03 : Mantan Tunangan

1168 Kata
Hujan lebat mengguyur langit gelap malam ini, angin kencang terus menderu hingga mematahkan ranting basah yang tak bisa lagi berpegangan pada cabang pohon. Setelah bertemu dengan Dorothy, Liana pergi ke rumah Edbert untuk meminta bantuan, tapi ia bahkan tidak mendapatkan sambutan dari rumah mantan tunangannya. “Aku mohon, pinjamkan aku uang atau kembalikan uang yang sudah keluargaku bayar untuk pesta pernikahan yang kalian batalkan,” mulut membiru Liana berulang kali mengeluarkan permohonan itu di depan pintu keluarga Thompson. Ia sudah berlutut selama tiga jam di tengah hujan hanya untuk meminta pertolongan pada keluarga mantan tunangannya. Jika tidak terjadi kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuanya, sejak sepuluh hari lalu mungkin ia sudah tinggal di rumah ini sebagai menantu kesayangan. Tepat sepuluh hari yang lalu orang tuanya meninggal dan menyisakan rasa malu untuk dirinya. Ia yang kaya raya menjadi miskin dalam sekejap, harta kekayaan milik kedua orang tuanya dibekukan, bahkan nanti setelah persidangan panjang, harta itu hanya akan menjadi aset negara. “Aku mohon, adikku sangat butuh uang itu,” Air mata menetes bercampur oleh rintik hujan. Lutut Liana sudah mati rasa, wajahnya berubah pucat. Ia lemas dan hampir ambruk, tapi ia terus memaksakan diri tetap berlutut. Ia berharap usahanya bisa dilihat oleh keluarga Thompson, tanpa Liana sadari di dalam rumah besar itu, mereka sama sekali tidak menganggap kehadirannya. Mereka justru sedang berpesta wine di dalam rumah untuk merayakan pembatalan pesta pernikahan Liana dengan Edbert putra kebanggaan mereka. “Untung saja, kita mengetahui skandal korupsi keluarga Liana beberapa hari sebelum pesta pernikahan. Jika kita mengetahui itu setelah pernikahan, mau dibawa ke mana muka kita sekarang memiliki menantu anak dari koruptor,” kata Nyonya Vika janda dari tuan Thompson. “Iya, aku sangat merasa bersyukur ibu,” balas Edbert dengan senyum lebar, ia seolah lupa beberapa waktu yang lalu dirinya begitu bersyukur bisa bertunangan dengan Liana. Saat itu gadis ini memiliki kekayaan yang jauh di atas keluarga Thompson, ia ingin menjadi benalu yang menyerap habis pundi-pundi keluarga Liana. Tapi, takdir berkata lain pernikahan itu batal setelah kematian kedua orang tua Liana saat terlibat pengejaran dalam operasi tangkap tangan lembaga pemberantas korupsi. “Kenapa kalian buang-buang waktu dengan berkata jelek terhadap keluarga Liana yang sudah meninggal. Apa kalian tidak takut karma?” timpal Susy, dia adalah istri dari kakak Keanu. Menantu paling berani yang tak segan menyela pembicaraan mertuanya yang cerewet. “Diamlah kau! Pegawai Bank rendahan sepertimu tahu apa? Entah kenapa putra sulungku bisa menikahi wanita dengan status rendah sepertimu!” maki Nyonya Thompson. Makian itu sudah biasa Susy terima, dulu ia sering terusik dan menangisi kata kasar mertuanya. Tapi kini ia sudah kebal dan tak memedulikan lagi perkataan itu. Susy sedari tadi terus mengintip Liana yang masih berlutut dari balik jendela. Hatinya terluka dan ingin membantu gadis baik itu, tapi ia masih ingat perkataan suaminya saat ia mengajukan diri untuk menolong Liana meski dengan hanya memberi wanita itu sebuah payung. “Biarkan saja, saat kedinginan ia pasti akan segera pulang. Lebih baik kamu jangan mencampuri urusan Ibu dan Edbert.” Perkataan suaminya itu membuat Susy hanya mampu menatap penuh kasihan dari balik jendela untuk Liana. Ia ingat betul gadis itu adalah wanita rendah hati yang sopan pada siapa pun bahkan meski pada saat itu ia adalah putri dari orang kaya raya. “Tolong-tolong bantu aku!” Liana masih mengeluarkan kata-kata permohonan itu meski tidak ada yang mau mendengar, bunyi rintik hujan juga menyamarkan suara lirih yang keluar dari mulut Liana yang mulai membeku. Liana semakin lemas, tubuhnya mulai terhuyung ke depan. Kedua tangannya bertumpu di tanah, kini ia setengah membungkuk karena merasa lelah dan kedinginan. Beberapa detik kemudian tubuh itu tersungkur di atas lantai yang basah oleh genangan air. Seorang pria berlari menuju ke arahnya, segera membopong tubuh Liana di tengah rintik hujan. Tangan jenjang itu menghentikan taksi. “Rumah sakit pak cepat!” Sopir taksi segera menarik gas mobilnya, ia tahu wanita yang duduk di atas pangkuan lelaki itu sedang tidak sadarkan diri. “Pulang saja, aku mohon. Tak ada uang untuk membayar rumah sakit!” pinta Liana lirih di sisa kekuatan yang ia miliki. Matanya sedikit buram tapi ia masih mampu melihat pria yang merengkuhnya adalah Efrain, tetangganya yang miskin. Mereka berteman baik sejak kecil meski berbeda status. Rumah Liana besar dan megah, tapi rumah Efrain kecil dan sederhana di sebelah tembok tinggi rumah Liana. Efrain segera mengubah tujuan mereka menuju alamat rumah Liana. Rumah besar yang bagian depan sudah bertengger garis polisi, tapi Liana masih tinggal di dalam rumah itu secara diam-diam. Efrain membopong tubuh Liana memasuki gerbang besar berwarna coklat. Liana masih memegang semua kunci rumahnya. Hanya kunci pintu utama yang telah di ganti. Sementara kunci pintu samping tempat para pembantu biasa masuk masih memiliki kunci yang sama. “Aku sudah membaik, turunkan saja aku di sini!” pinta Liana sesampainya mereka di ruang tengah. “Aku akan mengantarkanmu sampai ke kamar.” Efrain masih membopong tubuh yang sudah kehilangan berat badan 3kg hanya dalam waktu beberapa hari itu. Langkahnya perlahan menaiki tangga, ia menurunkan tubuh basah Liana di depan kamar. “Apakah kamu kuat untuk masuk sendiri?” Liana mengangguk perlahan, wajahnya masih pucat pasi, dengan pakaian yang sudah basah kuyup. “Sebelum tidur mandilah pakai air hangat dan pakailah baju yang hangat,” pinta Efrain. Liana tersenyum tipis, “Terima kasih atas bantuannya, aku masuk dulu.” “Tunggu!” tangan kekar Efrain menghentikan pintu yang hendak di tutup oleh Liana. “Bolehkan aku tidur di ruang tamu?” Permintaan itu mengejutkan Liana, tatapan penuh tanya kini tertuju ke arah Efrain. Di sisi lain Efrain berdiri dengan gemetar, jantungnya berdegup begitu kencang. “Ma-maksudku-,” lanjut Efrain dengan terbata-bata, ia menarik nafas dalam sebentar kemudian melanjutkan perkataannya. “Kamu sedang sakit, aku ingin berada di bawah kalau-kalau dirimu membutuhkan bantuan.” ‘Aku mengkhawatirkan dirimu, rumah ini besar kamu terbiasa tinggal dengan banyak orang tapi sekarang kamu sendiri dan sakit,’ kata itulah yang ingin Efrain ucapkan tapi ia tak punya keberanian, ia takut akan menyinggung perasaan Liana. “Baiklah, tapi jangan nyalakan lampunya atau orang-orang akan tahu bahwa aku masih tinggal di sini.” “Baiklah, aku ada di bawah jika kamu membutuhkan bantuanku.” Efrain turun setelah memastikan bahwa Liana sudah masuk ke dalam kamarnya. Ia menatap sekeliling rumah ini, semuanya gelap hanya ada penerangan di bagian teras. Dulu rumah ini ramai dan hangat, ia masih ingat betul berapa banyak pembantu yang di miliki oleh rumah ini. Meski ia tetangga miskin yang tidak berpendidikan, tapi keluarga Liana selalu membuka lebar pintu untuk dirinya. Efrain bahkan bekerja sebagai pengawas gudang di salah satu gudang milik perusahaan Ayah Liana. ‘Mereka adalah keluarga yang baik, rasanya aku masih belum percaya kedua orang tuanya terlibat kasus korupsi,’ gumam Efrain setelah melihat sisa-sisa kejayaan keluarga Liana yang runtuh. ‘Bagaimana Liana akan mendapatkan uang 3 juta dolar dalam tiga hari. Sementara ia bahkan tidak punya sepeser pun sekarang.’ Efrain menghantamkan tinju ke tembok yang keras, ia penuh amarah karena hanya bisa menjadi tetangga miskin yang tidak bisa membantu gadis yang sudah lama ia sukai secara diam-diam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN