Pertandingan untuk pemula biasanya di tampilkan di awal, dan kelas profesional baru akan di mulai pada babak kedua. Hanya saja kali ini atas permintaan ketua Mavia Red Eyes kelas profesional ia minta untuk berada di awal. Ia memiliki tamu penting yang harus segara mengejar jadwal penerbangan, tetapi tamu itu ingin melihat pertandingan kelas profesional sebelum pergi.
Di ruang ganti Efrain sudah bersiap dengan seorang asisten yang baru saja diberikan oleh Alora. Ia adalah Artur, ia baru menginjak usia 19 tahun tapi sudah bekerja dua tahun di Gudang merah sejak ia lulus sekolah. Dia bekerja sebagai asisten untuk pendatang baru sama seperti sepuluh pemuda lainnya. Para asisten itu akan bertugas untuk memandu, mempersiapkan semua perlengkapan hingga membantu sampai saat petarung selesai bertanding.
“Apa Anda belum pernah bertarung sebelumnya?” tanya Artur ketika melihat wajah tuan barunya yang tampak mulus.
“Panggil saja aku Efrain. Aku belum pernah bertarung sebelumnya dan hanya mengandalkan peruntungan,” jawab Efrain dengan tersenyum.
Efrain ketakutan, untuk itu ia menutupi rasa takut itu dengan senyum tipis di wajahnya. Ia sedang berjudi dengan dirinya sendiri malam ini. Tapi bukankah penjudi datang dengan membawa uang untuk bertaruh, tapi Efrain tak membawa apa pun selain tubuhnya sendiri. Efrain sebenarnya hanya sedang menggali kuburnya sendiri untuk cinta sepihak yang tak pernah bisa ia ungkapkan.
“Sudah saatnya masuk,” kata Artur setelah mendengar lonceng di bunyikan.
Efrain segera bersiap, ia mengikuti langkah Artur menuju Arena gulat.
“Selamat datang untuk Efrain Thunder, dia adalah penantang baru malam ini,” seorang pembawa acara memperkenalkan diri Efrain begitu memasuki Arena gulat.
“Dia tampan sekali, dari pada tubuhmu rusak jadilah lelakiku!” teriak salah satu wanita paruh baya yang berada di kursi depan penonton.
Selain lelaki banyak juga wanita kaya yang datang menyaksikan, terkadang uang yang mereka lemparkan untuk para pemain jauh lebih banyak dari pada lelaki kaya lainnya. Para wanita kaya yang kesepian itu tak akan segan mengeluarkan banyak uang ketika menyukai seorang pegulat secara emosional.
Beberapa pendatang baru berakhir sebagai gigolo para tante kaya. Mereka bisa hidup dengan mewah hanya bermodalkan tubuh mereka tanpa harus mengalami kesakitan seperti yang mereka rasakan di arena pertarungan.
“Jaga mata kalian ya, dia lelakiku!” ancam Nyonya Hanah, dia adalah janda kaya dari pengusaha properti ternama di kota ini.
Pertandingan segera di mulai, dua pemain dan seorang wasit sudah memasuki arena.
Pluit tanda pertandingan di mulai, Efrain sudah dalam posisi siaga, sementara lawanya Robert masih dengan seringai dingin yang mengintimidasi. Dalam sekali gerakan Robert sudah menghujani Efrain dengan pukulan di perut, membuat tubuhnya mundur beberapa langkah. Efrain menyeimbangkan lagi tubuhnya setelah terhuyung.
Efrain secepat kilat membalas pukulan ke perut X, tapi pria itu tetap berdiri tegap dan hanya menunjukkan wajah meringis kesakitan sesaat itu membuat amarah membuncah di dadanya. Tak butuh kamu Robert segera menyerang Efrain dengan pukulan bertubi-tubi. Bahkan wajah Efrain hancur lebur, darah segar mengalir di ujung bibirnya.
Efrain segera di jatuhkan ke tanah, ia kalah dalam ronde pertama. Pendukung Robert bersorak gembira, sementara para wanita tak bisa menerima kenyataan bahwa pangeran tampan mereka dikalahkan begitu saja. Mulut mereka menganga hingga rahangnya hampir jatuh.
Beberapa menit setelah kedua petarung menghela nafas dan meminum seteguk air. Wasit kembali membunyikan peluit untuk ronde kedua. Efrain segera bangkit perlahan, ia merasakan nyeri di sekujur tubuh dan rasa sakit di setiap pukulan Robert masih membayangi.
“Kakimu masih cukup kuat untuk berdiri?” tanya Robert dengan wajah dingin yang mengintai.
Dari perkataan itu Efrain bisa menebak bahwa kali ini Robert akan melumpuhkan bagian kaki Efrain.
“Kakiku tidak semudah itu untuk di jatuhkan!”
“Mari kita lihat!”
Benar saja, begitu pertandingan di mulai Robert segera meluncurkan tendangan ke kaki kanan Efrain. Sadar bahwa Robert mengincar kakinya, Efrain berusaha sebisa mungkin menjaga kakinya agar tetap aman.
‘Aku tak akan kalah, aku harus pulang dengan tiga juta!’ batin Efrain.
Buk!
Serangan mendadak Robert di pipi Efrain membuat tubuhnya terdorong ke samping. Efrain terlalu fokus menjaga kaki hingga tak menyadari bahwa serangan Robert sudah beralih pada titik lain.
Telinga Efrain berdenging, ia linglung sesaat seolah semua suara seperti sudah terbenam. Arena bertarung yang riuh berubah menjadi sunyi.
Saat otaknya sedang tak berjalan sempurna, samar ia mendengar suara tawa Liana di telinganya. Tawa yang begitu riang dengan wajahnya yang cantik terus berkeliaran di matanya yang mulai buram.
“Tidak! Aku harus menang!” Efrain segera memulihkan kesadarannya dengan tekad kuat. Ia menerjang tubuh Robert seperti banteng yang kerasukan. Membuat pria itu jatuh dengan keras ke tanah dengan suara gemertak tulang belakangnya. Efrain menjepit dengan kuat tubuh Robert dengan kekuatan penuh. Dalam beberapa hitungan X tak bisa keluar dari kuncian Efrain. Ia dinyatakan kalah pada ronde kedua.
“Aku akan membuatmu cacat pada ronde kedua!” ancam Robert dengan mata dingin yang mengintimidasi.
“Aku pastikan kamu akan di usung dengan peti mati saat keluar!” ancam Efrain. Ia tak akan bisa digertak, Robert mungkin berpikir bahwa gertakan darinya akan membuat nyali Efrain menciut hingga mengurangi performa dirinya nanti.
Saat Efrain tengah beristirahat, Artur dengan cekatan menyeka keringat yang bercampur darah di wajah Efrain.
“Bertahanlah, kamu pasti akan menang. Robert memiliki titik lemah di bagian ginjal kanan. Dia pecandu dan juga alkoholic dua tahun lalu, ginjalnya sudah lama bermasalah. Serang dia di sana!” bisik Artur sambil menyeka wajah Efrain.
“Sayang, kamu harus menang. Aku akan mengajakmu liburan di pulau pribadiku nanti dan membelikanmu mobil sport keluaran terbaru, ” teriak wanita paruh baya yang sejak tadi mengidolakan Efrain. Dia adalah seorang taipan terkenal di bidang logistic internasional. Hannah yang sedari tadi juga mengincar Efrain melirik tajam pada wanita itu.
Efrain tak tertarik dengan liburan pribadi atau pun mobil sport. Jika wanita itu memberikan tiga juta dolar, Efrain akan segera menghambur ke arahnya.
Ronde ketiga kembali di mulai, tatapan Robert seperti serigala lapar saat menatap Efrain. Penggemar Robert Hall terus berteriak menyorakkan namanya. Mereka tidak ingin kalah taruhan dan kehilangan uang. Sementara suara dominan yang memanggil Efrain adalah perempuan.
“Aku tidak akan bersikap lembut lagi!”
“Mari kita lihat, sejauh mana kamu bisa membual!”
Robert segera menyerang Efrain, menubruk tubuhnya hingga terjatuh. Pukulan bertubi-tubi menghantam kepala Efrain. Kepala Efrain terasa berat dan pusing hingga pandangannya mulai samar.
Buk!
Efrain mendorong tubuh Robert yang menindihnya hingga terjatuh. Posisi berbalik sekarang, Efrain berada di atas tubuh Robert dan menghujaninya dengan banyak pukulan. Darah mengucur di kepala dua petarung bebas itu.
Mata Efrain semakin memerah, ia seperti kerasukan Harimau gila. Menghajar wajah Robert hingga hancur. Pukulan kepala Robert ke kepala Efrain tadi seperti sudah memicu kekuatan bawah sadar Efrain.
Saat kemenangan Efrain sudah berada di depan mata, tiba-tiba Robert melawan. Ia menekan bola mata Efrain dengan dua jari telunjuknya. Membuat Efrain meraung, saat lengah dengan cepat Robert segera keluar dari kuncian Efrain.
Mata Efrain menjadi semakin buram ada memar darah di bagian putih matanya. Ia melihat Robert seperti menjadi dua bagian di depannya.
Hening di stadion, semua penonton dalam posisi penuh kecemasan. Ini adalah petarung bebas dengan kelas pemula, tapi seolah mereka sedang melihat petarungan antara hidup dan mati antara dua gladiator profesional.
Robert memiliki ambisi kuat untuk menang, ia tak ingin harga dirinya hancur untuk orang yang baru saja menginjak arena tarung bebas malam ini. Bagaimanapun dia adalah legenda di petarung bebas pemula gudang merah.
Sementara Efrain juga memiliki keinginan kuat untuk menang, dia harus pulang dengan tiga juta dolar untuk operasi Lucy, hanya dengan cara ini Liana akan menatap berbeda pada dirinya bukan hanya sebagai teman.
“Apa kalian masih akan bertarung hingga akhir? Aku tidak yakin bahwa setelah selesai pertandingan ini tubuh kalian tidak akan cacat!”
Wasit berada di tengah, memperingatkan dua petarung betapa tubuh mereka sudah hancur. Robert jelas sudah menderita patah tulang di punggung, sementara Efrain mungkin sudah menderita gagar otak ringan dan juga pendarahan internal.
“Aku akan berhenti saat menang!” kata Efrain dengan penuh percaya diri. Meski wajahnya jelas sudah hancur.
“Dalam mimpimu!”