Takdir Allah 37 - Warm Hug

1732 Kata
Ezra masih berdiri sembari memegang kartu atm yang tadi ia berikan kepada Aisyah sembari menggendong boneka beruang berwarna coklat. Ia sama sekali tidak berpikir akan di beri boneka, ini pertama kali dalam hidupnya diberi boneka oleh seorang gadis. Ezra masuk ke dalam apartemennya setelah melirik pintu apartemen Aisyah untuk terakhir kalinya. Ia meletakkan boneka beruang itu di atas sofa. Lalu memasukkan kartu atmnya ke dalam dompet. Aisyah tidak menggunakan kartu itu karena ia sama sekali tidak menerima notifikasi yang biasa masuk ke ponselnya setelah melakukan proses transaksi. Ezra masuk ke kamar dan tidur satu jam kemudian akibat asyik menonton youtube. Ezra terbangun ketika mendengar suara bel apartemennya berbunyi. Dengan setengah sadar, Ezra bangun dan berjalan untuk membuka pintu. Ia mengucek matanya yang masih tertutup ketika melihat layar intercom yang menunjukkan wajah Aisyah yang sepertinya sedang terburu-buru. Ezra membuka pintu, seketika terdengar suara tangis Aisyah. Rasa kantuk Ezra menguap begitu saja, ia langsung bersiaga. Maju satu langkah untuk memastikan Aisyah baik-baik saja. Ezra melihat lorong apartemen mereka, lega ketika tidak menemukan seseorang yang mencurigakan. Lalu, pandangannya tertuju kepada Aisyah yang sedang menangis sembari memegang ponsel. Beruntung gadis itu keluar menggunakan jilbab panjang yang Ezra ingat hanya dikenakan saat shalat, ia lupa apa sebutannya. “Ay, kamu kenapa? Apa terjadi sesuatu? Katakan padaku!” tanya Ezra. “Aku…aku…pulang…aku,” ucap Aisyah terbata. Ezra membawa Aisyah masuk ke apartemennya, ia membiarkan pintu terbuka dan mengganjalnya dengan sepatu. Ezra tidak peduli jika ACnya tidak akan berfungsi untuk mendinginkan ruangan. Sekarang yang utama adalah Aisyah. Ezra begerak cepat, ia ke dapur untuk mengambil segelas air untuk diberikan kepada Aisyah. “Minum!” ucap Ezra tegas. Aisyah patuh, ia menaruh ponselnya lalu mengambil air yang diberikan Ezra. Gadis itu hanya meminum separuhnya, ia mengambil napas panjang lalu menghembuskannya kembali, berulang beberapa kali. “Ada apa? Ceritakan pelan-pelan.” Aisyah menatap Ezra, masih gemetaran akibat efek kaget yang ia rasakan. Aisyah bercerita masih dengan kata yang terpatah-patah, tidak lengkap karena kurang fokus. Dari yang Ezra tangkap, Aisyah baru saja mendapat panggilan telepon yang mengatakan jika Ayahnya kecelakaan dan masuk rumah sakit dalam keadaan tidak sadarkan diri. “Kamu yakin itu benar?” tanya Ezra memastikan. Aisyah mengangguk cepat, dengan tangan bergetar ia mengambil ponsel yag ia letakkan di atas meja. “Om…Omku—yang menghubungiku. Dia yang,” Ucapan Aisyah terpotong karena Ezra mengambil ponsel Aisyah. Ezra mengecek panggilan telepon itu dan memang benar tertera  ‘Om Zulkarnain’ di panggilan masuk terakhir. “Kamu sudah hubungi balik?” tanya Ezra lagi. Aisyah mengangguk dengan cepat, tangannya kembali bergetar dengan napas tidak teratur dan tatapan yang  tidak fokus. “…tapi tidak di angkat,” jawab Aisyah dengan suara serak. Aisyah kembali menangis sesungukan, Ezra sangat benci mendengarnya. Ia mengutak-atik ponsel Aisyah mencari nama yang bisa dihubungi. “Boleh saya pakai ponsel kamu?” Aisyah mengangguk, ia tidak dapat mengendalikan dirinya. Aisyah benar-benar terkejut begitu mendapat panggilan telepon tengah malam oleh Omnya sendiri. Ia memang sudah diperingatkan Omnya agar tetap tenang dan tidak panik. Tetapi, setelah panggilan itu berakhir ia mendapat serangan panik. Bayangan Ayah akan meninggalkannya menghantam akal sehat Aisyah begitu cepat. Dengan sisa-sisa kesadarannya ia mengambil mukenah yang ia lipat di samping tempat tidur, berlari menuju apartemen Ezra. Aisyah sudah menahan diri sangat keras agar tidak langsung pergi ke bandara untuk naik pesawat langsung menuju Indonesia. Ia ke apartemen Ezra karena hanya pria itu yang lagi-lagi bisa membantunya sekarang. “Kak Abi itu siapa kamu?” tanya Ezra. Aisyah mendongak, menatap Ezra dengan tatapan kosong, “Kakakku, kakak kandung.” Ketika Ezra menerima informasi itu, ia segera memencet tombol dial. Perlu usaha beberapa kali agar yang punya ponsel itu menganggkat panggilannya. Ezra mengumpat ketika hanya mendengar nada jika ponsel itu tersambung tetapi tidak di angkat oleh kakak Aisyah. Dari jauh, Aisyah menatap Ezra dengan berharap-harap cemas. Ia berharap jika informasi yang diberikan oleh Omnya itu hanya kesalahan atau dia hanya bermimpi buruk sekarang. Tapi, tidak, ia tidak sedang bermimpi. Semua ini nyata. “Halo, Assalamualaikum, Aisyah!” Aisyah terlonjak di tempat duduknya, ia langsung berdiri ketika mendengar suara Abimanyu. Keringat dingin keluar dari sekujur tubuhnya, takut akan informasi yang akan ia dapatkan dari Abimanyu. “Kak! Ayah! Apa,” ucapan Aisyah terpotong, demi mendengar suara Abimanyu. “Dek, kakak tahu, oke! Kamu tenang, kakak sekarang dalam perjalan ke rumah sakit. Bunda sudah duluan sama Om Zul. Nanti, kakak kabari lagi.” Suara Abimanyu kemudian menghilang bersamaan dengan diputuskannya panggilan suara itu. Dunia Aisyah seolah-olah baru saja runtuh. Ia limbung ke samping, beruntung ia masih dapat berpegangan pada dinding untuk menahannya agar tidak jatuh. Tangan Ezra yang refleks ingin menangkap gadis itu hanya menggapai udara. Ia menahan dirinya agar tidak menyentuh Aisyah. Perlahan-lahan, tubuh Aisyah merosot ke lantai, kembali menangis. Aisyah mememeluk lututnya dengan kedua tangan, sembari menyembunyikan wajahnya. Ezra sangat tidak tega melihat Aisyah dalam keadaan seperti itu. Ezra menghela napas panjang, bersandar ke dinding. Ia melihat jam dinding yang menunjukkan tepat pukul tiga pagi. Kantuknya benar-benar hilang, ia menggenggam ponsel Aisyah sangat erat, belum mengembalikan benda pipih itu kepada Aisyah. Ia juga ikut mendengar suara kakak Aisyah tadi, dari suaranya ia sangat tahu bahwa dia sedang terburu-buru dan juga dikejar waktu. Maka dari itu, terpaksa memutuskan panggilan. Aisyah tiba-tiba berdiri, gadis itu berjalan keluar dari apartemen Ezra. Seperti di hipnotis, Aisyah tidak berbicara sama sekali, pandangan matanya kosong. Ezra mengira jika Aisyah benar-benar sangat terpukul dnegan berita mengejutkan itu.  Aisyah masuk ke apartemennya, membiarkan pintunya terbuka untuk Ezra. Tetapi, Ezra berhenti melangkah di depan pintu. Ia tidak ingin masuk ke apartemen Aisyah, teringat akan pesan Mamanya. Bukan hanya teringat dengan pesan dari Mamanya, Ezra juga menghargai Aisyah. Gadis itu bukanlah gadis yang membiarkan laki-laki masuk ke apartemennuya sembarangan walaupun mereka saling mengenal satu sama lain. Ezra tetap berdiri di depan pintu, tidak bergerak sedikitpun. Walaupun suara langkah kaki Aisyah sudah hilang karena semakin menjauh. Pertahanan diri Ezra hancur ketika mendengar suara benda terjatuh dari dalam apartemen, ia masuk dengan setengah berlari-takut terjadi apa-apa dengan Aisyah. “Astaga! Aisyah!” Betapa terkejutnya ia ketika melihat Aisyah berada di lantai dengan dua buah koper tepat jatuh di menimpa tubuh gadis itu. belum lagi kursi yang sudah terbalik tepat di depan lemari membuatnya jengkel bukan main. Aisyah merasakan ngilu di kaki kanannya, ia baru saja terjatuh akibat pijakan yang tidak pas saat turun dari kursi membuat kursi itu miring dan berhasil membuatnya jatuh. Aisyah mencoba berdiri, mengabaikan sakit luar biasa di pergelangan kakinya lalu membuka lemari. Ia membuka koper lalu memasukkan beberapa pakaiannya dengan terburu-buru dan tidak rapih. “Aisyah, tenangkan dirimu! Aisyah!” Aisyah tidak memperdulikan panggilan Ezra, yang ada dipikirannya hanya Ayahnya yang sedang terbaring di rumah sakit dengan kondisi yang belum ia ketahui. Aisyah hanya ingin pulang secepatnya untuk melihat Ayahnya. “Aisyah!” panggil Ezra. Aisyah tetap mengabaikan pria itu. berjalan tertatik membuka pintu lemari lain. “Aisyah!” bentak Ezra. Tubuh Aisyah membeku ketika mendengar suara Ezra yang sangat keras. “Tenangkan dirimu! Kau harus berpikir jernih!” Ezra tidak habis pikir dengan Aisyah, gadis itu berjalan dengan kaki bengkak akibat jatuh dari kursi. Memaksakan dirinya untuk melangkah padahal tahu jika kakinya sakit. “Aku mau pulang, Za.” Ucap Aisyah dengan suara serak hampir terdengar seperti bisikan. Ezra melangkah mendekat, “Aku tahu, Ay. Tapi, pulang tidak semudah itu, kamu harus tenangkan diri kamu dulu.” “Bagaimana aku bisa tenang, Za? Ayahku ada di rumah sakit, dalam keadaan tidak sadar!” suara Aisyah meninggi. Ezra menggeleng tidak percaya, Aisyah benar-benar lepas kendali. Ezra sabar menghadapi Aisyah, karena tahu jika gadis itu dalam keadaan sangat panik. Ia berada sangat jauh dengan keluarganya yang berada di Indonesia. ‘(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.’ QS Ar-Ra’d Ayat 28 28. Orang-orang yang Allah beri petunjuk adalah orang-orang yang beriman, hati mereka merasa tenang dengan mengingat Allah, bertasbih dan bertahmid kepada Allah, membaca dan mendengar Kitab-Nya, ingatlah bahwa ketenangan hati diwujudkan dengan mengingat Allah, sudah selayaknya ia demikian. Napas Aisyah memburu, ucapan selanjutnya sudah ada di ujung lidah. Tapi ia tidak bisa mengucapkannya, Aisyah merasa tangisnya akan kembali pecah.  “Bagaimana jika—bagaimana jika Ayahku pergi tanpa melihat kepulanganku?” Kalimat itu meluncur cepat dari bibir Aisyah, membuat pertahanan dirinya runtuh seketika. Aisyah kembali menangis, kali ini suara tangis Aisyah sangat menusuk hati Ezra. Membuatnya seperti merasakan kesedihan gadis itu. Ezra mengetatkan rahangnya, ia melihat Aisyah menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Ezra menahan sekuat tenaga, ia bahkan mengepalkan tangannya kuat-kuat, tapi egonya lebih besar dari pada kesadarannya. Satu detik kemudian, Ezra menarik Aisyah ke dalam pelukannya. Membiarkan gadis itu menangis di dalam pelukannya, sementara Ezra mengelus kepala Aisyah, mencoba menenangkan gadis itu. “Sshhh… sudah. Jangan menangis lagi, Ayahmu pasti baik-baik saja.” Ucap Ezra lembut. “Za, bagaimana jika ayahku,” Suara Aisyah terdengar teredam akibat pelukan Ezra. “Tidak, Ay. Ayahmu akan baik-baik saja. Percaya padaku,” Aisyah mulai tenang mendengar kata-kata Ezra, pelukan pria itu sangat hangat membuatnya berhenti memikirkan hal-hal aneh. Pelukan hangat seperti ketika ia memeluk Ayahnya, menenangkan. Aisyah berhenti menangis, saat itu juga Ezra melepaskan pelukannya. Baju Ezra basah akibat air mata Aisyah. Tapi, ia tidak memusingkan itu. “What you fell, now?” tanya Ezra. Aisyah mendongak, mentap Ezra. Matanya yang bengkak cukup membuat Ezra menyunggingkan senyum kecil. Tetapi, sukses membuat Aisyah cemberut. Ia menoleh melihat pendampilannya yang sangat kacau. “Better,” ucap Aisyah masih dengan suara serak. Ezra membantu Aisyah duduk di tepi ranjang, ia menyuruh Aisyah menunggunya sebentar. Ezra keluar dari apartemen Aisyah, kembali ke apartemennya untuk memakai sarung tangan. Ia kembali dengan memakai sarung tangan lalu jongkok tepat di depan Aisyah. Ezra ingin memeriksa kaki Aisyah yang sepertinya keselo. “Kenapa kamu pakai sarung tangan?” tanya Aisyah. Ezra tersenyum, “Biar aku nggak langsung menyentuh kulit kamu. Sekarang, aku akan memeriksa kakimu, sepertinya memang keseleo.” Aisyah meringis pelan ketika Ezra menyentuh pergelangan kakinya. Ia merasakan jika tempat yang Ezra pegang berdenyut sakit. Aisyah refleks memundurkan kakinya agar tidak di sentuh oleh Ezra. “Sakit, Za!” protes Aisyah ketika Ezra kembali memegang kakinya. Ezra tetap memegang kaki Aisyah, “Kamu tahan, ya! Jangan begerak! Memang sakit, tapi setelah ini akan berhenti.” Aisyah mengangguk ragu, ia memejamkan matanya erat. Merasa jika Ezra memengang kakinya perlahan, krak! Aisyah membuka lebar matanya, sakitnya sangat luar biasa sampai ia hanya bisa terkejut sembari menatap Ezra. “Sekarang, coba goyangkan kakimu.” Ezra mundur satu langkah kebelakang. Aisyah terkejut begitu tidak merasakan sakit sama sekali. Ia berdiri dan berjalan beberapa langkah, takjub karena rasa sakitnya hilang. Seperti tidak pernah ada sebelumnya. “Terimakasih sudah menolongku,” ucap Aisyah. Ezra mengangguk, ia senang bisa membantu Aisyah. Sebagai seorang teman, ia sangat bersyukur jika Aisyah mau meminta bantuannya. Bahkan ia rela tidak tidur demi membantunya. “Sama-sama. Nah, sekarang. Lakukan apa yang ingin kau lakukan, tapi ingat. Berhati-hatilah. Aku akan kembali ke apartemenku untuk mengambil ponselmu yang tertinggal di sana.” Ucap Ezra lalu melangkah keluar dari apartemen Aisyah. Ezra masuk ke apartemennya lalu menutup pintu, ia mencari ponsel Aisyah yang seingatnya ia taruh di ruang tamu. Setelah berkeliling, Ezra menemukan benda pipih itu berada di atas sofa. Ia memutuskan untuk membersihkan diri karena langit sudah cukup terang, sebelum kembali mengunjungi gadis itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN