Takdir Allah 44 - Phone call

1716 Kata
Aisyah memperkenalkan diri, begitu juga dengan ketiga orang itu. Kemudian mereka berdiskusi untuk penentuan cover terakhir, Aisyah memilih cover yang simple berwarna pastel yang menurutnya sangat mencerminkan cerita yang ia buat. Pendapatnya itu juga di setujui oleh keempat orang itu, diskusi berjalan lancar tanpa perdebatan apapun. Selanjutnya, Aisyah diberikan teh dan beberapa kue, beberapa tumpuk kertas yang akan ia tandatangani sudah ada di atas meja. Aisyah mengambilnya satu persatu, ia juga diberikan pulpen dengan tinta khusus yang membuat tanda tangannya tidak akan pudar walaupun buku itu sudah betahun-tahun. Dua jam kemudian, semua pekerjaan telah selesai. Aisyah berterimakasih kepada mereka karena telah membantunya, ia hanya tinggal menunggu kapan novel yang ia buat akan terbit. Aisyah melihat jam tangan, sudah menunjukkan pukul setelah sebelas. Ia melihat mall itu sudah ramai dan toko buku juga sudah buka. Ia menimbang-nimbang masuk toko buku atau tidak, Aisyah masuk ke toko itu setelah tertarik dengan banyaknya buku di dalam. Ia melihat-lihat, beberpa stan ada buku yang di atur unik agar para pengunjung datang untuk melihatnya. Aisyah melebarkan matanya, itu adalah novel lanjutan dari seri petualanan fantasi yang ia suka. Penulisnya salah satu penulis ternama di Indonesia, tanpa pikir panjang Aisyah mengambil empat buku yang belum sempat ia baca. Setelah itu, ia kembali berkeliling. Toko buku itu cukup ramai, ia melihat pengunjung masuk dari berbagai usia dan mereka memilih buku yang bebeda-beda. Rata-rata seusianya membeli novel atau melihat buku umum. Aisyah hanya menambah satu buku lagi yang merupakan novel terjemahan. Aisyah sangat menyukai novel fantasi, imajinasinya seperti di bawa ke dunia lain ketika membaca novel-novel itu. Ia juga tidak pernah membeli novel atau buku selain di toko buku, itu karena ia ingin mengapresiasi penulis dengan membeli bukunya. “Silahkan,” ucap kasir kepadanya. Aisyah memberikan lima buku yang ia beli. Ia menunggu kasir itu menghitung harganya sembari mengamati sekitar, Aisyah sangat suka toko buku. Ketika itu, ia melihat orang yang familiar, Aisyah buru-buru mengalihkan pandangannya menuju kasir. “Terimakasih,” ucap kasir itu ketika mereka selesai melakukan proses transaksi. Aisyah tersenyum, ia lalu buru-buru meninggalkan toko buku itu berharap orang yang ia lihat tadi tidak mengenalinya. Ia sudah hampir mencapai pintu toko ketika seseorang memanggil namanya. “Aisyah?” panggil suara itu. Aisyah mau tidak mau menoleh, ia melihat Dokter Fauzan menghampirinya. Pria itu memakai stelan kasual santai dengan memadu padankan celana jeans dengan baju kaos serta sepatu trendi. Fauzan menatapnya dengan alis terangkat, “Kenapa kamu buru-buru? Ada sesuatu yang terjadi?” Aisyah menggeleng, “Tidak ada.” Mereka berjalan keluar dari toko buku menuju lapangan ice skating untuk anak-anak. Mereka beridiri tidak terlalu jauh sembari memperhatikan beberapa orang yang sedang bermain di lapangan khusus itu. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Fauzan berbasa-basi. “Membeli buku sekaligus berjalan-jalan.” Jawab Aisyah sekenanya. “…anda sendiri?” “Anda? Really, Aisyah? Kita sedang ada di mall dan aku sedang tidak memeriksa siapapun di sini. Kau memanggilku seperti aku sedang berada di rumah sakit.” Ucap Fauzan berpura-pura kesal karena di panggil sangat sopan oleh Aisyah. Aisyah tersenyum canggung, “Aku sedang menemani adikku membeli buku, dia di dalam entah bingung memilih buku yang mana.” Ucap Fauzan ketika tidak di respon oleh Aisyah. Aisyah mengambil napas panjang, “Apa adikmu masih sekolah? Atau dia ingin membeli novel?” Fauzan melirik Aisyah yang sedang serius menatap orang yang sedang bermain ice skating, “Mungkin keduanya,” Aisyah mengangguk pelan, ia tidak memiliki pembahasan lain. Hal itu membuat keduanya sangat canggung, lima menit mereka hanya berdiri seperti itu, ponsel Aisyah berbunyi. Senyum Aisyah terbit ketika melihat nama orang yang menghubunginya. Ia menoleh ke arah Fauzan lalu memberitahunya jika ia pamit pergi. Fauzan hanya menganggukkan kepala, ia bahkan belum mengatakan apapun ketika Aisyah sudah melangkah jauh. … Aisyah memilih untuk turun dari lantai tiga, ia mengangkat panggilan Abimanyu. Ia sangat bersyukur kakaknya menghubunginya di saat yang tepat dan bisa ia jadikan alasan untuk pergi dari tempat itu. “Halo, Assalamualaikum, Kak.” Sapa Aisyah. Aisyah memasukkan ponselnya ke dalam tas karena masih memakai airpods di telinganya. Ia tidak melepaskannya karena menunggu panggilan Ezra tetapi sepertinya pria itu ada kesibukan lain. “Waalaikumsalam, kamu dirumah dek?” tanya Abimanyu. Aisyah berhati-hati turun dari eskalator karena memakai gamis yang cukup panjang dan hampir menyentuh lantai. Ia berjalan cukup jauh baru menjawab pertanyaan Abimanyu. “Nggak kak, Aisyah lagi di MP. Barusan meeting sama pihak penerbit, memang kenapa?” tanya Aisyah. Abimanyu ber-oh panjang, “Kirain di rumah. Kakak sudah hubungin Bunda sama Ayah tapi nggak ada yang angkat. Kakak mungkin ke Makassar besok, mau minta bunda buatin kue, lagi pengen banget dari kemarin.” “Mau kue apa kak? Nanti biar aku yang kasih tau bunda.” Ucap Aisyah. Abimanyu menolak, “Jangan ah, nanti kamu bilang yang aneh-aneh lagi. Biar kakak aja yang kasih tau bunda sendiri. Udah dulu, dek… kakak mau meeting.” Ucap Abimanyu. Mereka mengakhiri panggilan satu menit kemudian setelah Abimanyu berpesan kepadanya untuk menyetir dengan hati-hati karena kota Makassar sangat rawan terjadi kecelakaan apalagi saat arus kendaraan padat-padatnya. Aisyah memutuskan keluar dari mall itu, ia menuju salah satu pusat perbelanjaan yang hanya menjual prabot rumah tangga dan alat elektronik. Di sana, Aisyah hanya membeli pengering rambut lalu keluar, ia ngerutkan kening ketika  keluar di tempat parkir. Cuacanya sangat panas dan kendaraan sangat ramai, ia sedikit menyesal pergi ke tempat ini sendiri. Aisyah terkendala karena tidak bisa mengeluarkan mobilnya ke jalan raya. “Mau ku bantu?” suara itu muncul dari arah belakang. Aisyah terkejut oleh Fauzan, pria itu sedang berada di dalam mobil. Di samping pria itu terdapat seorang gadis yang tersenyum ke arahnya. Fauzan memarkirkan mobilnya terlebih dahulu lalu turun dari mobil. “Kemarikan kunci mobilmu,” ucap Fauzan. Aisyah menyerahkan kunci mobilnya dengan perasaan tidak enak, melihat betapa baiknya pria itu membuatnya sedikit bersalah langsung meninggalkannya tadi saat di dalam mall. Fauzan langsung mengeluarkan mobilnya dengan mudah, bahkan hanya butuh beberapa menit hingga mobilnya sudha ada di tepi jalan di depannya. Aisyah berjalan mendekati pria itu ingin beterimakasih. “Terimakasih.” Ucap Aisyah lalu meminta kunci mobilnya. Fauzan mememberikan kunci mobil itu tetapi ketika Aisyah ingin mengambilnya, Fauzan kembali menarik kunci itu lalu menggeleng pelan sembari tersenyum. “Makan siang denganku, yuk.” Ajak Fauzan. “…dengan adikku juga. Setelah itu aku akan mengembalikan kunci mobilmu.” Aisyah terlihat menimbang-nimbang ajakan pria itu, untuk membalas perbuatan baik Fauzan yang telah menolongnya. Aisyah akhirnya menyetujui ajakan Fauzan. “Oke,” jawab Aisyah. Fauzan tersenyum senang, “Oke, tapi tunggu aku sebentar. Aku akan mengambil barang di dalam.” Aisyah mengangguk, ia lalu menepi dan berteduh di bawah pohon. Aisyah juga berkenalan dengan adik Fauzan yang bernama Indira. Adik Fauzan itu sedang berkuliah di salah satu kampus terkenal disini. Mereka bercakap-cakap untuk menghilangkan rasa canggung, Aisyah mengetahui ternyata Indira sudah semester empat dan tengah bersiap untuk ujian tengah semester. “Ayo,” Percakapan mereka terhenti ketika mendengar suara Fauzan yang ternyata sudah memasukkan benda yang ia ambil ke dalam mobilnya. Aisyah mengangguk pelan, ia berjalan ke arah mobilnya. Dari dalam mobil ia melirik mobil yang di bawa Fauzan sedang bersusaha keluar dari parkiran. Aisyah menempelkan ponselnya di dashboard mobil, ia terkejut melihat tiga panggilan tidak terjawab, setelah membuka sandi ponselnya, panggilan itu ternyata dari Ezra. ‘Perasaan aku tidak pernah mendengar ponselku bordering?’ batin Aisyah. Aisyah melirik mobil Fauzan yang sudah mendahuluinya, ia mengikuti mobil pria itu dari belakang denga kecepatan sedang. Aisyah menarik napas panjang lalu membuangnya. Aisyah memencet tombol dial untuk menghubungi Ezra, kali ini hanya panggilan suara. Panggilan pertamanya tidak di jawab oleh pria itu, Aisyah melihat jam yang ada di dashboard mobil. ‘Apakah dia tidur siang?’ tanya Aisyah dalam hati. Tapi tebakannya itu tidak mengurungkan niat untuk kembali menghubungi Ezra. Aisyah menunggu dengar sabar ketika panggilannya tidak di angkat, ia melebarkan matanya ketika suara monoton itu berubah berganti dengan suara serak Ezra. “Hallo, Ay.” Ucap Erza dengan suara serak seperti baru bangun tidur. Aisyah menahan senyum ketika mendengar suara serak Ezra, “Kamu sedang tidur?” Berikutnya Aisyah hanya mendengar suara aneh yang tentunya berasal dari Ezra, mungkin pria itu sedang meluruskan badan. “Aku ketiduran nunggu kamu nggak ngangkat panggilanku. Ngantuk juga sih kena AC jadi ketiduran.” Ucap Ezra. Aisyah memperhatikan mobil Fauzan yang masih berada tidak jauh dari mobilnya, mereka sudah melewati beberapa persimpangan dan mobil itu masih melaju dengan kecepatan sedang. Aisyah bersyukur jika jarak restoran itu cukup jauh karena membuatnya bisa lebih lama berbicara dengan Ezra. “Ck, maafkan aku. Aku tidak mendengar panggilanmu masuk.” Ucap Aisyah menyesal. Tiba-tiba pendengaran Aisyah disuguhi dengan tawa renyah dari Ezra, “Tidak apa-apa, kita masih punya banyak waktu untuk berbicara, seperti sekarang. Omong-omong kau masih meeting?” “Sudah pulang, Za. Aku lagi mau makan siang,” jawab Aisyah. Aisyah cemberut ketika melihat mobil Fauzan memelankan laju kendaraannya. “Dimana?” Aisyah juga memasukkan mobilnya ke tempat parkir restoran itu. Ia mengambil ponselnya dari dashboard mobil lalu mengirimkan Ezra lokasi restorannya berada. Aisyah membuka seatbelt lalu mematikan mesin mobil, ia juga tidak lupa menurunkan suhu AC dan juga mengecek apakah tidak ada barang-barangnya yang tertinggal di dalam mobil. Setelah memastikan tidak ada, Aisyah keluar dari mobil lalu tidak lupa mengunci mobilnya. Ponselnya ia simpan di dalam tas. Ketika ia tidak mendengar sama sekali suara Ezra, ia pikir panggilan itu sudah terputus. … Ezra tidak sengaja memencet tombol senyap ketika ia pergi ke kamar mandi, ia kembali mengambil ponselnya lalu berbaring di kursi santai yang ada di balkon hotel. Ia menyambungkan ponselnya dengan airpods dan menemukan jika panggilan suaranya dengan Aisyah masih tersambung. Sayup-sayup Ezra hanya mendengarkan suara bising dan tabrakan antara benda-benda. Ia mengerutkan kening, menduga jika Aisyah menyimpan ponselnya di tas tanpa tahu jika panggilan mereka masih terhubung. Ezra mengaktifkan kembali tombol hening tadi. Ezra tersenyum kecil dan memutuskan untuk tetap tidak mematikan panggilannya dan mendengar apa yang Aisyah lakukan. Seyum Ezra hilang ketika mendengar suara seorang pria yang terdengar sangat jelas.  Kening Ezra berkerut, ia membesarkan volume agar bisa mendengar suara itu lebih jelas. Ia mendengar suara Aisyah sedang memesan makanan, jika ia tidak salah tebak, yang ia dengar ada tiga suara. Dua suara perempuan dan satu pria. Suara pria itu tidak pernah ia dengar sebelumnya, karena Ezra sudah pernah mendengar suara kakak kandung Aisyah dan juga Ayahnya ketika sedang berbicara dengan Aisyah. “Aisyah, setelah ini kamu akan kemana?” tanya sebuah suara. Ezra menunggu suara Aisyah terdengar tetapi ia tidak kunjung mendengarnya. Aisyah tidak biasanya begini, jika ia bertanya maka gadis itu akan cepat meresponnya. Ezra mendengar Aisyah bergumam, “…mungkin pulang.” Sejenak, Ezra tersenyum miring. Ia senang dengan jawaban Aisyah yang singkat itu. Entah kenapa perasaannya bilang jika Aisyah tidak menyukai pria yang sedang makan bersamanya. “Oh, aku kira kamu masih mau jalan-jalan lagi setelah ini.” Ezra mengencangkan rahangnya ketika mendengar suara pria asing itu. Hatinya tidak rela Aisyah makan bersama seorang pria, walaupun tidak hanya mereka berdua di sana. Aisyah berdehem, “…Nggak. Sebenarnya niat makan di rumah, karena udah capek banget keliling dari tadi pagi.” Ezra meledak dalam tawa, ia tertawa puas ketika mendengar jawaban Aisyah. Good girl!  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN