10. [Menolak]

1217 Kata
Sayang boleh, tapi jangan terlalu possessif . . . "Papa gila?" Zara tampak kesal dan tak mau pindah ke Amsterdam dengan waktu yang singkat ini. "Papa serius, Zara. Kita akan tinggal disana selama 5 tahun, bahkan lebih. Pekerjaan Papa sekarang ada disana." Jelas Anjas. "Ya kalau gitu, Papa aja yang tinggal disana, Zara udah biasa ditinggal Papa sama Mama." Zara berusaha keras menolak. "Tidak bisa begitu, Zara. Kamu anak Papa satu-satunya, dan Papa nggak bisa ninggalin kamu disini hanya berdua sama Bi Eti." Zara mendengus kesal, "Pokoknya aku nggak mau ikut!" Anjas juga berusaha keras untuk Zara bisa ikut dengannya dan istrinya ke Amsterdam. "Tidak ada penolakan. Besok Papa akan kesekolah lagi untuk minta surat pindah kamu." Anjas mempercepat laju mobilnya. "Papa, JAHAT!" Zara menatap jendela mobilnya dengan kesal. Bagaimana caranya ia memberi tahu soal ini pada Gaffa? Apa Gaffa akan menerima ini? "Apa alasan yang membuat kamu masih mau menetap disini?" Tanya Anjas. Zara ingin jujur tapi ia takut kalau alasannya ini salah. "Zara nggak bisa pisah sama temen-temen Zara." Ucapannya perlahan-lahan mengecil. "Disana kamu akan ketemu temen baru lagi. Kamu nggak perlu khawatir." Tegas Anjas. "Zara punya pacar disini!" Zara tidak bisa memendam ini. Anjas mengerem mendadak ditengah jalan, untungnya saja jalanan sedang sepi. "Apa kamu bilang?" "Zara punya pacar, dan Zara nggak mau pisah sama dia." Keluh Zara. Mobil Anjas menepi, "Putusin!" Zara tertawa hambar, "Nggak bisa, ini hak aku." Zara membuka pintu mobilnya dan berlari kearah sebaliknya. "ZARA!!!!" Panggil Anjas seraya menoleh kearah belakang. Zara berjalan menelusuri jalan raya yang ramai. Entah ingin kemana sekarang, yang terpenting ia tidak mau pulang untuk hari ini. Hari masih siang, dan yang pasti teman-temannya belum pulang. Jam pulang sekolah pun masih lama. Zara menendang-nendang batu kecil yang berserakan dikakinya, perasaan bingung menyelimuti dirinya, Zara hanya bahagia disini, banyak yang peduli dengannya walaupun orang tuanya sibuk, bagaimana jika ia pindah? Orang tuanya bahkan semakin sibuk, Zara akan sendirian dirumah tanpa siapa-siapa, dan ini lebih menyakitkan. "Gue mau kemana ya?" Gumam Zara seraya melihat-lihat kendaraan yang sedang melaju. Drrtt drttt drrttt Zara melihat layar ponselnya, terlihat jelas Anjas menelpon Zara. Buru-buru Zara mematikan ponselnya dan dimasukkan kedalam saku roknya. Kini Zara benar-benar bingung. Tidak mungkin Zara menelpon Gaffa jam segini. Bisa-bisa dia ngamuk karena jam belajarnya terganggu. Zara merasa haus disiang bolong seperti ini, ia melipir untuk membeli minum sebentar. "Bu, Aquanya satu." "Dingin atau nggak neng?" "Dingin lah bu, panas-panas gini." Ucap Zara seraya mengipas wajahnya dengan tangannya. Penjual itu mengambil minumannya dan segera diberikan pada Zara, "Nih neng, tujuh ribu, ya." Zara memberikan uangnya, "Makasih, Bu." Segera Zara buka tutup botolnya dan langsung meminumnya dengan cepat. "Anjir, nih hari panas amat." Gumam Zara, yang sambil melanjutkan perjalanan bingungnya. Zara menghela nafas pelan, "Kaga ada cafe apa ya disini?" Disaat bersamaan, diujung jalan sana terlihat logo starbucks yang tak jauh dari sini, "Starbucks penyelamatku." Zara langsung menyebrang, dan berjalan menuju starbucks. Saat sampai disana, Zara tak mengira bahwa disana begitu ramai dengan para pekerja yang sedang bersantai serta mengobrop bersama. "Rame banget," Gumam Zara seraya melihat sekelilingnya. Zara berjalan menuju tempat pemesanan, "Mba, saya mau Dark caramel coffee sphere frappuccino blend satu, ya." "Atas nama siapa, Mba?" "Zara." "Silahkan ditunggu sebentar ya, Mba." Ucap Basrista starbucks-nya. Dan Zara pun mengangguk. Setelah selesai, Zara mencari kursi kosong, awalnya memang penuh, tapi ada satu kursi kosong yang didepannya ada cowok tampan sedang bermain ponselnya. "Ini nggak ada kursi kosong lagi ya? Malu ah kalo harus gabung sama yang nggak kenal." Gumam Zara saat menatap cowok itu. "Mba, maaf, kita ada lantai duanya kok. Diatas masih sepi." Ucap salah satu baristanya yang sedari tadi melihat Zara yang kebingungan. "Oh? Begitu ya, makasih ya, Mba." Zara segera menaiki tangga yang tersembunyi dibalik tembok pemesanan. "Lah iya sepi juga." Zara pun langsung duduk dipojok kanan. Zara ingin menyalakan ponselnya sebentar, untuk mengirimkan pesan pada Gaffa. Banyak notif masuk saat Zara mengaktifkan datanya. Apalagi pesan dari Anjas. To; Gaffa Gaf, gue lg di starbuck 1 km dari sekolah, bisa kesini gk plg sklh? Ada yg mau gue ceritain. Setelah terlihat delive. kemudian, Zara mematikan datanya lagi, serta mengubahnya menjadi mode pesawat. Zara Menikmati suasana dingin dalam ruangan ini dengan kesendiriannya. Hanya ada satu orang disana, cewek, cantik, tapi sayangnya Zara tidak mudah akrab dengan orang, jadi Zara hanya sesekali menatap cewek itu. Zara kembali menyeruput minuman segar ini. "Papa keterlaluan," Ucapnya disela-sela meminum minumannya. Tak sengaja seseorang menyenggol mejanya, sontak Zara langsung mendongak melihat siapa orang itu. "Sori, Mba. Gue n-nggak sengaja." Ucap maaf dari cowok yang duduk dibawah tadi. Sebelum menjawab, Zara melihat sosok cowok ini dengan seksama, sepertinya wajahnya ini tidak asing, "Oh, iya. Nggak papa, Mas." "Boleh gabung?" Tanya cowok itu. "Boleh, silahkan." Cowok itu duduk didepan Zara, "Nama lo siapa?" Zara tersenyum sopan, "Zara," Zara menjulurkan tangan kanannya untuk bersalaman. "Gue, Axel." Balas Axel. "Sendirian aja? Kok jam segini udah pulang?" Tanya Axel seraya menyeruput minumannya. "Cabut." Jawab Zara dengan asal. Axel membulatkan matanya, "Serius? Berani juga lo cabutnya ke starbucks," Zara hanya terkekeh pelan. Drrrt drrrtt drrttt Gaffa memanggil "Sebentar, ya." Ucap Zara pada Axel, dan Axel pun menganggukan kepalanya. "Kenapa, Gaf?" Lo sebelah mana, ini orang kantoran semua "Naik aja kelantai duanya." Tuttttt "Sialan, maen ditutup aja." Gumam Zara pada Gaffa. Tak lama kemudian, Gaffa datang dengan tanpa membawa apa-apa, sepertinya ia membolos demi pesan yang dikirimkan oleh Zara. Gaffa melihat Zara duduk dengan cowok asing, membuat Gaffa mencengkram tangannya kuat-kuat. Zara yang melihat ini langsung menghampiri Gaffa. "Gaf, lo bolos?" Tanya Zara seraya menahan tubuh Gaffa untuk tidak menghampiri Axel. "Dia siapa?" Tanyanya dengan nada dingin. Zara melirik sekilas kearah Axel, "Axel, baru kenal tadi. Cuma numpang duduk." Gaffa tidak menggubris ucapan Zara, ia malah turun kelantai satu dengan wajah kesal. Zara mengejar Gaffa dengan berlari. Gaffa semakin jauh, dan Zara juga mempercepat larinya. "Gaffa!" Gaffa ternyata kesini membawa motornya, ia melaju dengan kecepatan tinggi. Zara tidak bisa mengejarnya lagi. Alhasil, ia kembali naik keatas untuk mengambil tasnya. "Sori ya, Xel. Gue cabut duluan." Ucap Zara. Axel pun hanya mengangguk. Zara terlihat sedang mengetik pesan untuk seseorang, siapa lagi kalau bukan Gaffa orangnya. Zara cukup sabar menghadapi Gaffa sejak awal mereka berpacaran, entah sampai kapan sifat Gaffa bisa berubah menjadi yang lebih baik? To; Gaffa Gue dipaksa pindah ke amsterdam, gue mau omongin ini tdi sm lo, kenapa lo malah cabut? Lo rela gue pergi jauh? Lo seneng jauh dari gue? Setelah pesan terkirim, Zara memasukkan ponselnya dalam saku rok, karena Zara tahu Gaffa belum membaca pesannya. Dan Zara bahkan belum pergi dari tempat ini. Karena pikirannya berkata, kalau kamu keluar pintu ini kamu jadi gembel, nggak punya rumah, nggak punya tujuan. Alhasil, Zara kembali kelantai dua. Axel mengerutkan keningnya saat melihat Zara kembali keatas. "Kenapa balik lagi?" "Gue nggak tahu mau kemana." Ucapnya dengan pelan. Drrtt Gaffa ; Ga peduli, pergi aja sana sm cowok itu. Zara membulatkan matanya, terkejut saat Gaffa membalas pesannya seperti itu. Tak sadar, air mata Zara jatuh, satu demi satu mengalir deras saat tahu bahwa Gaffa tidak peduli padanya. "Eh? Kenapa lo?" Tanya Axel dengan panik. Zara tidak menjawab, melainkan menaruh kepalanya diatas meja dengan isak tangis yang terdengar. Axel yang melihat ini pun tidak tega. Possessif itu pasti ada alasannya, tapi juga jangan berlebihan ==== Maaf blom bisa bikin yg bagus hehe, selamat membaca Eiya, klo bisa tinggalin komen yaa atau kritik gtu biar aku bisa perbaiki yg salah atau yg aneh sm partnya, okey? 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN