Sehari setelah operasi Lucy di lakukan, pagi ini ia mulai di pindahkan ke ruang perawatan meski ia masih belum sadarkan diri. Dokter mengatakan bahwa Lucy akan segera terbangun antara Sore ini atau esok pagi.
“Nona Liana, bisakah kamu ikut dengan kami sebentar?”
Dua orang pria menghentikan langkah Liana saat baru saja akan pergi untuk mengambil air hangat untuk menyeka Lucy. Saat Liana menatap curiga pada kedatangan dua lelaki itu mereka segera menunjukkan lencana polisi untuk menunjukkan identitas mereka.
“Apakah kalian akan membawaku ke kantor polisi? Berapa lama itu? Aku masih harus menjaga adikku yang belum sadarkan diri setelah operasi?”
“Jika Anda kooperatif dan bukan orang sebenarnya yang melakukan kesalahan maka ini tak akan memakan waktu yang lama.”
Liana menghela nafas, ia masih belum menyadari kesalahan apa yang ia perbuat sehingga dua polisi datang untuk membawanya.
“Biarkan aku melakukan panggilan telepon terlebih dulu.”
Polisi itu memperbolehkan Liana menelepon terlebih dulu. Liana menggulir beberapa kontak di ponselnya. Ia harus mencari seseorang yang ia kenal untuk berada di dekat Lucy saat ia tersadar nanti. Orang pertama yang ia pikirkan adalah Efrain. Ia menghubungi kontak Efrain tapi telepon itu tidak tersambung.
Di pesawat Efrain sedang terbang menuju belahan dunia lain untuk mengikuti pelatihan sebagai anak buah dari pimpinan Mavia Red Eyes di Camp pelatihan mereka yang berada di Afrika.
Liana putus asa, ia akhirnya menelepon Ruth yang merupakan kepala pelayan yang sudah bekerja di rumahnya selama tiga puluh tahun dan baru saja berhenti ketika skandal keluarga Liana mencuat.
“Ruth, tolong bantu aku,” pinta Liana begitu telepon itu terhubung.
“Ada apa nona sulung?”
“Bisakah kamu membantu menjaga Lucy di rumah sakit? Aku harus ke kantor polisi. Tolong katakan padanya bahwa aku sedang ada pekerjaan yang mendesak.”
Wanita tua di ujung telepon terkejut, meski begitu ia tidak berani bertanya banyak karena pasti ada sesuatu mendesak yang sedang di alami oleh Nona Liana. Ia sudah merawat gadis itu dari lahir dan mengenal betul karakternya. Pasti ada kesalah pahaman hingga polisi datang mencarinya.
“Baiklah, aku akan segera ke rumah sakit untuk menjaga Lucy. Jaga dirimu baik-baik Nona Sulung.”
***
Di kantor polisi Liana segera di masukkan ke dalam ruang interogasi. Ia duduk di meja berhadapan dengan seorang petugas polisi dan seorang lagi yang bertugas mencatat semua kesaksian Liana.
“Apakah Anda mengenal Belinda Peterson?”
“Ya,” jawab Liana. Kini ia bisa mengerti sedikit garis besar tentang alasan polisi membawa dirinya. Jadi orang diberita yang beberapa hari di temukan terluka pastilah Belinda mantan temannya. Meski begitu ia masih belum sepenuhnya memahami alasan dirinya bisa terseret dalam kasus ini.
“Kapan Anda terakhir kali bertemu dengan Belinda?”
Liana berpikir sejenak sambil menghitung hari, “Aku rasa itu sekitar empat hari yang lalu di restoran hotel milik keluarganya.”
“Apa yang Anda perdebatan waktu itu?” begitu pertanyaan dari polisi itu keluar dia mengeluarkan sebuah video tentang perdebatan kecil antara dirinya dan Belinda di restoran.
‘Apakah mereka mencurigai diriku pelaku penganiayaan itu hanya karena kejadian di restoran?’
“Nona Liana, apa kamu mendengar apa yang kami pertanyakan?” tanya Polisi itu lagi setelah melihat Liana hanya terdiam.
“Waktu itu, aku pergi untuk meminjam uang dengan dirinya, tapi dia tidak bersedia untuk memberikan pinjaman.”
“Apakah Anda punya dendam pribadi karena hal itu?”
“Tentu Tidak! Aku tidak sedangkal itu!”
“Baiklah, lalu di mana Anda pada malam tiga hari yang lalu?”
Pada malam tiga hari yang lalu adalah saat Belinda di temukan terluka dan tak sadarkan diri di salah satu taman. Pada malam itu juga Liana tengah bermalam dengan seorang pria muda yang bersedia membayar empat juta dolar. Ia tidak mungkin mengatakan di mana ia sebenarnya, itu seperti ia mengakui bahwa dirinya sedang menjual diri. Liana hanya ingin kenyataan dari mana ia mendapatkan uang Lucy untuk Operasi tetap tersimpan rapat. Dia tidak ingin melukai adiknya jika mengetahui dari mana uang pengobatannya berasal.
“Aku sedang mencari pekerjaan waktu itu.”
“Benarkah? Di mana Anda tepatnya mencari pekerjaan?”
“Aku mengunjungi banyak tempat.”
“Di mana saja?” Polisi itu terus mendesak Liana dengan pertanyaan dan wajah yang mengintimidasi.
“Pak, dari pada menanyakan tentang keberadaan saya, sudahkah Anda memeriksa rekaman pengawasan di sekitar lokasi kejadian?” tanya Liana dengan kesal.
“Sayangnya tempat di mana Belinda di temukan adalah titik buta dari semua CCTV yang berada di taman.”
Liana terkejut, bagaimana mungkin hal itu begitu kebetulan. Apakah karena itu hingga tiga hari berlalu polisi masih belum menemukan tersangka yang sebenarnya.
“Nona Liana, apakah Anda mengenali potongan kain dan jepit rambut ini?”
Liana terkejut begitu melihat Robekan bagian kecil dari bajunya dan jepit rambut yang sering ia kenakan. Dia linglung sesaat, bagaimana mungkin kedua barang itu bisa berakhir di kantor polisi. Saat ia mengenakan bajunya kembali pada hari ia meninggalkan kamar hotel, Liana ingat betul bahwa bajunya masih utuh tanpa ada sobekan sedikit pun.
“Kami menemukan dua benda ini berada di lokasi kejadian. Bagaimana Anda bisa menjelaskan tentang hal ini?”
“Tidak, ini tidak mungkin. Seseorang sudah pasti sengaja menjebakku!” pekik Liana. Ia tidak pernah bertemu Belinda lagi sejak kejadian itu, dan ia heran kenapa dua bukti itu bisa berada di tangan polisi. Kini ia menyadari bahwa dirinya di bingkai.
Seorang pria paruh baya tiba-tiba masuk menyerobot ruang interogasi. Wajahnya dingin dan penuh amarah.
“Jadi kamu orang yang membuat putriku berakhir koma di rumah sakit!”
“Tuan, mohon sabar kita sedang melakukan penyelidikan!” pinta polisi itu menenangkan ayah Belinda. Meski begitu lelaki itu tak bergeming dan tetap mendekat ke arah Liana. Ia mengayunkan telapak tangannya dan menampar Liana dengan keras hingga pipinya memerah.
“Aku bahkan tidak menyentuh sehelai rambut putri Anda! Saya sepenuhnya di jebak!”
“Beraninya kamu mengatakan itu! Setelah banyak bukti mengarah padamu!”
Plak!
Pipi Liana tertampar lagi dengan keras, sesaat kemudian ia merasa telinganya berdenging dan rasa anyir darah mulai mendominasi di dalam mulutnya.
Petugas polisi menatap kasihan pada Liana meski begitu mereka tak mampu menyinggung Tuan Peterson yang berkuasa.
“Percepat penyelidikannya! Aku ingin dia membusuk di penjara!”
Dalam waktu kurang dari 24 jam, status saksi Liana sudah di naikkan menjadi tersangka. Liana putus asa di dalam sel yang ada di kantor penjara, ada empat penjahat lain di dalam sel. Semua menatap Liana dengan tatapan tajam penuh intimidasi.
“Ini masih di kantor polisi, jika kamu menyakitiku maka aku akan berteriak pada petugas!”
Tiga penjahat wanita itu tersenyum, “Kami tidak akan menyerangmu di sini, tapi saat kita di kirim ke pusat penahanan, segera kamu akan hidup seperti di neraka!”