Aaron menyudutkan Liana hingga tubuhnya terimpit antara dinding dan d**a bidang Aaron. Lelaki itu sengaja mendekatkan wajahnya tepat di depan Liana, nafas hangat Aaron membuat tubuh Liana semakin gugup. Bahkan jemari Aaron mulai membelai lembut pipi Liana hingga membuat tubuh Liana menegang.
“Aku tahu kamu pasti akan datang,” bisik Aaron di dekat telinga Liana.
Liana merasakan bibir hangat pria itu sengaja di tempelkan ke daun telinganya.
“Mandilah dulu, aku tidak bisa tidur dengan wanita yang badannya masih kotor!” titah Aaron.
“Tu-tnggu sebentar,” pinta Liana menghentikan langkah Aaron.
“Aku datang bukan untuk 3 juta dolar, tapi aku ingin 4 juta dolar!” Tubuh Liana hampir jatuh saat mengatakan nominal itu, bahkan ia mengatakan itu dengan suara bergetar yang terdengar parau seperti ringkikan bebek.
Aaron menaikkan sudut bibirnya, ada penghinaan di mata indah pria itu, “Tentu, tapi aku akan memberikan empat juta dolar, setelah tiga kali permainan dalam semalam!”
‘Kenapa kamu menjadi sangat memalukan Liana, apa kamu begitu sangat takut miskin hingga menjual tubuhmu sendiri!’ batin Aaron penuh penghinaan.
Liana lemas, ia terhuyung dan mundur selangkah. Hanya dia yang tahu betapa basah punggung bagian belakangnya menahan ketakutan yang terus melemahkan dirinya.
“Baiklah,!” jawabnya lirih.
Liana berjalan perlahan menuju kamar mandi, ia diam untuk beberapa waktu. Jemarinya terasa sangat kebas ketika melepas tiap helai bajunya di kamar mandi. Air matanya bahkan mengucur deras di bawah pancuran air yang ia nyalakan.
“Apa kamu ingin melakukan yang pertama di kamar mandi?” tanya Aaron dari balik pintu kamar mandi setelah menunggu Liana yang tak kunjung keluar hingga satu jam.
“A-aku akan keluar sekarang!” jawab Liana bergetar.
Ia keluar dengan mengenakan handuk Kimono berwarna putih, memperlihatkan tulang selangkanya yang indah, seringai senyum Aaron begitu menakutkan saat melihat Liana baru saja keluar dadi kamar mandi.
Ia langsung menyerang bibir Liana yang masih terasa dingin, melumatnya hingga Liana susah bernafas. Mendorong mundur tubuh Liana mendekati ranjang. Jemari Aaron melepaskan tali handuk yang mengikat di perut Liana, menghempaskan Kimono Liana jatuh ke lantai. Kini ia bisa menatap tiap lekuk tubuh indah Liana tanpa sehelai benang pun.
Bruk!
Liana jatuh terhempas di atas ranjang, Aaron menindihnya ia mengotori tiap jengkal tubuh Liana dengan ciuman dan sesapan yang menyakitkan bagi Liana. Sesapan itu meninggalkan bekas merah di berbagai tempat. Liana tak bisa merasakan apa pun kecuali rasa sakit yang begitu menusuk di hatinya.
Semakin Liana terlihat kaku, Aaron justru semakin menyentuh tubuh gadis itu dengan kasar.
‘Sok suci, kenapa kamu hanya diam? Bukankah kamu sudah sering menjual tubuhmu sebelumnya?’ batin Aaron sambil terus melumat tiap jengkal tubuh Liana.
Aaron tidak sadar di ujung pelupuk mata Liana ada air mata yang sudah menggenang, tentu saja pria itu tidak tahu. Ia terus menciumi tubuh Liana bagian bawah hingga menuju pangkal paha.
“Aku membayar mahal untuk ini, sangat mahal bahkan dari pada bermalam dengan artis terkenal. Tapi sepertinya aku justru tidur dengan pohon yang kaku,” maki Aaron, ia merasa marah karena hanya dirinya saja yang mendominasi permainan ini. Jika yang ia cumbu bukan Liana, ia pasti sudah membuang gadis ini keluar dari kamar hotel.
“Apa kamu tidak mengingatku Liana?” mata Aaron begitu dingin ketika mengatakan itu. Liana tak mengerti apa yang dikatakan oleh Aaron, yang dia ingat ini adalah pertemuan kedua setelah di restoran kemarin.
Melihat Liana hanya diam, Aaron menjadi sangat murka. Ia terus menyentuh tubuh Liana hingga membuatnya menggeliat seperti ular yang sedang berganti sisik.
‘Ini tidak adil, aku bahkan terus mengingat dirimu selama ini!
‘Baiklah aku akan membuat dirimu mengingatku sepanjang hidupmu setelah malam ini,’ yakin Aaron pada dirinya sendiri.
Aaron segera membalik tubuh Liana, hingga ter telungkup. Dia juga meninggalkan ciuman dan jejak merah pada belakang punggung Liana. Ada rasa dendam mendalam yang ia salurkan dari setiap tindakan sentuhan kasar yang lakukan di tubuh Liana. Ini pertama kali Aaron menyentuh seorang wanita, tapi ia tidak tahu kenapa dirinya bisa bertindak tanpa kelembutan sedikitpun.
“Aaa.. Sakit!” teriak Liana. Ia mencengkeram seprai hingga mengerut.
Aaron bisa melihat ada darah keluar yang membuat Liana menjerit kesakitan.
“Kamu baru pertama melakukan ini?”
“Apa aku begitu murahan di matamu?” jawab Liana dengan terisak.
“Baiklah, maafkan aku! Aku akan melakukan dengan lembut.”
***
Jam tiga pagi, wanita yang berada di sebelah Aaron akhirnya tertidur setelah lelah menangis. Mereka baru saja melakukan dua kali permainan dalam hanya jeda waktu yang singkat. Tubuh Liana bukan hanya terasa sakit secara fisik, tapi juga secara psikis.
Aaron tidak pernah seperti ini sebelumnya, untuk pertama kali ia tidur di ranjang yang sama dengan wanita di dalam hidupnya. Dia adalah tipe pria dingin yang penyendiri, banyak sosialita yang berusaha mendekati Aaron tapi mereka hanya bisa bertahan dengan jarak lima langkah dari Aaron. Tatapan dingin pria ini sudah cukup untuk membekukan langkah gadis yang hendak merayunya.
Aaron semakin bergeser mendekati Liana. Ia mengangkat kepala Liana di atas lengannya dan meletakkan gadis itu dalam pelukannya.
“Apa yang kau lakukan?” Liana terbangun dan memberontak, tapi Aaron semakin mengencangkan pelukannya.
“Diamlah dan tidur di pelukanku! Ini cukup untuk babak ketiga bagiku,”
Liana melemah, ia membiarkan Aaron tidur sambil memeluk tubuhnya. Ia berusaha sekuat mungkin tetap terjaga, ia sudah tertidur 30 menit sebelum Aaron memeluknya. Itu sudah cukup membuat ia hanya diam tanpa tertidur.
***
Telepon Aaron terus berdering hingga membuat ia terbangun, bukan sebuah ponsel yang pertama ia cari. Justru gadis di sebelahnya yang telah menghilang yang membuat ia kebingungan.
‘Apa dia sudah pergi?’
Aaron segera bangun dan menyapu pandangan ke meja dekat kursi tamu. Ia tak melihat tas hitam berisi uang yang sudah ia siapkan semalam sebelum menyusul tidur di sebelah Liana. Ada rasa kehilangan yang begitu hampa di hati Aaron saat ini.
‘Kenapa ia merelakan kesucian yang selama ini ia juga hanya untuk uang?’ batin Aaron, ada rasa bersalah yang tumpang tindih di hatinya.
‘Sudahlah! Lagi pula aku juga sudah membayar mahal untuk selaput dara itu!’
Aaron segera meraih ponsel yang terus berdering, “Ada apa?” tanya Aaron dingin pada Juan tangan kanan Aaron.
“Apa Anda lupa? Sebentar lagi harus menghadiri rapat di rumah sakit?”
Aaron menepuk keningnya dengan keras, ia hampir saja melupakan hari penting ini.