“Apa yang semua orang lakukan di dalam tadi?” tanya Ezra.
Aisyah seketika langsung mengerti, “Shalat. Hal yang sama seperti yang kamu lihat saat di apartemenku dulu.”
“Eh, bersama laki-laki? Kupikir shalat itu sendiri-sendiri?”
Aisyah mengerucutkan bibirnya sembari berpikir, ia sangat pusing hingga ingin kembali memesan makanan. Tapi, Aisyah membatalkannya ketika melihat pengunjung café itu semakin ramai.
“Kamu pasti kurang memperhatikan, Za. Pintu masuk dan keluar antara laki-laki dan perempuan di pisah. Laki-laki lewat pintu di depan sedangkan untuk perempuan keluar melalui pintu belakang. Sebaik-baiknya shalat adalah shalat berjamaah dengan yang lain, Za. Semua orang tadi di dalam sana, mungkin ada yang baru saja ingin melakukan shalat duhur seperti aku, tapi ada juga yang menunggu waktu shalat Ashar dan karena ketinggalan maka masing-masing shalat sendiri.” Terang Aisyah.
Shalat merupakan salah satu dari rukun Islam. Oleh sebab itu dengan kedudukan shalat sebagai asas Islam, sangat penting bagi seorang Muslim dalam memperhatikan urusan shalat. Sebagaimana Rasulullah SAW menegaskan pentingnya shalat, terlebih shalat berjamaah.
Dari Ibnu Umar ra, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Shalat berjamaah 27 derajat lebih utama daripada shalat sendirian.” (HR. Malik, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Nasa’i-At-Targhib).
Dikutip dari buku yang berjudul “Himpunan Fadhilah Amal” karya Maulana Muhammad Zkariyya al-Kandahlawi Rah.a. bahwa dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, ‘Shalat seorang laki-laki dengan berjamaah digandakan 25 kali dibanding shalatnya di rumahnya atau di pasarnya. Demikian itu karena jika seseorang berwudhu dengan sempurna, lalu pergi ke masjid semata-mata untuk shalat (berjamaah), maka ia tidak melangkah satu langkah kecuali ditinggikan baginya satu derajat dan dihapuskan baginya satu kesalahan.
Jika ia shalat, maka malaikat selalu bershawalat untuknya selama ia di tempat shalatnya tanpa berhadats, ‘Ya Allah, limpahilah kesejahteraan baginya. Ya Allah, rahmatilah ia.’ Dan ia dianggap terus-menerus shalat selama menunggu shalat.’ (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah-At-Targhib)
Telah disebutkan dalam hadist pertama bahwa keutamaan shalat berjamaah adalah 27 derajat lebih utama daripada shalat sendirian. Sedangkan, dalam hadis ini disebutkan hanya 25 lima kali. Banyak ulama yang membicarakan hal ini sehingga tampaknya bertentangan. Adapun penjelasannya adalah; Perselisihan antara 25 dan 27 adalah menurut perbedaan dari setiap keadaan. Sebagian ulama berpendapat bahwa perbedaan ini terdapat dalam shalat Sirri (Zhuhur dan Ashar), yaitu berpahala 25 kali, sedangkan shalat Jahri (Subuh, Maghrib, dan Isya) berpahala 27 kali.
Sebagian ulama juga berpendapat bahwa pahala 27 derajat itu untuk shalat Isya dan Shubuh. Sebab, shalat berjamaah pada kedua waktu tersebut lebih berat daripada shalat lainnya. Sebagian ulama menerangkan bahwa berdasarkan hadis lain, Allah SWT senantiasa menambah kenikmatan umat ini, bisa saja dari 25 pahala ditambah menjadi 27 pahala.
Adalagi sebuah penjelasan yang lebih menakjubkan, bahwa hadist mengenai pahala 25 itu bukan sebagai tambahan, tetapi sebagai kelipatan 25. Dengan hitungan ini, maka satu shalat akan menghasilkan pahala 33.554.432 derajat. Bagi Allah SWT pahala sejumlah itu bukan apa-apa, dan jika dihubungkan dengan shalat yang ditinggalkan dengan dosanya satu huqub (waktu yang sangat panjang) atau setara dengan 80 tahun.
Ada sebuah kisah dari Muhammad bin Sima’ah rah.a, beliau adalah ulama masyhur yang merupakan murid dari imam Muhammad rah.a dan Abu Yusuf rah.a. Beliau meninggal pada usia 103 tahun. Dalam usia setua itu ia masih mampu shalat sunah dua rakaat setiap hari. Selama empat puluh tahuh ia tidak pernah tertinggal takbiratul ula bersama imam kecuali satu kali, yaitu ketika ibunya wafat.
Ia berkata, “Suatu ketika, saya tertinggal shalat berjamaah. Untuk menembus pahala sahalat berjamaah 25 derajat, saya shalat 25 kali. Kemudian di dalam tidur saya bermimpi ada seorang yang berkata kepada saya, “Wahai Muhammad, walaupun engkau shalat 25 kali, engkau tetap tidak akan mendapat amin malaikat.”
Maksud amin malaikat adalah sebagaimana yang telah dijelaskan dalam banyak hadits, bahwa jika imam selesai membaca Al-Fatihah lalu membaca amin, maka para malakat ikut mengamininya. Dan jika seorang makmum membaca amin bersamaan dengan amin para malaikat, Allah akan mengampuni seluruh dosanya.
Maulana Abdul Hay rah.a mengatakan, bahwa kisah di atas menunjukkan pahala shalat berjamaah tidak dapat disaingi oleh pahala shalat sendirian, walaupun dengan shalat seribu rakaat. Amin malaikat, pahala mengikuti jamaah, apalagi diambil dengan doa mereka setelah shalat berjamaah akan menghasilkan pahala yang sangat besar.
“Shalat berjamaah (beramai-ramai) dengan banyak orang, adalah wajib untuk kaum laki-laki di dalam Islam. Hal yang berbeda untuk seorang wanita, seorang wanita tetap bisa shalat berjamaah di masjid tetapi lebih baik untuk shalat di rumah.” Terang Aisyah.
“Kenapa?”
“…aku belum mendalami banyak tentang ini, Za. Tapi, setahu aku, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seorang wanita untuk shalat dimasjid, ini berlaku untuk semua perempuan yang ingin shalat di masjid. Tidak boleh memakai harum-haruman, atau parfum yang dapat dicium oleh lawan jenis. Itu tidak diperkenankan karena dapat menimbulkan rasa tertarik, sehingga tujuan utama ke masjid terlupakan.” Terang Aisyah.
Aisyah ingat, sewaktu ia masih bersekolah. Saat itu bulan Ramadhan, ia sangat rajin pergi ke masjid. Baru jam lima sore, ia sudah selesai bersiap-siap dan langsung ke masjid, ketika keluar dari kamar wangi parfum Aisyah tercium ke seluruh rumah.
Ketika itu juga, Zakaria menegur Aisyah. Melarangnya untuk pergi, Aisyah tidak mau menurut dan berbalik marah kepada Ayahnya. Zakaria marah besar, ia memarahi Aisyah yang memakai parfurm, dari situ ia tahu jika parfurm yang tidak boleh dicium oleh lawan jenis karena dapat membuat wudhu batal yang mengakibatkan shalat tidak sah. Jika, memilki niat ingin ke masjid maka hanya untuk shalat, tidak ada yang lain.
“Janganlah kalian melarang istri-istri kalian untuk ke masjid, namun shalat di rumah mereka (para wanita) tentu lebih baik.” (HR. Abu Daud. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
“Aku kemarin pernah bertanya dan kamu menjawab jika melaksanakan shalat bukanlah sebuah beban, kan?” tanya Ezra.
Aisyah mengangguk, mengiyakan pertanyaan Ezra.
“Bagaimana dengan sekarang?”
“Masih sama, Za. Sekarang malah lebih ringan, aku merasa ada yang hilang jika tidak melaksanakan shalat. Dulu, memang itu sangat berat, apalagi saat pertama kali. Shalat subuh? Pas pertamakali selalu bolong-bolong, sekarang sudah tidak lagi karena aku sudah terbiasa. Aku menganggap shalat itu sebagai waktu yang telah disiapkan Allah untuk mengatakan segala kelu kesah yang di rasakan umatnya. Itu adalah kesempatan yang sangat berharga yang diberikan oleh sang Pencipta. Lima kali dalam sehari, hanya tuhan yang mampu mendengar curahan hati semua umatnya. Siapa yang besedia meluangkan waktunya mendegarkan curahan hati semua orang lima kali sehari di waktu yang bersamaan?”
“Ya, pasti adalah. Sahabat dekat? Orangtua? Mereka pasti mau.”
“Apa kamu yakin? Apa kamu menceritakan semua apa yang kamu rasakan kepada orangtuamu tanpa menyembunyikan satupun? Pasti tidak kan?” tanya Aisyah, ketika melihat Ezra terdiam ia tahu tebakannya benar, “…sedangkan tuhan tanpa diberitahupun ia sudah tahu isi hati kita. Satu hal yang perlu kamu tahu, Za. Cukup penting, Allah itu sebenarnya tidak memerlukan ibadah dari hamba-Nya, karena mau kita beribadah ataupun tidak, tidak akan berpengaruh untuk Allah, bahkan mengurangi kekuatannya pun tidak sama sekali, karena Allah Maha berkuasa dan Maha Perkasa.”
“Lalu kenapa umat islam diberi perintah untuk melakukan shalat? Seharusnya itu tidak perlu.”
Aisyah menghembuskan napas pelan, “Karena hanya manusia yang butuh dengan Allah, buka Allah yang butuh manusia. Seperti yang kukatakan tadi, karena Allah memberikan kesempatan kepada umatnya untuk mencurahkan semua keresahan yang ia rasakan. Saya beribadah karena saya butuh petunjuk dan perlindungan dari Allah, karena tanpa Allah saya bukanlah apa-apa.”
…
Mereka memutuskan untuk pindah tempat karena sudah duduk di dalam café itu terlalu lama. Mereka melangkah berdampingan dengan jarak tidak terlalu jauh, Aisyah masih suka mengamati sekitar.
Banyak barang-barang baru yang ia lihat. Aisyah melirik Ezra yang masih mengikuti langkahnya kemanapun ia pergi. Aisyah masuk ke sebuah toko yang menjual beberapa benda lucu, Miniso.
Tatapan Aisyah tertuju pada boneka beruang yang tengkurap. Ia melirik beruang itu dan Ezra berulang kali lalu tersenyum kecil, memutuskan untuk mengambil satu dan menggendongnya sembari berkeliling.
Ezra yang pertama kali melihat Aisyah berkeliling di mall hanya mengikutinya dari belakang. Ia juga pertama kali masuk ke toko yang menjual banyak barang yang menurutnya mungil dan menggemaskan.
Begitu Ezra melihat Aisyah mengambil satu beruang, senyumnya melebar karena beruang itu terlihat sangat besar ketika dibawa oleh Aisyah. Ezra terus saja memperhatikan gadis itu, ketika ia melihat barang di etalase dan mengambil keranjang kecil untuk di bawa.
“Kemarikan beruangnya, biar aku yang bawa.” Ucap Ezra.
Aisyah dengan senang hati memberikan beruang itu kepada Ezra. Ia berjalan mendahului pria itu menuju rak-rak yang penuh dengan barang-barang imut. Astaga! Kenapa Aisyah tidak pernah melihat toko ini sebelumnya.
Aisyah mengambil dua buah gelas yang memiliki gambar berbeda. Satu berwarna coklat dan satu berwarna putih. Aisyah hanya mengambil beberapa barang, ia hanya asik berkeliling karena ingin melihat benda-benda lain. Ketika ingin pergi ke kasir, Aisyah melihat boneka beruang putih, ia megangnya dan memutuskan untuk memperlihatkannya kea rah Ezra.
“Lucu ya?” tanyanya dengan wajah senang.
Mau tak mau, Ezra mengangguk. “Iya, lucu. Couple sama yang ini.”
Ezra ikut mengangkat boneka yang sedari tadi ia peluk. Beberapa orang yang melihatnya tertawa kecil. Aisyah memilih-milih boneka dan ketika menemukan yang ia suka, boneka beruang putih itu ia berikan kepada Ezra.
“Pegang ya, jangan sampai jatuh.” Ucap Aisyah dengan nada mengancam, lebih ke imut menurut Ezra.
Walaupun toko itu sangat luas dan Aisyah tidak jadi pergi ke kasir, Ezra tidak lelah berkeliling. Persaaannya menjadi ringan saat berkeliling bersama Aisyah setelah membahas hal yang membuatnya berpikir sangat keras tadi.
Aisyah akhirnya berjalan menuju kasir setelah memutari toko itu sebanyak tiga kali. Gadis itu menambahkan banyak barang di keranjangnya. Ia terlihat senang ketika berjalan ke kasir, gadis itu mengantri sembari bersenandung pelan.
Sementara Ezra berdiri tepat dibelakang Aisyah dengan salah tingkah. Ia terlihat cukup aneh menggendong dua buah boneka yang berbeda warna. Aisyah yang sadar jika pengunjung menatap Ezra, berbalik dan tersenyum senang.
“You look cute,” ucap Aisyah.
Ezra menaik turunkan alisnya, “Yes, am I.” puji Ezra kepada dirinya sendiri.
“Aish!” Aisyah berbalik ke depan, menyesal mengatakan jika Ezra terlihat lucu.
Butuh sepuluh menit untuk mengantri, “Ini,” Ezra memberikan kartunya kepada Aisyah.
Aisyah yang diberikan kartu secara tiba-tiba hanya memdang Ezra tidak mengerti. Tetapi, ketika membayar, Aisyah menggunakan kartunya sendiri sementara kartu Ezra ia sembunyikan agar pria itu tidak tahu.
Tujuannya berbelanja hanya untuk melepaskan penat, ia masih sangat sanggup membayar belanjaannya. Mereka berjalan keluar dari toko, Aisyah membawa satu kantong pelastik dan satu boneka beruang, sementara Ezra membawa boneka beruang cokelat yang satunya.
Mereka sampai di lantai satu, di lobi mall.
“Tunggu di sini, aku akan mengambil mobil.” Ucap Ezra.
Aisyah menggeleng, “Tapi, Za. Aku bisa pulang sendiri.”
“Nggak, biar aku yang antar kamu pulang. Aku sudah membuatmu pusing seharian, jadi biarkan aku mengantarmu kali ini. Please.”
Aisyah mengangguk, ketika mendapat persetujuan dari Ezra. Pria itu menghentikan taxi dan segera menghilang di padatnya jalan raya. Dua puluh menit kemudian, Ezra kembali dengan membawa mobil. Aisyah menaruh barang-barang di belakang, dan mendudukkan kedua boneka itu bersama.
Setelah sampai di apartemen, Aisyah mengambil barang-barangnya dan memberikan boneka beruang berwarna coklat itu kepada Ezra.
“Eh?”
Aisyah membuka pintu apartemen, “Buat kamu. Hadiah dari aku, ini kartu atm kamu.”
Aisyah memberikan kedua barang itu lalu masuk ke dalam apartemennya, meninggalkan Ezra yang masih berdiiri mematung.