BAB 16 - Perang Dingin

1847 Kata

Pagi itu, Clarinta akhirnya pulang ke mansion ibu mertuanya dengan taxi. Sepanjang perjalanan tadi, amarah Bram yang didengarnya di telfon masih terus terngiang-ngiang di benaknya. "Kay! Pulang segera, sekarang! Aku tunggu di rumah!" Singkat padat jelas dengan tekanan nada yang cukup tinggi cukup membuat bulu kuduk Clarinta merinding dan saat ini Bram sudah menantinya di depan pintu utama rumah. Begitu dilihatnya gadis itu turun dari taxi, laki-laki itu segera menghampiri istrinya dan tanpa berkata sepatah kata, digeretnya lengan Clarinta. Gadis itu tidak berusaha memberontak, diikuti kemana sang suami membawanya pergi. Kebetulan saat itu suasana rumah masih sepi, mereka berdua lalu masuk ke dalam kamar Bram, laki-laki itu lalu menghempaskan Clarinta ke atas tempat tidur dengan kasar.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN