11. [Putus]

1171 Kata
Sayang boleh, tapi jangan terlalu possessif . . . Zara kembali kerumahnya dengan perasaan kesal, marah, bingung, kecewa, dan masih banyak lagi. Anjas yang berada diruang tamu mondar-mandir karena bingung kemana perginya Zara, saat melihat Zara, Anjas langsung menghampirinya. Tapi Zara hanya bungkam, dan malah terus berjalan menuju kamarnya. "Zara! Kamu dari mana saja? Ada yang perlu kita bicarakan!" Teriak Anjas, saat Zara terus berjalan dan mengacuhkan Anjas. Gak ada yang harus diomongin, Pa, Zara mau kok pindah ke sana. Batin Zara. Zara membanting pintu kamarnya. Dilemparnya tas keatas ranjangnya. Membuka sepatunya dengan cara paksa dan dilempar kesembarang arah. Menaruh tubuhnya diatas ranjang, menatap langit-langit dengan sendu. Kali ini Zara capek dengan sikap Gaffa, Gaffa sama sekali tidak ada berjuangnya. Dan mungkin, selama ini Zara hanya berjuang sendiri. Gaffa selalu cuek saat diajak bicara, hanya kadang-kadang dia sweet. Tapi lebih banyaknya cuek. Menurut Zara, Gaffa tidak sayang padanya, lalu kalau tidak sayang, kenapa ngatur dan posesif begitu? Apa ini hanya pelampiasan kekesalannya? "Gaf, kali ini... kayaknya gue capek. Gue mau istirahat aja, bahkan berhenti." Ucapnya dengan lirih. "Gue rasa, gue cuma pelampiasan mantan lo yang dulu," Ucapnya lagi bersamaan jatuhnya air mata Zara. Zara memejamkan matanya sejenak. Tok tok tok "Zara? Ini Mama. Buka dulu dong pintunya," Ucap Farah. Zara membuka matanya, kali ini ia benar-benar ingin berhenti saja. Dengan malas ia berdiri dan membuka pintu kamarnya. "Apa, Ma?" Tanyanya dengan serak. "Kamu kenapa nggak mau pindah kesana? Papa kamu udah siapin semuanya loh buat kamu," Ucap Farah dengan lembut. Zara menghela napas pelan, "Siapa bilang?" Farah mengerutkan keningnya, "Papa kamu, katanya kamu ngambek, terus turun dari mobil, kabur gitu kayak disinetron." "Nggak, itu cuma iseng aja. Mau ngerjain Papa." Jawabnya dengan datar. "Zara! Jangan begitu ah, kalau Papa kamu jantungan gimana?... Oke, jadi kamu mau nih pindah kesana?" Tanya Farah dengan begitu antusias. Zara mengangguk pasrah. "Akhhhhh!!! Sayang!" Farah memeluk Zara dengan erat. Dan Zara hanya diam tanpa membalas pelukannya. "Papa!!!! Anakmu mau pindah kesana!!!" Teriak Farah. Membuat Anjas langsung berlari keatas dengan kecepatan penuh. "Tidak bercanda kamu? Terus tadi drama apa sampai kabur-kabur dari mobil? Ngaku punya pacar? Hm? Itu hanya bercandaan?" Tanya Anjas. "Iya. Maaf, Pa. Abisnya terlalu dadakan kayak tahu bulet." Jawabnya dengan ekspresi datarnya. "Dasar! Jangan ulangin lagi yang seperti itu. Kualat isengin orang tua. Tau?" "Iya Papa." Gaffa berusaha menenangkan pikirannya sejenak saat hatinya panas melihat Zara dengan yang lain. Gaffa sampai dirumah dengan perasaan tak karuan. Lihat sendiri kan, saat Gaffa mengirimkan pesan itu pada Zara? Setelah ia mengirimkan pesan itu, hatinya gelisah, takut akan kepergian Zara. "Dia nggak akan kemana-mana kan?" Gumamnya saat berjalan menuju pintu rumahnya. "DORRRR!!!!" Gaffa terkejut bukan main. "Ahhh monyet!!!," Gaffa mengelus d**a bidangnya, "Qaila, jangan main kaget-kagetan gitu dong. Mas Gaffa kaget." Ucapnya seraya mengusap rambut anak ini. "Mas appa kok ngomong sendiri tadi?" Tanyanya dengan bahasa yang cadel. Gaffa berjongkok didepan Qaila. "Nggak papa, ini urusan anak gede. Qaila main lagi gih. Jangan main kaget-kagetan lagi!" Suruh Gaffa pada Qaila. Dan Qaila pun mengangguk lalu berlari kearah taman. Gaffa memasukki rumahnya tanpa membuka sepatunya terlebih dahulu. Ia masa bodo dengan suasana rumahnya, tapi ia sangat peduli kalau menyangkut keluarga dan orang yang ia sayang. "Mama!" Panggil Gaffa dengan sedikit keras. "Apa sayang?" Tanya Jazmin, yang sedang didapur. Gaffa menghampiri Jazmin yang sedang memotong buah-buahan untuk dijadikan salad. Gaffa memeluk sang ibu dari belakang. Membuat Jazmin bingung dan heran. "Kamu kenapa, Fa?" Tanya Jazmin. "Aku salah nggak sih, Ma, kalau aku jutek atau cuek sama cewek?" Jazmin terkekeh mendengarnya, "Kenapa? Kamu berantem sama Zara? Eh, kapan kamu ajak dia kesini lagi? Mama kangen tau. Bohong mulu kamu mah." Gaffa belum melepaskan pelukannya, "Gaffa sayang sama Zara, bahkan sayang banget. Tapi Gaffa nggak bisa kontrol emosi Gaffa kalau lagi cemburu. Dan Zara julukin Gaffa itu, Mr. Possessive." Jazmin membalikan tubuhnya menghadap Gaffa. "Ubah sikap kamu. Jangan buat dia capek karena terus-terusan sabar sama kamu. Dan kamunya malah cuek begini, kurang-kurangin posesifnya. Apa kamu mau, kalau Zara pergi jauh dari kamu? Atau malah kalian nggak bisa ketemu lagi?" "Jangan asal ngomong ah, Ma." Ketus Gaffa. "Ya makanya. Kamu jangan jutek-jutek sama Zara. Sana gih, kerumahnya. Minta maaf kalau salah, perbaiki sikap kamu, bilang kedia, kalau kamu mau berubah. Sana cepetan." Gaffa awalnya ragu, tapi Jazmin mendorong Gaffa untuk segera berangkat. Alhasil Gaffa berangkat kerumah Zara. 15 menit dalam perjalanan, Gaffa hanya melamun memikirkan bagaimana hubungannya nanti. Saat ia sampai digerbang tinggi milik Zara, langsung lah Gaffa menekan tombol bellnya. "Silahkan, Mas." "Terima kasih, Pak." Gaffa membawa motornya kedalam halaman rumah Zara. Menekan bel lagi didinding dekat pintu masuk. Menekan sebanyak 5 kali, tapi sama sekali tidak ada jawaban. Gaffa menghampiri Pak satpam yang sedang berjaga. "Pak, Zaranya kemana ya?" Pak Joko menepuk jidatnya, "Waduh! Saya lupa, Mas ganteng. Non Zaranya pergi, katanya mau bikin prot prot itu deh yang buat naik pesawat." "Passport?" Tanya Gaffa dengan kepanikan yang tiba-tiba muncul. "NAH! iya itu. Mereka mau pindah, Mas. Jauh sekali. Mulai lusa mereka udah kemas-kemas barang. Dan saya serta yang lain bakalan berhenti kerja dari sini." Jelas Pak Joko. "Bapak tau dimana alamat bikin passport?" "Ya saya nggak tahu, Mas. Mas kalau mau ketemu sama Non Zara, tunggu saja sebentar lagi, karena tadi Tuan Anjas bilangnya hanya sebentar." "Begitu ya? Yaudah deh, saya tungguin disini." Gaffa duduk dikursi milik Pak Joko. "Ini-" "Pinjem elah, Pak, pelit amat." "Y-yasudah pakai saja." Ucap Pak Joko dengan kurang ikhlas kursi plastiknya yang biasa ia duduki, malah diduduki Gaffa dan terpaksa ia berdiri. 45 menit berjalan. "Pak, ini masih lama apa?!!" Tanya Gaffa dengan kesal. Pak Joko tidak menjawab, melainkan malah tidur. "PAK!!! BANGUN WOII!" "Eh? Ada apa, Mas?" Ucap Pak Joko seraya mengerjapkan matanya. "Zara nya mana?!!!! Saya capek nunggu terus." Tin tin.. Pak Joko langsung bergegas membuka gerbangnya. Zara melihat Gaffa dari dalam mobil dengan perasaan yang tak karuan, Zara memalingkan wajahnya saat matanya saling pandang dengan Gaffa. "Itu siapa, Zara?, teman kamu?" Tanya Farah. "Iya temen aku, aku turun sini deh. Mau nanya sama dia dulu." Zara membuka seatbelts nya, lalu turun untuk bertemu dengan Gaffa. Gaffa menatap Zara dengan perasaan bersalah, sedangkan Zara, masih bergelut dengan perasaan sakit hati dan kacau. "Gua mau-" "Sini." Ajak Zara. Zara membawa Gaffa ke halaman belakang rumahnya. "Ngapain kesini?" Gaffa memegang pundak Zara, "Gua sayang lo, Zar. Gua gampang marah, posesif, baperan, itu karena gua nggak suka lo bareng sama cowok lain selain gue. Gua nggak mau kehilangan lo!" "Masa?" Tanya Zara dengan meledek. "Zar, percaya deh. Gua sayang sama lo. Gua janji, gua akan rubah sikap cuek dan jutek gua ke elo. Plis, gua minta maaf, Zar." Ucapnya dengan tulus. "Gue capek. Gue nggak kuat, Gaf. Pengen berhenti aja. Gue rasa emang cuma gue yang berjuang selama ini." Gaffa menggeleng cepat, "Lo ngomong apa sih!!? Gua juga berjuang! Gua sayang sama lo!" Zara menarik napas perlahan, lalu dibuang, "A-aku, mau, kita, berhenti sampai sini aja." Setelah menatap mata Gaffa sebentar, Zara berlari meninggalkan Gaffa. "ZARA!!!!! JANGAN PERGI!!!!" Sejak kapan Gaffa bisa menangis? Possessif itu pasti ada alasannya, tapi juga jangan berlebihan ==== Selamat membaca
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN