8. [First Date]

1200 Kata
Sayang boleh, tapi jangan terlalu possessif . . . "Zara!!!!!!!!! Pulang nggak lu!!!" Teriak dari sepupu Zara, yang bernama Diana. Zara yang keberisikan dengan suara nyaring itu, langsung keluar dari kamar Rachel. Ya untungnya saja, rumah Rachel sepi, jadi tidak ada pengaruhnya dengan suara yang super nyaring itu. Zara berlari keluar, "Diana? Ngapain lu kesini? Dateng-dateng teriak lagi," "Gua disuruh mak lu, ayo pulang! Udah sore ini.. Pacar lu juga ada dirumah noh, kayaknya marah dah ama lu." Ucap Diana. Tanpa basa-basi, Zara langsung berlari mengambil tasnya dan berpamitan pada Rachel. "Chel, gua pulang ya, kayaknya Gaffa marah." "Ati-ati lu," Ucap Rachel. Zara sudah berada dibawah, memakai sepatu dengan terburu-buru dan langsung menaiki mobil milik Diana. Zara menelpon Gaffa berkali-kali, tapi sama sekali tidak ada jawaban dari Gaffa. Ini memang Gaffa, hal sepele bisa berubah menjadi hal besar. Tak lama kemudian, mereka sampai. "Din, gua duluan kedalem ya." Zara langsung bergegas berlari. Terlihat jelas Gaffa sedang mengobrol dengan sang ibu, Gaffa menoleh saat Zara datang dengan pakaian seragam berantakan, baju yang sudah keluar, dan sepatu tanpa kaus kaki. Zara menghampiri sang ibu terlebih dahulu untuk bersalaman. "Maaf, Ma. Zara telat pulang." Ucapnya seraya mencium tangan Mamanya. "Kalau mau kemana-mana kabarin sayang, kebiasaan banget. Liat tuh, Gaffa udah nunggu lama, nggak kasian apa kamu?" "Maaf, Ma." Zara duduk disamping Gaffa, "Sori ya, gue dirumah Rachel tadi." Gaffa hanya mengangguk. "Zara, mama habis ini mau ke kantor lagi. Kamu nggak papa kan sama bibi lagi?" Zara pun juga hanya bisa mengangguk tanpa bisa mencegah. Setelah sang ibu pergi, Zara mulai membujuk Gaffa supaya tidak marah lagi. "Soriii, hape gue lowbatt" "Lowbatt? Kan bisa pakek hape Rachel, bisa juga pinjem hape orang. Kalo punya otak tuh dipakek Zara!" Ucap Gaffa dengan pelan, tapi tegas. "Sorii, gue keasikan ngobrol sama Acel." Jawabnya dengan menunduk. "Yakin cuma sama Rachel dirumah? Nggak ada Aldi 'kan?" Zara membelalak, "Ha? Aldi? Lo kenapa sih negatif thingking mulu sama gue? Gue sama Aldi cuma temenan, nggak ada spesialnya." Jelas Zara. "Gua nggak suka, lo deket sama Aldi." "Iya Gaffa, gue nggak akan deket sama Aldi kok. Tapi, lo maafin gue kan?" Zara mengedipkan matanya berulang kali dihadapan wajah Gaffa. "Iya-iya! Ada syaratnya," Zara langsung tersenyum, "Apa?" "Temenin gua jalan," Ucap Gaffa. Zara mengerutkan keningnya, bermaksud heran kenapa Gaffa mengajaknya jalan, "Tumben?" "Mau nggak? Kalo nggak mau nggak gua maafin." "Eh!!! Iya-iya! Kapan? Malam ini? Gaffa menggelengkan kepalanya, "Nggak. Sekarang." Zara mengerutkan keningnya, "Beneran sekarang?" Gaffa mengangguk, "Nggak mau? Yaudah nggak gua maafin." "Iya iya, gue ganti baju dulu. Sabar tapi loh ya. Tungguin!" Zara langsung berlari menuju kamarnya. Gaffa hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Gaffa memang terkenal cuek, tapi rasa sayangnya terhadap Zara, memang sangat besar dan Zara juga sudah cukup sabar menghadapi sikap Gaffa. "Ayo!"  "Cakep amat? Jarang sih ya jalan sama gua." Ucap Gaffa sambil melihat penampilan Zara dari atas hingga bawah. "Yeuu! Emang gitu kan?!" Zara memukul lengan Gaffa. "Nggak usah bete, yang penting sekarang jalan sama gua kan?" Zara hanya memutarkan bola matanya. "Iyaaa!. Ayo? Kenapa diem?" "Iya ayo." Hari ini, Gaffa tidak membawa motornya, melainkan membawa mobil silver miliknya. Zara sangat antusias pergi jalan dengan Gaffa, karena sejak awal ia pacaran, Zara sama sekali tidak merasakan berduaan atau jalan bersama Gaffa. Kali ini Zara sedang merasakan jantung yang sangat berdebar. Ingin meloncat tinggi dan berteriak sekencang-kencangnya, apa ini mimpi? Seorang Gaffa mengajak jalan Zara? Memang sulit dipercaya. Tapi, memang ini kenyataannya. Entah kenapa tiba-tiba tubuh Zara merasakan getaran yang cukup hebat. Merasakan hal yang belum pernah ia rasakan. "Lo kenapa? Sakit?" Tanya Gaffa dengan menoleh sebentar. "Hah? Nggak." Jawab Zara. Gaffa mengerutkan keningnya heran, lalu memeriksa kening Zara, "Kok panas dingin? Badan lo juga kayak menggigil, kedinginan?" "Ng-nggak sih, g-gue cuma ngerasa badan gue kok gemeteran ya?" Gaffa semakin panik. "Lo beneran nggak papa? Nggak sakit?" Ah anjirrrr malu malu malu, lebay banget gue, baru diajak jalan aja udah panas dingin plus gemeteran lagiii. -Zara. "Nggak nggak papa, bentar lagi juga ilang." Gaffa mengerutkan keningnya lagi "Tau dari mana bentar lagi ilang?" "Gue nggak papa, cuma panik aja." Jawabnya singkat sambil menata kedepan. "Panik?" Zara ingin mengatakan yang sebenarnya tapi ia memiliki gengsi dan malu yang sangat besar. "Iya, panik jalan sama lo. EH!!! NGGAKKK! BUKAN!" Refleks Zara langsung menutup mulutnya. Gaffa tertawa geli, "HAHAHA, lo gemeter, panas dingin, gara-gara pertama kali jalan sama gua?" "Hina aja terus." Ucap Zara dengan memajukan bibirnya. "Lah gua mah nggak ngehina, itu fakta HAHAHA, lucu banget sih." Gaffa mengacak-ngacak pelan rambut Zara. "Udah nggak usah dibahas, konsen nyetir aja." Ucapnya dengan kesal. Gaffa terkekeh pelan, "Gua juga udah lama pengen jalan sama lu, tapi gua terlalu jahat." Zara menoleh, "Maksudnya?" "Gua terlalu cuek, jutek, posesif, sadar kok gua. Makanya gua jiper duluan mau ngajak lu jalan." Ucap Gaffa, sedangkan Zara hanya ber-oh ria. "Ini kapan sampenya sih? Mau ngajak gue ke mall kan?" Gaffa membelokan mobilnya kearah tempat makan terlebih dahulu, "Kita makan dulu, ya." Dan Zara pun langsung mengangguk. Zara ingin membuka pintu mobil, tapi tangannya ditahan oleh Gaffa, "Tunggu bentar," Gaffa meraih kepala Zara untuk mengecup keningnya cup. "Ayo turun," Ajak Gaffa. Zara masih diam dan terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Gaffa. Ini juga pertama kalinya. Gaffa sudah turun lebih dulu daripada Zara, dan memesan makanan. Gaffa tidak sama dengan cowok-cowok keren yang mengajak ceweknya makan dimall besar. Gaffa lebih suka makan dipinggir jalan, dan Zara tidak keberatan sama sekali. "Mau pesen apa mas?" Tanya pelayang tersebut. "Ini mba 2," Ucap Gaffa sembari memberikan menu makanannya. "Nggak papa kan makan disini?" "It's ok. Gue juga nggak biasa kali makan di mall- mall gitu. Ya paling cuma suka ngadem aja." Gaffa mengangguk tersenyum "Bagus deh, biar duit gue nggak keluar banyak." Zara memukul lengan Gaffa, "Jadi lo nggak ikhlas bayarin gue? Yaudah, kalo gitu gue bisa bayar sendiri kok." "Bercanda." Ucap Gaffa sembari mengelus tangan putih dan mulus milik Zara. "Kok lo tumben sih?" Tanya Zara sambil mengerutkan keningnya. "Tumben apanya?" "Tumben bae kayak gini. Biasanya kan lo jutek banget sama gue." Gaffa terkekeh pelan, "Mau tobat." "Beneran mau tobat? YESS!! Akhirnya, gue punya pacar yang sweet kayak orang-orang." Ucap Zara dengan antusias. Gaffa yang gemas melihat tingkah Zara langsung mengacak-acak rambut Zara dengan pelan. Disaat seperti ini, ponsel apel milik Zara berbunyi, menandakan ada pesan yang masuk, dan Zara langsung mengecek ponselnya. Gaffa yang penasaran siapa yang mengirim pesan pada Zara, langsung merebut ponsel Zara. "Coba sini." Zara hanya bisa diam memerhatikan aksi Gaffa yang sedang mengecek ponselnya. Aldi; Zar lagi dimana? Gue boleh kerumah lo nggak? Ada yang mau gue tanyain soal pr dari bu tati Gaffa menaikan alisnya sebelah, lalu melirik kearah Zara yang sedang menatap Gaffa. "Temen lo nih." Ucap Gaffa dengan dingin, sekaligus memberikan ponsel Zara. "Siapa?" Tanya Zara sembari mengambil ponselnya dari tangan Gaffa dan melihat pesan dari siapa. "Aldi?" "Sini hape lo." Zara bingung dengan perubahan sikap Gaffa yang tiba-tiba berubah, "Buat apa lagi?" Karena Zara belum juga memberikan ponselnya, Gaffa kembali mengambil paksa dari tangan Zara. Zara tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Gaffa. Terlihat jari Gaffa yang sedang menekan lama layar ponselnya. Kalau kalian mengira bahwa Gaffa sedang mem-block nomor Aldi, itu benar. "Nih." Zara langsung mengecek ponselnya, "Lo apain nomor Aldi? Kok nggak ada dikontak gue?" Gaffa menunjuk pelipis kepalanya, "Pikir." Zara hanya menatap wajah Gaffa dengan ekspresi yang susah untuk dijelaskan. Possesif itu pasti ada alasannya, tapi juga jangan berlebihan ==== Selamat membaca
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN