01 : Penjara Sayap Barat
Neraka di Dunia!
Penjara adalah tempat paling mengerikan dan disebut sebagai neraka di dunia ini. Sebagian besar dari mereka yang berakhir di tempat ini adalah untuk sebuah penebusan dosa, tapi tidak bagi Liana Anderson, napi dengan nomor 908. Ia dituntut sepuluh tahun penjara untuk sebuah jebakan terstruktur dan rapi hingga membuat ia bahkan tidak bisa melakukan pembelaan diri.
“Rawat gadis itu dengan baik! Aku ingin ia tertekan hingga saat hari pembebasan dirinya tiba, Liana Anderson harus sudah menjadi wanita gila!”
Sebuah pesan dari orang yang berkuasa membuat hari-hari Liana selama di penjara menjadi begitu sulit, seolah setiap hari adalah pertarungan hidup dan mati.
Hampir tiga tahun Liana mendekam di penjara. Siang ini saat angin kering musim panas begitu menyengat kulit, ia mendapatkan sebuah panggilan telepon dari seorang wanita paruh baya yang merawat adiknya selama ia di bui.
“908! Ada telepon untukmu, ” panggil sipir penjara menghentikan aktivitas Liana di saat tengah bergelut dengan beberapa napi lain yang merundungnya. Ia segera menyeka darah segar di ujung bibirnya dan menuju ruang khusus untuk menelepon di dalam penjara ini.
Penjara perempuan di Southland terkenal sebagai tempat paling keras. Di dalamnya mereka memiliki peraturan sendiri antar napi. Para sipir tak akan memedulikan meski terjadi baku hantam di sana, bahkan mereka juga tak peduli jika ada napi yang meninggal.
Itulah kenapa betapa pun remuk tubuh Liana menahan tiap serangan dari napi lain, sipir hanya akan melihat dengan tatapan dingin tanpa memedulikan, karena Liana adalah napi dengan tanda merah.
“Hallo,” kata Liana setelah meraih gagang telepon usang yang tertancap di dinding.
“Nona, kondisi adik Anda semakin memburuk,” tubuh Liana seketika menjadi lemas, jantungnya seolah berhenti berdetak mendengar kabar tentang Lucy adiknya.
“Apa yang terjadi dengan Lucy?”
“Ia jadi lebih sering pingsan, selama tiga tahun ini kami tidak pernah pergi ke rumah sakit untuk melakukan perawatan pada jantungnya itulah kenapa kondisinya kini memburuk.”
Liana hampir ambruk, rasa ngilu akibat pukulan beberapa napi tak begitu sakit dari pada kabar tentang adiknya yang baru saja ia dengar. Tiga tahun lalu Liana menjadi yatim piatu, Lucy adalah satu-satunya keluarga yang tersisa, tapi gadis kecil berusia 12 tahun itu menderita kelainan jantung.
Jemari Liana mengepal, tatapan matanya menjadi tajam dan merah. Ia bertekad harus keluar dari penjara ini dengan cara apa pun. Wajah getir Liana segera menuju penjara sayap barat, di sana ada seorang pemimpin kelompok napi perempuan yang terkenal bengis tapi memiliki kekuasaan yang tak terbatas. Ia adalah Samantha gembong narkoba kelas kakap, yang mengendalikan pengedaran narkoba dari balik penjara.
“Liana kamu mau ke mana?” tanya Jenny meraih pergelangan tangan Liana yang tengah menuju area barat, daerah yang terlarang bagi sembarang orang.
“Aku harus menemui Samantha!”
“Apa kamu gila?” Jenny tahu seperti apa sisi gelap penjara sayap barat. Mereka yang bertekad ke sana hanya memiliki dua pilihan, menjadi anak buah Samantha sebagai kurir narkoba atau mengantar nyawa karena sudah datang ke daerah terlarang.
Ada sorot mata tajam Liana yang membuat tubuh Jenny bergetar, dari tatapan itu ia bisa mengetahui bahwa temannya ini sedang dalam kondisi terburuk. Ada ketakutan menyerang tubuh Jenny melihat wajah Liana yang berbeda dari biasanya. Ketakutan itu membuat ia melepaskan cengkeraman jemarinya di lengan Liana.
“Aku harus segera keluar dari penjara ini, bagaimana pun caranya. Kondisi adikku memburuk, aku harus menolongnya.”
Lidah Jenny mendadak keluh, ia tidak mampu berkata-kata lagi. Tekad bulat sudah terpancar jelas di tiap gurat wajah Liana. Ia hanya menggenggam jemari Liana yang sudah sedingin bongkahan es.
“Semoga Tuhan melindungimu teman!”
“Tuhan sudah meninggalkanku sejak tiga tahun lalu, aku sendirilah yang akan menyelamatkan diri ini!” Liana melangkah memasuki penjara sayap barat. Di mata Jenny ia melihat tubuh temannya itu seolah memasuki dimensi lain yang tak akan bisa ia tembus.
‘Suatu saat kamu akan tahu, Tuhan tidak pernah meninggalkanmu!’ batin Jenny.
Begitu langkah kaki Liana memasuki daerah kekuasaan Samantha, setiap derap langkahnya banyak tatapan tajam yang terus mengikuti gerakan wanita ini. Sebagian menunjukkan wajah meremehkan, sebagian menggertakkan jemari dan juga lehernya seolah melihat mangsa yang siap mereka terkam.
Langkah Liana semakin ke dalam menuju pada ruang bersantai seorang wanita berusia 40 tahunan. Wanita bernama Samantha itu sedang duduk sambil menghisap rokoknya, ada dua orang yang tengah memijat kedua kakinya.
“Bos, ada yang datang!” bisik ajudan wanita Samantha hingga membuat majikannya itu mengalihkan pandangan pada sosok yang sudah berdiri gemetar berjarak enam meter di depannya.
Liana mulai berlutut di atas lantai yang dingin, ia menundukkan wajah begitu Samantha melihat wajahnya.
“Oh, ternyata gadis dengan tanda merah yang datang!” Ada seringai menakutkan wajah Samantha begitu melihat tato merah di telapak tangan Liana yang berada di atas lututnya.
“Tahukah kamu peraturan di penjara sayap barat? Siapa yang datang ke sini adalah yang siap jadi anak buahku atau mereka yang datang untuk mencari mati!” Kata-kata menakutkan itu keluar dari pemimpin kelompok yang dikenal sadis itu, ia adalah istri dari gembong narkoba asal Brazil yang sudah di vonis mati, sementara Samantha di vonis seumur hidup.
Liana masih tertunduk, semua anak buah Samantha kini berkumpul untuk menyaksikan sebuah pertunjukan, sebagian berada di lantai atas dan sebagian berada mengelilingi Liana.
"Sepertinya akan ada pesta besar malam ini!" kata salah satu anak buah Samantha sambil menggertakkan jemarinya.
"Iya, sudah lama kita tidak melemaskan otot untuk menghajar bali lain!"
"Aku dengar, dia adalah anak buah dari Claire."
"Kalau begitu akan sangat menarik lagi!"
Beberapa anak buah lain masih menatap ke arah Samantha dan Liana. Mereka berharap Samantha tidak akan cukup berbelas kasih pada gadis ini.
“Kamu adalah Napi dengan tanda merah dengan strata paling bawah, jika kamu mati di sini bahkan tidak akan ada yang menuntut keadilan.”
Liana gemetar, hanya saja ia mencoba menyamarkan itu dengan semakin mengencangkan punggungnya.
“Tolong keluarkan aku dari penjara ini, aku akan melakukan apa pun yang kau minta!”
“Ha-ha-ha...!” tawa membahana Samantha begitu menggelegar, tawa itu diikuti seluruh tawa anak buahnya yang semakin mengantarkan ketakutan di tiap sendi Liana.
“Jika menurutmu aku bisa mengeluarkan seseorang, lalu kenapa tidak diriku sendiri yang aku keluarkan?”