Pagi hari Liana sudah mendapatkan panggilan dari pihak manajemen rumah sakit. Ia segera memasuki ruang kerja Kepala Sekretaris bidang keuangan rumah sakit tempat adiknya di rawat. Jantungnya berdegup kencang, ia tahu ini adalah pertemuan tentang biaya operasi Lucy. Ia hanya membawa uang 500 dolar yang ia dapat dari Tante Haidar dan Belinda. Uang itu jelas tidak berarti banyak, yang ia butuhkan sekarang adalah sebanyak 3 juta dolar. Liana segera menarik nafas dalam ketika membuka pintu.
Seorang wanita dengan kacamata tebal tengah membaca sebuah jurnal buku besar di mejanya. Wanita yang pada papan mejanya tertulis nama Doroty itu mengenakan riasan menor dengan bibir merah yang mencolok.
“Duduklah Nona Liana!”
Liana tersenyum tipis, ia menarik kursi di depan meja Doroty dan segera duduk di atasnya.
“Maaf harus mengatakan ini Nona Liana.”
Kata maaf itu sontak mengalirkan aliran kejut yang membuat jantung Liana berdegup kencang.
“Pasien 101 harus segera menjalani pencabutan alat penunjang kesehatan. jika Anda terus mengulur waktu pembayaran, masih ada pasien lain yang juga membutuhkan donor jantung darinya. Mereka baru saja datang tadi pagi dan mengatakan bersedia membayar 4 juta dolar.”
Liana gemetar, nafasnya bahkan terasa sesak, jantung pasien 101 berarti kehidupan normal untuk adiknya yang sejak bayi menderita kelainan jantung. Tanpa transplantasi jantung ini jantung adiknya hanya di vonis bertahan hingga satu tahun lagi. Liana tidak bisa kehilangan kesempatan ini, ia sudah kehilangan kedua orang tuanya dan tak ingin menjadi sebatang kara dengan kematian adiknya.
“Saya akan membayar empat juta dolar, tolong beri kesempatan ini hingga besok pagi!”
Gadis itu setengah gila otaknya ketika mengatakan itu, bagaimana ia bisa mendapatkan 4 juta dolar sementara tiga juta dolar saja tak ada yang meminjamkan padanya.
“Baiklah kami akan memberi kesempatan itu Nona Liana,” jawab Doroty dengan senyum tipis, ia tahu siapa Liana sekarang hanya gadis kaya yang jatuh miskin tapi ia ingin memberi kesempatan terakhir.
“Seorang dokter bedah jantung hebat baru saja tiba di Southland dan ia bersedia mengoperasi transplantasi jantung untuk adik Anda. Aku harap Anda tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini.”
Mendapatkan donor jantung saja adalah hal yang sulit tapi kini ia juga akan mendapatkan dokter hebat yang bersedia melakukan operasi untuk adiknya.
Liana lemas begitu keluar dari ruangan Doroty, ia berjalan sambil berpegang pada dinding sepanjang lorong. Ia segera masuk lift dan turun di lantai paling atas, saat ia keluar ia mulai berjalan menuju ruang paling ujung. Di sana ada sebuah pintu yang bisa mengantarkan ia ke atap gedung rumah sakit setinggi 30 lantai ini.
Sesampainya di atap ia duduk dan memeluk lututnya sambil menaruh kepalanya di atas kedua tangan yang ia lipat di atas lutut. Ia melepaskan tangisannya, meraung sekeras yang ia bisa. Atap yang berangin membuat orang tak banyak datang ke sini, sehingga hanya di tempat inilah Liana bisa menangis sekeras yang ia bisa.
Ia harus ke mana mencari uang empat juta dolar, sekarang semua orang yang dulu ia kenal hanya menganggap ia pengemis yang meminta santunan. Liana tiba-tiba teringat pada pria kemarin malam yang sempat ia tampar. Pria itu mungkin akan menjadi satu-satunya jalan untuknya mendapatkan uang itu.
Tidak ada jalan lain sekarang, ia harus menjilat ludahnya sendiri. Liana melawan batinnya sendiri, bagaimanapun nyawa adiknya lebih penting dari pada apa pun.
Liana mulai mengatur langkahnya keluar rumah sakit, ia segera memasuki taksi yang baru saja menurunkan penumpangnya di depan rumah sakit.
“Hotel Emperor Tuan,” kata Liana begitu masuk taksi.
Sepanjang perjalanan sopir taksi menatap penumpang di belakang melalui kaca kecil di atas kepalanya. Penumpang perempuan kali ini tampak pucat pasi, tubuhnya bahkan gemetaran dengan keringat yang tak henti mengucur. Gadis ini tampak tak sehat, bahkan seperti pasien yang baru saja kabur dari rumah sakit tempat awal gadis ini masuk ke taksinya.
“Nona, apa Anda baik-baik saja?”
Liana masih belum menjawab, ia tenggelam dalam ketakutan dirinya sendiri.
“Nona, Anda terlihat kurang sehat. Apa perlu kita kembali ke rumah sakit?” kali ini sopir itu menaikkan nada suaranya.
Perhatian Liana kini mulai kembali setelah mendengar pertanyaan dari sopir taksi.
“Tidak, tetap ke Hotel Emperor Pak!”
Sopir itu tak punya pilihan lain, bagaimana pun penumpang adalah raja baginya. Meski baginya wanita itu tidak terlihat baik-baik saja, tapi ia sudah cukup dewasa untuk mengambil keputusan.
Setiba di hotel Emperor Liana segera naik ke lantai 30, tepat di mana kamar 301 berada. Jantung di dalam tubuhnya hampir meledak karena berdetak dengan begitu kencang. Ketakutan menjalar dari ujung kaki hingga kepala, Liana tidak menyangka bahwa pada akhirnya tubuhnyalah yang akan di jual untuk mendapatkan uang itu.
‘Tak apa Liana, hanya semalam. Semua akan baik-baik saja saat fajar menjelang. Ini semua demi jantung itu,’ Liana menguatkan dirinya sendiri saat kakinya ingin berbalik dan berlari keluar.
Liana sudah berada di depan kamar 301, ia menenangkan dirinya. Bagaimanapun ia harus menjadi kuat dan tak terlihat lemah.
Liana berdiri di depan pintu sudah hampir sepuluh menit, sampai akhirnya jemarinya tidak bergetar lagi saat menekan tombol bel kamar 301.
Ting tong...
Seorang pria tampan yang tengah mandi mematikan kran airnya saat mendengar dengan samar suara bel berbunyi. Ia menajamkan lagi pendengarannya, hingga bel kembali berbunyi. Tangan kekarnya meraih handuk dan melingkarkannya di perut.
Saat Aaron membuka pintu, wajah cantik Liana berdiri di depan pintu. Aaron tersenyum tipis melihat reaksi Liana yang menutup matanya begitu mengetahui d**a telanjang Aaron. Dua orang wanita yang lewat di depan kamar Aaron tidak bisa memalingkan wajah mereka dari tubuh kekar yang hanya berbalut handuk, bahkan aliran air yang menetes di d**a bidang itu menambah pesona panas yang membakar jantung mereka hingga hampir melonjak.
“Lihat wanita itu, sok suci sekali! Untuk apa ia mengetuk pintu kamar pria di hotel jika tidak ingin melihat tubuh telanjang indahnya!” gumam salah satu wanita ketika melihat mata Liana yang terpejam di depan tubuh Aaron.
Aaron segera menarik tangan Liana masuk ke kamar hotel dan menutup pintu kamar itu, pemandangan itu membuat dua wanita yang lewat tadi menelan ludahnya.
Di dalam kamar hawa sunyi begitu mendominasi, jantung Liana berdebar begitu kencang hingga Aaron mampu mendengar tiap detakannya.