Efraim menatap dua wajah sangar yang begitu mendominasi, sebenarnya mereka memiliki tinggi tubuh yang sama dengannya. Hanya saja otot di tangannya jauh lebih besar dari pada milik Efraim.
“Aku dengar di sini adalah tempat di mana aku bisa mendapatkan uang banyak dalam waktu singkat!” jawab Efraim tanpa ragu.
Kedua penjaga itu saling menatap, “Apa kamu datang untuk bertarung?”
Efraim mengangguk, kedua wajah sangar itu segera menatap Efrain dari atas ke bawah, tubuh Efrain memang tinggi besar tapi mereka terlihat ragu dengan wajah Efrain yang tampak bukan seperti pegulat, “Apa kamu punya pengalaman?”
“Tidak, aku hanya mendapat pelatihan bela diri saat sekolah menengah dulu,” jawab Efrain.
Tatapan kedua orang itu masih terlihat meremehkan, “Baiklah, di sini meskipun kalah kamu juga akan tetap mendapatkan uang. Ikutlah denganku!” kata salah satu penjaga.
Mereka segera berjalan memasuki pintu samping yang berada agak di ke belakang dari pada pintu utama. Gudang Merah adalah sebuah arena tarung bebas yang terkenal di kalangan orang tertentu. Penontonnya adalah orang kaya yang mencintai adrenalin, bau darah dan pertarungan bebas hingga akhir. Di tempat ini mereka akan membayar mahal untuk memenuhi rasa lapar mereka pada darah. Para pemain tarung bebas akan di bayar sangat mahal. 3 juta dolar untuk sekali memang dan 1 juta dolar untuk yang kalah.
Gudang Merah adalah milik Mafia besar dengan nama Red Eyes yang merupakan Mafia terbesar di negara ini. Jaringan mereka tersebar di berbagai tempat. Mereka tak terjamah hukum, karena sejumlah besar uang yang selalu mereka gelontorkan secara diam-diam ke pemerintah.
“Ada yang ingin bertemu denganmu,” kata salah satu penjaga pada seorang wanita berusia 40 tahunan di ruang kerjanya. Wanita itu sedang merokok sambil melihat daftar petarung bebas yang ia miliki.
Dia adalah Alora, kekasih dari pemimpin Mafia Red Eyes, wanita ini yang mengatur Gudang Trust. Termasuk yang menolak dan menerima calon petarung. Mata wanita itu naik turun menatap Efrain di depannya. Lelaki di hadapannya ini memang memiliki tubuh yang bagus, tapi dari wajahnya ia bisa menebak bahwa lelaki ini tidak memiliki pengalaman di dunia tarung bebas.
“Alasan apa yang membuatmu datang ke sini?” tanya Alora.
“Uang!” jawab Efrain.
Alora menggosok alisnya, setiap orang di dunia ini butuh uang. Mereka yang datang ke Gudang Trust juga untuk menghasilkan uang, termasuk bahkan cleaning servis di sini. Hanya penonton di sini saja yang tidak membutuhkan uang di sini tapi mereka melemparkan uang.
“Apa kamu tahu bahwa di sini tempat pertarungan bebas yang ilegal. Tidak ada yang bisa menjamin kamu keluar selamat atau cuma mayat!”
“Aku tahu.”
“Baiklah. Aku tidak akan menjelaskan peraturan apa pun di sini. Ini adalah arena tarung bebas jadi tidak ada peraturan. Untuk menang kamu akan mendapatkan tiga juta dolar, kalah kamu mendapatkan 1 juta dolar. Kapan kamu mau bertanding?”
“Malam ini juga!” jawab Efrain tanpa ragu. Kakinya bergetar hebat, ia sengaja menyamarkan rasa cemasnya dengan mengeluarkan suara tegas. Beruntung wanita di depannya sekarang hanya melihat ke wajahnya tidak pada kedua kaki panjangnya yang hampir goyah.
“Lihatlah dulu permainan di arena, setelah kamu mengetahuinya kamu bisa memikirkan akan menjadi pemain di ronde berikutnya atau pulang dulu untuk berlatih.”
Alora bahkan tidak peduli jika pria di depannya setelah pulang tidak akan berani untuk datang kembali. Arena gulat yang mengerikan harus ia perlihatkan pada pria muda ini, bahwa untuk mendapatkan uang dari sini ia harus menumpahkan darah.
***
Penonton sudah mendominasi sebagian besar tempat duduk berbentuk melingkar seperti di tribune sepak bola. Hanya saja ruangan ini jauh lebih kecil dari pada lapangan. Ada jaring besi setinggi tiga meter melingkar di tengah arena. Arena gulat di tengah hanya berisi lantai. Tak ada alat penghancur apa pun, pertarungan hanya di lakukan dengan tangan tanpa alat.
Seorang pegulat bertubuh besar dengan bobot hampir 100 kilogram memasuki arena. Otot-otot di tubuhnya terbentuk dari latihan bertahun tahun, wajah bengisnya begitu mengintimidasi pada lawan kecil yang berada di arena lebih dulu. Pria besar itu adalah X-tander. Legenda petarung bebas yang tidak terkalahkan, sedang lawannya pada ronde pertama hari ini adalah James Xina. Pendatang baru yang dikenal buas.
Seorang gadis cantik dengan pakaian seksi memasuki lapangan dengan sebuah papan bertuliskan angka satu. Peluit tanda pertandingan di tiup setelah itu. Dua petarung itu segera dalam posisi Siaga di tengah seorang wasit pria, tatapan memburu mereka sangat menakutkan.
Efrain terus menyaksikan pertandingan dengan tubuh gemetar, ia melihat bagaimana dua orang di dalam ring itu saling meninju, membanting bahkan mengapit. Segala cara mereka lakukan untuk membuat lawannya tumbang. Darah berceceran di wajah James Xina.
X-Tander terkenal dengan hanya manusia tinjunya yang kuat, itu terbukti ketika kepala James Xina di hantam tunjunya, membuat James mundur beberapa langkah. Berulang kali ia menggelengkan kepala untuk mengurangi rasa pusing dan mengembalikan pandangannya yang kabur.
“Menyerah?” ejek Tander dengan wajah mengintimidasi.
James meludah, ada cairan berwarna merah yang menyelubungi giginya hingga ia merasakan anyir di lidahnya, itu membuat air ludah yang ia keluarkan berwarna merah darah. Entah hanya gusinya yang robek atau rahangnya yang koyak akibat hantaman tinju Tander.
“Aku tak akan menyerah semudah itu!” pekik James dengan berlari cepat dan mengumpulkan semua kekuatan di tangannya untuk membalas pukulan Tander.
Serangan itu terlalu cepat hingga Tander tidak bisa menghindarinya, tinju James mengenai area telinga hingga membuat gendang telinganya berdenging. Amarah Tander memuncak membuat warna wajahnya merah padam, ia segera menubruk tubuh James dengan kekuatan penuh. Menjatuhkannya di atas matras. Tander menimpa tubuh James yang lebih kecil dari pada bentuk badannya.
Tander mengunci tubuh James dengan teknik hammerlock. Ia melumpuhkan bahu James dengan meletakkan lengan di belakang punggung James. Ia menekan pergelangan tangan James hingga ke belakang leher. Teknik penguncian seperti ini sering di gunakan polisi untuk menangkap pelaku kejahatan dan membuat lawan kesulitan untuk menyerang.
Wasit segera memukul matras sebanyak tiga kali, James dinyatakan kalah saat itu juga. Sorak sorai penonton membahana, mereka menggemakan nama X-Tander yang tak terkalahkan dan masih selalu menjadi juara di setiap pertandingannya.
“Bagaimana? Apakah kamu masih mau bertanding?” tanya Alora.
“Iya, aku siap,” jawab Efrain menutupi rasa takut yang sudah menjalari di setiap tubuhnya. Hanya ia yang tahu betapa lemas lututnya saat ini. Jika bukan untuk Liana yang ia cintai sejak kecil, dia pasti tak akan menyentuh arena tarung bebas seperti ini.
“Kamu juga akan bertanding dengan kelas pemula, musuhmu adalah Robert Hall. Dia sudah Lima kali menang dan satu kali kalah,” terang Alora.
“Pertandingan akan di mulai setengah jam lagi, bersiaplah!” titah Alora.