Setelah keluar dari Hotel Liana segera menuju ke tempat bendahara rumah sakit untuk melakukan pembayaran. Mereka sempat terkejut karena melihat jumlah uang tunai yang begitu banyak dalam satu koper. Sebagian besar pasien lebih sering melakukan pembayaran dengan transfer atau pembayaran uang elektronik.
“Apakah menurutmu dia baru saja merampok bank? Bukankah keluarganya sudah bangkrut?” gumam salah satu perawat pada staf bendahara rumah sakit.
“Itu bukan urusan kita, apakah dia merampok atau menjual diri.” Bola mata bendahara rumah sakit tertuju pada area leher Liana, sekretaris itu pun akhirnya memiliki pandangan jijik saat menatap Liana.
Meski perkataan dua orang di depan Liana terdengar lirih, ia bisa melihat bahwa mereka sedang bergunjing tentang dirinya. Apa lagi staf bendahara itu terus mengarahkan pandangan matanya pada leher Liana yang telah di tumbuhi banyak cupang. Liana segera menarik kerah kemejanya ke atas.
Sepanjang perjalanan ke kamar perawatan Lucy, Liana melihat rumah sakit sedang berbenah. Banyak tenaga pembersih dikerahkan, para staf rumah sakit juga sedang hilir mudik membawa rangkaian bunga.
‘Sepertinya ada orang penting yang akan datang,’ gumam Liana.
“Siapa yang akan datang?” tanya Liana pada seorang suster yang lewat di sampingnya.
“Dokter Aaron, dia adalah putra pemilik rumah sakit ini yang juga seorang ahli jantung yang akan mengoperasi jantung adikmu besok,” terang suster.
Mata Liana berbinar terang, ia baru mengetahui bahwa dokter hebat yang akan mengoperasi adiknya adalah Aaron Smith. Ia belum tahu bahwa Aaron Smith adalah pria yang sama dengan pria yang sudah membeli kesucian dirinya semalam. Liana memang tidak pernah menanyakan siapa nama lelaki yang sudah memperlakukan dirinya dengan buruk semalam, dengan tidak mengetahui namanya ia berharap tidak bertemu lagi dengan pria itu.
***
“Kakak sudah datang?” sapa Lucy begitu Liana memasuki kamar rawatnya.
Wajah adiknya memiliki wajah yang begitu cerah pagi ini, hingga membuat Liana lupa betapa remuk tubuh dan hatinya.
“Kata Suster besok adalah operasi transplantasi jantungnya,” Lucy begitu bahagia saat mengatakan kabar itu. Transplantasi jantung adalah operasi yang sudah lama ia impikan. Ia ingin menjadi gadis normal seperti yang lain, tanpa perlu selalu di hantui oleh kematian setiap saat.
“Kamu harus istirahat yang cukup,” pesan Liana dengan mengelus lembut kepala Lucy.
Liana pergi menuju kamar 101, setelah mengetahui bahwa pasien ini yang akan memberi jantung pada adiknya. Liana sering datang untuk mengunjungi pasien 101 sambil membacakan banyak novel. Kedatangan Liana kali ini untuk mengucapkan kalimat perpisahan pada seseorang yang bahkan tidak ia ketahui namanya tetapi jantungnya akan di donorkan untuk Lucy.
“Apa kabar?” sapa Liana begitu masuk.
Tentu saja hanya denyut alat penyangga hidup dari pemuda itu yang menjawab. Selebihnya yang terbaring hanya mayat hidup yang benar-benar akan dicatatkan waktu kematian esok pagi.
Liana menitikkan air mata, sangat deras hingga membanjiri seluruh wajahnya. Di sebelah pria itu ia menangis hingga terisak, mencurahkan seluruh rasa sakit pada pria yang tidak dikenalnya.
Liana tidak tahu, apakah ia menangis untuk pria yang akan mati untuk adiknya atau ia sedang mengadu pada rasa sakit yang ia alami untuk mendapatkan biaya transplantasi. Semua perasaannya begitu tumpang tindih.
Butuh beberapa menit hingga akhirnya Liana bisa menyudahi tangisan emosional yang ia alami. Ia kemudian mengeluarkan sebuah buku dari tasnya.
“Aku akan membacakan kisah lain hari ini untukmu, ini adalah sebuah buku yang menceritakan betapa indahnya Surga dari 5 Agama.”
Liana sengaja mampir ke toko buku sebelum datang ke rumah sakit. Ia sengaja membeli buku tentang surga, sebuah tempat indah di kehidupan berikutnya. Ia ingin menceritakan keindahan itu agar pasien 101 tidak merasa takut menghadapi kematian esok pagi.
Usianya masih sangat muda saat ia harus mengalami kematian batang otak, setelah bertahan satu tahun lebih, media akhirnya memilih untuk mengakhiri tidur panjang pria tanpa nama yang hanya bernafas dari alat penunjang hidup yang terpasang di tubuhnya.
“Kamu lebih suka cerita agama yang mana? Apakah kamu percaya reinkarnasi setelah kematian? Jika kamu percaya, aku yakin kamu akan terlahir kembali sebagai orang baik. Mungkin juga seorang dokter yang hebat,
“Lalu apakah kamu percaya tentang surga dan neraka setelah kematian, maka aku pasti sangat yakin bahwa kamu akan menempati surga dengan banyak bidadari. Kamu mungkin menjadi paling terkenal di antara pria lain dengan ketampanan wajahmu.”
Liana menghela nafas berat, matanya menjadi merah dan berkabut.
“Aku minta maaf,” kata Liana di akhir cerita. Ia menggenggam tangan pria itu, memeluknya untuk terakhir kali.
Liana merasa hatinya begitu sakit, ia takut karena seolah menjadi pembunuh untuk pasien 101 hanya untuk mendapatkan jantungnya.
“Aku tidak tahu nama dan keluargamu, tapi aku akan mengurus pemakaman dengan layak untukmu. Bolehkah aku menuliskan nama ‘Heaven' di nisanmu? Seperti nama tempat yang akan kamu tujuan setelah ini.
"Apa kami tahu kamu juga akan aku makamkan di petak makam milik keluargaku, tempat itu berada di atas bukit dengan pemandangan yang indah. Nanti tolong jaga kedua orang tuaku yang sudah berada di sana lebih dulu. Katakan pada mereka bahwa hidup kedua putrinya baik-baik saja."
Liana terus berbicara banyak hal, ia lebih terbuka pada pasien 101 pada semua keluh kesah yang tak pernah ia ceritakan pada siapapun, dia hanya ingin di dengar jadi ia mengeluarkan semua isi hatinya pada pasien 101 untuk membuat hatinya bisa sedikit lega.
Liana mengeluarkan ponselnya, ia memfoto pria tampan yang terlihat tenang dalam tidurnya.
“Wah lihat ternyata kamu memang sangat tampan! Aku berjanji, setelah ini akan mencari informasi tentang keluargamu.”
Liana melingkarkan jari kelingkingnya ke jari kelingking pria 101. Hanya dengan membantu mencari keluarganya, Liana bisa merasakan beban rasa bersalah pada pasien 101 bisa sedikit terangkat.
***
Efrain pergi ke sebuah gudang yang terlihat tua, letaknya sangat jauh dari pusat kota juga jauh dari pemukiman penduduk. Menurut teman di tempat kerja Efrain, tempat ini adalah satu-satunya yang bisa ia tuju jika ingin mendapatkan uang secara instan. Semakin ia mendekati tempat ini, semakin terlihat beberapa kendaraan mewah terparkir di halaman. Suara riuh juga terdengar dari dalamnya begitu menggema hingga terdengar dari luar.
“Kamu mau ke mana?” Dua penjaga pintu gerbang bertubuh gempal menahan langkah Efraim, “Hanya orang tertentu yang bisa masuk ke dalam!”