Pria tampan di hadapan Liana adalah orang asing yang baru ia temui. Meski tampan tapi Liana merasakan hawa dingin yang keluar dari tubuh pria di hadapannya itu. Liana menghela nafas, pria di hadapannya sekarang pasti hanya ingin mempermalukan dirinya. Ia melepaskan cengkeraman tangan pria itu dari lengannya dengan setengah membanting.
“Aku tidak ada waktu untuk lelucon bodoh ini!” Liana menatap tajam ke arah pria itu. Ia seperti sengaja bermain-main dengannya, Liana bukan tak tahu bahwa pria itu sedari tadi duduk dan terus memperhatikan ke arah dia dan Belinda. Ia pasti ingin menyiram minyak pada bara api yang sudah menyala di jiwanya.
Pria tinggi dan tampan di hadapan Liana sekarang adalah Aaron Smith. Pria kaya raya penerus kerajaan bisnis kesehatan milik keluarga Smith Corp. Aaron mengenal Liana, gadis itu adalah penyebab ia lari dari Kota Southland dan melanjutkan sekolah ke Inggris tapi Liana tidak mengenal Aaron Smith.
“Aku tidak main-main, tidurlah denganku! Akan kuberikan uang itu semudah jentikan jari.”
Liana mengepalkan jemarinya, paman, tante bahkan Belinda sudah merendah dirinya hari ini. Setidaknya ia mengenal mereka, tapi pria ini? Liana bahkan tidak pernah bertemu dengannya. Wajah Liana memerah, ia tak akan membiarkan orang asing menginjak-injak harga dirinya.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Aaron Smith. Banyak mata mulai melihat ke arah mereka sekarang. Aaron menahan amarah, tapi reaksi pertama yang ia keluarkan adalah senyum tipis dengan mata menyipit penuh ejekan.
“Aku tinggal di kamar 303 hotel ini, ketuklah pintunya besok malam jika kamu berubah pikiran!” bisiknya mendekat ke telinga Liana.
“Dalam mimpimu!” kata Liana sebelum melangkah pergi.
Aaron menatap punggung Liana hingga keluar dari Lobby Hotel. Ia masih tak menyangka gadis yang dulu pernah menjadi bunga terindah di Kota Southland kini berubah menyedihkan. Bayangan bagaimana menyedihkannya Liana ketika wanita itu mengambil amplop pemberian dari seseorang yang sudah menghina harga dirinya, membuat Aaron merasa jijik bahwa ternyata uang bisa membeli segalanya termasuk harga diri.
‘Kamu pasti akan datang, seorang yang terlahir dengan sendok perak di mulutnya tak akan bisa bertahan dengan makanan sisa.’
‘Kamu akan datang demi uang itu, jika kamu benar-benar takut hidup miskin!’
Aaron menyeka tamparan Liana dengan sapu tangan sutra begitu juga telapak tangan yang sempat menyentuh kulit Liana, ia kemudian membuang sapu tangan itu ke lantai.
Liana menyusuri jalan dengan derai air mata yang terus ia seka. Bahkan ia sengaja menatap ke atas agar tetesan itu kembali ke dalam dan tidak turun. Sepanjang jalan ia menahan rasa lapar yang melilit di perutnya. Ia belum makan dan hanya terisi sepotong roti tadi pagi. Sepanjang jalan yang ia lihat hanya kedai-kedai mahal yang kini tak bisa ia jangkau.
Ia kemudian melihat antrean panjang orang di seberang taman. Mereka adalah para tunawisma yang sedang antre makan pada dapur umum yang di adakan salah satu organisasi amal kota ini.
Liana tersenyum gembira, ia segera memasuki barisan dan mengantre di belakang para tunawisma di sana. Kehadirannya mendapatkan tatapan aneh oleh mereka. Liana jelas berbeda dari orang yang berjajar rapi di sana. Gadis di belakang ini menggunakan pakaian mahal dan sepatu bermerek, bagaimana mungkin ia bisa berbaris dengan para tunawisma.
Wajahnya cantik dan terawat, berbeda dengan mereka yang lusuh dengan noda dan bau badan yang apek. Liana memang baru bangkrut seminggu, dalam waktu sesingkat itu kecantikan belum menguap dari wajahnya. Ia juga masih memakai baju-bajunya yang mahal di lemari. Meski barang mewah seperti tas dan jam tangan sudah di sita negara tapi masih ada banyak baju tersisa.
“Nona, kehadiranmu di sini akan merebut hak orang yang lebih membutuhkan!” Seorang wanita berpakaian lusuh dan compang-camping menepuk bahu Liana dari belakang.
Sebagian orang bahkan petugas kini semakin menatap tajam pada Liana. Kini tubuh gadis itu gemetar selain karena lapar juga karena rasa ketakutan pada tatapan aneh semua orang.
“A-aku juga tidak punya rumah seperti kalian, negara baru saja menyitanya,” jawab Liana dengan terbata-bata.
“Ini baju yang aku dapatkan dari sumbangan,” Liana berbohong, rupanya rasa lapar yang semakin menyiksa bisa membuat ia kehilangan kejujuran.
Setelah mendengar penjelasan Liana, semua orang mulai diam dan tak mempermasalahkan lagi keberadaannya di antara para tunawisma.
Ada uang di amplop dari Belinda, tapi uang itu sangat berarti untuk biaya obat adiknya. Gadis itu kini mengantre hanya untuk semangkuk sup ayam hangat yang bahkan hanya tersaji dalam mangkuk plastik kecil.
Liana menyantap makanan itu hingga tetes terakhir sup, makanan yang sebenarnya hambar ini terasa begitu enak setelah sekian lama mulutnya hanya merasakan masakan mie instan atau roti hambar tanpa selai.
Saat orang-orang melihat cara Liana makan, kini mereka mulai percaya bahwa gadis ini adalah bagian dari mereka.
“Sungguh malang sekali, padahal ia masih cantik dan muda,” kata tunawisma paruh baya pada temannya.
“Sekarang ia masih mengenakan pakaian bagus, seminggu lagi pakaiannya akan tampak seperti milik kita,” sahut wanita tua di sebelahnya.
Wanita tua itu segera berjalan menghampiri Liana, ia memberinya sebuah kue Muffin yang terbungkus rapi di tempat plastik.
“Makanlah ini juga jika masih lapar,” tawar wanita tua itu.
“Untuk Nenek saja, aku sudah kenyang dengan makan ini,” jawab Liana sambil tersenyum simpul.
Nenek tua itu segera menggenggamkan muffin ke telapak tangan Liana, “Makanlah untuk sarapan esok.”
Air mata Liana hampir jatuh, setelah seharian ia berputar mencari pinjaman yang ia dapatkan hanya hinaan seolah dirinya bukan manusia. Untuk pertama kalinya hari ini ia merasa di manusiakan justru oleh seorang tunawisma tua yang compang-camping.
‘Iya, aku masih manusia,’ batin Liana setelah hampir lupa bahwa ia juga manusia bagian dari makhluk sosial. Ia menangis sesenggukan dengan ingus yang menetes dari lubang hidung. Nenek tua di depannya menepuk bahu Liana yang meringkuk menutupi tangis dengan cara membungkuk.
“Awalnya memang berat, tapi semua pasti akan baik-baik saja,” nasehat wanita tua itu. Ia tahu betul gadis di depannya sekarang adalah gadis kaya yang baru saja jatuh miskin. Kulitnya masih lembut dan bercahaya seperti porselen.
“Aku ada terowongan stasiun delapan, datanglah ke sana jika kamu membutuhkan seseorang untuk berbagi cerita.” langkah tua itu tertatih meninggalkan Liana.
‘Sangat di sayangkan, kulit lembut itu akan segera mengeras bahkan melepuh untuk bekerja di sektor pekerjaan kasar,’ gumam wanita tua itu sambil berlalu.