaan kamu masih ada untuk aku untuk saat ini.”
Aisyah mengambil napas panjang ketika mendengar ucapan Ezra. Ucapan pria itu memang benar, tetapi bagaimana caranya tahu hanya karena melihat matanya? Memang di matanya ada tertulis jika ia menunggu Ezra?
Aisyah mengerucutkan bibir, “Ck, percaya diri sekali.”
“Tentu saja, mau buktinya?” Ezra menantang Aisyah.
Aisyah mengerutkan kening, “Oke, buktikan!”
Ezra tersenyum licik, “Kau masih memiliki perasaan yang sama kepadaku jika kau mematikan panggilan saat aku melakukan hal in,”
Aisyah benar-benar memutuskan sambungan secara sepihak ketika melihat Ezra merangkul seseorang yang Aisyah lihat memiliki rambut panjang. Aisyah masih memegang ponselnya yang layarnya sudah menggelap.
Detik berikutnya, Ezra kembali menghubunginya tetapi sampai ponsel itu berhenti bedering Aisyah sama sekali tidak mengangkatnya. Enak saja, ia tidak mau di permainkan seperti itu.
Ezra Elwyn : Angkat, Ay…akan ku jelaskan.
Aisyah hanya membaca pesan itu dan tidak ada niat untuk membalasnya. Ia juga tidak mengangkat panggil Ezra yang kedua, membiarkannya bordering tanpa minat untuk memencet tombol terima.
Ezra Elwyn : Ayolah, Ay. Aku janji tidak macam-macam, kalau kamu tidak angkat, kamu akan menyesal.
Aisyah akhirnya menjawab panggilan Ezra yang kelima kali. Aisyah tidak menampilkan wajahna melainkan dinding kamarnya yang tepat berada di depannya. Berikutnya yang muncul di layar ponsel Aisyah adalah seorang gadis yang mungkin lebih muda darinya tetapi terlihat dewasa.
“She is my cousin, Ay. Dia sedang liburan di sini bersama keluarganya.” Terang Ezra. “…nah, sekarang. Terbuktikan, kalau kamu masih memiliki perasaan yang sama terhadapku.”
Aisyah cemberut, Tidak menyadari jika itu adalah jebakan dari Ezra. Aisyah merasa kesal kepada dirinya senidir karena melakukan hal bodoh yang membuat pria itu sedang.
Gadis itu memakai kimono lengkap, membuat Aisyah saat pertama melihatnya sebagai seorang gadis jepang dari tampak belakang.
“Kau mengerjaiku, huh?” ucap Aisyah tidak terima.
Ezra terkekeh pelan, “No, I’m not. Tidak ada yang mengerjai siapa-siapa Ay. Aku malah senang karena perasaan kita berdua masih sama walaupun tidak ada statur serius di antara kita.”
“So, you still love me right?” tanya Ezra dengan tatapan serius.
Aisyah hanya menjawab pertanyaan Ezra dengan gumaman aneh membuat pria itu menatapnya tajam.
“Iya, iya. Duh, galak banget.” Ucap Aisyah cepat.
“Bukan itu jawabannya, Ay.” Balas Ezra tidak mau kalah.
Aisyah gemas ingin memukul kepala Ezra, “Yes, I’m still love you.”
Ezra tersenyum senang, ingin sekali ia mengusap puncak kepala Aisyah. Gadis itu tampak semakin cantik setelah memakai jilbab, Ezra sudah tidak lagi menginginkan untuk melihat rambut Aisyah setelah terbiasa meliha gadis itu memakai jilbab.
Panggilan mereka terputus saat Aisyah ingin mengerjakan Shalat Ashar, tetapi mereka kembali melakukan panggilan video setengah jam kemudian setelah Aisyah selesai mandi.
“Hai, kamu sekarang dimana?” tanya Aisyah ketika melihat Ezra sudah berpindah ke tempat yang berbeda.
Ezra mengambil tempat yang nyaman untuk duduk, “ Di hote, aku sudah menyewa hotel ini selama beberapa minggu.”
Ezra memperlihatkan pemandangan balkonnya dan seketika membuat Aisyah terkejut, di Jepang lagi musim dingin dan salju sedang turun sehingga menyelimuti atap bangunan dan jalan.
Aisyah sangat terpesona dengan benda putih kecil itu, ia melihatnya lama. Terakhir ia melihat salju turun saat sedang bersama Ezra, pertama saat mereka di dalam mobil itu salju pertama unuk mereka dan yang kedua saat badai salju.
“I want catch it!” ucap Aisyah spontan.
Ezra kemudian berdiri, menengadahkan tangannya untuk menangkap salju. Lima menit kemudian beberapa salju hinggap di telapak tangannya, Ezra memperlihatkannya kepada Aisyah.
Mereka sama-sama melihatnya hingga salju itu meleleh di tangan Ezra. Pria itu kembali melakukan hal yang sama satu kali lagi, kali ini salju yang ia tangkap lebih banyak.
Entah kenapa, hal sesederhana itu membuat mereka berdua bahagia, karena bukan tentang saljunya atau ketika butiran salju itu hinggap di telapak tangan Ezra tapi yang spesial adalah kebersamaan mereka berdua walaupun terpisah dengan jarak yang sangat jauh.