05 : Santunan Tetangga Miskin

1116 Kata
“Jual saja tubuhmu itu, jika kamu cukup cantik paling mahal kamu di hargai 100 ribu dolar. Lakukan itu sampai 30 kali dan kamu akan mendapatkan tiga juta yang kamu inginkan!” pekik Haidar. Liana mengepalkan tinjunya, ia tak habis pikir bagaimana orang yang masih memiliki darah sama yang mengalir di tubuhnya bisa begitu buruk memperlakukan dirinya. Jika ia tidak bisa membantu haruskah ia mengatakan agar Liana menjual diri. Gadis itu berdiri dari lutut yang hampir melepuh karena menempel di aspal yang panas. Amarah berkobar dalam jiwanya yang panas, tak ada lagi kesabaran tersisa. “Apakah dengan cara itu juga Tante memperkaya diri!” kata Liana dengan tatapan yang tajam. Plak! Tamparan keras mendarat ke pipi putih Liana. Cukup keras hingga membuat ujung bibirnya sobek dan mengalirkan darah. Liana menatap tajam lagi ke arah Tantenya, tatapan itu membuat Haidar semakin marah. Hingga ia mengayunkan lagi telapak tangan ke arah Liana. Tapi dengan cepat Liana menggenggam erat tangan Haidar. “Cukup!” Pekik Liana, “Ayahku bahkan tidak pernah memukulku!” tatapan keponakan yang dulu selalu lembut dan polos kini begitu tajam hingga membuat Haidar menelan ludahnya. Ia seperti menatap Singa betina yang sedang marah. Ia segera membanting tangannya untuk melepaskan pegangan Liana dan melangkah pergi. Haidar pergi mengemudi mobilnya, meninggalkan keponakan Liana beserta uang lima ratus ribu yang berserakan. Liana memunguti uang itu dengan bercucuran air mata, tiap lembar uang yang ia ambil bagaikan sepuluh cambukkan mendarat di punggungnya. Ini menyakiti harga dirinya hingga ke tulang sum-sum. Tapi uang ini begitu berharga untuknya sekarang, meski ia harus memunguti uang itu dengan cara berlutut. Liana terus memikirkan bagaimana ia bisa mendapatkan uang cepat agar operasi adiknya segera di laksanakan. Semakin lama ia mendapatkan, maka semakin menggunung juga tagihan medis pasien 101 bahkan biaya perawatan adiknya juga akan semakin membengkak. Malam ini Liana menggunakan semua keberaniannya menuju ke hotel Emperor milik salah satu teman wanitanya. Di antara semua temannya, hanya Belinda Peterson yang terlihat lebih kaya. Ia adalah salah satu pewaris bisnis keluarga Peterson di bidang perhotelan. Liana dan Belinda adalah teman semasa SMA elite di kota ini. Belinda menerima telepon Liana, dan menyuruhnya menunggu di restoran hotel. Setelah menunggu lima belas menit akhirnya Belinda datang. Ia begitu anggun menggunakan setelan kemeja mahal dari desainer Italia. “Mari kita pesan makanan dulu!” Gadis itu langsung duduk begitu datang, bahkan mengabaikan Liana yang sudah berdiri untuk menjabat tangannya. Liana menelan ludah, ia tidak ingin berprasangka buruk pada salah satu teman baiknya ini. Sementara bagi Belinda, ia tidak ingin menjabat tangan seseorang yang kini status sosialnya jauh di bawah dia sekarang. “Ada apa mencariku?” pertanyaan itu muncul dari mulut wanita berwajah dingin di depan Liana. Ia tidak seperti berhadapan dengan temannya sendiri, bahkan seperti seorang bawahan yang sedang mengajukan pinjaman pada atasannya. “Aku butuh bantuan, bisakah kamu meminjamkan uang 3 juta dolar untukku?” Boom...! Mendengar Liana mencari pinjaman kepadanya membuat Belinda seperti baru saja di hantam oleh bom berdaya ledak tinggi. Gadis ini dulu adalah primadona semua pria di sekolahnya, ia tak hanya cantik tapi kasta kekayaan Liana berada pada strata satu di circle mereka. Kini gadis itu justru datang kepadanya, dengan wajah lusuh untuk meminjam uang sejumlah lima juta dolar. Belinda bukan tak mengetahui bagaimana kejatuhan keluarga Anderson yang terhormat, keadaan itulah yang membuat Liana sekarang jatuh dari kasta tertinggi hingga ke lembah gelap yang tak terlihat. Senyum simpul penuh ejekan mulai mengembang di bibir merah Belinda, ia kini seperti mendapat kesempatan untuk membalas rasa sakit hatinya karena selalu menjadi gadis nomor dua setelah Liana. “Apakah kamu begitu takut miskin hingga meminjam uang kepadaku? Ini bahkan belum ada dua minggu sejak keluargamu di nyatakan pailid!” Tubuh Liana mulai bergetar, ia mencengkeram erat lutut dengan kedua tangan yang bersembunyi di bawa meja. “Bukan karena aku takut miskin, tapi uang itu sangat berarti untuk-,” Belum usai Liana menjelaskan Belinda sudah berdiri dari tempat duduknya. “Aku tidak punya uang sebanyak itu, ini ada uang 300 dolar, anggap santunan untuk tetangga baruku yang miskin!” Liana membanting kantong kertas berisi uang di atas meja, ini adalah momen dari semua yang dulu hanya impian yang kini bisa jadi kenyataan. Dulu ia sering membayangkan seandainya Liana jatuh miskin, maka ia tak akan lagi menjadi gadis nomor dua. Lelaki juga tak akan melirik dirinya setelah melirik Liana lebih dulu. “Makanlah dulu sebelum pulang! Aku yang traktir!” Belinda pergi begitu saja meninggalkan Liana yang sedang berusaha keras menahan air matanya. Seperti apa pun kondisinya, ia tidak ingin menangis di depan orang lain dan menunjukkan kelemahannya. ‘Mungkin hanya aku selama ini yang menganggap ia teman baik,’ Liana mulai menertawakan kebodohan dirinya sendiri selama ini. Tidak ada persahabatan bagi mereka para orang kaya, mereka hanya bersama dengan motif bisnis atau keuntungan bersama. Saat kamu tak lagi berguna bagi mereka maka kamu hanya akan menjadi serangga pengganggu. Anehnya meski hatinya begitu terluka, ia tetap menatap kosong pada uang di dalam amplop yang berada di atas meja. Ia menggenggam uang itu dengan erat, sebelum memasukkan ke tas kecilnya dengan tangan yang gemetar. ‘Setidaknya uang ini akan sangat berarti untuk biaya berobat Lucy. Jika aku meninggalkan uang ini begitu saja, Belinda bahkan tak akan kembali untuk mengambilnya.’ Liana mencoba menguatkan dirinya sendiri yang hampir runtuh. Ia harus menjadi sangat kuat untuk adiknya, ia tidak boleh menyerah hanya karena harga dirinya sudah di rendahkan. Apa pun akan ia lakukan jika itu untuk kesehatan adiknya, karena ia adalah satu-satunya keluarga yang tersisa di dunia ini. Sosok pria yang duduk tak jauh dari meja Liana menatap sinis ke arahnya. Pria itu dapat mendengar jelas tiap kalimat yang keluar dari Liana dan Belinda tadi. Ia bahkan menatap penuh jijik ke arah Liana saat pada akhirnya gadis itu memasukkan amplop itu ke dalam tasnya setelah harga dirinya di rendahkan. Liana beranjak pergi tanpa menyentuh makanan di mejanya, meski perutnya terus meronta bahkan air liurnya terus membasahi tenggorokan tapi ia tidak mungkin bisa menelan makanan di meja itu. Setidaknya ia ingin mempertahankan sedikit saja harga diri yang tersisa. Langkah Liana tiba-tiba terhenti ketika lengannya di tahan oleh cengkeraman kuat dari arah belakang. Hingga membuat tubuhnya memutar setengah lingkaran dan berbalik ke arah belakang. “Tunggu! Aku bisa memberimu tiga juta dolar seperti yang kamu butuhkan.” Untuk beberapa saat mereka saling menatap saat sama lain. Lelaki di depan Liana sekarang adalah pria muda yang sangat tampan, badannya tinggi dan memiliki penampilan yang mewah. Setidaknya semua outfit yang pria itu gunakan seharga jutaan dolar jika di gabungkan. “Apa yang kamu bilang barusan?” Liana tidak tuli, tapi ia begitu terkejut ketika pria asing di depannya ingin memberinya uang tiga juta dolar. “Aku akan memberikan uang itu!” Lelaki itu kembali mempertegas ucapannya tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN