Dua orang terus menyerang seperti kesurupan. Luka dan darah bahkan hampir menutupi sebagian besar tubuh mereka. Bau keringat mereka kini berubah menjadi bau anyir darah. Penonton semakin menegang, mereka terus menambah taruhan. Sementara para wanita kaya, menonton tanpa berkedip. Mereka bahkan jauh lebih gugup di banding ketika mereka berjalan menuju altar.
“Menyerahlah!” kata Robert terengah-engah.
“Tak ada dalam kamusku kata itu!”
Efrain menghantamkan tinjunya, Robert melihat bagaimana musuhnya itu menargetkan tinju menuju kepalanya. Tapi saat Efrain mengayunkan tinju itu, Robert yang sudah bersiap untuk menghindarkan kepala dari tinjuan itu mendapati dirinya tertipu.
“Aaaaa!!!” pekik Robert kesakitan, ia seperti anjing yang melolong kesakitan setelah di hajar anjing lain.
Efrain ternyata tidak menargetkan kepala Robert, meski matanya seolah menatap kepala Robert tapi tinju itu melesat ke arah lain. Ke perut sebelah kanan Robert, tepat di mana ginjalnya yang sudah rusak berada.
Pendukung Robert hampir mati berdiri melihat perubahan serangan Efrain, kemenangan Efrain sudah berada di depan mata. Tubuh Robert menggelinjang kesakitan di atas lantai yang dingin. Efrain berdiri dengan tenang, seolah menunggu hewan yang baru saja ia sembelih mati dengan pelan.
Wasit hendak menghitung mundur, tapi Robert masih berusaha sekuat mungkin untuk bangkit. Membuat hitungan itu terhenti.
“Tunggu, aku akan minum sebentar,” pintanya setelah dengan susah payah bangkit.
Mendadak asisten Robert datang, ia bertindak seolah memberikan usapan handuk di wajah Robert yang berlumuran darah. Tidak ada yang tahu, bahwa sebuah suntikan baru saja menembus kulit bahu Robert yang tertutup handuk.
“Berikan aku suntikan ini, jika aku hampir kalah,” pinta Robert pada asistennya saat istirahat babak kedua tadi.
Suntikan itu bekerja seperti stimulan yang membuat Robert tak akan lagi merasakan sakit. Ia akan berubah menjadi monster pembunuh dalam hitungan detik. Jenis obat di dalamnya dibuat oleh teroris, cara kerjanya adalah menghilangkan rasa sakit dan menaikkan kekuatan pemakainya. Namun jika obat ini di gunakan secara sering, efek jangka panjangnya adalah kelumpuhan otot untuk pemakainya.
Wasit telah menyuruh kedua pihak bersiap, Efrain masih berdiri dengan sisa tenaga terakhir. Sementara obat Robert mulai bereaksi, ia kembali bangkit dengan tegap seolah tidak pernah ada rasa sakit di tubuhnya. Pandangan matanya menjadi semerah iblis, jemari tangannya mengepal dengan erat.
Peluit di tiup menerjang Efrain sekuat tenaga, membanting tubuhnya dan menghujani dengan pukulan sebanyak yang ia bisa. Efrain hanya bisa melindungi kepalanya, ia heran dari mana kekuatan Robert berasal. Ia seperti mesin pembunuh bahkan penonton tercengang olehnya.
Penonton tercengang, mereka seperti melihat zombi yang haus darah. Perubahan Robert begitu cepat, dari yang begitu lemah tak berdaya menjadi monster yang menakutkan.
Sementara di sudut lain, seorang pria di usia 40 tahunan tengah mengernyitkan dahi. Dia sudah duduk di sana seperti raja sedari tadi, ia melihat petarung pemula telah bertarung seperti hidup dan mati. Di sebelah pria itu berjajar tiga orang pria tinggi besar yang menjaganya.
Robert terus melancarkan serangan pada Efrain hingga membuat darah di kepalanya mengucur mengenai wajahnya. Ia sudah tidak mampu lagi berdiri dengan tegap, pandangan matanya kabur. Meski begitu ia tetap memiliki tekad untuk menang dan mendapatkan tiga juta dolar, tanpa memikirkan bahwa dirinya bisa saja mati. Robert hendak menyerang Efrain lagi sebelum langkahnya terhenti oleh suara berat dari samping.
“Hentikan!”
Semua penonton tercengang, ketua Mavia Red Eye yang menakutkan di Kota Southland menampakkan diri. Terlebih lagi ia ikut campur pada pertandingan pemula, selama ini ia selalu diam bahkan jika ada petarung yang cacat bahkan mati, tapi kini ia justru berjalan ke tengah arena untuk menghentikan pertandingan di detik terakhir di mana kekalahan Efrain sudah di depan mata.
“Aku tidak menyukai kecurangan di dalam arenaku!”
Robert waspada begitu mendengar kata “kecurangan” yang di lontarkan pada ketua Mavia Red Eye.
“Kau, menyuntikkan stimulan kan?” katanya dengan tatapan dingin pada Robert.
Efek stimulan yang berada di tubuh X membuat pria ini tak menurunkan pandangannya, ia masih memiliki wajah dingin dan mengintimidasi meski yang berada di depannya adalah Ketua Mavia yang terkenal cakap saat berkelahi.
“Aku akan menuntaskan pertandinganku, setelah itu aku tak peduli lagi bahkan jika dikeluarkan dari daftar petarung di sini!”
Dendam sudah membara di hati Robert, ia merasa harga dirinya jatuh karena petarung pemula yang baru saja menginjakkan kaki di arena. Pertandingan ini berarti banyak untuknya, jika ia menang kali ini maka ia akan naik ke tingkat petarung profesional dan bukan lagi berada di kelas pemula. Hanya saja ia tak menyangka bahwa Efrain tidak mudah dikalahkan bahkan sehingga ia harus menyuntikkan stimulan.
“Lawan aku!” jawab ketua Mavia itu. Penonton tercengang, semua menjadi tak terkendali dan mereka menemukan akan ada pertunjukan hebat yang jarang mereka lihat.
“Tidak perlu mengotori tangan Anda, serahkan pada saya!” seorang pengawal tinggi besar maju untuk menawarkan diri, tapi ketua itu segera memberi isyarat pengawal itu untuk mundur.
“Aku sudah lama tidak berolahraga!”
Mendapat tantangan di tengah pengaruh stimulan, tentu saja Robert tidak takut. Ia bahkan melupakan bahwa orang yang akan berhadapan dengan dia adalah legenda perang.
Efrain yang masih merasa pusing dan sakit di sekujur tubuhnya merasa cemas. Jika orang lain meneruskan pertandingan untuknya, maka usahanya selama ini akan sia-sia.
“Ti-tidak, biarkan aku menyelesaikan pertandingan ini. Aku harus menang dan mendapatkan hadiah uang itu!”
“Kamu akan mati jika terus bertarung dengan kondisi seperti itu!” bentak wasit.
Beberapa saat kemudian Efrain ambruk di sisa tenaganya. Semua penonton tercengang, anak buah ketua Mavia segera membawa tubuh lemas dan hancur Efrain ke klinik yang berada di gudang merah.
Pertandingan di batalkan, Robert di usir keluar dengan tubuhnya yang juga terluka parah tanpa mendapatkan perawatan apa pun. Karena sudah masuk daftar hitam gudang merah setelah menggunakan stimulan Robert tak lagi di izinkan bertarung di arena mana pun, lagi pula tubuhnya akan cacat setelah pertandingan dengan Efrain.
Efrain di rawat hampir sehari penuh, setelah bangun dari pingsan Efrain menerima tawaran ketua mafia Red Eyes untuk menjadi anak buahnya, ia mendapatkan uang tiga juta dolar sebagai imbalan untuk itu. Ia segera pergi ke rumah sakit meski dengan kondisi tubuh yang penuh luka. Saat berjalan ia berulang kali hampir terjatuh dan menjadi perhatian banyak orang yang melihatnya.