Embun tahu kalau inilah saatnya. Dia harus membuka hati. Ketulusan Badai selama ini sudah menggetarkan hatinya. Jadi dia kemarin mengucapkan kata sayang itu. Dia sudah menyayangi suaminya itu bahkan cinta mungkin. Tapi Embun belum sejauh itu mengatakan kepada Badai. Dia masih malu. Kemarin saja wajahnya merah padam saat mengatakan itu. Dan membuat wajah Badai berseri-seri. Pria itu seperti anak kecil yang di beri mainan kesukaannya mendengarnya. "Ndut...sini deh." Suara Badai mengagetkan Embun dari lamunan nya. Hari Badai berada di rumah seharian penuh. Alasannya dia cuti karena terlalu lelah. Tapi pria itu sejak tadi mengganggunya. Dari ikut memasak di dapur, atau mencuci baju dan juga merecoki Embun saat dia melakukan senam ibu hamil. Embun menoleh ke arah suara Badai. Pr

