Matahari belum begitu tinggi ketika keributan mulai membangunkan Liana dan juga Efrain. Posisi tidur Efrain yang berada di ruang tamu bisa membuat ia lebih cepat mengetahui apa yang sedang terjadi di depan.
Sebuah truk besar diturunkan, dengan banyak kuli pengangkut turun dari baknya.
“Bawa apa saja yang memiliki nilai jual!” titah pimpinan itu.
Mereka segera menghambur dan masuk ke dalam rumah. Beberapa di antara mereka terkesiap ketika mendapati seorang pria tengah berdiri di ruang tamu dengan mata yang dingin. Sementara seorang wanita cantik, berada di atas tangga.
“Apa yang akan kalian lakukan?” tanya Efrain.
“Kami dari pihak bank, akan menyita barang-barang berharga dari rumah ini sebelum dirobohkan!”
“Omong kosong! Rumah ini masih dalam tahap persidangan, apakah kalian tidak bisa melihat garis polisi di depan?”
“Persidangan sudah selesai, kami berhak atas rumah ini sekarang!” jawab pria dengan setelan rapi. Ia membuka selembar kertas yang berisi putusan sidang.
Dunia Liana runtuh seketika itu juga, ia hampir tak mampu menyeimbangkan kedua kakinya dan hanya bertumpu pada pegangan tangga. Efrain segera lari ke atas setelah melihat Liana hampir tumbang. Sesampainya di atas Efrain segera mengalungkan tangannya ke perut Liana.
“Rumah ini benarkah akan di hancurkan?” tanya Liana dengan wajah yang pucat. Ia masih demam karena terguyur hujan semalam tetapi harus menerima kabar buruk di pagi hari.
“Tak apa semua akan baik-baik saja. Di masa depan kamu bisa membangun rumah impianmu kembali.”
Efrain mengepalkan jemarinya, ia hanya bisa memegangi tubuh Liana tanpa bisa menghentikan para pekerja yang sedang menghilangkan kenangan dari setiap barang berharga di rumah ini.
Foto-foto keluarganya di turunkan dari dinding, mereka mengambil pigura besar foto dengan bingkai bercorak emas di tiap sisinya. Ada sosok Ayah, Ibu, Lucy dan juga Liana di foto itu. Setelah pekerja mengambil piguranya mereka meninggalkan begitu saja kertas foto yang terserak di lantai.
Efrain mengambil foto itu, menggulungnya menjadi lebih kecil dan memberikan kepada Liana.
“Nanti, aku akan membelikan bingkai yang lebih besar dan indah untuk foto keluargamu,” janji Efrain.
Setelah mengemasi sedikit barangnya, Liana keluar rumah dengan Efrain. Liana hanya membawa beberapa helai baju, semua barang mewahnya telah di sita dan hanya meninggalkan beberapa helai baju murah yang tidak dapat dijual kembali.
“Tinggallah di rumahku nanti malam,” pinta Efrain begitu mereka keluar dari gerbang rumah besar keluarga Anderson.
“Aku akan tinggal di rumah sakit bersama Lucy, Terima kasih Efrain, kamu adalah teman yang selalu ada dan tak pernah meninggalkanku.”
Hati Efrain entah bagaimana merasa sakit pada perkataan ‘teman' yang di ucapkan oleh Liana. Sejak kecil Efrain tidak pernah menganggap Liana sebagai temannya, gadis itu memiliki arti lebih dari teman di hati Efrain.
“Aku harus segara pergi, sampai jumpa!” pamit Liana.
“Kamu mau ke mana?”
“Ke kantor Paman untuk mencari pinjaman.”
“Apakah kamu yakin dia akan membantumu?”
“Entahlah, tidak banyak keluarga kaya yang aku miliki. Sebagian dari mereka bahkan memutus hubungan dengan kami setelah skandal ayah.”
Efrain tahu seperti apa Paman Joseph, dia adalah seorang yang pelit dengan kepribadian yang sombong. Ia sangsi bahwa lelaki tua dengan perut bir itu akan membantu Liana.
“Seandainya aku tidak kerja, aku ingin menemanimu.”
“Tidak masalah.” Liana tersenyum sebelum akhirnya berjalan menjauh dan hilang dari pandangan Efrain.
Efrain masih berdiri di tempat, ia berpikir bahwa jika saja dirinya bisa memberikan uang tiga juta dolar untuk Liana, bisakah gadis itu akhirnya menyukai dirinya.
***
Siang ini Liana masuk ke gudang logistik milik Paman Liana dari pihak Ayah. Hanya ia keluarga yang terlihat kaya setelah dirinya jatuh miskin. Ia menunggu pamannya di dalam ruang kerja, setelah 30 menit menunggu paman bertubuh tambun dengan rambut bagian atas yang sudah menghilang itu datang. Liana menyambut dengan senyum cerah, tapi tidak dengan Paman Joseph, ia berwajah kecut bahkan tak menatap sedikit pun pada kedatangan Liana.
“Apa yang kamu inginkan?” tanya Joseph dengan nada sinis.
“Bisakah paman meminjamkan aku uang tiga juta untuk biaya operasi adikku?”
Mendengar nominal itu Joseph seperti tersambar petir, kepalanya mulai berasap menahan amarah. Bagaimana gadis ini begitu percaya diri datang ke tempatnya mencari pinjaman sebesar itu setelah semua kerugian yang ia hadapi.
“Apakah kamu tahu berapa banyak aku kehilangan clien karena skandal suap ayahmu!” pekik Joseph hingga menggetarkan tubuh Liana. Gadis itu merasa begitu kerdil setelah menerima gelombang amarah pamannya. Ia menahan air mata yang sudah berada di ujung mata agar tidak terjatuh.
“Aku mohon paman, operasi ini sangat penting untuk adikku,” Liana meletakkan hingga ke dasar harga dirinya. Ia mengatupkan kedua telapak tangan dan menaruh di depan wajahnya dengan penuh harap.
“Tidak!” pekik Joseph, sambil memalingkan wajahnya, “Kamu ini benar-benar tak tahu malu!”
‘Tak tahu malu?’ ia masih ingat betul berapa sering paman tambunnya ini datang ke rumahnya dulu hanya untuk meminjam uang. Ia selalu diterima dengan senyum ramah kedua orang tua Liana. Hutang itu bahkan lebih sering tidak dikembalikan tanpa ada rasa malu. Bahkan jika sekarang Liana datang ke sini, ia bisa saja mengatakan menagih hutang yang selami ini Paman Joseph pinjam.
Ia masih punya perasaan dengan mengatakan bahwa ia ingin meminjam uang tapi jawaban pamannya itu sungguh di luar dugaan.
“Kamu seharusnya tahu diri sekarang. Berapa banyak clien yang meninggalkanku hanya karena ulah memalukan mendiang ayahmu itu!” Lelaki itu terus mengeluarkan kata setajam pedang yang terus mengikis kesabaran Liana. Telinganya memanas ketika mendengar ayahnya yang sudah tiada ikut di hina.
“Itu cukup sepadan, dulu paman mendapatkan clien dengan menggunakan nama ayahku. Jelas saja mereka meninggalkanmu saat Ayah sudah tak ada!”
Prang...
Sebuah asbak kaca di jatuhkan tepat di depan Liana duduk, pecahan itu bahkan melompat dan menggores pipi putih Liana. Ia hanya mengoles darah hangat yang mulai mengucur di rekahan luka yang tersayat di atas kulitnya.
“Pergi kau jalang kecil!” pekik Joseph.
Liana bangkit dari duduknya, ia keluar ruangan Joseph dengan membanting keras pintu itu.
“Mulai sekarang tidak ada hubungan saudara antara aku denganmu! Camkan itu!” pekik Joseph dari dalam ruang kerjanya. Beberapa pegawai kini mengalihkan pandangannya pada Liana, membuat ia berjalan tertunduk.
‘Iya, itu lebih baik. Tak akan lagi ada hubungan saudara antara kita!’ hati Liana sudah hancur hingga menjadi remahan kecil ketika Joseph menghina ayahnya yang masih basah tanah makamnya. Ia begitu cepat lupa semua kebaikan yang sudah keluarga Liana berikan dulu.
Terik matahari begitu menyengat siang ini, entah sudah berapa kilometer kaki Liana menyusuri jalan dari perusahaan pamannya menuju ke Tante Haidar adik dari ayahnya yang kini bekerja di salah satu lembaga negara.
Ia sengaja menunggu di tempat parkir mobil yang berada di depan gedung. Cuaca panas yang menyengat membuat ia kehausan, air di botolnya tersisa satu teguk dan dengan segera ia menenggaknya.
“Ada apa kamu ke sini?”
Suara ketus itu mengagetkan Liana yang tengah duduk bersandar di batang pohon sambil memejamkan matanya. Ia dengan segera berdiri ketika yang ia lihat adalah bibinya.
“Tante, Lucy akan di operasi. Biayanya sekitar tiga juta dollar. Bisakah Tante meminjamkan uang tiga juta padaku, aku akan mengembalikan uang itu dengan mencicilnya.”
Tawa perawan tua itu menggema hingga seluruh tempat parkir, ia bahkan menunjukkan ekspresi wajah yang mencibir saat menatap Liana.
“Kamu bahkan tidak punya sepeser pun sekarang!”
Liana menunduk, memang benar ia tidak punya sepeser pun sekarang, oleh karena itu dia datang ke sini dan berjalan di tengah hari yang panas hanya untuk meminta pertolongan pada seseorang yang masih ia anggap keluarga.
“Pergilah, aku tidak punya uang sebanyak itu!” kata Tante Haidar dingin, ia kemudian membuang uang seratus ribuan sebanyak lima lembar ke muka Ayana, “Aku hanya bisa memberikan sumbangan sebesar itu, ambil dan cepat pergilah!”
Uang lima lembar itu menghantam wajah Liana, meski ringan tapi uang kertas itu terasa begitu menyakitkan ketika menghantam wajahnya. Seperti ia di lempar oleh satu rim kertas HVS yang tebal.
Tante Haidar adalah satu-satunya harapan Liana, tak ada lagi keluarga yang bisa ia minta bantuan. Meski ia merasa terluka oleh setiap perkataan wanita itu, tapi saat ia mengingat adiknya. Ia melepaskan kembali egonya, lututnya mulai ditekuk di atas lantai yang panas.
“Bisakah Tante meminjamkan perhiasan dan sedikit tabungan untuk kami.” kalimat yang terdengar lancang tapi Liana sudah berusaha menekan suara serendah mungkin agar tidak melukai perasaan Tantenya. Ia tahu Tante Haidar tidak semiskin itu, perhiasan yang menempel di tubuhnya saja seharga satu juta dolar, belum lagi tas mahal yang bertengger di lengannya.
“Lancang sekali kamu! Dasar gadis jalang sialan!” Tante Haidar maju lebih dekat ke arah Liana yang berlutut, ia menjambak rambut panjang Liana dan menariknya ke kiri dan kanan hingga membuat kepala Liana berputar-putar.