02 : Kisah tiga tahun lalu

1053 Kata
“Karena Anda tidak menghendaki keluar dari penjara ini,” jawab Liana. Seringai di wajah Samantha menandakan bahwa jawaban gadis yang tengah berlutut di depannya itu sepenuhnya benar. Samantha bukan tidak bisa keluar, ia hanya tidak ingin keluar. Dia yang bahkan tidur di atas kasur berupa tumpukan uang dengan kekayaan tak terbatas dari bisnis peredaran narkoba di dalam dan bahkan luar penjara, tidak pernah berniat sedikit pun untuk menyogok petugas agar bisa sejenak menikmati pelesiran selama beberapa waktu seperti napi kaya yang biasanya lakukan. Sejak suaminya menjalani eksekusi mati, ia sudah tidak mengharapkan lagi sinar matahari. Lubang gelap yang disebut neraka dunia ini sudah cukup baginya. “Sudah berapa lama kamu mendekam di penjara ini?” Samantha melunak, suaranya menjadi lebih rendah. “Tiga tahun,” Liana masih tertunduk ketika menjawab pertanyaan wanita yang kini berdiri di depannya. ‘Hebat, gadis ini memiliki kekuatan lebih!’ batin Samantha ketika ia mengitari tubuh Liana yang masih berlutut. Mereka yang memiliki tato berwarna merah dengan bentuk lingkaran bulat dengan sebuah tanda silang di dalamnya tak akan bisa bertahan lebih dari setahun di dalam penjara ini. Mereka sudah ditandai oleh orang yang lebih berkuasa, bahwa ia ditakdirkan mati secara perlahan atau menjadi gila. ‘Tapi, gadis ini mampu bertahan dalam waktu tiga tahun dengan punggung yang masih tegap!’ Samantha meremas dagunya, ia tak bisa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Liana. Ia masih terlihat cantik, meski dengan sisa-sisa kehancuran di setiap jengkalnya. Ada bekas luka di mana-mana, bahkan kulit putih itu ditumbuhi memar dari rona merah hingga kebiruan. “Kenapa kamu ingin keluar?” Lebih tepatnya Samantha ingin mengetahui hal besar apa yang sudah membuat gadis yang sudah bertahan hidup dalam siksaan selama tiga tahun ini mendadak ingin keluar. “Aku harus menyelamatkan nyawa adikku, ia tidak dalam kondisi yang baik-baik saja!” “Apa kamu tahu hanya ada dua orang yang bisa aku keluarkan dari penjara ini selama 10 tahun aku di sini? Tahukah kamu seperti apa caraku mengeluarkan mereka yang belum waktunya keluar dari penjara ini?” Kepala Liana menggeleng perlahan, seketika itu wajah Samantha menjadi masam. “Mereka keluar dalam keadaan mati!” Duar! Meriam tepat di jatuhkan di atas kepala Liana, harapannya mendadak hancur dan berserakan. Menyisakan tubuh yang gemetar ketakutan “Jangan takut! Bagi dunia mereka akan di anggap mati, kamu akan keluar dengan identitas baru. Tentu saja ada harga mahal yang harus dibayar untuk itu!” “Dengan apa aku harus membayarnya?” tanya Liana dengan suara yang bergetar. “Mampukah tubuhmu menahan 2 Kg kokain di dalam perut kecil itu?” tanya Samantha dengan menunjuk ke arah perut tipis Liana. Liana terkejut, ia tahu maksud dari Samantha bahwa tubuh dan dirinya akan dijadikan sebagai kurir Narkoba. Tentu saja ada banyak risiko untuk itu, dari saat peletakan bungkusan itu ketika operasi dan juga saat proses pengeluaran, bahkan ia juga harus sangat berhati-hati agar tidak terendus polisi. Bibir Liana kelu, pikirannya berputar-putar. Tentu saja ia ketakutan, hingga hampir ambruk. Sekuat tenaga ia berusaha berpikiran rasional. ‘Bukankah aku bertahan hidup selama ini untuk adikku?’ ‘Apa arti hidupku jika Lucy tak ada, bukankah setidaknya aku harus keluar dan menyelamatkan dia. Jantungnya yang lemah tidak akan mampu bertahan tujuh tahun lagi menunggu diriku keluar dari lubang ini. Lucy harus mendapatkan perawatan,’ batin Liana penuh gejolak. Samantha dapat melihat badai yang menderu di balik kelopak mata Liana yang tertutup sambil terus berkedut. “Apakah aku juga akan mendapatkan imbalan uang untuk itu?” bibir yang lama terkatup itu akhirnya terbuka. Samantha tertawa, ia sudah lama tidak merasa sebahagia ini. Gadis di depannya sekarang sudah memberikan warna lain setelah sekian ratus anak buah membosankan yang pernah bersamanya. “Tentu, uang yang cukup banyak untuk hari pensiunmu!” “Baiklah, aku bersedia!” *Tiga Tahun Lalu. Awal Mimpi Buruk di Hidup Liana Anderson. Lucy sudah lama berada di rumah sakit, hampir sebagian waktu gadis berusia 10 tahun itu selalu dihabiskan di dalam rumah sakit sejak ia lahir dengan kelainan jantung. Lucy belum mengetahui rahasia besar bahwa kedua orang tuanya baru saja meninggal 10 hari yang lalu. Gadis yang terlahir kaya raya itu kini jatuh miskin dan hanya mempunyai satu-satunya kakak bernama Liana sebagai hartanya yang tersisa di dunia ini. “Nona Liana, Anda diminta untuk pergi ke ruang kepala Bendahara,” seorang suster mengatakan pesan dari atasannya ketika Liana baru saja tiba di rumah sakit untuk menjenguk adiknya. Liana mengangguk dan tersenyum pada suster itu, ia kemudian memutar langkahnya menuju ruang kepala bendahara yang berada di lantai lima dengan menaiki lift. “Silakan duduk!” sapa wanita berusia 50 tahunan dengan tubuh gemuk itu. Liana segera duduk di depan kepala bendahara dengan dandanan menor dengan kaca mata tebal yang berbentuk aneh. “Kami ada kabar baik untuk Lucy, ada donor jantung yang siap di transplantasi untuknya,” Sepuluh hari ini Liana memiliki hari-hari menyedihkan setelah kepergian orang tuanya yang meninggalkan skandal besar tapi untuk pertama kalinya hari ini ada sebuah kabar gembira yang membuat senyum di wajahnya kembali cerah. “Tapi, Anda harus menyiapkan uang senilai tiga dolar untuk biaya perawatan Pendonor jantung yang sudah menunggak selama ini!” Whuss... Perkataan kepala bendahara rumah sakit ini seperti angin yang dengan cepat sudah menyapu kebahagiaan Liana. Uang tiga juta dolar adalah jumlah yang sangat banyak untuk dirinya yang kini jatuh miskin. Liana meremas rok pendek yang ia kenakan, tubuhnya gemetaran, dari mana ia akan mendapatkan uang sebanyak itu. “Aku tahu, Anda sedang dalam masa sulit setelah kepergian kedua orang tuamu. Ayah Anda memang sudah membayar deposit untuk biaya perawatan dan operasi transplantasi jantung Lucy, tapi deposit itu tidak cukup jika untuk membayar tunggakan biaya perawatan pendonor.” Mata bendahara itu mengisyaratkan sesuatu, ‘Menyerahlah! Kamu tidak akan bisa membayarnya.’ Liana membeku dan tetap diam, seolah baru saja terserang kelumpuhan din wajahnya. Hanya ia yang tahu pilihan sulit di hatinya, antara uang dan nyawa adiknya. “Baiklah aku akan menyiapkan uangnya, tolong jadwalkan operasi transplantasi untuk adikku!” jawab Liana setelah lama hanya tertunduk. Kepala Bendahara bernama Doroty itu terkesiap, ia mengira bahwa gadis muda di hadapannya akan menyerah. Seluruh negeri ini tahu, gadis itu sekarang jatuh miskin setelah semua harta bendanya disita negara atas dugaan kasus korupsi yang dilakukan kedua orang tuanya. “Baiklah, aku harap uang itu segera di siapkan. Ingatlah, ada banyak pasien lain yang siap mengambil kesempatan ini untuk mendapatkan donor jantung itu!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN