Sayang boleh, tapi jangan terlalu possessif
.
.
.
Zara beserta kawan-kawannya seperti biasa bercanda ria atau hanya sekedar mengobrol bersama, dikala guru mereka sedang tidak masuk kelas. Berbeda dengan Gaffa, Gaffa malah membaca buku atau mengerjakan sesuatu yang bisa dibilang minat belajarnya. Itu kenapa Gaffa selalu juara kelas.
"Lo kaga belajar noh kayak ayang beb?" Tanya Bulan pada Zara yang sedang tertawa karena video yang Zara tonton.
"Males ah, orang lagi freeclass malah belajar, ini tuh kesempatan jangan dibuang-buang sayang." Jawab Zara tanya menoleh, tangannya sibuk memainkan benda persegi panjang itu.
"Emang dasarnya lo males baca aja, Zar." Celetuk dari Rachel yang sedang membaca novel kesayangannya.
Zara mengangguk benar, "Nah lo tau kan,"
Zara terkejut saat Gaffa menarik tangannya keluar kelas, Gaffa tidak berbicara terlebih dahulu, Zara diam-diam meringis sakit karena Gaffa terlalu keras memegang tangan Zara.
"Kemaren lo jalan sama Aldi?" Tanya Gaffa dengan penekanan.
Zara mengerutkan keningnya bingung. "Hah? Nggak, isu dari mana tuh?"
Gaffa mendorong Zara kedinding dekat kelasnya, lumayan keras, Zara benar-benar takut kali ini. "Nggak usah bohong. Gue paling nggak suka dibohongin."
Zara menatap Gaffa sebentar dan mengingat-ngingat apakah dirinya pernah pergi dengan Aldi kemarin? YA! Zara lupa. Ia tak sengaja bertemu dengan Aldi kemarin.
"M-maksud lo, lo ngeliat gue dianterin pulang sama Aldi?"
Gaffa hanya diam tanpa menjawab. Zara semakin takut karena wajah Gaffa kali ini benar-benar menyeramkan. Rachel dan Bulan hanya bisa diam melihat dari dalam kelas. Mereka juga takut kalau Gaffa sudah bersikap seenaknya seperti ini.
"Gaf, ini—"
Gaffa menekan bahu Zara dengan keras. Zara benar-benar meringis kali ini, tenaga Gaffa terlalu kuat. "Sekali lagi gue liat lo jalan sama Aldi, Aldi yang bakal gue hajar." Gaffa melepaskan Zara. Tapi nafas Gaffa masih membara.
"Maaf, gue cuma nebeng, Gaf." Jawab Zara dengan pelan.
"Pokoknya gue nggak mau tahu, hapus kontak cowok atau temen-temen cowok lo yang ada dihp lo. Pulang sekolah harus sama gue."
Napas Zara seketika tidak teratur, takut sekaligus panik karena Gaffa berubah menjadi galak, bahkan menyeramkan.
"I-iya, Gaf."
Gaffa menarik Zara menjauh dari ruang kelasnya menuju tempat persembunyiannya. Yang adalah, di atap.
"Gaf? Asik banget tempatnya, gila." Ucap Zara seraya menatap kesekeliling tempat ini.
"Sini duduk. Gue sering kesini sama bocah-bocah gue, lo cewek pertama yang tahu atap ini." Jawabnya seraya menatap kedepan dengan wajah yang diterpa angin.
"Emangnya, guru-guru atau yang lain nggak tahu?"
"Atap ini udah lama ditutup sebelum dibangun jadi sekolah, dan pintu buat masuk keatap ini juga ditutupin sama kursi-kursi yang tadi lo liat. Makanya kenapa banyak yang nggak tahu, bahkan satu sekolah menurut gue nggak ada yang tahu."
"Kok lo bisa tahu?" Tanya Zara,
"Vito sama Bagas yang ngasih tahu. Mereka tahu ini, karena iseng naik kelantai paling atas."
Zara hanya mengangguk-angguk paham. Kemudian hening. Bell istirahat berbunyi saat mereka sedang merasakan jantung yang berdebar disaat seperti ini. Mereka jarang sekali berduaan seperti ini, Gaffa terlalu malas dan menurut Gaffa berduaan itu lebay apalagi sampai cium-cium dan peluk-peluk.
"Mama lo apa kabar, Gaf?" Tanya Zara seraya menoleh kearah Gaffa yang sedang memejamkan matanya menikmati angin yang menerpa wajahnya.
Gaffa membuka matanya lalu menoleh juga kearah Zara. "Baik." Jawabnya dengan singkat.
"Gaf, katanya lo mau tobat, tapi kok masih jutek sih sama gue?" Tanya Zara dengan memajukan bibirnya.
"Lagi berusaha ini,"
Zara menyenderkan kepalanya dibahu Gaffa, "Jangan jutek terus, tar gue diambil orang, baru tau rasa."
Gaffa menoyor kepala Zara, "Jangan asal omong."
"Ish! Jahat." Ucap Zara seraya memegang kepalanya. "Makanya, jangan jutek-jutek."
"Suka-suka gue lah,"
Zara memajukan bibirnya dengan kesal. Gaffa selain posesif dan juga cuek, Gaffa juga memiliki sifat gengsi atau malu.
"Turun kebawah yuk, dingin lama-lama." Zara mengusap lengannya sendiri dengan cepat. Udara hari ini cukup dingin dari biasanya. Jakarta serasa Puncak. Mungkin dinginnya bisa 20°C.
Gaffa merangkul Zara lalu memeluk erat, "Jangan geer, gue meluk lo biar nggak kedingingan." Ucapnya seraya mengusap punggung Zara.
Zara hanya tersenyum tanpa menjawab, dibalik tubuh Gaffa, Zara tersenyum senang. Walaupun Gaffa bicara seperti itu, Zara tahu kalau Gaffa tidak mau Zara kedinginan, dan Zara tahu Gaffa gengsi dan malu kalau mau bilang hal yang romantis.
"Masih dingin?" Gaffa belum melepaskan pelukannya.
Zara menjawab dengan sedikit melas, "Masiihh~" Gaffa hanya menghela nafasnya, dan terus mengusap punggung Zara agar hangat.
Farah, Mama Zara menelpon saat jam pelajaran. Zara menjawabnya dengan suara yang begitu pelan.
"Kenapa, Ma?"
Papa lagi jemput kamu sekarang.
"Jemput? Ada ur—"
Dirumah mama jelasin
Tutttttt
Zara mengerutkan keningnya. Tak biasanya ia pulang dijemput oleh Papanya. Zara terlalu mandiri. Tak lama kemudian, guru wali kelas Zara datang kekelas dan memberitahukan bahwa Anjas telah datang. Gaffa yang melihat ini pun heran, tidak biasanya Zara izin pulang seperti ini.
"Zara? Ada Papa kamu, bawa tasnya." Ucap Pak Farhan.
"Iya, Pak." Zara langsung membawa tasnya dan keluar kelas dengan wajah heran.
Zara menatap Anjas dengan tatapan bingung dan menyipitkan matanya, tapi Anjas malah tersenyum.
"Ayo, Zara." Ajak Anjas. Senyuman Anjas mengerikan dan penuh pertanyaan.
"Papa nggak sakit, kan?"
Anjas merangkul Zara dengan erat, "Papa cuma kangen sama anak Papa, emang nggak boleh?"
Zara semakin bingung, mendongak melihat Anjas yang terlalu tinggi disampingnya, "Kok Papa nyeremin ya?"
Anjas tertawa, "Nyeremin gimana? Ini Papa, Zara. Papa bela-belain libur karena pengen ketemu sama kamu."
"Papa pengen sesuatu dari Zara?" Tanya Zara.
Anjas hanya bungkam saat ditanya oleh Zara, dan Zara kembali membuka suaranya lagi, "Bilang aja kalo Papa butuh sesuatu."
Mereka telah sampai mobil, Anjas memasukki mobil disisi kanan, dan Zara disisi kiri. Menyalakan mesin mobil dan kemudian mobil Anjas berjalan keluar halaman sekolah dan bergabung dengan kendaraan-kendaraan lainnya. Awalnya suasana disini sangat canggung. Hingga beberapa detik kemudian, Anjas buka suara.
"Kita akan pindah ke Amsterdam."
Ucap Anjas tanpa menoleh kearah Zara, membuat Zara menoleh dengan cepat.
Possessif itu pasti ada alasannya, tapi juga jangan berlebihan
====
Selamat membaca