13 : Aaron Merasa Bersalah

1098 Kata
“Aku akan melakukan pembayaran untuk operasi jantung Lucy,” kata Efrain pada Resepsionis di rumah sakit itu. Bola mata perawat muda yang juga resepsionis itu naik turun saat melihat pemuda penuh luka di depannya. Lelaki ini seperti baru saja keluar dari lubang neraka untuk datang ke rumah sakit ini. “Tuan sepertinya anda butuh perawatan.” “Tidak, tolong selesaikan pembayaran untuk operasi jantung Lucy,” kata Efrain sembari menyodorkan koper hitam berisi uang tiga juta dolar. “Pembayaran untuk Nona Lucy sudah di lunasi oleh kakaknya sendiri tadi pagi.” Efrain terkejut dan hampir terjatuh ke belakang, beruntung dua pengawal yang ia bawa dari ketua Mafia Red Eyes segera menopang tubuhnya. ‘Ta-tapi dari mana Liana mendapatkan uang itu?’ gumam Efrain. ‘Apa yang sudah Liana lakukan untuk mendapatkan uang sebanyak itu?’ “Kita harus segera kembali ke klinik gudang merah, kamu harus mendapatkan perawatan kembali,” pintar pengawal Efrain setelah melihat tubuh lemah Efrain yang ia topang. Efrain sebenarnya ingin menemui Liana dan menanyakan tentang asal uang yang ia dapat untuk operasi Lucy, tapi mengingat luka di sekujur tubuhnya Efrain akhirnya memilih untuk kembali ke gudang merah untuk perawatan. Liana duduk di ruang tunggu saat menunggu obat Lucy, ia melihat berita di televisi tentang seorang perempuan yang terluka parah di temukan tak sadarkan diri di taman semalam. Liana terkesiap saat mendengarkan bahwa korban perempuan itu bernama Belinda Peterson anak dari pemilik hotel Emperor. Belum sempat memahami apa yang sebenarnya terjadi, suster memanggil nomor antreannya. Liana segera maju ke meja resepsionis dan mengambil obat untuk Lucy. Saat ia berbalik dan melanjutkan berita tentang Belinda, pewarta kini tengah menyampaikan berita lainnya. “Aku berharap dia baik-baik saja,” gumam Liana. Lucy akan melakukan operasinya malam ini, Liana berusaha keras untuk menghibur adiknya agar tidak gugup. Setelah menghibur Lucy, ia segera menuju ke kamar pasien 101 untuk mengucapkan selamat tinggal sebelum alat penunjang hidupnya resmi di hentikan. “Kamu adalah pria baik yang akan menyelamatkan nyawa adikku. Jangan takut aku ada di sini untuk menemanimu!” Perawat dan dokter segera mencabut alat penunjang hidup pasien 101, Liana tak mampu melihatnya. Ia hanya duduk sambil memejamkan mata dan memegang dengan erat jemari pasien 101. Setelah semua proses selesai, pembedahan akan segera di lakukan untuk mengeluarkan jantung pasien 101 yang akan di transplantasikan. Beberapa saat kemudian Liana pergi untuk menemani adiknya yang akan segera bersiap di ruang operasi. Lampu merah berbentuk persegi menyala sebagai tanda bahwa dokter di dalam sudah memulai operasinya. Operasi Lucy memakan waktu hampir lima jam, selama itu pula Liana tak pernah bergerak dari depan ruang operasi. Pintu ruang operasi terbuka, seorang dokter dengan masker wajah terlihat lebih dulu. Disusul dengan jajaran spesialis bedah dan jantung di belakangnya. Dari posisi berjalan Liana bisa menebak bahwa Dokter yang berada di barisan pertama adalah Dokter Jenius Aaron Smith. Liana segera berlari menuju ke arah Dokter Aaron. “Dokter, bagaimana operasi adik saya?” Menatap gadis yang menghentikan langkahnya tubuh Aaron mendadak membeku saat mengetahui bahwa dia adalah Liana Anderson. Mata Aaron melebar dan dirinya menjadi kehilangan kata-kata. ‘Jadi gadis yang baru saja aku operasi adalah adik Liana,’ batin Aaron. Kaki Aaron lemas, meski begitu ia mengisyaratkan dokter bedah di belakangnya untuk menjelaskan pada Liana. Dengan langkah yang gontai Aaron berjalan meninggalkan Liana. ‘Mungkinkah uang yang sangat ia butuh kan adalah untuk biaya operasi adiknya?’ Sesampainya di ruangan kerjanya Aaron memanggil Juan asistennya. “Cari tahu tentang Liana Anderson dan juga Lucy pasien yang baru saja aku operasi.” Beberapa saat kemudian, semua berkas tentang Liana mendarat di meja kerja Aaron. Ia baru menyadari bahwa Liana baru saja melunasi tagihan rumah sakit empat juta dolar pagi hari setelah mereka menghabiskan malam bersama. Dari berkas itu juga ada banyak foto saat Liana tengah di permalukan di depan rumah tunangannya, paman bahkan bibinya saat meminta bantuan. Melihat semua kenyataan itu tangan Aaron gemetar. Perkataan buruk yang sudah ia lontarkan pada malam itu untuk Liana mengoyak hatinya. . .. Malam hari dengan tubuh yang gemetar Aaron datang ke tempat Lucy di rawat. Saat itu ia melihat Liana tengah duduk menemani adiknya dengan mata yang masih terjaga. Ada tanda hitam di bawah matanya, wajah gadis itu kelelahan tapi meski begitu ia masih bertahan untuk menjaga adiknya. Melihat itu Aaron menitikkan air mata, dadanya terasa sakit seketika. Ia baru menyadari bahwa dirinya adalah seorang iblis yang sudah menodai malaikat seperti Liana. d**a Aaron sesak ia merasa tak bisa lagi berada di langit yang sama dengan Liana. “Siapkan pesawat pribadi, aku akan kembali ke London.” Aaron tak punya keberanian lagi, bahkan jemarinya terus gemetar karena rasa bersalah. Ia memutuskan untuk lari sejauh mungkin dan menenangkan diri dari rasa bersalah yang mengimpitnya. Pada akhirnya Lucy akan menjadi operasi terakhir Dokter Jenius Aaron Smith karena setelah itu jemari Aaron terus gemetar tiap kali memegang pisau bedahnya. .... Di kantor polisi seorang pria tua terus membuat keributan, meski begitu para petugas tak bisa berbuat banyak karena lelaki tua ini adalah Tuan Peterson. “Apakah kalian masih belum menemukan pelaku yang hampir membunuh anakku dan sekarang menjadikan dia koma?” pekik lelaki tua itu berulang kali. “Maafkan kami atas kelambatan penyelidikan. Kami belum bisa menemukan banyak bukti yang mengarah pada pelakunya.” Sesaat kemudian sebuah email anonim mengirimkan pesan ke email kantor polisi. Email itu berisi video Belinda dan juga Liana yang tengah menghina Liana. Polisi yang menerima itu mengernyitkan dahinya. ‘Mungkinkah wanita ini adalah pelakunya karena menyimpan dendam setelah di hina oleh Belinda.’ Sejak saat itu Liana yang tidak pernah ada di daftar terduga tersangka mulai masuk ke dalam daftar orang yang dicurigai oleh polisi. ... Tengah malam di rumah sakit seorang wanita berpakaian petugas kebersihan menyelinap masuk ke ruang perawatan Lucy menggunakan sarung tangan. Liana yang baru saja tertidur tidak menyadari bahwa salah satu ujung bajunya yang berada di dalam tasnya tengah di robek oleh wanita itu. Bahkan dia juga membawa jepit rambut Liana. Wanita itu membawa sobekan baju Liana dan jepit rambut ke tempat di mana Belinda yang tak sadarkan diri di temukan. Menyelipkan dua bukti itu dengan rapi di atas rerumputan. Pagi hari polisi kembali melakukan olah kejadian tempat perkara di lokasi Belinda di temukan. Banyak petugas di kerahkan, salah satu di antara mereka kini menemukan sobekan baju dan jepit rambut di tempat itu. “Ketemu! Ini pasti petunjuk kecil yang akan mengarahkan kita pada tersangkanya.” Beberapa petugas polisi merasa sedikit lega, dua hari ini mereka melewati hari penuh tekanan dari Tuan Peterson yang terus mendesak untuk menemukan tersangka penganiayaan anaknya. “Mari kita kembali ke kantor untuk meneliti sidik jari dan DNA yang tertinggal di baju ini.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN