Sayang boleh, tapi jangan terlalu posessif
.
.
.
Zara dan Gaffa telah sampai dirumah Zara. Zara turun dengan gemetar, karena Gaffa membawa motornya diatas 120 KM/Jam. Zara hanya memejamkan mata dan memeluk pinggang Gaffa karena takut.
Kaki Zara terasa sangat lemas saat ingin berjalan, "Akh!"
Gaffa bergegas turun dari motor, "Eh?kenapa lo?"
"Lemes kaki gue, lo bawanya ngebut banget. Gue jadi takut." Jawab Zara seraya memegang kakinya yang sepertinya mati rasa.
"Bilang aja minta digendong, sini naik," Gaffa menepuk punggungnya supaya Zara naik keatas punggungnya.
"Nggak kuat diri, Gaffa."
Akhirnya Gaffa menggendong Zara dengan ala bridal style, Zara menatap Gaffa dengan seksama dan tentu saja jantung Zara kali ini tidak baik-baik saja.
"Apa liat-liat?" Tanya Gaffa yang sadar kalau ia sedang diperhatikan.
Zara langsung melihat kearah lain, "Emang nggak boleh apa?" Gumam Zara.
Gaffa hanya tersenyum tipis saat melihat tingkah Zara yang sedang kesal. Saat sampai didalam, diletakkannya Zara diatas sofa, dan kemudian Gaffa duduk dibawah kaki Zara. Bisa dibayangkan jika kaki Zara sedang menumpang dipaha Gaffa.
"Mau dipijit?" Tanya Gaffa sembari memegang kaki kecil Zara.
"Gue nggak pegel, tapi lemes."
Gaffa hanya mengangguk mengerti.
"Gaf, boleh nanya?" Tanya Zara dengan agak ragu.
"Tanya aja,"
Zara mendekat kearah Gaffa, "Sherly siapa?"
Gaffa sontak terkejut dengan pertanyaan ini. "Bukan siapa-siapa."
"Kalau bukan siapa-siapa kok kemarin pulang bareng? Sampe bercanda trus ketawa-ketawa bareng, kayaknya bahagia banget,"
"Temen." Jawab Gaffa dengan singkat.
Zara mengerutkan keningnya, "Kok gitu jawabnya?"
Gaffa menurunkan kaki Zara, "Emang temen, Zar."
"Iya iya temen, tapi sikapnya Sherly ke lo bikin gue cemburu, tau?!"
Gaffa terkekeh, "Temen kecil, Zara. Wajar lah kalau ketawa bareng gitu."
Gaffa mengeluarkan ponselnya, dan dengan santai ia bermain benda persegi panjang itu.
"Kok malah main hp sih? Gue dicuekkin nih?" Tanyanya sambil memajukan bibirnya.
"Gue bosen, Zara."
Zara hanya diam saat mendengar ucapan Gaffa, bukankah pasangan lain kalau ketemu pacarnya mereka akan senang satu sama lain?
"Kan gue disini, ngobrol kek, ngapain gitu,"
"Ohiya! Boleh liat hp lo? Kali aja lo chattingan sama cowok lain?" Gaffa langsung mengambil ponsel Zara yang persis disebelahnya.
"Emangnya lo," Sindir Zara pada Gaffa.
Gaffa mengotak-atik ponselnya, membuka w******p, i********:, dan juga yang lainnya. Zara sudah biasa kalau Gaffa bersikap posesif seperti ini, dan Zara beranggapan bahwa sikapnya yang seperti ini adalah unjuk rasa sayangnya pada Zara.
"Nih, awas ya kalau chattingan sama cowok. Apalagi sama Aldi." Ucap Gaffa.
"Iya, bawel deh."
Keesokan harinya, Zara dan Bulan pergi dari kelas atau bisa dibilang mereka bolos pelajaran karena Rachel diusir akibat tidak mengerjakan PR. Alasan mereka berdua bisa bolos pelajaran adalah ingin mengambil barang yang tertinggal dirumah. Lebih serunya, mereka diperbolehkan untuk keluar kelas.
"Asli jago juga lu alesannya," Puji Bulan.
"Yaelah alesan kek gitu mah udah sering dipakek sama anak-anak sekolah." Ucap Zara sambil terkekeh.
"Sa ae lu, ampe jam keberapa nih kita bolosnya?" Tanya Bulan sambil melihat jam ditangan kirinya.
"Sampe istirahat pertama, bilang aja rumah gue jauh, oke nggak?"
"Mantap bouskyuhhh! Ayo cari Rachel, pasti dikantin tuh bocah." Ucap Bulan dengan merangkul bahu Zara.
"Kaga salah lagi sih," Jawab Zara.
Saat ditengah perjalanan, Zara dan Bulan bertemu guru paling killer disekolah ini, terkejut yang sangat tiba-tiba timbul dari perasaan mereka. Wajah panik juga terlihat dari mereka.
"Hayo! Mau kemana kalian? Bolos?" Tanya Pak Gaga sambil menepuk penggaris kayu besar ditangannya.
"Apaan sih, Pak, bapak jangan suudzon dulu, kita ini mau ambil barang yang ketinggalan dirumah Zara." Ucap jelas dari Bulan.
Pak Gaga mengerutkan keningnya, "Barang apa? Buat tugas bukan?"
"Oh jelas bukan, Pak. Ini tuh hmm...... Apa tuh namanya...... Ohya! Inhaler Pak!" Ucap asal dari Bulan. Zara hanya terkejut mendengar jawaban dari Bulan.
"Inhaler? Kamu asma?" Tanya Pak Gaga pada Bulan.
"Yang asma bukan saya, Pak. Tapi temen saya, nih si Zara."
Otomatis Pak Gaga langsung menoleh kearah Zara, dan Zara sudah sangat panik saat itu, "Kamu asma Zara?"
Sebelum menjawab, Zara melirik ke arah Bulan, dan Bulan hanya mengedipkan matanya. "I-iya, Pak. Saya punya asma,"
"Ohhh, ya sudah sana ambil, daripada kamu akut disini kan bahaya. Ohya! Jangan lari loh ya, jalan aja, kalau asma dijalan lebih bahaya."
"Siap, Pak! Kita jalan dulu ya." Ucap Bulan. "Permisi, Pak." Ucap Zara.
Saat mereka sudah pergi dari pandangan Pak Gaga, mereka mengelus dadanya, "Aman aman. Anjir jantung gue mau copot, Bulan!"
"Lah lu pikir lu aja, gue juga nih. Ampe susah gue nyari alesan," Ucap Bulan memberi jeda sedikit. Lalu ia memulai bicara lagi, "Lu kaga diocehin tuh sama Gaffa kalo lu cabut?"
Zara mengedikkan bahunya, "Tau deh,"
"Lu kaga liat tuh mukanya tadi? Sinis bat asli dah ngeliatin guanya, gua jadi takut kena sasaran nih."
Zara tersenyum meledek, "Selaw aja sih, dia kayak gitu karena peduli,"
"Ah lu mah ngomongnya begitu mulu." Ucap Bulan, sedangkan Zara hanya diam sambil menatap kebawah.
Zara dan Bulan akhirnya sampai di kantin. Rachel yang sedang dihukum untuk keluar kelas, sudah tentu saja pasti ada disini. Ia sedang duduk sambil mengobrol dengan penjaga kantin.
"Asik lo ya makan, ngobrol, bolos behh mau jadi apa lu.. Dasar nackhal"
Ucap Bulan.
"Yeuu, suka-suka gue kek. Lah lo berdua ngapain kesini? Ohhh!! Gue tau, kangen kan lo sama gue.. Ngaku dah lu pada,"
Z
ara mendorong pelan bahu Rachel, "Ih pede najis."
Bulan tiba-tiba menepuk bahu Zara, "Itu Gaffa ya, Zar? Lah? Ngapain dia kesini sama gengnya?"
Zara langsung menoleh kearah yang ditunjuk oleh Bulan, hanya melihat tanpa memanggil, justru malah Gaffa yang menghampiri Zara dengan tatapan tajam.
"Kenapa bolos?" Tanya Gaffa dengan dingin.
Bulan membisikkan sesuatu pada Rachel, "Temennya Gaffa nambah lagi? Kok makin banyak ya?"
"M-mau nemenin Rachel," Jawab Zara dengan gugup.
"Gaf, gua tunggu sana ya," Ucap salah satu temannya, Reno. Gaffa hanya mengacungkan jempolnya tanpa menoleh.
"Nemenin Rachel? Yang dihukum itu cuma Rachel, kenapa lo juga keluar? Mau mulai jadi bandel?" Tanya Gaffa dengan nada yang mulai marah.
"Sori, gue—"
"Nggak usah dilanjut. Sini hp lo!" Gaffa meminta ponsel Zara.
"Buat apa?"
"Udah sini!" Ucap Gaffa dengan ketus.
Zara mengeluarkan ponselnya dan langsung diberikan pada Gaffa. "Jangan lo bawa, nanti gue nggak bisa ngabarin nyokap." Ini hanya alasan Zara.
"Geer amat pengen gue bawa, gue cuma mau masang pelacak dihp lo. Biar gue tau posisi lo dimana dan sama siapa." Ucap Gaffa sambil memasangkan aplikasi pelacak pada ponsel Zara.
"Udah nih, gue cabut dulu." Setelah selesai, Gaffa langsung memberikan ponselnya pada Zara dan pergi bersama teman-temannya.
Zara hanya diam atau bisa dibilang (bengong). Bulan menghampiri Zara, "Lu kaga ngapa-ngapa kan?"
Zara menggeleng, "Kaga." Sedangkan mereka berdua hanya mengangguk.
"Yaudah pesen apaan kek, gua yang bayar dah. Kasian temen gua dikekang mulu ama pacarnya." Ucap Bulan.
"Iya, lagian lu sabar banget sih, Zar." Sambung Rachel.
"Namanya juga sayang." Jawab singkat dari Zara.
Posessif itu pasti ada alasannya, tapi juga jangan berlebihan
====
Selamat membaca