Aisyah menatap wajah Ezra, ia refleks tersenyum ketika tatapan pria itu terlihat polos ketika salju meleleh di telapak tangannya. Ia ingin sekali menikmati moment itu bersama Ezra, pasti seru sekali berjalan-jalan di bawah salju.
Tanpa sadar, Aisyah berhayal jika mereka berdua liburan sebuah negara saat musim dingin dan menikmati hujan salju bersama-sama dan saling bergandengan tangan.
“Aisyah?” panggil Ezra.
Aisyah hanya menanggapi panggilan Ezra dengan gumaman pelan, ia sedang asyik menghayal. Ezra sudah berpidah tempat ia mengunci balkon lalu memutuskan untuk berbaring di ranjang.
Saat itu, ia melihat Aisyah sedang menatap layar ponsel dengan tatapan kosong yang menandakan gadis itu sedang menghayal atau tengah memikirkan sesuatu.
“Aisyah? Hey.”
Ezra melambai-lambai di depan kamera agar Aisyah kembali fokus kepadanya. Aisyah tergagap lalu melihat Ezra dengan bingung, ia mengerjabkan mata lalu menyadari jika pria itu sudah berpindah tempat.
“Eh, kapan kamu pindah?” tanya Aisyah polos.
Ezra tersenyum kecil, “Tadi, kamu lagi menghayal. Memangnya menghayal apa sampai serius kayak gitu?”
“Menghayal lagi liburan bareng kamu…Eh! Nggak, salah ngomong.” Aisyah menutup rapat mulutnya.
Sementara tawa Ezra pecah akibat jawaban polos Aisyah yang begitu saja langsung di jawab oleh gadis itu padahal ia tidak begitu ingin mengetahui apa yang Aisyah hayalkan tadi.
Ezra masih tertawa, ia tidak menyangka Aisyah akan menjawab sedang menghayal tentang liburan berdua dengannya. Apakah itu liburan musim dingin? Tetapi sekarang sudah penghujung musim dingin, tidak mungkin mereka bisa melakukannya dalam waktu dekat.
Ezra menjilat bibirnya, apa Aisyah menghayalkan tentang waktu yang akan datang? Jika benar, apakah ia bisa berharap jika Aisyah masih menginginkannya sampai saat itu datang?
Sebenarnya Ezra juga ingin sekali ke Indonesia, sekarang juga. Perjalanannya ke Jepang hanya untuk mengurus perusahaannya yang hampir bangkrut karena pengelolaan yang salah oleh pemimpin cabang perusahaan.
Hal yang sangat lumrah terjadi jika yang mengelola bukanlah orang kepercayaan perusahaan. Perusahaan itu di ambang kehancuran sebelum ia menyadari ada yang salah dengan cabang Jepang itu.
Kendala ini sudah berkali-kali ia temukan dan tidak jarang mereka hanya mengelola perusahaan untuk keuntungan pribadi. Masalah yang menjengkelkan karena saham anjlok dan Ezra harus memulai dari awal untuk memperbaiki nama baik perusahannya.
“Ih? Kamu kok suka banget ngerjain aku hari ini?!” protes Aisyah.
Ezra tersenyum lebar sampai matanya tertutup, “…karena sudah rindu sama kamu sejak satu minggu lalu, Ay. Aku hampir frustasi karena tidak kunjung mengingat nomor ponselmu selama enam hari.”
“Kenapa kamu tidak menghubungi media sosialku? Bukankah kita juga berteman di sana?” tanya Aisyah.
Ezra melebarkan matanya, mulutnya terbuka dan membulat. Ia baru sadar jika ia juga bisa menggunakan hal itu untuk bisa mendapatkan nomor ponsel Aisyah lebih cepat.
Ezra memukul keningnya, “Astaga! Aku nggak kepikiran ke sana, Ay! Terlalu fokus buat nginget nomor kamu soalnya, jadi lupa.”
Aisyah yang gentian tertawa, “Gimana sih, Za. Padahal dengan cara itu, kamu bisa menghubungiku hari itu juga.”
“Udah terlanjur kayak gini, Ay. Kalau bisa aku juga mau ngulang waktu supaya bisa hubungin kamu lebih cepat. Takut kamu di ambil orang,” ucap Ezra.
Aisyah hanya tersenyum mengejek, ia tiba-tiba teringat perkataan Ayahnya tadi pagi tapi buru-buru mengusir pikiran itu dan berharap Ayahnya tidak kembali mengungkit hal serupa keeskolan harinya.
Mereka kembali saling bertukar cerita, Ezra menanyakan kabar Ayah Aisyah dan ia menanyakan apa yang Ezra lakukan hari ini. Walaupun hanya bertukar kabar seperti itu, mereka menghabiskan waktu berjam-jam.
Panggilan itu berakhir ketika mereka merasa lapar, Aisyah terkejut ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul Sembilan malam dan ia belum makan malam sama sekali.
…
Aisyah keluar dari kamar, ia turun tangga menuju dapur. Aisyah mendengar suara televisi dari ruang keluarga dan berjalan kesana. Di sana ada kedua orangtuanya sedang menonton siaran tv dengan menikmati kue dan teh.
“Nah, akhirnya kamu turun. Seharian ngapain di kamar? Sampai Bunda panggil makan ngak dengar.” Tegur Atiqah ketika melihat Aisyah menghampiri mereka.
Aisyah tersenyum sembari menggaruk lehernya yang tidak gatal, “Telponan sama teman, Bun. Aisyah makan dulu, ya. Lapar.”
Atiqah mengangguk pelan, takzim ketika Aisyah menjawab dengan jujur. Memang saat ke kamar anaknya tadi terdengar sayup-sayup seperti seseorang sedang berbicara dan tertawa.
Zakaria hanya menggeleng pelan ketika melihat Aisyah sedang berjalan ke dapur.
“Ingat pesan Bunda, Ayah. Jangan ulangin yang tadi siang, biarkan anak kita memilih sendiri keinginannya. Walaupun memang kita berdua menyukai dokter yang telah merawat ayah selama ini tetapi Aisyah itu punya kehidupan sendiri, apalagi tentang pasangan hidup. Kita hanya bisa menasehatinya dan memberikannya masukan, bukan untuk memaksanya.” Bisik Atiqah kepada suaminya.
Zakaria mengangguk, “Iya, Bun. Maafkan Ayah, lain kali ayah tidak akan mengulanginya.”
Mereka berdua saling melempar senyum lalu melanjutkan untuk menonton siaran TV. Sementara Aisyah, berada di dapur, ia mengambil nasi dari magicom lalu membuka tudung saji yang berada di atas meja makan.
Aisyah duduk lalu makan setelah membaca doa, ia makan dengan lahap dengan lauk yang tersisa. Karena ia yang terakhir makan, maka Aisyah menghabiskan seluruh makanan yang ada di dalam tudung saji itu.
Setelah makan, Aisyah mencuci piring. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam ketika ia selesai, kedua orangtuanya juga sudah masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.
Aisyah memeriksa kunci pintu dan juga jendela, ia juga sudah memeriksa pagar sudah terkunci rapat. Setelah mnghidupkan lampu teras dan pekarangan ia naik ke kamarnya yang berada di lantai dua.
Ia shalat isya sebelum naik ke tempat tidur, Aisyah memeriksa kembali ponsel setelah dayanya terisi penuh. Aisyah menunggu sampai ponsel itu hidup sembari memakai krim malam.
Ritual tiap malam ia lakukan untuk menjaga kulitnya agar tetap sehat. Setelah ponsel itu menyala ada pesan masuk dari nomor baru Ezra. Tepatnya ada tiga pesan, dua lainnya merupakan foto dan satunya pesan text.
Ezra Elwyn : Menu makan malamku.
Aisyah merapikan krimnya lalu membersihkan tangan di wastafel. Ia melihat tiga buah menu, dua merupakan seafood dan salah satunya adalah sushi.
Aisyah : Berikan aku seafoodnya…
Ezra Elwyn : Sudah habis barusan, kamu lama. Jadi, aku masukin semua ke dalam mulut… Sushi?
Aisyah : Aku kurang suka makan sushi…
Ezra Elwyn : Baiklah, akan menjadi catatan jika aku mengajakmu makan di restoran jepang.
Mereka kembali berbalas pesan selama beberapa jam. Perbedaan waktu dengan jepang yang tidak terlalu jauh membuat keduanya asyik berbalas pesan hingga tengah malam.
Ezra Elwyn : Ay, udah tengah malam. Let’s sleep, kamu butuh istirahat.
Ezra mengirim pesan itu ketika menyadari jam di Jepang sudah menunjukkan pukul satu malam, otomatis di tempat Aisyah berada sudah pukul dua belas.
Aisyah menyetujui ide Ezra, ia juga memang sudah mengantuk tapi berbalas pesan dengan Ezra sangat mengasyikkan hingga rasa kantuknya mendadak lenyap ketika mereka membahas hal-hal yang lucu.
Aisyah : Oke, Good night, Za.
Ezra Elwyn : Night, Ay. Sleep tight.
Aisyah mematikan ponsel lalu menaikkan selimut, ia juga menurunkan suhu AC agar tidak terlalu dingin. Aisyah kembali memasuki dunia mimpi denga senyuman di bibirnya.
…
Pagi-pagi, Aisyah sudah sangat sibuk. Ia bahkan sudah siap sejak setengah jam yang lalu. Sekarang ia hanya tinggal sarapan lalu berangkat ke salah penerbit untuk menandatangani 100 kertas yang akan di masukkan ke dalam buku. Itu termasuk edisi spesial yang memiliki tanda tanganya.
Karena ia buru-buru, maka Atiqah yang membuat sarapan pagi ini. Ibunya membuat telur mata sapi yang campur dengan perpaduan asam dan gula merah. Aisyah hanya makan itu dengan nasi putih biasa. Ia bisa menghabiskan dua piring nasi karena telur mata sapi buatan Ibunya sangat enak.
“Aisyah berangkat, Bunda…Ayah.” Ucap Aisyah sembari mencium tangan kedua orangtuanya.
“Nyetirnya hati-hati, nak.”
Aisyah mengangguk lalu masuk ke dalam mobil, kedua orangtuanya mengantar sampai teras rumah. Aisyah membuka pagar lalu mengeluarkan mobilnya, ia kembali menutup pagar lalu membunyikan klakson sebelum benar-benar pergi dari rumah.
Aisyah mengemudikan mobilnya menuju sebuah mall besar di kota Makassar. Ia benar-benar bersemangat untuk pergi menandatangani buku perdananya.
Sebelumnya, penerbit akan mengirimkan semua kertas itu ke rumahnya tetapi ia menolaknya karena akan meeting juga di salah satu cabang penerbit yang ada di Makassar, jadi seluruh kertas itu akan ia tandatangani di kantor mereka agar lebih efisien.
Ponsel Aisyah berbunyi, ia menepikan mobilnya di pinggir jalan lalu meletakkan ponselnya di dashboard, ia juga menyambungkannya dengan airpods sebelum mengangkat panggilan itu.
“Halo, Za.” Sapa Aisyah lalu kembali melanjutkan perjalanan.
Aisyah mendengar suara air keran yang berbunyi dari kejauhan, ia hanya menggelengkan kepalanya lalu fokus menatap jalan raya. Suara Ezra kembali terdengar beberapa menit kemudian,
“Pagi, Ay. Kamu sudah di jalan ya?” tanya Ezra.
Pria itu juga mengetahui jika Aisyah ada meeting dengan pihak penerbit pagi ini. Aisyah menjawab pertanyaan Ezra dengan bergumam, mengendara dengan senang karena perasaannya sangat baik.
Aisyah mengubah panggilan suara itu ke panggilan video saat ia berhenti di lampu merah. Ezra segera menerimanya dan seketika mereka berdua saling melihat satu sama lain.
Aisyah tertawa kecil ketika melihat penampilan Ezra yang berantakan, rambut pria itu mengembang kemana-mana karena baru bangun tidur. Sementara Ezra terpukau, baru kali ini ia melihat Aisyah menyetir sendiri.
“Kamu ambil sim, Ay?” tanya Ezra.
Aisyah mengangguk, “Iya, Za. Aku terpaksa ambil buat antar jemput ayah kemana-mana, karena pekerjaan kakakku yang tidak menentu membuatnya tidak selalu berada di rumah.”
“Kamu terlihat sangat cantik, Ay.” Puji Ezra.
Aisyah mendengkus, “Kapan aku tidak cantik di matamu, Za?”
“Tidak akan pernah,” jawab Ezra tanpa berpikir
Mereka berdua lalu meledak dalam tawa, Aisyah melajukan mobil pelan ketika lampu sudah menyala hijau. Ia mengemudi dengan senang, bahkan tidak memperhatikan Ezra selama beberapa menit.
“Ya, sudah Ay. Kamu fokus nyetir aja dulu, nanti kabarin aku kalau udah sampai, oke?” ucap Ezra.
Aisyah mengangguk, ia melirik layar ponsel. “Iya, Za.”
“Save drive, Ay. See you.” Ucap Ezra asebelum mematikan sambungan.
Setelah panggilan video mereka berakhir, Aisyah menyalakan musik dengan suara sedang. Suasana hatinya benar-benar sangat bagus, ia mengendara dengan mulus di jalan raya walaupun termasuk baru mengemudi.
Setengah jam kemudian ia sampai di mall itu, Mall Panakukang. Ini masih sangat pagi dan toko buku itu belum terbuka, Aisyah bertemu dengan wakil dari penerbit utama di Jakarta di dalam kantornya.
Aisyah berjalan pelan, ia sudah menghubungi orang yang akan betemu dengannya dan orang itu mengatakan sudah menunggu Aisyah di salah satu pintu yang berada di dekat mesin ATM.
“Assalamualaikum, Mbak Aisyah kan?” sapa seorang wanita muslimah.
Aisyah mengangguk, “Waalaikumsalam, Iya Mbak benar.”
Mereka berjaba tangan lalu berpelukan satu sama lain, mereka saling berkenalan dan Aisyah tahu jika wanita yang menjemputnya ini bernama Hafsha.
“Ayo, mbak sudah di tunggu di kantor.” Ucap Hafsha.
Mereka berjalan bersama menuju kantor, suasana mall itu masih sangat sepi, hanya ada beberapa cleaning servish dan beberapa orang yang berlalu lalang. Mungkin karena masih terlalu pagi untuk pergi ke mall.
Mereka naik eskalator sampai di lantai tiga, tempat toko buku itu berada. Aisyah melihat tag toko itu masih bertulis closed, berarti memang belum jam buka.
“Nah, di sini mbak jalan masuknya.” Ucap Hafsah sembari mendorong gagang pintu kaca lalu masuk ke dalam sebuah koridor pendek.
Aisyah mengikutinya, ia mengamati ruangan itu. Sangat segar karena banyak benda berwarna warni untuk memanjakan mata. Hafsha masuk ke sebuah ruangan lain dengan pintu yang sama, di dalam sana sudah ada tiga orang perempuan yang menunggunya.
Mereka tersenyum dan menyapa Aisyah ramah ketika masuk.